http://www.suaramerdeka.com/harian/0512/17/opi4.htm

Bangsa yang Lapar Kejujuran 
Oleh Muhammadun AS 
BANGSA yang tercinta ini sedang dilanda 'kelaparan'. Tidak hanya kelaparan 
dalam arti fisik, namun mentalitasnya juga sedang dilanda 'kelaparan'. Berbagai 
tragedi mengerikan yang menimpa selama ini, mulai dari tsunami, gempa bumi, dan 
busung lapar yang sampai saat ini masih merenggut jiwa, merupakan tamparan atas 
mentalitas bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis. 

Berbagai bencana yang tahun lalu melanda Aceh tidaklah sebatas cermin 
kehancuran bangunan fisik, namun juga cermin keruntuhan bangunan peradaban. 
Bencana tersebut merupakan tamparan alam terhadap ulah manusia di muka bumi 
yang begitu angkuh, semena-mena, dan penuh kesombongan. 

Demikian juga kelaparan. Tragedi yang menimpa rakyat miskin yang 
berulang-ulang, yang sekarang ada di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua yang 
diduga menewaskan 55 warga dan 112 sakit parah mengindikasikan bahwa para 
pejabat bangsa ini masih banyak mengidap penyakit kekenyangan elitisme, 
mengagungkan prestise, sehingga menyepelekan orang miskin. Tidak hanya 
kekenyangan elitisme, namun bangsa ini juga 'kenyang' korupsi. Ke-kenyangan 
mentalitas buruk bangsa ini mengindikasikan bahwa bangsa ini sedang 'lapar' 
kejujuran. 'Lapar' akan kejujuran ini menimpa siapa saja, mulai dari para 
politisi, birokrat, ekonom, mahasiswa, budayawan, bahkan rakyat miskin juga 
dilanda lapar kejujuran. 

Para politisi sudah tidak mau lagi mendengarkan suara rakyat yang menuntut 
janji-janjinya saat kampanye dulu. Mereka 'duduk manis' di kursi Dewan 
mengatasnamakan wakil rakyat dan menjadikan rakyat miskin sebagai lahan proyek 
mengumpulkan kekayaan. Para birokrat melakukan praktik-praktik kolusi dan 
menjadikan lembaga pemeritahan sebagai 'lingkaran setan'. 

Ekonom, budayawan, bahkan mahasiswa hanya bisa bersuara lantang, menuntut 
penegakan mentalitas bangsa, namun mereka juga terperangkap dengan elitisme, 
hanya mengobral wacana dan tidak mau turun di daerah memberdayakan rakyat 
miskin. Lebih parah lagi, rakyat kecil pun sekarang sudah banyak lapar 
kejujuran. Banyak orang miskin yang frustasi dan menghalalakan segala cara 
untuk mendapatkan materi. Rakyat kecil sudah terjebak dengan faham 
materialisme, di mana ukuran kehidupan adalah tercukupnya harta dan kekayaan, 
bukan ketenangan dan kedamaian. Penulis di sini bukannya menyalahkan semua 
orang, namun mengajak berefleksi bersama dengan fenomena seperti ini. Lapar 
akan kejujuran memang telah menimpa setiap dimensi ruang dan waktu bangsa 
tercinta ini, sehingga mengakibatkan banyak tragedi, tidak hanya tragedi fisik, 
namun juga tragedi kemanusiaan. 

Urgensi Kejujuran

Manusia kok 'lapar' kejujuran! Sebetulnya, di manakah letak urgensi kejujuran? 
Menjawab pertanyaan ini, kita bisa menengok sosok Nabi Muhammad. Dialah Nabi 
yang menempatkan kejujuran sebagai sifat pertama kepemimpinannya. Kejujuran 
[sidiq] lebih diutamakan dari pada amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan 
ajaran), dan fathonah (kecerdasan). 

Di sini sungguh di luar nalar manusia modern, di mana kecerdasan [fathonah] 
menempati urutan paling terakhir dari kepemimpinan beliau. 

Kejujuran inilah yang perlu segera diresapi bangsa tercinta ini. Sejarah telah 
mencatat, bangsa ini selalu gagal membangun peradaban dengan strategi nalarnya, 
sebagaimana yang dilakukan Orde baru dan Orde Lama. 

Namun, bangsa ini juga mencatat kesuksesan perjuangan yang dilandasi kejujuran 
dalam mengusir penjajah. Mengapa kita tidak belajar dari sejarah? Sudah saatnya 
kita kembali kepada peradaban genuine yang diwariskan leluhur kita. 

Peradaban yang penuh kejujuran inilah yang akan memberikan harapan bangsa, 
sehingga KKN, busung lapar, dan krisis mentalitas lainnya segera berakhir. 
Amin. (24)

-Muhammadun AS, peneliti pada Central for Studies of Religion and Culture 
[CSRC] Yogyakarta. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke