http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=6042
Sabtu, 17 Des 2005,


Zulkarnaen, Panglima Perang JI, Buron Nomor Satu Polisi; Apa Kata Keluarganya? 


Sebelum Menghilang, Titip Tiga Anak 
Zulkarnaen disebut-sebut sebagai panglima sayap militer kelompok Jamaah 
Islamiyah. Aparat menyebutnya terlibat dalam bom Bali dan sejumlah ledakan lain 
di tanah air. Bagaimana kehidupan keluarganya setelah orang yang masuk "daftar 
paling diburu" polisi itu menghilang? 

SUGENG TILE, Sragen

Tidak sulit menemukan rumah orang tua Zulkarnaen di Dukuh Gebang Kidul RT 2 RW 
VI, Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Sragen. Rumahnya terletak di kawasan 
pedesaan yang dikepung oleh areal persawahan. Kendati di pedalaman, lokasi itu 
tidak bisa dibilang terpencil karena hanya sekitar 6 kilometer dari ruas jalan 
provinsi, jurusan Solo-Surabaya. 

Nama Zulkarnaen sangat populer di kalangan warga Gebang. Pria yang bernama asli 
Arif Sunarso itu menjadi akrab di mata tetangganya dengan nama Zulkarnaen 
setelah dalam tiga tahun terakhir ini polisi silih berganti datang untuk 
mengawasinya. Apalagi setelah tragedi bom Bali polisi hampir setiap hari mampir 
ke Desa Gebang. Dengan berbagai penyamaran, aparat mengendus kemungkinan 
keberadaan Zulkarnaen. 

"Para petugas memang sering datang ke sini untuk mencari Zulkarnaen," ujar 
seorang warga Gebang kepada koran ini kemarin. 

Selain Zulkarnaen, Arif Sunarso yang posisinya kini tidak diketahui itu juga 
mempunyai nama alias Daud. Memang di kelompok tersebut, anggota mempunyai 
berbagai alias. Lihat saja, Imam Samudra yang kini mendekam di Nusakambangan. 
Samudra yang mempunyai nama asli Abdul Aziz itu juga mempunyai nama Kudama dan 
Faiz. 

Zulkarnaen termasuk orang yang paling dicari polisi. Jabatannya dalam struktur 
JI sangat strategis. Dia disebut sebagai komando Asykari Islamiyah. Tanggung 
jawabnya paling besar atas operasi organisasi tersebut. Dengan posisi itu, 
Zulkarnaen berada di atas Imam Samudra atau Azhari Husin dan Noordin M. Top. 
Dan, Zulkarnaen sangat dihormati oleh komunitasnya. 

Polisi juga menyebut-nyebut Zulkarnaen hadir dalam rapat perencanaan bom Bali 
di Grogol, Sukoharjo, Solo. Dari situ dia juga memberikan instruksi. Namun, 
hingga kini, polisi tak menemui jejaknya. Zulkarnaen bak ditelan bumi. 

Kendati Zulkarnaen disebut tokoh penting di organisasi garis keras itu, di 
rumah orang tuanya tidak ada simbol-simbol yang menunjukkan mereka adalah 
keluarga fanatik dengan garis pemikiran keras. Ornamen rumah tempat Zulkarnaen 
menjalani masa kecilnya itu tak jauh beda dengan warga biasa.

Ketika koran ini datang, rumah Zulkarnaen sedang kosong. Orang tuanya, Hadi 
Saleh dan Aminah, menghadiri acara selamatan tetangga yang pamit berhaji. Hanya 
menunggu sejenak, Hadi yang dipanggilkan tetangga akhirnya muncul di rumahnya. 
"Monggo-monggo, masuk ke rumah, Mas," sapanya ketika menemui koran ini. 

Setelah mendengar penjelasan koran ini yang ingin mengetahui kabar Zulkarnaen, 
pria yang sudah banyak beruban itu segera membeberkan sejarah putra pertamanya 
tersebut. "Sudah sekitar tiga tahun ini, saya tak pernah bertemu dengannya," 
ujar Hadi. 

Guru madrasah ibtidaiyah negeri (MIN) di wilayah Kecamatan Mojogedang, 
Karanganyar, itu mengungkapkan, nama asli anak pertamanya itu sebenarnya adalah 
Arif Sunarso. Terakhir pulang ke rumah, saat Idul Fitri 2001 silam. 

Hadi mengaku sangat rindu kepada anaknya tersebut. Namun, sampai kemarin, pria 
beranak enam itu mengaku tidak tahu-menahu posisi Zulkarnaen. "Kalau rindu, 
saya hanya bisa berdoa. Moga-moga dia dalam keadaan baik-baik," ujar Hadi yang 
tak mau dipotret itu. 

Ketika ditanya soal dugaan keterlibatan Zulkarnaen dalam kasus peledakan bom, 
ekspresi wajah Hadi jadi lain. Nada bicaranya jadi gemetar, seolah tak tega 
jika anaknya sampai terlibat teror. 

Dituturkan Hadi, perilaku Zulkarnaen pada masa kecil terbilang alim dan tak 
suka pada kekerasan. Bahkan, anak laki-laki pertamanya yang lahir pada 1963 itu 
penakut dan rajin menabung. Karena itu, Hadi mengaku tak pernah memarahi 
Zulkarnaen. 

Setelah Zulkarnen lulus sekolah dari SD Negeri Gebang, Hadi mengirim anaknya ke 
Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin, Ngruki, Grogol, Sukoharjo (sejak 
1975-1981). "Saya mengirim anak saya ke pondok pesantren agar belajar agama 
karena saya sendiri nggak ngerti banyak tentang ajaran agama," aku Hadi. 

Namun, dia sangat kaget ketika ditanya apakah Zulkarnaen pernah kuliah di 
Universitas Gadjah Mada (UGM). Seperti yang disebut-sebut sejumlah media massa. 
Hadi hanya menggelengkan kepala, isyarat tidak tahu-menahu riwayat pendidikan 
putranya di kampus terkemuka itu. 

Semenjak Zulkarnaen menyelesaikan pendidikan setingkat SMP dan SMA, Hadi tak 
pernah memberikan biaya pendidikan lagi. Setahu dia, usai menyelesaikan 
pendidikan setingkat SMP dan SMA, putra sulungnya itu mencari nafkah sendiri. 

Tak lama kemudian, Zulkarnaen menikahi Wahyuningsih, wanita asal Ngruki, 
Grogol, Sukoharjo. Dari hasil pernikahannya dengan wanita yang dikenal saat 
nyantri di Ponpes Al Mukmin itu, Zulkarnaen alias Arif Sunarso dikaruniai enam 
anak. 

Tiga di antaranya kini tinggal serumah dengan Hadi di Gebang. Mereka adalah 
Abdullah (kini sekolah di sebuah SMA Solo), Yahya (sekolah di sebuah MI), dan 
Amaturohmah. Saat menitipkan ketiga anaknya ke Gebang itulah, Hadi mengaku 
terakhir bertemu dengan Zulkarnaen alias Arif Sunarso. "Sejak itu, saya tak 
tahu lagi dia ada di mana," keluhnya. 

Tiga anak lain Zulkarnaen dibawa istrinya. Hadi juga tidak mengetahui kabar 
menantunya, Wahyuningsih, karena sudah lama tak berkomunikasi. Wartawan koran 
ini sempat mendatangi sebuah alamat di Laweyan, Solo, yang disebut-sebut 
sebagai tempat tinggal istri Zulkarnaen itu. Namun, ternyata salah alamat. 

Koran ini juga mendatangi rumah tempat tinggal terakhir Zulkarnaen di 
Waringinrejo, Cemani, Sukoharjo. Rumah di belakang Ponpes Ngruki untuk 
santriwati itu sudah kosong. Tetangga sekitarnya pun tidak tahu ke mana 
Zulkarnaen pindah. 

Lantas, di mana Zulkarnaen? Hadi tetap menggeleng sembari mengangkat bahu. Dari 
raut wajahnya, tergambar jelas kerinduan seorang ayah terhadap anaknya. "Saya 
selalu berdoa semoga dia selamat," ujar Hadi dengan suara parau.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke