http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/16/Politikhukum/2292936.htm

 
Kebijakan Militer Tak Sejalan dengan Otonomi Khusus 




Jakarta, Kompas - Setelah berjalan sekitar empat tahun, otonomi khusus di Papua 
dinilai dilaksanakan dengan cara yang tidak konsisten. Salah satu masalah 
mendasar adalah kebijakan militer berikut penempatan pasukan di Papua yang 
dianggap tidak sejalan dengan otonomi khusus.

Temuan itu diperoleh tim kerja Panitia Ad Hoc I Dewan Perwakilan Daerah yang 
mengunjungi Papua pada akhir bulan November 2005. Seperti disampaikan Ketua PAH 
I Muspani (Bengkulu) di Jakarta, Kamis (15/12), inkonsistensi dalam 
implementasi otonomi khusus menimbulkan ketidakpercayaan yang berlarut-larut. 
Terbukti, tuntutan politik orang Papua tidak diakomodasi dengan cara yang 
jelas. Dialog tidak pernah terbangun dengan baik sehingga keinginan dan 
kebutuhan orang Papua tidak terkomunikasikan dengan baik.

Muspani mengingatkan, otonomi khusus merupakan jawaban atas tuntutan politik 
rakyat Papua melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi 
Pemerintah Indonesia, otonomi khusus dianggap sebagai penyelesaian final.

Akan tetapi, yang mengecewakan rakyat Papua adalah kebijakan militer yang tak 
diatur secara jelas dan malah menambah resah rakyat. Ada gugatan, apakah memang 
penempatan tentara di Papua memang harus sebanyak sekarang. Ada anggapan, ada 
atau tidak ada otonomi khusus, militer tetap menjadi kekuatan menakutkan bagi 
rakyat Papua.

Penempatan tentara sampai ke pelosok kampung dan tindakan represif yang 
dilakukannya semakin membuat masyarakat Papua tidak nyaman sehingga banyak di 
antara mereka lari ke perbatasan karena trauma. Jika kondisi itu dibiarkan, 
maka keinginan untuk merdeka kembali tumbuh menguat. Kami menyarankan kebijakan 
ini dievaluasi kembali, ungkap Muspani.

Muspani juga menyebutkan tuntutan rakyat Papua terhadap Pemerintah Indonesia, 
termasuk pelurusan sejarah pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 
yang dinilai tidak demokratis. Penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia juga 
masih terus berlarut, terbukti dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan 
Rekonsiliasi yang belum juga terwujud. (dik)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$15 provides a child with safe, clean water. Your gift can make a difference.
http://us.click.yahoo.com/LSmZ0B/icGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke