bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd, assalamu 'alaikum.

biasaaaa, cuman kiriman orang sech, tapi...... buagus tuk dibaca,
percayalah!

silah!

subhanaka- lLahumma wa bihamdiKa asyhadu alla Ilaha illa
Anta,astaghfiruKa wa atubu ilaiK. wassalamu 'alaikum

Benarkah Orang Baik Belum Tentu Masuk Surga?
   
  Apakah Bunda Theresa yang sepanjang usia nya dibaktikan untuk umat
miskin India harus masuk neraka ? Apakah Paus Paulus II yang pernah
menjamu calon pembunuhnya dengan baik hingga si calon pembunuhpun
membatalkan rencana pembunuhan tersebut juga tak pantas masuk surga ? 
Apakah Mahatma Gandi yang secara lembut, sabar dan selalu menggunakan
jalan damai untuk membela kemerdekaan rakyat India juga harus masuk
neraka ? Bagaimana pula dengan sebagian dari milyaran umat manusia non
Islam yang baik hati, apakah mereka harus masuk neraka dibanding
sebagian dari milyaran umat manusia lainnya yang beragama Islam tapi
buruk perilakunya ?
   
  Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak  ?
   
  Seorang ustadz yang saya tanya mengenai hal itu menjawab singkat,
“kalau memang akhlak yang dijadikan patokan oleh Tuhan untuk
menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga atau neraka, maka
agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”

  Kalau memang akhlak sangat menentukan masuk surga atau tidak, maka
untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat baik. 
Di negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di Eropa dan Amerika,
ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang luar
biasa baiknya.  Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering ketemu teman
atau tetangga yang baiknya luar biasa, ia mengaku punya agama tapi tak
pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari
orang yang rajin beribadah.
   
  Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam
kandungan.  Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia
untuk berbuat kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah
kecenderungan untuk bersifat buas walaupun ia berusaha dijinakkan di
lingkungan manusia.  Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang
membuat seorang manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk. 
   
  Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya
Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. 
Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka
tersesat dari agama mereka”  (HR Muslim).

  Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau
yang buruk sesuai firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan
kepadanya dua jalan.  (QS, Al-Balad 90 : 10).   “Sesungguhnya
Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada
pula yang kafir.”  (QS, Al-Insaan 76 : 3).

  Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan
yang baik oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar.
 Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
   
  Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa
akhlak yang baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku
buruk lebih baik daripada non-Islam yang baik hati. Tujuannya agar kita
menyadari bahwa ada yang lebih penting kita capai dalam agama ini
disamping kewajiban untuk berakhlak baik.
   
  Akhlak Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk
Membuatnya Masuk Surga.
   
  Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan
seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet.  Setelah selesai thawaf
Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" 
Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah,  saya dari Yaman,  saya mempunyai
seorang ibu yang sudah udzur.  Saya sangat mencintai dia dan saya tidak
pernah melepaskan dia.  Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang
hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya
selalu menggendongnya".  Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah,
apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada
orang tua?"  Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak
muda itu ia berkata : "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang
soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu
tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu".  Dari hadist
tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak
cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap
anaknya.  

Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua
orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan
manusia.  Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan
untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua kita.
Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan
kedua orangtua kita. 
   
  Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits
berikut ini.  Rasulullah SAW pernah berkata,  “Amal soleh yang
kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”.   Lalu
para sahabat bertanya:  “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah
?”.   Jawab Rasulullah SAW :  “Amal soleh sayapun juga
tidak cukup”.   Lalu para sahabat kembali bertanya : 
“Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” .   Nabi SAW
kembali menjawab :  “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat
dan kebaikan Allah semata”.    

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya
bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah.  Dengan rahmat
Allah itulah kita mendapatkan surga Allah.  Amal soleh yang kita
lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam)
tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga.  Amal soleh
sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah
sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah
sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal
soleh kita,  tetapi karena rahmat Allah.
   
  Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ?   Yaitu bahwa perbuatan
baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan
tiket ke surga.  Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. 
Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api
neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api
neraka.  Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan
Allah.  
   
  Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa
syaratnya agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah
bisa diterima ?

  Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi
ampunan dari ancaman neraka. Allah menentukan syarat utamanya adalah
beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat).
   
  Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan
Penyayang Akan Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang
Baik Hati ? 
   
  Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa
amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak
menerimanya, seperti tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan
ayat 23,  “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu
Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.
   
  Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap
hari ia bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu
halaman, menjaga keselamatan anak majikan selama majikan bekerja
diluar.  Namun sang pembantu yang rajin ini ternyata cara berbicaranya
tak sopan dan suka berbohong, walaupun baginya itu sudah sopan dan
bohongnya bohong kecil menurutnya.  Sang pembantu tidak mau berusaha
memperbaiki cara ia berkomunikasi dengan sang majikan.  Ia tidak juga
berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas
sang majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah
tangga, diantaranya disebutkan sang majikan bahwa kesopanan dan
kepercayaan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut.
 Bahkan terkadang ia sombong dan keras hati dengan menganggap bahwa
sebagai orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa
menerima kekurangan sang pembantu.  Maka apapun kebaikan dan jasa si
pembantu menjadi tidak ada artinya bagi sang majikan, karena yang
paling utama bagi majikannya adalah kesopanan dan kejujuran.  
   
  Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan
ibadah kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara
baik, melalui perenungan dan makrifatullah.  Kitapun sebagai hamba
Allah perlu mencari tahu apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan
Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah.
Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada disekeliling kita,
bahkan Ia telah memperkenalkan diri-Nya melalui kitab-kitab suci dan
ajaran nabi-Nya.  Sekarang tinggal kita saja mempelajarinya dan mencari
kebenaran. Insya Allah manusia (entah itu Islam, Kristen atau Islam
yang masih ragu-ragu) yang serius dan dengan tawadhu ingin mencari
kebenaran maka Allah memberi petunjuk (hidayah) melalui Qur’an
dan hadits. 
   
  Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah
sia-sia, karena hakikat Allah adalah diluar batas akal manusia.  Hati
manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati
bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta
kepada Allah.  Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran
(sifat sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia kembali
bercahaya menerangi pikirannya.
   
  Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik,
Amal dan Ibadah Kita
   
  Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang
diatur dalam Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah
mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya
diterima.  Aqidah Islam diwujudkan dalam bentuk syahadat hati dan
lisan.
   
  Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan.
Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan
sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan
hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.  Aqidah
Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan
syarat sahnya semua amal kita.  Untuk memperoleh aqidah yang lurus kita
perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan apa-apa yang
disukai dan dibenci Allah.  Tanpa aqidah yang lurus maka amal ibadah
kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT
adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda
ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan),
niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang
merugi” (QS, Az-Zumar: 65).    
   
  Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali
dengan dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya.
Sumbernya hanya al-Qur’an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang
lebih mengetahui tentang sifat-sifat Allah selain Allah sendiri.  
Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada
Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan
ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya,
Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan
mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip
Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang
menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh
berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara
amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang
shahih serta ijma’ Salafush Shalih.
   
  Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah
adalah dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu
baru mereka mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain.  Didalam Al
Qur’an, surat Al-A’raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis
beberapa kali ajakan para nabi, “Wahai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”.   Dengan demikian ilmu
Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu
pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang
ingin memperdalam ilmu agamanya.  Tanpa aqidah yang benar seseorang
akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan
akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup
kebahagiaan.  Tanpa aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi
dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita.
   
  Wallahu a’lam bish shawab.
   
  Wassalam,
  Abdi


Leo Imanov 

Abdu-lLah
AllahsSlave






                
___________________________________________________________ 
To help you stay safe and secure online, we've developed the all new Yahoo! 
Security Centre. http://uk.security.yahoo.com




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke