REPUBLIKA
Rabu, 21 Desember 2005

Perempuan di Persimpangan Zaman 
(Catatan Hari Ibu 22 Desember) 



Tarmizi Taher
Rektor Universitas Islam Azzahra

Peringatan Hari Ibu yang ke-77 saat ini mestinya tak lagi hanya sekadar 
peringatan seremonial belaka. Hendaknya menjadi renungan bagi kaum perempuan 
atas perannya selama ini. Dalam pandangan umat dan bangsa terhadap perempuan, 
ternyata terbentang suatu spektrum pemikiran yang sangat lebar. Tampak terjadi 
polarisasi para ahli memandang problem perempuan: antara yang dipengaruhi 
aliran feminis dari Barat dengan pandangan kultur Arab (bukan Islam).

Gerakan perempuan yang terpengaruh oleh Barat sebagian mulai dengan bersikap 
menjadikan pria sebagai ''musuh'' atau ''terdakwa'' yang tidak sesuai dengan 
nilai dan norma Asia. Maka gerakan perempuan kultur ke-Araban bukan merujuk 
kepada kepada pendahulunya, seperti istri Nabi Muhammad, Sita Khadijah dan 
Aisyah. 

Kepada pendukung kedua pandangan ''ekstrem'' ini perlu hendaknya membaca buku 
Karakteristik Islam Kajian Analitik karya Yusuf Al Qardhawi (1994). Menurut 
Yusuf Al Qardhawi, dari tujuh karakteristik Islam, salah satu cara bersikap itu 
perlu integrasi konsistensi (tsabat) dan keluwesan (murunah).

Sikap saya adalah mendekatkan pemberdayaan perempuan Indonesia dengan cara 
moderat (wasathan). Saya beranggapan sikap mutlak-mutlakan dalam berpikir 
tentang masalah perempuan hanya akan merugikan. Karena perempuan juga manusia, 
tetap punya kelemahan. Namun mereka dianugerahi Tuhan otak dan hati.

Sikap Muslimah
Sikap Muslimah dalam menatap masa depan mengahadapi era ilmu dan teknologi 
serta globalisasi ada tiga pilihan. Pertama, sikap isolasi, menutup diri dari 
lingkungan global dengan menyatakan dalam Islam sudah ada semua. Kedua, sikap 
keterbukaan seluas-luasnya dengan menyatakan Islam sudah kuno, maka campakkan 
yang lama, terima saja dari luar semuanya. Ketiga, sikap selektif dengan 
bijaksana mengadakan seleksi terhadap pengaruh luar untuk memperkaya Islam. 

Nah, sikap umat dan bangsa Indonesia sebagai manusia yang bertempat di 
persimpangan jalur laut dan budaya dari dulu adalah sikap ketiga. Dalam sejarah 
sebelum Islam masuk ke Nusantara, ternyata kita sudah kenal dengan 
kerajaan-kerajaan Hindu yang memiliki pemimpin perempuan (queen). Aceh sebagai 
kerajaan Islam banyak mempunyai pahlawan perempuan. Yang paling terkenal memang 
Cuk Nyak Dien yang membela Aceh mati-matian sampai ia menjadi buta. Perempuan 
heroik Aceh lainnya yaitu Laksamana Malahayati. Malahayati adalah panglima 
armada Sultan Iskandar Muda II. Dalam pertempuran pertamanya menghadapi 
Portugis di Selat Malaka, Malahayati kalah. Dia bersumpah akan menebus 
kekalahannya atau dia akan mati tenggelam dengan syahid. 

Jika Joan of Arc, pahlawan perempuan dari Prancis diragukan sejarah 
kepahlawanannya, maka bangsa Indonesia bisa menjadikan Malahayati menjadi 
penyemangat dan motivator untuk memberdayakan perempuan Indonesia masa kini dan 
esok. Bahwa perjuangan perempuan untuk lebih baik dapat dicapai.

Selain itu, semangat pahlawan perempuan juga pernah digunakan Vietnam waktu 
diserbu RRC sesudah perang Vietnam. Pasukan Vietnam yang dibakar semangatnya 
dengan cerita masa lalu (cerita tentang seorang jenderal wanita Vietnam yang 
mengalahkan Cina) telah dapat mengusir serbuan RRC saat pertempuran itu.

Perempuan era modern
Sejarah modern Indonesia juga menjadi saksi bahwa peran perempuan dalam 
memperjuangkan kemerdekaan Republik ini tak dapat dipandang sebelah mata. Dalam 
perjuangan, masa lalu dapat dijadikan pelajaran dan penyemangat untuk menatap 
masa depan Islam, baik di bidang politik, ekonomi, dan budaya. Akan tetapi, ada 
konsep yang perlu dikembangkan masyarakat Islam yang tidak dikenal dalam bangsa 
Arab.

Menurut Prof Kamal Hasan (2003), konsep berbagi kekuasaan politik tak dikenal 
dalam pikiran politik Islam masa lalu. Tapi masyarakat Malaysia yang juga 
majemuk, dalam sejarahnya, telah melembagakan dan secara stabil telah membuat 
konsep paling praktis dan bijaksana untuk mengelola masyarakat dan bangsa yang 
majemuk.

Dalam Islam, konsep kesetaraan wanita secara garis besar ada dalam Alquran yang 
secara khusus memberi nama surat An Nisaa' (perempuan), dalam ayat (1) 
mengatakan,''Wahai manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu 
dari satu diri dan dari diri itu diciptakan istrinya dan dikembangkan dari 
keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak.'' Dalam banyak hal, perempuan dan 
laki-laki mempunyai hak sama. Mulai dari memilih jodoh, menjadi tentara, 
memilih profesi dan dalam keluarga serta lainnya. Malahan dalam menerima 
penghargaan dari anak-anak dapat hak lebih dari ayah.

Hanya, secara embriologis, walau berasal dari cell yang sama namun tumbuh dalam 
bentuk dengan kelebihan atau kerendahan secara seksual organ. Mungkin ini 
simbol dalam aktivitas seksualitas antara suami dan istri: suami pihak yang 
memerankan peran lebin (aktif).

Sebagai ibu
Perempuan sebagai ibu adalah sumber nilai dan norma bagi generasi kini dan akan 
datang. Kehilangan kasih sayang ibu dapat menimbulkan konsekuensi berat bagi 
generasi muda. Perempuan masa kini telah menjadi super bionik dengan banyak 
fungsi yang disandangnya, seperti istri, ibu, tenaga kerja, pencari nafkah dan 
pemimpin organisasi.

Dalam memerankan peran itu perempuan tak boleh mengabaikan fungsi utama sebagai 
istri dan ibu. Dampak samping pemberdayaan perempuan telah menimbulkan 
akibat-kaibat sampingan yang jauh di Barat, seperti wanita karir yang tak mau 
menikah, tak mau punya anak, dan wanita yang melawan kodrat kewanitaan. 

Negara-negara Eropa kini mencari jalan seimbang bagi perempuan dam fungsi 
ke-ibuan untuk melahirkan dan karir di luar rumah. Broken home adalah 
konsekuensi berat terhadap keluarga dan anak-anak. Oleh karena itu, peran 
perempuan pada persoalan pendidikan juga mesti ditekankan. Memperoleh 
pengetahuan merupakan suatu keharusan. 

Dalam ramalan John Naisbitt, dominasi laki-laki makin memunculkan perempuan 
sebagai tokoh politik, pemimpin bisnis, dan tokoh intelektual. Fakultas 
Kedokteran Universitas Indonesia yang dulu didominasi laki-laki, kini makin 
dikuasai wanita. Laki-laki cerdas UI kini lebih banyak memilih jurusan ekonomi 
dan teknik. Namun perempuan telah memunculkan pula tokoh-tokoh ekonomi yang 
berkaliber nasional dan internasional. 

Kini, dunia makin menyaksikan the rise of the east. Kata John Naisbitt 
(Megatrend Asia, The Eight Asian Megatrends That Are Changing The World, 1995): 
''Nation state > Net work, Export led > Consumer driven, Western villages > The 
Asian way, Goverment controlled > Market driven, Villages > Supercities, Labor 
intensive > High technology, Male dominance > Emergences of women, West > 
East.''

Makanya, dalam pemberdayaan perempuan, jargon-jargon Barat makin digeser oleh 
nilai dan norma Timur. Dalam memandang dominasi laki-laki, kita di Timur 
menyebutnya menimbulkan partnership dengan perempuan, supaya terwujud 
keseimbangan laki-laki dengan perempuan secara harmonis. Renaissance nilai dan 
norma ketimuran makin merambah ke Barat, seperti kita lihat dalam sumbangan 
imigran Asia kepada nilai dan norma di Barat: ''unstable family menjadi stable 
family. Wallahu a'lam.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke