Refleksi: Kelaparan atau dilaparkan?

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/12/10/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Tajuk RencanaI 

Saudara Kita di Papua Kelaparan


SEKALI LAGI, kita terhenyak mendengar kabar bahwa 55 orang saudara kita di 
Yahukimo, Pegunungan Tengah, Papua, meninggal dunia karena kelaparan. Mereka 
kehabisan bahan pangan pokok, karena umbi- umbian yang mereka tanam gagal 
panen. Kelangkaan bahan pangan itu juga mengakibatkan sekitar 70.000 warga dari 
200.000 penduduk Kabupaten Yahukimo kelaparan. 

Jika tidak segera mendapatkan pertolongan, dikhawatirkan jumlah korban 
meninggal akan bertambah. Namun, melihat topografinya yang sulit dijangkau 
dengan transportasi darat, karena sebagian penduduk tinggal di lereng-lereng 
perbukitan dan lembah, bantuan harus cepat disalurkan dengan menggunakan 
pesawat terbang atau helikopter. 

Bencana kelaparan di provinsi paling timur itu bukan kali pertama terjadi. 
Dalam kurun sepuluh terakhir, kelaparan telah menelan korban di Kabupaten 
Puncak Jaya, Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Jayapura. Tentu saja kondisi 
tersebut memprihatinkan karena di pusat kekuasaan elite politik dan pemerintah 
sedang berebut untuk menambah anggaran dan kenaikan tunjangan atau gaji, 
sementara rakyat jelata tidak terperhatikan untuk mendapatkan kebutuhan primer 
mereka. Ternyata pergolakan di tingkat elite seolah tidak menyentuh rakyat 
kecil yang bergulat dengan penderitaan dan bersandar sepenuhnya pada alam. 

KEPRIHATINAN terhadap kondisi itu juga dilontarkan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono yang menunjuk pemimpin di daerah bencana tidak bertanggung jawab 
terhadap nasib warganya. Hal itu juga menunjukkan bahwa pemimpin di daerah 
tidak turun ke lapangan, dan itu merupakan kesalahan prinsip sehingga pemimpin 
yang bersangkutan harus dikenai sanksi. Presiden juga telah memerintah Menko 
Perekonomian untuk segera melihat kondisi di lapangan dan memberikan bantuan 
secepatnya. Tentunya yang dibutuhkan adalah bantuan makanan, yaitu umbi-umbian 
atau bahan pangan lain, dan obat-obatan. 

Namun, kita menjadi sangat prihatin karena bantuan yang sudah ada ternyata 
belum bisa disalurkan sampai ke tujuan dengan alasan tidak ada alat 
transportasi. Tentunya kita mengharapkan bahan pangan dan obat-obatan, juga 
tenaga medis, bisa cepat tiba di lokasi agar penderitaan warga Yahukimo tidak 
bertambah parah. Kadang persoalan birokratis menjadi hambatan dan membuat 
pertolongan menjadi terlambat. Bila kita membandingkan, cara kerja seperti itu 
sangat berbeda dengan kerja para misionaris yang masuk hingga ke 
pelosok-pelosok pedalaman menggunakan pesawat terbang kecil dengan taruhan 
nyawa, untuk menyuplai kebutuhan warga pedalaman. 

Sebenarnya Indonesia bisa dikatakan cukup sering tertimpa bencana alam. Mulai 
dari tanah longsor, gempa, banjir, hingga tsunami. Seharusnya dengan berbagai 
"pengalaman" itu kita menjadi sigap dalam menangani persoalan bencana. Sigap 
dalam arti telah bersiap diri setiap saat untuk terjun ke lokasi bencana dengan 
mengirimkan tenaga-tenaga terlatih dan peralatan yang dibutuhkan untuk 
pertolongan. 

TAMPAKNYA kita tidak belajar dari pengalaman. Kejadian selalu berulang, bahwa 
antusiasme warga begitu tinggi untuk membantu, tetapi penyalurannya selalu 
terhambat, baik karena kekurangan tenaga maupun kendala transportasi. 
Sepertinya tidak dipersiapkan manajemen penanganan bencana, kendati kita sering 
tertimpa bencana. Kita berharap pemerintah tidak saling tuding dalam persoalan 
ini. Yang perlu sekarang adalah bagaimana menyelamatkan warga Yahukimo. Kita 
juga berharap, wakil-wakil rakyat yang terhormat juga sigap memperhatikan 
kondisi warganya, jangan terlena dengan tambahan tunjangan Rp 10 juta sebulan. 
Atau, kita berharap negara lain yang membantu menangani bencana? 


Last modified: 10/12/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke