Refleksi: Rupian ditukar dengan valuta asing menjadi devisa. Jadi kalau 
dinaikan harga sekolah, uang bangunan, uang itu dan ini berarti kemungkinan 
memperoleh devisa pun bertambah baik. Sistem pendidikan dari rakyat 
menghasilkan devisa. 


http://www.suarapembaruan.com/News/2005/12/10/Kesra/kes01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Industrialisasi Pendidikan Bisa Tingkatkan Devisa

JAKARTA - Sistem pendidikan Indonesia memerlukan perubahan yang radikal ke 
sistem yang memandang pendidikan sebagai industri. Sistem ini akan mampu 
menjalankan subsidi silang dalam dunia pendidikan, sekaligus bisa meningkatkan 
devisa negara. Sistem pendidikan yang paling sesuai adalah yang berasal dari, 
oleh, dan untuk rakyat Indonesia sendiri. 

Hal itu dikatakan Guru Besar dan Vice Chancellor of Curtin University dan 
President of Bond University Australia Prof Don Watts AMTSE kepada wartawan 
setelah menjadi tamu kehormatan pada wisuda angkatan pertama lulusan President 
University di Kawasan Industri Jababeka, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (9/12). 

Menurut Don, perjuangannya sejak 1985 untuk mendorong sistem pendidikan yang 
mampu dipandang sebagai industri, awalnya mendapat tentangan keras dari 
pemerintahan Australia. Pasalnya, sistem pendidikan yang terbuka bagi dunia 
internasional ini benar-benar memperhitungkan kehadiran komunitas asing sebagai 
sumber devisa. "Dengan demikian siswa dari negara luar dapat menyubsidi calon 
mahasiswa yang cerdas, namun kurang mampu dari segi finansial," katanya. 

Berkat perjuangannya, akhirnya pemerintah mendukung sistem yang diperkenalkan 
Don karena mampu meningkatkan devisa pemerintah Australia sebesar 7,1 miliar 
dolar Australia atau sekitar Rp 49 triliun. "Bapak Djuandi Darmono (salah satu 
pendiri President University, Red) pernah meminta saya untuk mengadopsi sistem 
pendidikan ini dan dibawa utuh ke Indonesia. Namun, saya bilang, bisa saja 
tetapi tidak akan berumur panjang. Sebaiknya, pihak Indonesia mencari sendiri 
sistem pendidikan yang sesuai dengan masyarakatnya. Sistem inilah yang akan 
terus berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi bangsa Indonesia," katanya. 

Menurut Don, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa merupakan 
tantangan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Terlebih, hanya sebagian 
kecil dari jumlah itu yang termasuk golongan mampu. 

Kondisi itu, menurut Don, bisa saja dicermati dengan menciptakan sistem 
perpajakan yang mampu mengajak pemilik dana untuk menyisihkan sebagian hartanya 
secara sukarela ke dalam dunia pendidikan. 


Sistem Perpajakan 

Sementara itu, Djuandi Darmono menyatakan untuk menemukan sistem perpajakan 
yang mampu mendukung sistem pendidikan tidaklah mudah. Dia mencontohkan, bila 
pemerintah mengenakan pajak sebesar 80 persen terhadap setiap harta warisan, 
namun tidak bagi ahli waris yang mau menyumbangkan 80 persen dananya ke dalam 
dunia pendidikan, tentu para ahli waris mencari cara menyembunyikan hartanya 
itu. "Karenanya, sistem perpajakan itu harus mampu mengajak pemilik dana secara 
sadar dan suka rela," katanya. 

Selain itu, pemerintah harus tetap berfungsi sebagai pemberi izin dan mengawasi 
pemanfaatan izin oleh perguruan tinggi. Bila terjadi pelanggaran, pemerintah 
harus berani menutup universitas yang bersangkutan, tetapi juga harus aktif 
mendukung pengembangan universitas yang berhasil. 

Agar berhasil, menurut Don, tahap awal pendirian universitas harus fokus pada 
satu tujuan, yakni menjadi perguruan tinggi yang berhasil dalam mendidik 
(excellent teaching university) sehingga mampu menciptakan lulusan dan memiliki 
tenaga pengajar berkualitas tinggi. Setelah itu, perguruan tinggi dapat 
mengejar target membangun pusat riset yang diakui dunia internasional. 
"Perguruan tinggi yang langsung mengejar target menjadi pusat riset besar tidak 
akan maju," katanya. 

Terkait hal itu, Rektor President University Prof DR Muliawati Gunawan Siswanto 
M eng Sc menyatakan pihaknya belum mampu mengajak Microsoft membentuk pusat 
riset. Tetapi, President University sudah memulai langkah awal dengan 
menandatangani nota kesepahaman dengan Microsoft dalam pengadaan perangkat 
lunak berbasis usaha kecil menengah. (Y-5) 


Last modified: 10/12/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke