S11 Noveabtu, 10  Dese11Smber  2005 Sabtu, 10  Desember  2005 Sabtu, 10  
Desember  2005 Sabtu, 10  Desember  2005 

Bencana Kelaparan dan Keterkejutan Bangsa 

  

  

Bangsa ini dikejutkan lagi dengan berita terjadinya bencana kelaparan di 
Kabupaten Yahokimo Papua, yang diperkirakan menewas­kan 55 orang lebih, 117 
orang sakit parah dan belasan ribu lainnya kekurangan pangan. Kabar ini 
disampaikan oleh para misionaris gereja-gereja yang dekat dengan daerah lokasi 
bencana. Presiden SBY segera memerintahkan para pejabat turun ke Papua dan 
secepatnya mengirimkan segala bantuan yang dibutuhkan. 

Keterkejutan akan adanya bencana ini sungguh wajar, mengin­gat selama tidak 
terbersit di pikiran kalau masih ada suatu daerah di Indonesia mengalami 
kesulitan pangan. Hal ini terkesam­pingkan karena pembicaraan elit bangsa 
selalu berkutat pada masalah politik. Pembicaraan masalah ekonomi justru selalu 
dalam kerangka persoalan harga BBM dan impor beras. 



Tampaknya kali ini pemerintah benar-benar terkejut, marah dan bercampur malu, 
sehingga tidak mengerti lagi membuat alasan untuk menjawab pertanyaan 
masyarakat. Lalu Presiden SBY mengancam akan menindak aparat yang dianggap 
bertanggung jawab dengan adanya bencana kelaparan tersebut. Menurut laporan 
pejabat setem­pat, mereka tidak bisa melaporkan kejadian itu dengan cepat 
karena terkendala masalah komunikasi. 



Kejadian ini sebaiknya cepat diantisipasi sehingga tidak semakin menimbulkan 
korban yang lebih besar lagi. Bantuan yang diberikan pun hendaknya bukan 
sekadar cukup untuk pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi harus dicari solusi agar 
daerah itu benar-benar bebas dari keterasingan. Karena keterisoliran meru­pakan 
penyebab utama ketertinggalan suatu daerah dari aspek pembangunan. 



Seperti diketahui, masih sangat banyak daerah di Indonesia yang terisolir dan 
tidak tersentuh pembangunan. Kemungkinan besar bencana kelaparan ini juga 
terdapat di berbagai daerah lain Indonesia. Cuma karena tidak ada informan, 
masalah ini terabaikan dan mungkin ribuan orang sudah menjadi korban kelaparan. 
Sebaikn­ya pemerintah mengembangkan permasalahan kelaparan ini ke daerah-daerah 
lainnya yang dianggap masih rawan. Untuk itu pemerintah harus bergerak cepat 
dengan menerjunkan aparatnya memantau dan turun ke lapangan. 



Kemarin Presiden SBY sempat bersuara keras dengan memerintahkan Mendagri untuk 
memantau para pejabat daerah yang kerap "nongkrong" di Jakarta. Ini membuktikan 
kalau selama ini banyak pejabat daerah yang lebih banyak menghabiskan waktunya 
di ibukota Jakarta, sementara daerah yang dipimpinnya hanya dianggap sebagai 
basis untuk memperoleh fasilitas, tanpa mau peduli dengan kondisi daerah 
sebenarnya. 



Kita tidak ingin bangsa ini dianggap sebagai tempat "main-main", sehingga 
seharusnya Presiden SBY mulai bertindak tegas dengan tidak mentolerir para 
pejabat yang tidak serius dan tidak memiliki komitmen membangun daerahnya. Dan 
momentum ini sebaiknya dijadikan bahan introspeksi bagi pimpinan tinggi negara, 
para pejabat dan aparat daerah untuk benar-benar mencintai bangsanya. Kalau hal 
seperti ini sampai  terjadi lagi di masa mendatang, orang-orang yang seharusnya 
bertanggung jawab dalam bencana kelaparan bisa dikatakan sebagai pengkhianat 
bangsa. 



Sungguh sulit mengungkap betapa malunya kita dengan bencana kelaparan yang 
terjadi di Papua, karena bencana ini bukan seperti bencana alam lainnya yang 
kerap terjadi tiba-tiba dan sulit untuk dihindari. Bencana kelaparan terjadi 
tentu berkait dengan proses atau sistem pemerintahan yang buruk, sehingga 
diperlukan ketegasan dan keseriusan untuk memperbaiki kondisi yang ada. (**) 



SIB 10 Dec. 2005


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke