http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/22/utama/2308090.htm

 
Mereka Dibiarkan Kelaparan 


P Bambang wisudo



Cuaca cerah sore itu tidak mampu mengusir suasana muram di gubuk milik Yaneth, 
warga Desa Lolat, Kabupaten Yahukimo, Papua. Keluarga tersebut tengah dilanda 
kelaparan.

Desa Lolat berada di tempat terpencil, tersembunyi di antara bukit-bukit 
menjulang tinggi yang lebih sering diselimuti awan tebal sehingga tak bisa 
ditembus pesawat. Satu-satunya cara mencapai wilayah itu adalah berjalan kaki, 
naik-turun bukit dari Wamena selama tujuh hari. Keterpencilan itu membuat 
sistem pertanian subsisten-bertani untuk kebutuhan sendiri-masih bertahan.

Hari belum lagi petang ketika Ny Elizabeth (21), istri Yaneth, telah tenggelam 
di dalam gubuknya, merajut noken, tas kaum perempuan di desa-desa Papua.

Di pangkuannya tergolek lemah putri bungsunya, Nustinah (3). Sepanjang sore itu 
Nustinah menangis karena lapar. Daun ubi jalar dan beberapa ubi sebesar 
kelingking yang dipanggang di batu panas belum mengenyangkannya. "Mama 
cari-cari ubi sepanjang pagi, tapi tak dapat. Mama tepuk-tepuk, dia tertidur," 
kata Elizabeth.

Sudah berminggu-minggu tidak ada lagi makanan bagi keluarga Yaneth. Seperti 
warga yang tinggal di gunung-gunung di Kabupaten Yahukimo, mereka hanya makan 
daun ubi.

Di samping Elizabeth masih tergeletak beberapa ubi sebesar kelingking. Bantuan 
bahan pangan tidak kunjung datang, padahal Natal sebentar lagi tiba. Itu 
berarti pesawat yang biasa mengedrop bantuan berhenti beroperasi.

Kelaparan yang melanda wilayah pegunungan di Kabupaten Yahukimo begitu 
telanjang terlihat di Desa Lolat. Ironisnya, situasi kelaparan itu terus 
diingkari. Para pejabat yang meninjau tidak lebih dari 15 menit di dekat 
pendaratan helikopter tentu sulit ikut merasakan penderitaan mereka yang 
berbulan-bulan makan daun ubi.

Ely (27), salah satu kepala suku di Desa Lolat, siang sebelumnya jatuh pingsan 
di depan kantor camat. Seharian ia tidak makan. "Saya lihat gunung-gunung 
bergoyang. Saya kira gempa," kata Ely setelah siuman.

Musim kelaparan yang melanda daerah pegunungan di Yahukimo tak datang 
tiba-tiba. Kepala Pos Persiapan Distrik Lolat YA Rery, misalnya, telah 
melaporkan gejala awal kelaparan melalui surat kepada pemerintah kabupaten per 
3 Oktober. Namun, tidak ada tindak lanjut.

Laporan Yayasan Sosial untuk Masyarakat Tertinggal (Yasumat), organisasi 
nonpemerintah di bawah Gereja Injili di Indonesia, juga tak segera direspons.

Ancaman busung lapar

Laporan awal yang menyebutkan 55 korban tewas akibat kelaparan di Yahukimo 
memang perlu diverifikasi. Di Distrik Lolat, data yang dilaporkan cukup valid. 
Dalam laporan awal disebutkan empat orang meninggal di distrik itu akibat 
kelaparan sejak September 2005. Data terakhir menunjukkan jumlah korban 
meninggal akibat kelaparan di Lolat lima orang. Jumlah itu belum termasuk 10 
orang yang meninggal dengan gejala pusing-pusing-diduga terkait dengan 
kekurangan makan.

Akan tetapi, di Distrik Koropun, dari 15 orang yang dilaporkan meninggal, hanya 
tiga yang meninggal akibat kurang pangan.

Gambaran kelaparan dengan orang-orang yang nyaris tak bergerak dengan kulit 
membungkus tulang memang tidak terjadi di Yahukimo. Kaum pria dan perempuan 
masih bisa berkebun. Anak-anak masih bermain di gunung-gunung. Namun, siapa 
yang tahan dengan makan daun-daunan sehari sekali selama berbulan-bulan?

Gambaran serupa diberikan Patar Oppusunggu (28), dokter dari Kabupaten Asmat 
yang berhasil masuk ke Distrik Koropun dan Dagi serta tinggal dua hari di sana. 
Ia juga tidak melihat ada warga yang busung lapar. "Tapi tunggu dua-tiga bulan 
lagi," katanya.

Kelaparan yang melanda wilayah pegunungan di Yahukimo memang sangat ironis 
dibandingkan dengan hamparan kehijauannya. Berbeda dengan bencana kelaparan 
akibat kekeringan di Papua pada tahun 1997, saat ini tanaman justru tumbuh 
subur. Bahkan di beberapa perkampungan, seperti di Distrik Lolat, air tersedia 
melimpah, tetapi bahan pangan pokok sulit ditemukan.

Di Lolat tidak ada kebun jagung seperti ditemukan Menteri Koordinator 
Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono.

Menurut Ely, dulu warga pernah menanam jagung dan tanaman itu tumbuh subur. 
Namun, ketika bibit ditanam lagi, tidak bisa tumbuh-diperkirakan bibit itu 
jenis jagung hibrida.

Kacang juga bisa tumbuh subur. Persoalannya bibit tidak ada. Di Wamena, bibit 
kacang harganya belasan ribu rupiah, jelas tidak terjangkau oleh warga yang 
bertani subsisten.

Jadi tuduhan kasus kelaparan dibesar-besarkan sangatlah tak berdasar. Mereka 
adalah warga Indonesia yang tidak pantas ditinggalkan dalam keterbelakangan dan 
lapar.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke