http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/24/utama/2318244.htm

     

      Papua Menanti Kenyataan 


      Kornelis Kewa Ama dan B Josie Susilo H



      Meski alunan lagu Natal tetap menggema, goa Natal dengan lampu 
warna-warni tetap menghiasi kota-kota, harapan akan masa depan Papua yang penuh 
damai, aman, dan sejahtera tak kunjung tiba. Impitan kesulitan terus mendera.

      "Kami terus bergulat dengan penderitaan. Bencana kelaparan, kematian 
pemimpin, penyakit HIV/AIDS, kemiskinan, transportasi yang mahal, infrastruktur 
yang minim, rendahnya sumber daya manusia, kemelut politik, pelanggaran HAM 
(hak asasi manusia), dan lainnya," kata Pendeta Herman Saud, Ketua Sinode 
Gereja Kristen Indonesia, di Papua, Kamis (22/12) lalu.

      Undang-Undang Otonomi Khusus Papua sudah diberlakukan lima tahun, tetapi 
kehidupan masyarakat tidak berubah. Undang-undang yang disebut solusi akhir 
masalah Papua tersebut justru membawa pergulatan dan perhelatan kepentingan 
pemerintah pusat dan pemerintah daerah tersebut.

      Masyarakat Papua menanti hadirnya seorang pemimpin yang mampu membawa 
rakyat keluar dari belenggu kemiskinan, keterisolasian, penindasan, pelanggaran 
HAM, kebodohan, penyakit, dan kesulitan transportasi.

      Natal ini membawa harapan akan hidup yang lebih baik dari kemarin dan 
hari ini. Karena itu, meski kondisi serba terbatas, persiapan Natal tetap 
semarak. Masyarakat spontan membangun pondok atau goa Natal di berbagai sudut 
kota. Rumput dan kayu tidak perlu dibeli, kecuali lampu, dan perlengkapan tata 
suara.

      Spontanitas membangun goa Natal dilakukan setiap tahun. Biasanya 
pekerjaan itu dilakukan para pemuda di lingkungan tersebut. Ada harapan yang 
terpatri dalam sanubari para pemuda itu, tetapi sulit diungkapkan.

      Josy Pakage (43), warga Paniai yang tinggal di Jayapura, saat berbelanja 
di Pasar Hamadi Jayapura mengungkapkan keluh kesahnya tentang harga-harga 
barang kebutuhan hidup yang terus naik menjelang Natal.

      "Mengapa ya, setiap tahun menjelang Natal harga barang selalu naik. 
Menjelang Lebaran lalu harga telur ayam Rp 700 per butir, sekarang Rp 2.000 per 
butir," kata ibu tujuh anak ini.

      Harga bawang merah naik dari 7.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kg, 
minyak goreng curah dari Rp 3.000 per liter menjadi Rp 5.000 per liter, tepung 
terigu dari Rp 3.500 per kg menjadi Rp 6.500 per kg, dan ayam potong dari Rp 
23.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kg.

      Josy hanya menyiapkan belanja Natal senilai Rp 250.000, yang diperolehnya 
dari saudaranya yang bekerja di Kantor Gubernur Papua. Suaminya seorang buruh 
pelabuhan tidak pernah dapat menyisihkan uang untuk Natal.

      Josy satu dari ribuan warga Papua yang kesulitan mencukupi kebutuhan 
hidup keluarganya. Seorang pria tua suku Dani dari Lembah Baliem mengaku harus 
menjual kalung, pusaka peninggalan leluhurnya, untuk membeli beras yang akan 
menjadi menu istimewa bagi keluarganya di hari Natal. "Bantu saya untuk Natal 
ini. Ini kalung saya sendiri. Dua puluh ribu rupiah saja. Saya perlu untuk 
membeli beras, untuk Natal," pintanya kepada Kompas di teras Hotel Baliem 
Pilamo, Wamena, Papua.

      Kalung kulit kayu dihiasi kulit kerang dibentuk mirip dasi, yang dalam 
bahasa suku Mee disebut mege, dalam tradisi Papua masa lalu adalah alat 
pembayaran. Kalung itu bukan saja indah, tetapi biasanya juga harta yang sangat 
berharga bagi sebuah keluarga karena biasanya menjadi mas kawin dalam sebuah 
perkawinan.

      Kalung serupa yang dikenakan seorang kepala suku Dani yang tinggal di 
Karulu, Lembah Baliem, ditawarkan Rp 2 juta. Namun, pria tua dari Lembah Baliem 
ini hanya menawarkan seharga Rp 20.000 karena hanya itu peluangnya untuk dapat 
membeli beras bagi kegembiraan keluarganya di hari Natal besok.

      Hidup lebih baik

      Natal adalah segala-galanya, juga bagi Anton Pagawak (23). Ia sangat 
rindu pulang ke kampung halamannya di Sugapa, Paniai, untuk merayakan Natal 
bersama ayah dan ibunya.

      Harapan tinggal harapan. Sudah enam tahun ia tinggal di Jayapura, 
melanjutkan pendidikannya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas 
Cenderawasih. "Enam tahun aku tidak pernah lihat orangtua di Sugapa. Mereka 
tinggal terpencil di hutan. Informasi dari sana, orangtua masih hidup, tetapi 
tidak dapat ke Jayapura karena tidak ada pesawat. Kalaupun ada, tidak ada uang 
untuk bayarnya," kata Pagawak.

      Di Jayapura, Pagawak berjualan koran, mendorong gerobak milik pedagang di 
pasar, menjadi buruh bangunan, dan pekerjaan lain untuk hidup dan kuliahnya.

      Menurut Pagawak, kehadiran pendeta atau pastor di pedalaman membuat Natal 
sedikit semarak. Jika tidak ada tokoh agama, masyarakat tidak tahu kapan hari 
Natal. "Orang di pedalaman hidup bergantung pada alam. Mereka terus bergerak 
dari hutan ke hutan. Tidak ada informasi yang masuk, apalagi koran, televisi, 
dan radio. Informasi hanya dari mulut ke mulut," tuturnya.

      Kalau ada orang dari Jayapura atau kota lain yang masuk ke Sugapa, 
merekalah yang membawa radio atau tape recorder. Akan tetapi, siaran radio pun 
terdengar samar-samar, bahkan sering tak menangkap siaran.

      Rindu Pagawak akan kampung halaman cukup dipendamnya di dalam hati karena 
untuk ke Sugapa minimal butuh biaya Rp 2 juta untuk biaya tiket pesawat.

      "Mungkin setelah bekerja saya kembali ke kampung. Setiap Natal selalu 
muncul harapan agar kehidupan menjadi lebih baik. Akankah harapan itu 
terealisasi," kata Pagawak bertanya.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help the victims of the Pakistan/India earthquake rebuild their lives.
http://us.click.yahoo.com/it0YpD/leGMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke