Surat Jembatan Sembilan
INGATAN INDONESIA: APA & BAGAIMANA?
Masalah-masalah Hakiki Dari Krisis Banlieus & Krisis UU Februari 2005 Di
Perancis.
Masalah ingatan kolektif dan identitas bangsa , lagi-lagi dan kembali muncul
ke ruang lingkup pertanyaan renunganku menyusul Krisis Banlieu Pinggiran
Kota Paris dan dilanjutkan oleh Krisis UU 23 Februari tentang Jasa
Kolonisasi yang menggoncangkan Perancis. Krisis Banlieu adalah gempa fisik
sedangkan Krisis UU Februari lebih merupakan gempa pemikiran. Dua jenis
gempa ini dirumuskan oleh Presiden Chirac dan PM. Villepin sebagai ungkapan
dari masalah tunggal yaitu krisis identitas dan juga masalah yang disebut oleh
Villepin sebagai ingatan Perancis. Ketika menerungi Krisis UU Februari ,
PM Dominique de Villepin, yang seorang budayawan, sampai pada kesimpulan bahwa
<< il ny a pas une memoire francaise, mais des memoires>> [Harian Le Monde,
Paris, 9 Desember 2005], yang ada yaitu ingatan-ingatan. Ingatan Perancis
tidaklah tunggal tapi majemuk. Dengan kesimpulan begini, maka Villepin sebagai
pemikir, memberi tempat selayaknya pada kemajemukan nasion Perancis dan
berdasarkan kenyataan majemuk demikian merancangkan suatu grand design, peta
umum, bagi pembangunan nasion kekinian yang tanggap serta aspiratif sebagai
jalan keluar dari yang mereka sebut krisis identitas Perancis. Melanjutkan
masalah sentral yang diangkat oleh Villepin ketika membaca krisis-krisis di
depan mata demikian, filosof-romansir Regis Debray dan Marcel Gauchet, juga
seorang filosof sekaligus direktur suatu bidang kajian di lEcole des Hautes
Etudes en Sciences Sociales [lEHESS] Paris, pemred Majalah Debat, merinci
lebih jauh permasalahan ke lingkup: komunitarisme, banlieus [pinggiran kota],
nasion, multikulturalisme dan krisis identitas dalam rangka yang mereka sebut
sebagai usaha mencari republik. [Lihat: Le Nouvel Observateur, Paris, 15-21
Desember 2005].
Titik [point] lain yang menarik perhatian saya, dalam usaha pemikir-pemikir
Perancis menyimpulkan Krisis Banlieus dan Krisis Februari adalah apa yang
diajukan oleh salah seorang penasehat menteri dalam negeri Perancis, Sarkozy,
dalam keadaan mereka berada pada posisi mayoritas mutlak di Parlemen: kita
tidak bisa lagi bersandar pada satu kekuatan politik mahakuasa [On ne peut
plus sappyuyer sur une force politique puissante].
Pandangan saya mengesankan saya karena ia diucapkan oleh salah seorang yang
sedang berada dalam posisi dominan, berhegemoni mutlak tapi masih mengatatakan
dominasi dan hegemoni tidaklah identik dengan kebenaran. Bahwa kekuatan fisik
dan kekuasaan tidak identik dengan kebenaran. Kebenaran tidak memerlukan
sandaran kekuatan fisik tapi lebih pada kebenaran itu sendiri. Ketika hal ini
diucapkan oleh salah seorang dari yang sedang berdominasi dan berhegemoni,
sehingga sering disindir sebagai kekuasaan mutlak sang raja, saya merasa
ucapan dan dan bandangan demikian hanya mungkin keluar dari nurani seorang
cendekiawan manusiawi, cendekiawan yang setia pada kecendekiawanannya,
sebagaimana seorang sastrawan menyetiai kesastrawanannya yang warga republik
berdaulat sastra-seni.
[Setia pada status berdaulat sastra-seni inilah yang jika menggunakan istilah
cerpenis-penyair Harsanti atau Shantined dari Balikpapan, Kaltim, bisa disebut
sebagai sastra-seni murni!Kukira inilah, sikap beginilah yang dikatakan
sastra-seni murni. Murni tidak berarti tidak bersikap. Murni di sini lebih
berarti sebagai berdaulat. Sebagai manusia pun kita layak berdaulat apalagi
sebagai perempuan dan perempuan sastrawan!Apakah perempuan dan lelaki,
apa-siapakah sastrawan, patutkah perempuan dan lelaki dibedakan, juga dalam
dunia sastra, di sini pertanyaan-pertanyaan Shantined yang mengusik ini tidak
kusimaklanjutkan. Agaknya Shantined termasuk penanya yang baik, salah satu
kekuatannya sebagai cerpenis-penyair. Saya meragukan perkembangan seseorang
sebagai sastrawan jika seseorang itu berhenti bertanya dan apalagi jika tidak
bisa serta tidak pandai bertanya. Pertanyaan adalah jalaran mencari jawab dan
merambah kemajuan mengusik rambu dan tabu memburu arti].
Dalam sejarah dunia, yang banyak kita lihat bahwa posisi dominasi dan
hegemoni sering menyuburkan kesewenang-wenangan, KKN serta nilai-nilai anti
republiken dan kemanusiaan seperti despotisme, paternalisme, militerisme dan
isme-isme sekeluarga dengan rupa-rupa nama. Di Perancis sendiri , pernyataan
dan sikap begini sangat langka. Ketika ia diucapkan oleh seseorang penting dari
kalangan kanan yang sedang berdominasi, maka arti pentingnya jadi kian menonjol
tapi yang sekaligus menumbuhkan pertanyaan baru pada diri saya: Apa gerangan,
di mana gerangan letak kiri dan kanan hari ini? Apakah klasifikasi begini masih
diperlukan atau kalau diperlukan untuk berpikiran rinci, apakah formulasinya
tidak patut ditinjau ulang? Pertanyaan ini muncul di benak saya karena sering
saya melihat yang menyebut diri revolusioner, kiri sesungguhnya hanyalah dua
sisi dari satu mata uang yang menggunakan metode pendekatan hitam-putih
simplistis murni dalam melihat masalah yang tak pernah sesederhana
hitam-putih bentuk kenaifan metode pendekatan dan pandang.
Hakekat masalah yang muncul dari Krisis Banlieus dan Krisis UU Februari
2005, seperti biasa, membuat saya polos menjinjing masalah-masalah hakiki
peristiwa kehadapan Indonesia sebagai sebuah bangsa muda, kemudian kita namakan
sebagai tanahair dirangkum oleh bentuk negara, dinamakan Republik Indonesia,
Republik dan Indonesia. Salah satu masalah tersebut adalah apa-bagaimana
ingatan Indonesia itu? Dalam pertanyaan ini, saya kira, terangkum juga soal
apa yang disebut sastra-seni Indonesia, apakah Indonesia itu sama dengan NKRI
sentralistik, dan serangkaian masalah esensil lainnya seperti tempat komunitas
di tengah nasion, hubungan minoritas dan mayoritas.
Krisis Banlieus Perancis dan Krisis UU Februari 2005 Perancis dalam
pandangan saya telah menampilkan pertanyaan-pertanyaan mendasar, jika tidak
ingin menggunakan terminologi universal, jamak, lumrah atau umum.
Pertanyaan-pertanyaan yang barangkali merupakan teguran bahwa simplitisisme
adalah jawaban tidak tanggap pada kerumitan hakiki kehidupan yang garang
kemudian mengingatkan pemegang kekuasaan politik akan makna hakiki kekuasaan
politik dan pemerintah dalam perkembangan dialektik filosofisnya..***
Paris, Desember 2005.
---------------------------
JJ.Kusni
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/