http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/17/utama/2296376.htm
Sekolah Itu Mirip Kandang Ayam
Nasrullah Nara
Hari Rabu (14/12) pukul 11.00, lonceng sekolah berdentang, tanda jam
pelajaran Matematika di Kelas VI SD Negeri Lebak Keusik 3, Kampung Ciapus,
Lebak, Banten, dimulai. Murid-murid yang sebelumnya bertebaran di sekitar
sekolah pada jam istirahat satu per satu masuk ke ruang kelas.
Tak lama kemudian, Sumantri seorang guru bantu memasuki ruang kelas.
Murid-murid yang sebagian bersandal jepit itu bergegas mengeluarkan buku ajar
Matematika.
Ketika Pak Guru tengah menerangkan tentang bilangan cacah dan bilangan
prima, seorang siswa yang duduk di pojok ruang menguap tak kuasa menahan
kantuk. Murid di sebelahnya mengibas-ngibaskan sebuah buku tipis di depan
dadanya. Pak Guru Sumantri pun sesekali mengibas-ngibaskan buku di depan
dadanya.
Saat itu udara memang sangat panas. Panas yang terpancarkan dari sinar
matahari tak terbendung oleh atap seng sekolah tersebut. Apalagi ruang kelas
itu memang tak dilengkapi langit-langit.
Pada lantai tanah dan dinding kelas yang terbuat dari anyaman bambu
tampak bulatan-bulatan terang, pertanda sinar matahari menerobos lubang-lubang
bekas paku di seng bekas, atap kelas tersebut.
Bisa dibayangkan bagaimana repotnya murid dan guru menyiasati keadaan
ketika hujan turun. Yang pasti, lantai yang tidak berlapiskan semen jadi becek,
tak ubahnya kandang bebek dan kandang ayam.
Apa yang Anda lihat sekarang sudah agak mendingan dibandingkan dengan
kondisinya beberapa tahun lalu, kata Kumpai (50), warga setempat yang didaulat
para orangtua murid sebagai ketua komite sekolah tersebut.
Tahun 1998 sekolah itu roboh ketika angin puting beliung meluluhlantakkan
perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut. Atap sekolah dari daun rumbia pun
rata tanah.
Rintisan warga
Tentu bukan tanpa alasan mengapa Kumpai ditunjuk sebagai ketua komite
sekolah. Selain merelakan sekitar 1.500 meter persegi tanahnya untuk lokasi
sekolah, petani berputra enam itu adalah saksi sejarah keberadaan SD Negeri
Lebak Keusik 3, Ciapus.
Tahun 1975 Kumpai terharu melihat semangat anak-anak di lima dusun itu
untuk menuntut ilmu. Untuk mengenyam bangku sekolah, anak-anak dari keluarga
petani tersebut saban hari berjalan kaki melintasi jalan setapak antara kebun
durian dan kelapa sawit sejauh lima kilometer menuju sebuah SD di jalan raya
poros Labuan-Malingping.
Saat itu Kumpai mulai menggalang warga setempat untuk mendirikan sekolah
darurat. Tiangnya dari pohon durian. Dindingnya dari bilah-bilah bambu. Atapnya
dari daun rumbia.
Berbekal sedikit pengetahuan yang dulu diperolehnya dari sekolah rakyat,
di bangunan itulah Kumpai mengajari anak-anak setempat menulis, membaca, dan
berhitung. Karena kegiatan belajar-mengajar tersebut belum diakui pemerintah,
pengajaran yang dilakoni Kumpai hanya bersifat les di luar sekolah.
Tahun 1996, seiring makin banyaknya anak-anak setempat ingin bersekolah,
pemerintah mulai mengakui keberadaan sekolah rintisan tersebut. Bangunan
darurat itu ditunjuk sebagai filial (cabang; kelas jauh) dari SD negeri di
Dusun Cikutra.
Menyambut pengakuan itu, warga mengembangkan bangunan darurat dari semula
satu ruang menjadi empat ruang. Tiga ruang di antaranya untuk tempat
belajar-mengajar. Satu lainnya untuk ruang guru merangkap ruang kepala sekolah.
Setiap ruang rata-rata berukuran 6 x 5 meter.
Saat itu warga berharap di dusun mereka bakal ada bangunan sekolah
permanen yang didirikan pemerintah. Apalagi di lima dusun bertetangga tersebut
jumlah anak yang bersekolah sudah lebih dari 100 orang.
Harapan yang sama membuncah di hati para guru yang jumlahnya lima orang,
satu pegawai negeri sipil (PNS) dan empat lainnya pegawai honorer. Proposal
demi proposal disusun dan dikirim ke lembaga terkait, tetapi hingga kini belum
juga ada jawaban.
Tahun lalu pejabat dari pemerintah kabupaten sudah meninjau lokasi, tapi
sampai sekarang belum ada tindak lanjut, tutur Sujana, guru PNS yang diangkat
sebagai pengelola sekolah tersebut.
Kalau saja pemerintah setempat terpanggil untuk membangun sekolah
permanen di dusun itu, sebetulnya beban yang harus ditanggung bisa jadi tidak
terlalu berat. Sebab, masyarakat setempat siap berpartisipasi.
Paling tidak, masalah lahan yang kerap menghadang sudah tak ada.
Sumbangan tanah warga seluas 1.500 meter persegi sudah memadai untuk bangunan
enam ruang kelas, lapangan upacara, sekaligus pekarangan bagi lebih dari 100
murid.
Bahwa lokasi sekolah memang hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor, itu
bisa saja jadi alasan pemerintah untuk malas duluan. Maklum, akses jalan
setapak yang berlumpur ke Ciapus memang mustahil dilewati kendaraan pengangkut
bahan bangunan.
Namun, melihat jiwa gotong royong warga setempat, kendala itu pun
sebetulnya tak perlu dirisaukan. Awal tahun 2005, ketika aliran listrik ke
tempat itu dirintis, warga juga yang sibuk menancapkan tiang demi tiang. Jadi,
tunggu apa lagi?
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help the victims of the Pakistan/India earthquake rebuild their lives.
http://us.click.yahoo.com/it0YpD/leGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/