http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=129441

 IMPOR BERAS
Masyarakat Pertanian Ancam Tempuh Jalur Hukum 


Minggu, 11 Desember 2005
JAKARTA (Suara Karya): Berbagai kalangan yang terkait dengan bidang pertanian 
bakal menempuh jalur hukum, bila pemerintah tetap melanjutkan kebijakan impor 
beras yang dianggap banyak merugikan petani. Apalagi pihak DPR sudah mengambil 
keputusan agar pemerintah tidak melanjutkan kebijakan impor beras. Pendapat 
tersebut mengemuka dari Ketua Wahana Masyarakat Petani Indonesia (Wamti), yang 
juga Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Agusdin Pulungan, dan 
pengamat agribisnis, HS Dillon yang dihubungi Suara Karya, kemarin. 

Agusdin Pulungan mengutarakan, dengan keluarnya keputusan DPR yang melarang 
pemerintah meneruskan impor beras, secara hukum keputusan tersebut harus 
dipatuhi. Selain itu, Agusdin juga mengancam, apabila keputusan tersebut 
dilanggar, maka sejumlah elemen petani yang tergabung dalam berbagai organisasi 
akan menyeret pemerintah ke meja hijau. "Kalau tetap bandel juga, kami akan 
mengajukan pemerintah ke pengadilan," kata Agusdin. 

Dalam kesempatan terpisah, pengamat agribisnis, HS Dillon mengungkapkan, saat 
ini dirinya menengarai bahwa sejumlah oknum pemerintahan telah menarik masalah 
beras menjadi masalah politik. "Beras sebagai bahan makanan pokok, sekarang ini 
tampaknya telah ditarik menjadi masalah politik," kata Dillon. Tetapi menurut 
dia, hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga berkembang 
di beberapa negara. 

Selain itu Dillon mengemukakan, saat ini juga terjadi dualisme kebijakan, 
dikarenakan sampai saat ini pemerintah belum memiliki kebijakan yang utuh dalam 
mengelola industri agribisnis nasional. "Masalah sebenarnya sudah usang. Dari 
dulu kita tidak punya kebijakan yang utuh dari hulu sampai hilir. Jadi 
komoditas pokok ini dengan mudahnya diombang-ambing berbagai kepentingan," kata 
Dillon. 

Penjelasan tentang hal tersebut bisa merujuk pandangan peneliti dari Institute 
on Development of Economic and Finance (Indef), Bustanul Arifin. Bustanul 
menegaskan, bisnis impor beras sangat menggiurkan, karena memberi keuntungan 
yang sangat luar biasa bagi pelaku bisnisnya. Dengan demikian, wajar jika 
banyak kalangan yang mencoba cawe-cawe guna ikut meraup untung. 

"Negara-negara seperti Vietnam, India, Thailand, dan Amerika mengalami surplus 
beras, dan ingin melepas simpanan beras mereka. Jadi impor beras memang peluang 
menggiurkan," kata Bustanul. 

Menurut dia, persoalan data perberasan yang amburadul juga tidak bisa 
dilepaskan dari kepentingan untuk tetap melakukan impor beras. 

"Datanya memang amburadul. BPS, data Menteri Pertanian atau Bulog, tidak bisa 
diandalkan," ujar Bustanul. (Kentos/Hanif/Andrian) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/vlzMKB/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke