http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/22/daerah/2308946.htm

 
Yang Terjajah di Negeri Merdeka 




"Desa ini masih terjajah, belum merdeka. Tulis itu besar-besar di koran," ujar 
Riadi, Kepala Desa Mesir Dwi Jaya, Kecamatan Penawartama, Kabupaten Tulang 
Bawang, Lampung, dengan sedikit emosional. Pria yang baru beberapa bulan 
menjabat sebagai kepala desa itu tampak kesal. Nada suaranya berulang kali 
meninggi, mencerminkan kegundahan hatinya.

Riadi ditemui di rumahnya yang sederhana, berdinding kayu dan berlantai semen. 
Di ruang tamu, nyaris tidak ada perabotan selain sebuah meja kayu dan beberapa 
kursi plastik. Di dinding terpasang gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
dan Wapres Jusuf Kalla berdampingan dengan gambar Bupati Tulang Bawang 
Abdurahman Sarbini Natamenggala dan wakilnya, AA Sopandi.

"Meski fotonya dipasang, belum ada satu pun yang berkunjung ke sini. Namanya 
juga desa terpencil," kata Riadi.

Dari Menggala, ibu kota Kabupaten Tulang Bawang, desa ini berjarak 70 
kilometer, dan dari Bandar Lampung sekitar 200 kilometer. Jalan menuju desa itu 
sudah hancur dan berbatu-batu. Beberapa ruas jalan berupa jalan tanah yang 
sulit dilewati jika hujan deras.

Sebagian besar dari 1.300 hektar luas desa itu berupa rawa-rawa sehingga desa 
itu menjadi langganan banjir. Tidak ada saluran irigasi atau bendungan. Warga 
membangun tanggul-tanggul darurat, sekadar untuk menghambat derasnya air.

"Setinggi apa pun kami membangun tanggul, tetap saja jebol karena air demikian 
deras," kata Wasimin (55), seorang warga.

Untuk minum, warga terpaksa menampung air hujan. "Airnya asam, jelas tidak bisa 
diminum. Dipakai mandi pun badan gatal-gatal," ujar Suprihatin (32), warga 
lainnya.

Desa tersebut juga tidak memiliki fasilitas kesehatan. Meski ada sebuah 
puskesmas pembantu, tidak ada satu pun dokter atau bidan yang betah tinggal di 
desa itu. "Beberapa hari lalu ada satu warga sakit parah. Enggak ada kendaraan 
operasional dan enggak ada bidan atau dokter yang diam di desa ini. Akhirnya 
warga itu meninggal tanpa kami tahu apa penyakitnya," kata Riadi.

Dengan kondisi lahan yang tidak produktif itu, hampir seluruh penduduk desa itu 
miskin. Rumah-rumah penduduk nyaris seragam, berlantai tanah dengan dinding 
kayu, tanpa ada perabotan. Penduduk yang "agak berada" mampu mengecat rumah 
atau lantainya dari semen dan membeli radio-hiburan satu-satunya bagi warga.

"Di sini enggak ada yang kaya. Kalau ada yang rumahnya agak bagus, itu berarti 
ada keluarganya yang jadi TKW ke Malaysia," ujar Suprihatin.

Menurut Riadi, 326 keluarga atau 1.638 jiwa penghuni desa itu semua miskin. 
Akan tetapi, saat pembagian bantuan langsung tunai (BLT) hanya sekitar 160 
keluarga yang mendapat bantuan.

Desa itu dibuka akhir tahun 1992 sebagai wilayah transmigrasi. Penduduk awal 
berjumlah 500 keluarga atau 1.560 jiwa dari wilayah Gunung Balak, Kabupaten 
Lampung Tengah, Padang Cermin (Lampung Selatan), dan Wonosobo (Tanggamus).

Setiap keluarga transmigran mendapat jatah dua hektar-1,75 hektar lahan garapan 
dan 0,25 hektar pekarangan. Mereka mendapat bibit buah-buahan dan jatah hidup 
selama 2,5 tahun dari pemerintah. "Sampai jatah hidup kami habis lahan ini 
tetap tidak menghasilkan," ujar Wasimin.

Kadar asam lahan rawa yang terlalu tinggi membuat bibit buah-buahan tidak dapat 
tumbuh. Warga pun tidak memiliki modal cukup untuk menggarap semua lahannya.

Saat mengikuti program transmigrasi itu, Wasimin berharap taraf kehidupannya 
akan meningkat. Saat masih tinggal di Gunung Balak, Wasimin tergolong sukses 
karena memiliki kebun kopi dan coklat. Sayang, Gunung Balak termasuk kawasan 
hutan lindung register 38 sehingga dia sekeluarga harus pindah.

"Ternyata kami malah lebih miskin. Untuk makan saja sulit. Saya tidak mampu 
beli beras karena mahal sekali. Terpaksa saya makan tiwul dan oyek," katanya.

Hampir seluruh penduduk desa itu makan tiwul dan oyek. Mereka menyisakan 
sedikit nasi untuk anak-anak balita agar mendapat sedikit gizi.

"Kasihan kalau makan oyek terus, hampir tidak ada gizinya," ujar Suprihatin 
yang memiliki dua anak. Karena kesulitan hidup, lebih dari 174 keluarga atau 
370 warga akhirnya meninggalkan lokasi itu. Mereka memilih kembali ke kampung 
asal, menumpang rumah kerabat, atau mencari usaha lain.

"Siapa tahan tinggal di sini? Tidak ada apa-apa dan tidak mendapat perhatian 
sama sekali. Kami ini terjajah di berbagai segi. Kami belum merdeka," ujar 
Riadi. (IRN


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke