Surat Jembatan Sembilan  

  

  KETIKA SEORANG PENYAIR MENOLAK MENTERI  

  

  Pada tanggal 23 Februari 2005 yang lalu, Parlemen Perancis yang didominasi 
mutlak oleh UMP [Union du Mouvement Populaire – Persatuan Gerakan Rakyat], 
leburan dari berbaqgai partai-partai kanan Perancis seperti RPR, UDF dan 
lain-lain-- partai politik berkuasa sekarang telah mensahkan sebuah 
Undang-undang yang dikenal dengan nama Undang-undang 23 Februari 2005. [UU 23 
Februari 2005]. Pasal 4 UU 23 Februari ini antara lain menyebutkan “peranan 
positif Perancis di seberang lautan [outre-mer] , terutama di Afrika Utara [le 
role positive de la presence francaise outre-mer, notamment en Afrique du 
Nord]. 
  

  Ini adalah suatu pandangan sejarah yang dibuat oleh Parlemen [Assemblee 
Nationale] Perancis dan diterapkan dalam kurikulum sekolah-sekolah di seluruh 
negeri, termasuk di daerah-daerah Perancis seberang laut seperti Martinik, 
Guadalup – daerah kelahiran penyair Aime Cesaire dan filosof Frantz Fanon, 
penulis ‘Damn the Earth’, dan ‘Peau noire, masque blanc’ [Kulit Hitam, Topeng 
Putih] – yang melukiskan terbelahnya identitas manusia Martinik, atau jika 
menggunakan istilah Marion van Renterghem dari Harian Le Monde, Paris, 
‘identitas yang rapuh’ [l’identite fragile’]. 
  

  Tak ayal, UU 23 Februari 2005 sejak dari rancangan mendapat reaksi keras dari 
berbagai pihak, terutama dari partai-partai kiri di metropole dan lebih-lebih 
lagi dari daerah-daerah Perancis di seberangan laut serta negeri berbahasa 
Perancis [francophone] di Afrika Utara. Debat teoritis, parlementer dan unjuk 
rasa besar-besaran berlangsung terutama di Martinik dan Guadalup yang 
penduduknya mayoritas berkulit hitam turunan budak-belian. Soal ini juga 
menjadi tema penting yqang dibicarakan dalam konfrensi Franco-Afrika yang 
baru-baru ini berlangsung di Bamako, Mali. Perancis dituding sebagai negara 
‘neo-kolonial’ . Reaksi-reaksi langsung dan segera begini oleh salah seorang 
penasehat Ketua Parlemen Perancis Jean-Louis Debre disebut sebagai “pembayaran 
tunai’. Inilah yang disebut bayaran kontan, ujarnya.C’est ce qui s’appelle 
payer cash” [Harian Le Monde, Paris, 9 Desember 2005].  

  Melihat hasrat untuk melakukan ‘pembayaran tunai’ demikian besar maka Menteri 
Dalam Negeri Perancis , Nicolas Sarkozy, orang nomor dua kabinet Dominique 
Villepin, dan yang berambisi untuk menjadi presiden Perancis menggantikan 
Jacques Chirac dalam pemilu mendatang, pada tanggal 8 dan Desember 2005 berniat 
untuk pergi ke Martinik dan Guadalup yang terletak di Laut Karibia belahan 
barat planet guna menyelesaikan permasalahan. Tapi unjuk rasa demikian berkobar 
sehingga akhirnya Sarkozy membatalkan kunjungannya. Secara politik, tentu saja 
pembatalan kunjungan Sarkozy ini merupakan suatu pukulan keras pada ambisi 
presidensialnya. 
  

  Pembatalan kunjungan ke wilayah negeri sendiri ini oleh pejabat 
pejabat-pejabat tinggi metropol ke Martinik dan Guadalup bukanlah hanya dialami 
oleh Sarkozy, orang nomor dua pemerintah sekarang dan yang keturunan imigran 
Polandia. Pada 13 Desember 1974, Presiden Perancis, Valery Giscard d’Estaing 
juga telah `membatalkan kunjungannnya ke Guadalup dengan alasan menanggung 
resiko “bottle neck” , “kemacetan lalulintas”. Sedangkan Le Pen, Presiden Front 
Naqsional , partai yang berkcencerungan neo-nazi membaatalkan pendaratannya 
karena bandara Martinik diduduki oleh para pengunjuk rasa. Le Pen mengulangi 
kegagalannya ke Martinik sekalipun sudah sampai di Porto Rico pada 26 Desember 
1997. Le Pen ditolak datang ke daerah Karibia Perancis ini karena ide-ide 
‘ketidaksetaraan rasial’nya. Sekarang Sarkozy ditolak karena ide 
“neo-kolonial”nya yang sangat menyinggung ingatan kolektif rakyat Martinik dan 
Guadalup dengan UU 23 Februari 2005 yang sama sekali tidak mengindahkan sejarah 
dan “ingatan
 kolonial’”, jika menggunakan istilah Phipple Ridet dan Patrick Roger. 
  

  Jika membandingkan penolakan terhadap Giscard d’Estaing p[ada 1974 dan 
terhadap Le Pen pada 1987 dan 1997 dengan penolakan terhadap kedatangan Sarkozy 
sekarang, saya melihat adanya kesamaan dan perbedaan. Persamaannya terletak 
pada bahwa penolakan itu dilakukan ataas dasar prinsip yang sangat hakiki yaitu 
masalah kesetaraan ras, konsep nasion, neo-kolonialisme dan ingatan kolektif. 
Sikap sejarah.
  

  Perbedaannya terletak dalam cara penolakan. Ketika menolak kedatangan 
Presiden Perancis Giscard d’Estaing, dan Presiden Front Nasional, Le Pen, 
orang-orang Martinik dan Guadalup lebih mengggunakan cara unjuk rasa dan 
menduduki bandara. Sedangkan ketika menolak kedatangan Sarkozy, selain 
menggunakan kekuatan fisik atas dasar suatu wawasan, di sini juga kekuatan 
moral sangat mengambil peranan. Kekuatan moral atau spiritual itu dilakukan 
oleh penyair, filosof dan juga politisi Aime Cesaire. Sarkozy ingin menemuinya, 
tapi Cesaire tegas-tegas Aime Cesaire [92 tahun] dalam menolak Sarkozy 
mengatakan dengan tegas:
  

  “Saya tidak mau bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Nicolas Sarkozy karena 
dua alasan: `1]. Alasan-alasan pribadi. 2] Karena sebagai penulis diskursus
  

  tentang kolonialisme, dan sayatetap menyetiai doktrin saya dan anti 
kolonialisme yang tegas. Karenanya saya tidak akan muncul untuk bersekutu 
dengan baik secara semangat atau pun secara harafiah dengan undang-undang 23 
Februari 2005”. [Lihat Harian Le Monde, Paris, 16 Desember 2005].
  

  Pernyataan begini tidak pernah terjadi pada waktu Presiden Giscard dan Le Pen 
.berniat datang ke kawasan ini, Aime Cesaire adalah seorang sastrawan yang pada 
masa mudanya bersekolah di Paris, dan bersama-sama dengan Leopold Senghor, 
mantan presiden Senegal, mendeklarasikan bahwa “Black is Beautiful’, dengan 
harapan membangkitkan harga diri, martabat dan harkat pada orang-orang, 
terutama di Afrika yang pada masa itu masih terjajah secara fisik. Konsep ini 
berdampak besar pada pembebasan Afrika , baik secara budaya, psikhologis mau 
pun politis. Oleh peranan sejarah dan pemikirannya, maka sekarang Aime Cesaire 
dipandang oleh rakyat Martinik dan Guadalup sebagai lambang “kesadaran Martinik 
dan orang Hitam”. Maka ketika Aime Cesaire menolak Sarkozy, seorang penyair 
menolak seorang menteri, maka yang berbicara dan menolak adalah ‘kesadaran 
rakyat Martinik, Guadalup dan seluruh orang Hitam’.
  

  Dengan pengakuan diri penyair yang bernama Aime Cesaire sebagai lambing 
‘kesadaran’ dan ‘nurani’ Martinik, Guadalup dan Orang Hitam, saya melihat bahwa 
Cesaire sudah melampaui tingkat ‘jurubicara zaman’ dan rakyatnya tetapi sudah 
sampai pada tingkat avant gardist, menunaikan fungsi seorang penyair dalam 
kehidupan dan juga menunaikan perannya sebagai warga republik berdaulat 
sastra-seni. Penyair sebagai avant gardist dari republik berdaulat sastra-seni 
memainkan peran sebagai pengarah, secara rendah hati, pengusul arahan dalam 
usaha memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Peranan ini tidak bakal 
mungkin dilakukan jika sastrawan asyik dan sibuk dengan diri sendiri, 
berwawasan dan berpengetahuan seperti ‘kail panjang sejengkal’ taoi mencoba 
‘mengukur dalamnya laut’, serta nongkrong di ‘menara gading’ atau terkerangkeng 
di fanatisme dogma dalam berbagai bentuk serta ‘menjadi anak pangeran atau 
raja’ jika menggunakan istilah penyair Perancis, Paul Elouard. Taraf dan 
pengakuan
 publik begini yang dicapai oleh Aime Cesaire bukanlah hasil otoproklamasi dan 
tindak-tindak egoistik cetek, tapi merupakan hasil dari proses belajar, 
pencarian, pergulatan mati-hidup dan berkegiatan panjang yang tak punya usai. 
  

  Ketika seorang penyair yang telah menjadi lambang ‘kesadaran dan nurani’ 
manusiawi dan rakyat, menolak seorang presiden atau menteri, pada saat itu saya 
melihat besar kekuatan sastra-seni . Saya melihat bahwa sastra-seni adalah 
republik berdaulat. Saya hanya bisa menghimbau kepada teman-teman 
sastrawan-seniman terdekatku guna merenungkan teladan ini, jika mereka tetap 
berkeputusan ingin jadi sastrawan-seniman. Who and who, apa-siapa sesungguhnya 
sastrawan-seniman itu, barangkali pertanyaan mendesak patut dijawab oleh 
teman-teman dekatku ini. Indonesia dan negeri mana pun agaknya tidak kelebihan 
sastrawan-seniman seperti halnya dengan bahwa bumi ini tidak kelebihan mimpi 
dan utopi.***
  

  Paris, Desember 2005.
  JJ.Kusni


                
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke