Koran masih bisa berevolusi Azrul Ananda, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Mungkin, nama Azrul Ananda belum terlampau dikenal di industri media. Tapi, belakangan ini pria kelahiran Samarinda, 28 tahun ini mendapat sorotan dari kalangan pebisnis media. Pasalnya, putra CEO Grup Jawa Pos, Dahlan Iskan ini tengah menakhodai koran Jawa Pos, sebagai Pemimpin Redaksi sejak 1 September 2005. Terobosan apa yang akan dilakukan Azrul yang akrab disapa Ulik ini untuk mengembangkan koran Jawa Pos? Berikut pengakuan blak-blakan jebolan cum laude jurusan marketing California State University Sacramento, AS pada tahun 1999 kepada CAKRAM. Bagaimana perkembangan terkini dari Grup Jawa Pos? Sebagai Grup, Jawa Pos terus tumbuh dan berkembang. Jumlah terbitan di bawah bendera ini juga sudah dikisaran angka 100, dari Aceh sampai Papua. Kebanyakan merupakan perintis dan market leader di kawasan masing-masing, sehingga sebagai network Jawa Pos merupakan yang terbesar di Indonesia. Menurut AC Nielsen terakhir, market share koran Jawa Pos di kawasan Surabaya dan Jawa Timur sekitar 80 persen. Padahal tahun 2000 dulu sekitar 70 persen. Berarti dari dominan ke makin dominan. Bagaimana Anda terjun di bisnis media? Apakah karena "dipaksa" sang Ayah atau ada alasan lain? Tidak pernah menjadi cita-cita saya untuk terjun di dunia ini. Bahkan, orang tua saya dulu berusaha untuk menjauhkan saya dari dunia media. Lulus SMP tahun 1993, langsung dikirim ke Amerika. Walau mungkin ada menurun bakat menulis, karena saya sudah aktif menulis cerpen sejak kelas IV SD, dimuat di berbagai majalah. Mungkin terjun di dunia ini sudah jadi garis hidup. Saya dan Abah (panggilan Ulik ke Pak Dahlan) sering tertawa kalau ingat waktu saya kali pertama dikirim ke Amerika. Saya pergi sebagai siswa pertukaran, semacam bea siswa. Jadi tidak tahu bakal tinggal di mana, sama siapa, dan sekolah di SMA mana. Ternyata, saya dikirim ke sebuah kota kecil Ellinwood, di negara bagian Kansas. Di sana saya tinggal dengan keluarga angkat, John dan Chris Mohn seorang pemilik koran lokal, Ellinwood Leader. Jadilah saya belajar tentang koran. Mulai dari fotografi, layout, manajemen, reportase, dan lain-lain. Sejak kapan mulai terlibat di koran Jawa Pos? Saya lulus kuliah di Sacramento, 1999. Waktu pulang, niatnya hanya setahun mencari pengalaman, lalu balik untuk S-2. Sampai saat itu, saya hanya kontributor Jawa Pos, khusus menulis tentang balap mobil Formula 1 (hobi utama). Nah, waktu pulang awal tahun 2000 itu saya membesarkan halaman DetEksi, seksi khusus anak muda, yang digarap oleh anak-anak muda seperti saya waktu itu (22 tahun). Awalnya halaman itu mendapat reaksi keras, karena mengambil sikap anti-orang tua (ha.ha.ha.!). Tapi kemudian menjadi salah satu andalan Jawa Pos sampai sekarang. Setahun DetEksi, saya pegang halaman kota atau Metropolis. Dianggap OK di sana, setahun kemudian saya berlanjut lagi di Halaman Utama, selama 1,5 tahun. Saya mungkin paling bangga dengan dua halaman terakhir itu, karena waktu Metropolis ada kasus besar impeachment wali kota, dan waktu di Halaman Utama fokus ke liputan perkembangan kasus Bom Bali. Setelah itu floating, ikut merombak halaman Show & Selebriti, sambil masih terlibat di berbagai halaman lain di Jawa Pos. Latar belakang pendidikan Anda adalah marketing, bagaimana Anda memanfaatkannya? Atau justru terbuangkah? Oh tidak. Saya juga terlibat di marketing selama dua tahun terakhir. Saya juga ditunjuk di Tim Kamisan, semacam Think Tank di Jawa Pos. Kamisan ini berhak membuat keputusan apa saja, dengan catatan tidak dilarang oleh direksi dalam waktu 24 jam. Kamisan ini melibatkan semua lini, mulai redaksi, umum, keuangan, iklan, pemasaran, percetakan. Sehingga semua program bisa digarap secara sinergi. Visi dan misi Anda dalam mengembangkan koran Jawa Pos, dari sisi bisnis ataupun konten? Jawa Pos ini punya sesuatu yang istimewa sejak awal, dari Pak Dahlan. Bahwa koran daerah tidak harus kalah dari koran nasional, bahkan bisa lebih hebat dan lebih inovatif dari yang di Ibu Kota. Koran juga tidak sekadar menyajikan berita, tapi ikut membantu mengembangkan potensi kawasan tempat koran itu terbit. Misi saya yang pertama adalah meneruskan misi tersebut. Secara pribadi, tentu ingin melihat Jawa Pos lebih maju lagi. Selalu melakukan hal-hal yang baru dan inovatif. Karena saya tergolong fresh, semoga saja ide-idenya memang fresh, tidak terjebak pada konsep-konsep koran gaya lama. Banyak kalangan menilai anda "anak bawang" dalam bisnis media. Apalagi, Anda dinilai kurang berpengalaman pada profesi jurnalistik tapi dengan cepat menjabat posisi pemimpin Redaksi? Bagaimana komentar Anda? Saya juga mengakui kalau saya anak bawang, ha ha ha. Nggak apa-apa, saya sudah biasa kok dianggap seperti itu. Tapi yang kenal saya tentu tahu saya ini seperti apa. Sekali lagi, tidak pernah jadi cita-cita saya jadi Pemimpin Redaksi, hanya mengalir begitu saja. Teman-teman di Jawa Pos juga sering bercanda soal itu. Situasi di sini sangat egaliter. Yang mereka tahu, bahwa saya cinta Jawa Pos, saya sayang sama teman-teman, dan kita bekerja bersama. Kendala-kendala dan masa sulit yang Anda hadapi ketika mengelola bisnis ini? Bagaimana Anda bisa bangkit dari situasi sulit tersebut? Wah, setiap hari itu ada kendala. Kalau tidak namanya tidak hidup. Tahun pertama mungkin sulit, karena waktu itu saya terlibat di DetEksi, konsep halaman yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Baik eksternal maupun internal banyak menanyakan apa guna dan fungsi halaman ini. Baru setelah eksis dan terlibat pengaruhnya, orang baru percaya bahwa DetEksi produk istimewa. Lalu di Metropolis dan Halaman Utama, karena saya terlibat dengan berita-berita "keras" secara intens untuk kali pertama. Kuncinya sebenarnya tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Tetap bekerja keras. Sukses akan datang dengan sendirinya. Abah juga selalu mengajarkan itu. Uang dan kesuksesan tak perlu dikejar, asal kerja keras dengan hati tulus, akan datang dengan sendirinya. Menurut Anda tren media yang berkembang di Indonesia ke depan akan seperti apa? Bagaimana Jawa Pos menyikapi? Dulu, waktu saya pulang, banyak yang bilang era koran itu bakal habis. Ada TV dan internet yang bakal menggusurnya. Tapi saya tidak percaya itu. Saya percaya koran akan terus eksis. Tinggal bagaimana memposisikan diri. Kalau dulu hanya news, sekarang harus lebih yang lain-lainnya. Nantinya pasti akan berubah terus, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Jawa Pos akan lebih muda dan cepat dalam menyikapi perjalanan waktu dan situasi. Terobosan yang akan Anda lakukan lima tahun ke depan untuk koran Jawa Pos? Saya ingin Jawa Pos terus berinovasi, menciptakan hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Bahwa koran masih bisa berevolusi, menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Obsesi Anda selanjutnya di bidang usaha ataupun pribadi? Mengembangkan Jawa Pos. Saya juga punya cita-cita jadi stand-up comedian, bikin film komedi, bikin sitkom. Mungkin nanti, ha ha ha... Soal cita-cita lain, jadi komentator F1, sudah tercapai. Tapi sekarang saya sudah berhenti, soalnya sudah tercapai, mau berkembang ke mana lagi? Ha ha ha. Banyak yang menyayangkan keputusan saya berhenti jadi komentator, tapi saya sudah berjanji akan fokus ke Jawa Pos. Sumber: Majalah Cakram edisi Oktober 2005
Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com http://indonesiana.multiply.com --------------------------------- Yahoo! Photos Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Clean water saves lives. Help make water safe for our children. http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

