Begitu juga dengan Peter Sauber, orang super kaya di Swiss pemilik tim F1 Sauber-Petronas yang telah dibeli tim BMW. Meskipun ia kaya raya, ia hanya tinggal di flat dengan dua kamar yang dihuni oleh bersama istrinya, tanpa pembantu rumah tangga... Maaf kalau saya menambahkan
Terima kasih --- Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear moderator, > > Mohon maaf jika tidak berhubungan dengan > jurnalisme. > tapi mungkin berguna untuk menyadarkan DPR atau > sejenisnya yang suka belanja barang barang mewah di > luar negeri. > Rio > ============================== > > Ini tulisan seorang Indonesia yang tinggal di Swiss: > > > Salah satu impian saya : memiliki jam Rolex. Tapi > itu > dulu, impian lama. Sekarang, setelah tiga tahun > menetap di Swiss, impian lama itu malah > menjadi sejarah yang agak memalukan. > Pengalaman dengan Rolex ini saya dapatkan dalam > liburan terakhir di > Jakarta, > sebulan silam. Hampir dalam setiap penerbangan > domestik antara Bali, > Surabaya dan Jakarta, rata rata saya temui laki laki > paruh baya dengan > jam > mahal ini. Entah asli atau abal abal, yang penting > saya lihat dengan > jelas > mereknya : Rolex dengan simbol makohtanya. > Dalam perbincangan dengan Arey, karib saya yang > begitu > tergila - gila > dengan > benda pengukur waktu ini, Rolex memang idaman nyaris > sebagian besar > laki > laki Indonesia, khususnya yang sudah mapan. Bahkan, > ada yang sampai > koleksi > Rolex dari belasan hingga ratusan biji. > Seorang perwira polisi atau pejabat negara yang > duitnya seperti memetik > saja > dari pohon belakang rumah, dipastikan memiliki jam > tangan buatan Swiss > ini. > Jangan kaget jika ada berita rumah pejabat tersebut > digarong maling, > kerap > ada laporan hilangnya Rolex kesayangannya. > Pemakai Rolex saya temukan lebih banyak di tanah air > ketimbang di Swiss > ini. > Di antara kerabat dan kenalan di Swss, baru satu > yang > saya tahu > memiliki > jam jenis ini. Dia adalah Rachel Hueber, salah satu > kerabat dekat. > "Kamu suka ya Kris, he he he, aku tahu kok, "ejeknya > ketika saya > mengelus - > elus jam ini di kediamannya suatu kali. > "Berapa sih belinya, dan mengapa kamu sampai beli > jam > ini?" tanyaku. > > Maklum, inilah kali pertama saya melihat manusia > Swiss > memiliki jam > mewah > tersebut. > "Ini hadiah dari kakek, " ujarnya. Sebelum > meninggal, > imbuh Rachel, > kakeknya > mengahdiah setiap cucunya dengan jam tersebut. > Tanpa atas nama hadiah itu, kata Rachel, tak akan > dia > membeli jam mewah > itu. > > > "Toh, fungsinya satu, sebagai penunjuk waktu," > katanya. Dari tanya sana > sini > dan kerap ngintip di toko jam di negeri ini, saya > perkirakan Rolex di > dapur > Rachel seharga 4500 USD-an. > Tapi, di Swiss ini bukan tak pernah saya menemukan > manusianya > mengenakan jam > tersebut. Cuma, memang bukan laki laki atau wanita > Swiss asli. Sebagian > besar adalah imigran. Di tempat saya kerja dulu, > seorang laki laki asal > Balkan dengan bangga mengenakan Rolex-nya, yang > katanya hadiah dari > kekasihnya, yang asli wanita Swiss. Seorang pemuda > asal Afrika, dalam > satu > kelas kursus saya, malah menggunakan Rolex berlapis > emas yang > mengkilap. > "Apa orang Swiss tidak memamerkan kekayaannya?" > tanya > saya kepada > Paula, > salah satu sahabat. > "Tidak berlebihan seperti orang Asia atau Afrika," > katanya. > > Dalam kehidupan sehari hari, orang Swiss akan > menyembunyikan > kekayaannya. > Di jalanan, sangat sulit membedakan mana si kaya, > siapa yang papa. > Semuanya > nyaris sama, sebangun dan kongruen untuk ukuran > kekayaannya. Guebelin, > salah > satu orang kaya di Luzern, sehari hari mengendarai > mobil butut. Kadang > juga > naik sepeda pancal. Beberapa orang kaya di Goldau, > Swiss Tengah, yang > saya > kenal, juga demikian. Hand phone Patrick, salah satu > pewaris perusahaan > konstruksi baja yang menjadi teman bermain karambol > saya saban bulan, > adalah > Ericson yang antenenya mirip sirip ikan hiu. > Mobilnya > juga cuma mobil > kombi > merek biasa. > Orang Swiss, kata Paula, akan memperlihatkan > kemewahannya pada saat > saat > khusus. Atau menyimpannya untuk meningkatkan > kualitas > hidupnya. > Misalnya > memiliki rumah liburan di pinggir danau atau di > pucuk > dan lereng Alpen. > Rumah jenis ini, bukan saja sangat sangat mahal, > namun juga sudah tak > ada > lagi yang baru, karena ijin bangunannya sudah > ditutup. > > Selebihnya, ya tersembunyi. > "Nonton konser musik klasik, misalnya, atau pas > liburan di Saint > Morizt, > biasanya baru terlihat yang kaya itu, " imbuh Paula. > Saint Morizt > adalah > tempat tetirah orang kaya dunia. Di acara acara > khusus itulah, mobil > mewah > atau pameran kekayaan lainnya, akan terlihat. > Sementara Rolex, lebih banyak dikonsumsi imigran > atau > penduduk negara > dunia > ketiga. Jangan heran jika toko Louise Vuitton di > Paris > mesti menerapkan > nomor antri untuk bisa memasukinya. Dan jangan kaget > jika yang antri > tersebut, sebagian besar adalah turis Asia. > > Impian lama ini, belum redup hingga tahun kedua > menetap di Swiss. > Saban > lewat Bucherer, toko jam mewah di Luzern, selalu > saya > pelototi lekat > lekat > harga Rolex di kotak kacanya. Suatu kali saya bahkan > masuk dan minta > brosur > tentang jam tangan mewah ini. Di Jenewa, saya juga > sempat minta brosur > Breitling, sebuah jam mewah yang lain. > Kini, impian memiliki Rolex -- yang harganya > terjangkau dengan gaji > saya -- > akhirnya redup. Saya akan malu memakainya di Swiss, > karena kerabat atau > kenalan akan memicingkan matanya. . > Entah kalau di Indonesia nanti, mungkin saya akan > memakai Rolex juga, > karena > menjadi orang kaya di tanah air, nyaris tak berbeda > laiknya hidup di > === message truncated === Eka Zulkarnain __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

