> > >Dear All, > >Bersama ini kami, Yayasan Air Putih, mengundang teman-teman untuk menghadiri >acara Refleksi Setahun Tsunami dan Launching Buku Sejarah Tumbuh di Kampung >Kami. Buku ini merupakan karya Mardiyah Chamim, seorang jurnalis dari >Majalah Tempo, yang menjadi relawan di Aceh dalam setahun terakhir. > >Yayasan Air Putih, bekerja sama dengan Yayasan Puter, Cisco System >Indonesia, dan Jaringan Relawan Kemanusiaan, menerbitkan buku ini sebagai >bagian dari upaya pendokumentasian tragedi kemanusiaan terbesar dalam >sejarah peradaban modern. Agar kita sebagai bangsa bisa memetik pelajaran >dari bencana yang harus dibayar dengan 200 ribu nyawa saudara-saudara kita. > >Buku ini juga merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap semua pihak, >lembaga maupun individu dari seluruh penjuru dunia, yang turut membantu >mengulurkan tangan dan mempererat solidaritas kemanusiaan pascatsunami. > >Dalam waktu dekat Yayasan Air Putih juga akan menerbitkan buku >berjudul Connecting The Unconnected yang merekam dinamika dan peran >teknologi informasi pada saat-saat genting pascabencana. > >Adapun rincian acara adalah sebagai berikut : >Hari : Selasa, 27 Desember 2005, pukul 18.30 >Tempat : Jalan Bonang 1A, Jakarta Pusat >Acara : > >- Doa bersama untuk korban tsunami >- Sepatah kata dari Yayasan Air Putih (Heru Nugroho/Edwardo Rusfid) >dan JRK (Romo Sandyawan) >- Ulasan buku dari Amarzan Loebis (Tempo) dan Bondan Winarno >- Makan malam >- Acara dipandu oleh Agus Noramal, pendongeng asal Aceh > > >Sebagai catatan, katering pada acara ini disediakan oleh Suara Ibu Peduli. >Suatu hal yang menandakan bahwa kerja kemanusiaan untuk Aceh, mudah-mudahan >juga untuk berbagai hal yang membutuhkan solidaritas kemanusiaan di masa >datang, melibatkan begitu banyak lapisan masyarakat. > >Terimakasih. > > >Yayasan Air Putih > > >***** > >Pengantar Penulis > > >Judul buku: Sejarah Tumbuh di Kampung Kami >Tebal : 208 halaman >Penulis : Mardiyah Chamim, wartawan Tempo >Editor : Dwi Setyo Irawanto >Kata Pengantar : Ir. Sarwono Kusumaatmadja dan Bondan Winarno >Publisher: Yayasan Air Putih >Co Publisher: > Yayasan Puter > Cisco System Indonesia > Jaringan Relawan Kemanusiaan > > >Sejarah Tumbuh di Kampung Kami. Buku ini berkisah tentang pengalaman saya, >sebagai wartawan dan relawan, bekerja di Aceh selama setahun terakhir. Buku >ini juga merupakan persembahan saya terhadap 200 ribu korban gempa yang >disusul tsunami, 26 Desember tahun lalu. Bukan sesuatu yang muluk-muluk, >persembahan ini sekedar ungkapan atas apa yang saya rasa, dengar, dan alami >selama bergaul dengan Aceh pascatsunami. > >Sebagai wartawan, saya kerap kali merasa gelisah. Ada begitu banyak kisah >yang layak diberitakan tetapi begitu sedikit ruang yang tersedia. Berita >tentang Aceh yang tadinya menghuni semua halaman utama, pelahan-lahan >tersuruk sebagai berita kecil di halaman paling buncit. > >Dengan segala keterbatasan, saya mencoba menyiasati keterbatasan media >tersebut. Catatan demi catatan saya kumpulkan. Tentang relawan yang setia >mendampingi masyarakat. Tentang orang-orang yang bertahan hidup dengan gagah >sekalipun ditinggal anak-istri dan mereka yang terkasih. Tentang proses >evakuasi mayat yang membutuhkan kerja luar biasa. Tentang proses pemulihan >yang berliku dan menyimpan problem berlapis-lapis. Tentang perdamaian yang >masih rapuh. Juga tentang upaya meraih hari esok yang lebih baik. > >****** > > >Kata Pengantar Ir. Sarwono Kusumaatmadja > >Buku Sejarah Tumbuh di Kampung Kami bercerita tentang kawasan pantai dan >pesisir Aceh pasca tsunami 26 December 2004 dari sudut pandang serta >pengalaman Mardiyah Chamim seorang wartawati Tempo. > >Bagi siapapun yang sedikit atau banyak melibatkan diri dalam peristiwa >sesudah bencana tsunami, pengalaman di Aceh meninggalkan kesan yang amat >mendalam. Tidak terkecuali rupanya bagi Mardiyah, yang menjalani profesi >sebagai insan pers, seorang wartawan. > >Para wartawan adalah orang yang tahu banyak. Mereka terlatih untuk merekam >peristiwa dan menuliskannya. Apa yang mereka ketahui sungguh banyak. Namun >keterbatasan ruang dalam media, serta kebijakan maupun selera editor >membatasi apa yang mereka sajikan kepada publik. Sebagian dari mereka >memilih untuk menyerah pada keterbatasan ini. Mereka memilih untuk >mengutamakan apa saja yang oleh media digolongkan sebagai "newsworthy", >layak liput. Celakanya setelah terjerat dengan keterbatasan ini, mereka >kemudian menciptakan sikap tersendiri, menjadi eksklusif. Seakan-akan apa >yang tidak mereka mereka liput tidak eksis. Mereka menjadi amat mengetahui >tentang apa yang layak liput, tetapi tidak tahu apa-apa di luar itu. >Andaikata pun tahu, karena tidak layak liput tidaklah dianggap penting. > >Buku yang ditulis oleh Mardiyah, memuat cerita tentang Aceh yang sebagian >besarnya tidak diliput oleh media. Dari sini pembaca mudah-mudahan memahami >bahwa Mardiyah telah berikhtiar jauh diluar kewajibannya sebagai seorang >jurnalis. Dari buku ini pun mudah-mudahan pembaca dapat mengetahui bahwa >yang berperan dalam proses rekonstruksi dan penyembuhan Aceh jauh lebih >besar jumlahnya dan jauh lebih jamak ragamnya dibandingkan dengan apa yang >hanya dapat kita ikuti dari liputan media. > >Bencana tsunami menimbulkan banyak korban baik jiwa, harta benda maupun >kawasan. Tetapi tragedi ini menciptakan peluang yang amat besar bagi >terwujudnya masa depan yang cerah bagi Aceh, menjadi masyarakat yang maju, >dinamis dan sejahtera. Dengan segala cerita yang penuh haru dan mampu >menyentuh perasaan kita yang paling dalam, optimisme semacam ini terpancar >dari buku Mardiyah. > >Oleh karena itu kita semua perlu bersikap arif serta menyertai saudara- >saudara kita di Aceh merumuskan masa depannya secara jernih. Penderitaan >mereka sungguh sudah amat lama berlangsung. Untuk Mardiyah saya mengucapkan >selamat atas lahirnya buku ini, karya seseorang jurnalis yang mempunyai >kemauan keras untuk keluar dari kotaknya dan menanggapi tragedi tsunami >dari sudut pandang seseorang yang mempunyai komitmen kemanusiaan yang utuh. > >(Ir. Sarwono Kusumaatmadja) > > > > >Kata Pengantar > >Mengalahkan Tirani Keterbatasan Ruang > >Bagi seorang penulis dan juga wartawan buku adalah mahkota >kepengarangan. Khususnya bagi seorang wartawan, buku juga sebuah katup untuk >menyalurkan tirani keterbatasan ruang media massa. > > Mungkin sekali itulah yang dirasakan Mardiyah Chamim, wartawan TEMPO >yang dikirim ke Aceh untuk meliput pasca musibah tsunami. Berminggu-minggu >ia di sana mencium bau mayat serta busuk puing dan sampah, berhadapan >dengan kepedihan ribuan orang yang kehilangan harta pusaka dan jiwa orang- >orang tercinta. Tetapi, Jakarta hanya memerlukan sekian laporan yang >masing-masing terdiri atas sekian ribu karakter. Too many stories, too >little space! > > Diyah tidak menyerah pada tirani keterbatasan ruang. Di sela-sela >kesibukannya sebagai pewarta, dengan tekun ia mengurai catatan-catatannya, >diusiknya kembali perasaan yang dialaminya selama bertugas di sana, dan >semua itu dituangkannya ke dalam tulisan panjang yang diterbitkan sebagai >buku ini. > > Saya pun berada di Aceh ketika Diyah bertugas di sana. Bedanya, saya >sebagai relawan yang tidak hanya mengamati, melainkan melaksanakan pekerjaan >di lapangan untuk membantu apa saja yang dapat dibantu: mengusung mayat, >menurunkan bahan pangan dari palka kapal dan menaikkannya lagi ke truk, dan >banyak lagi pekerjaan kotor yang harus kami lakukan. Ketika itu saya >menjadi bagian dari sekian ribu relawan dari seluruh penjuru dunia yang >mungkin dengan congkaknya seperti juga diamati Diyah berkata: Hei, saya >ke sini untuk menolong kalian semua! > > Tetapi, saya kira Diyah pun mengalami saat-saat depresi seperti yang >saya alami. Begitu banyak malam-malam yang kami lewati sambil terpanggang di >atas tilam atau lapik tipis. Tubuh penat, tetapi mata tak bisa terpejam, >karena pikiran terus bekerja memutar video musibah dahsyat yang terbentang >di mata kami. Terbayang mayat-mayat yang tadi diusung. Terbayang wajah-wajah >duka yang penuh harap menanti anggota keluarga yang belum kembali. Terbayang >kemarahan para korban yang lapar karena jatah bantuan justru disadap oleh >mereka yang tidak terkena musibah. Semua itu terjadi di depan background >reruntuhan dan keporak-porandaan di mana-mana. > > Diyah menuliskan semua itu dalam buku ini. Mata dan telinganya yang >tajam sebagai wartawan membuatnya mampu menyimak semua fenomena petaka yang >terjadi. Ia merekam semuanya dengan rajin. Dan di sinilah mengemuka >pelajaran kewartawanan yang selalu saya kemukakan kepada semua pemula: hukum >input-output. Tanpa input yang memadai, tak mungkin ada output berupa karya >tulis yang lengkap dan indah. > > Diyah juga beruntung dibesarkan di lingkungan TEMPO yang punya >tradisi jurnalistik sastrawi, sehingga mampu mengemukakan catatan-catatannya >dalam sebuah tulisan yang indah. Hati perempuannya yang lembut melengkapi >unsur kehalusannya bertutur, tanpa membuat tulisannya menjadi melodramatis. >Ia melihat dengan mata dan telinga wartawan yang tajam, menyaring semua >fakta dan data dengan nurani yang jernih dan lembut, dan menuliskannya >dengan teknik jurnalistik sastrawi yang mengagumkan. > > Selamat atas lahirnya buku ini. Semoga akan banyak lagi buku-buku >Diyah lainnya di masa depan. > >Bondan Winarno
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/SBefZD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

