Budayawan asal Yogyakarta yang biasa dipanggil Cak Nun dan dijuluki Kyai Mbeling, Emha Ainun Nadjib, melihat media massa sekarang seperti penjual sop buntut. "Kalau melihat sapi, mereka cuma peka terhadap buntutnya. Jadi, kalau melihat sapi lewat, mereka hanya akan menggunting buntutnya untuk mereka masak jadi sop buntut. Terhadap sapinya, mereka tidak peduli," tuturnya di Bogor, Jawa Barat, akhir pekan ini. Sorotan itu disampaikan oleh Cak Nun sebagai salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Pembelaan Negara Terhadap Petani/Nelayan, di Gedung Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB), Baranangsiang, Kota Bogor.
Para narasumber lain pada seminar yang digagas oleh Petani Center, Himpunan Alumni IPB, tersebut adalah Ketua Komisi IV DPRRI Yusuf Faisal; Dr Ir Ato Suprapto (Departemen Pertanian); Moh Maksum, dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian dan peneliti Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM Yogyakarta; serta Dr Ir Asep Saifuddin, Wakil Rektor IV IPB. Moderator seminar tersebut, Upik Rosalina dari Perhutani. Cak Nun memberi contoh, kalau datang ke acara seperti seminar tentang bagaimana negara membela petani, media massa hanya akan mengambil bahan-bahan berita yang kira-kira mereka perlukan sesuai dengan "kebijakan" mereka untuk pemberitaan esok harinya. "Itu yang disebut sop buntut. Karena apa? Karena media massa bukan (lagi) media informasi dan komunikasi, tapi media materialisasi berita. Anda bagus dari sisi apapun, bikin Pak Maksum istighatsah se-alun-alun, itu enggak akan masuk televisi. Kalau ada Gus Dur (mantan Presiden RI) mengantuk atau ada dua orang pukul-pukulan sampai pingsan, baru masuk televisi," ucapnya. "Tapi, kebaikan (misalnya, mengadakan seminar membela petani tersebut), tidak penting. Apa sebabnya? Ya tadi, sop buntut," tambahnya. Menurut Cak Nun, kondisi tersebut merupakan wujud dari penjajahan cara berpikir oleh para pencipta "desain besar" di luar kita terhadap bangsa Indonesia, dari petani, seniman, ulama, santri, pelajar, mahasiswa, hingga media massa. Katanya, "desain besar" itu sudah disiapkan selama tiga abad. Menurut Cak Nun lagi, diperlukan usaha untuk mengubah cara berpikir keluar dari apa yang dikehendaki oleh para pencipta "disain besar" itu. "Apa yang disebut penjajahan cara berpikir itu bisa seperti bagaimana cara kita melihat gulai, kyai, santri, dan juga cara Wapres Jusuf Kalla melihat pesantren," ucapnya. "Tiba-tiba, kita merasa (menjadi) dunia ketiga, terbelakang. Kita memang dimasukkan ke dalam frame (kerangka) berpikir atau satu terminologi untuk membuat kita ikut dengan Â’disain besarÂ’ itu. Tiba-tiba kita menjadi manusia yang tidak unggul. Padahal, di segala bidang, orang timur lebih unggul dari orang barat sebenarnya," sambungnya. Masih menurut Cak Nun, membela petani atau golongan tertindas yang lainnya bisa dilihat dari perspektif melepaskan diri kita dari penjajahan oleh "disain besar" dimaksud. "Saya ingin mengatakan bahwa semua yang dialami oleh petani hanya simptoma (symptom) dari satu sistem besar yang sedang dikembangkan oleh kita," tegasnya. . __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

