24.12.2005
Mobilitas Tenaga Ahli Eropa di Pasar Kerja
Oleh: Peter Phillipp dari Berlin
(Tenaga medis Eropa banyak yang pindah ke Skandinavia
karena jaminan sosial dan gaji lebih menarik)
Krisis yang melanda bursa kerja di beberapa negara
Eropa memotivasi para tenaga ahli dari negara-negara
industri maju seperti Jerman meninggalkan negaranya
dan mencari kerja d tempat lain.
Dokter-dokter gigi muda yang baru lulus di Jerman
biasanya memilih untuk mencari pekerjaan di
Skandinavia, Inggris atau Belanda. Sejak tahun 2001,
dokter gigi muda Jerman yang pindah dan mendapatkan
pekerjaan di Norwegia saja ada sekitar 170 orang.
Norwegia memang mendidik terlalu sedikit dokter. Tahun
ini saja, mereka membutuhkan sekitar 200 dokter
spesialis. Mengapa bekerja di luar negeri lebih jauh
menarik bagi para dokter gigi muda Jerman dibanding
bekerja di Jerman Timur?
Pada usia 24 tahun, Katja Georgiev menyelesaikan
studi kedokteran gigi tanpa halangan di Universitas
Humbolt Berlin. Bersama ke 16 rekannya yang lain,
mereka mendahului teman-teman seangkatannya yang
berjumlah 120 mahasiswa. Sebetulnya, Katja Georgiev
dapat melakukan ko-asistennya pada praktek dokter gigi
milik orang tuanya yang juga terletak di Berlin, namun
ia memutuskan untuk melakukannya di Norwegia. Ia
mengisi sebuah lowongan di rumah sakit milik
pemerintah di kota Fjord, Kristiansund.
Georgiev: "Saya bekerja selama 3 bulan pada praktek
dokter gigi milik orang tua saya dan saya menyadari,
saya bekerja terlalu lambat. Ibu saya bilang, pasien
berikutnya sudah menunggu, kamu harus menurunkan
kualitas agar bisa mengatur waktu lebih baik. Hal ini
sulit diterpakan bagi kami yang baru lulus. Di
Skandinavia, orang punya lebih banyak waktu, jadi saya
bisa menambal satu gigi dengan baik selama 1 jam.
Keuntungannya, kualitas kerja yang saya berikan pun
jauh lebih baik. Malam sebelum tidur, saya bisa
berkata pada diri saya, setidaknya tambalan itu bisa
bertahan selama 20 tahun.
Kualitas kerja dokter gigi di kawasan Skandinavia
adalah yang terbaik di Eropa. Bukan hanya kecepatan
kerja dan durasi kerja yang membuat Norwegia atraktif.
Di Berlin, bisa saja dokter dokter gigi yang baru
lulus bergembira karena bisa langsung menemukan
lowongan kerja. Sebagai ko-ass, mereka bisa
berpenghasilan sekitar 1000 Euro netto. Sementara di
Norwegia, pada posisi yang sama mereka bisa
mendapatkan 2700 Euro per bulan. Tetapi di Norwegia
harga barang kebutuhan sehari hari memang lebih mahal,
begitu juga kualitas barang di kota Kristiansund.
Lowongan yang sama di Brandenburg, Berlin, tak membuat
Katja lebih tertarik.
Katja: "Infrastruktur di Norwegia amat baik, apalagi
untuk kota yang hanya berpenduduk 17,000 orang. Di
kota itu, mereka memiliki airport sendiri, teater
sendiri, gedung opera sendiri, juga hiburan malam.
Orang tidak akan merasa mereka tinggal di kota kecil,
apa lagi sekarng mereka sedang membangun sebuah pusat
hiburan yang dilengkapi dengan kolam renang dan
bowling. Ini tidak bisa ditemui pada kota di Jerman
yang memiliki jumlah penduduk yang sama-sama 17.000
orang.
Masalahnya bukan melulu soal uang. Di Brandenburg atau
Sachsen, pasien harus berkendara sekitar 80 kilometer
untuk menemui dokter spesialis gigi. Tetapi siapa yang
mau ambil resiko membuka praktek di tempat itu? Untuk
mendirikan sebuah praktek dokter gigi diperlukan
setidaknya 500,000 Euro. Menurut Dr. Wolfgang
Schmiedel, ketua himpunan dokter gigi Berlin, zaman
mendapatkan kredit bagi pendirian praktek dokter gigi
dari Bank dengan mudah sudah berlalu.
Schmiedel: "Sayangnya setelah bertahun tahun
reunifikasi,masih juga ada masalah di Jerman bagian
timur. Goerlitz, adalah kota yang indah dan semua
telah direnovasi. Tapi pada tahun-tahun terakhir,
50.000 orang meinggalkan kota itu terutama orang muda
dan paramedis. Kalaupun ada yang mau membuka sebuah
praktek dokter, pasti langsung berhubungan dengan
resiko finansial. Karena berkecenderungan orang yang
pergi dari kota itu. Dengan keadaan seperti itu, tak
akan ada yang mendapatkan kredit untuk membuka praktek
dokter.
Kebutuhan tenaga dokter bukan jaminan datangnya pasien
dalam jumlah yang mencukupi, untuk bertahannya sebuah
praktek dokter. Apalagi sekarang, para pasien ingin
lebih berhemat dan untuk datang ke dokter, mereka
harus berpikir 3 kali. Mengapa para dokter muda
lulusan Jerman lebih suka mengadu nasib di luar negeri
daripada di Jerman Timur? Alasannya, para dokter di
Jerman timur digaji lebih buruk dari koleganya di
Jerman bagian barat. Ditambah reformasi di bidang
kesehatan Jerman amat sedikit memberi rangsangan untuk
berprestasi. Menurut Dr. Wolfgang Schmiedel yang juga
dokter spesialis gigi, dengan keterbasan anggaran,
maka kualitas kerja dan jam kerja tambahan tak dibayar
lagi. dan hingga 40 persen waktu kerja habis untuk
urusan administrasi.
Parahnya, sejak diwajibkan membayar uang konsultasi 10
Euro perkuartal, jumlah pasien yang datang berkurang
30%.
Schmiedel: "Masalah utamanya adalah para manula yang
tak mampu membayar biaya praktek sebesar 10 Euro.
Mereka ini menghindari untuk datang ke dokter walaupun
mereka betul betul sakit. Mungkin ada hubungannya
dengan peraturan Harz IV.Saya sendiri mengalaminya.
Saya pernah punya pasien, yang menghentikan
pengobatrannya di tengah jalan. Dia bilang tak mampu
membayar 20% dari biaya pengobatan dandia tak mendapat
bantuan lagi dari dinas sosial.
Sepuluh sampai lima belas praktek dokter di Berlin
berada pada ambang kebangkrutan, demikian perkiraan
Dr. Scmiedel. Sehingga, klinik milik di pemerintah di
Norwegia tentu jauh lebih menarik.
Hal serupa tak hanya terjadi di Jerman. Majalah The
Economist menulis, migrasi semacam ini di Eropa
sesungguhnya bukan hal baru. Setelah runtuhnya
komunisme, banyak orang memilih pindah keluar negeri
karena masalah politik. Misalnya bangsa Yahudi ke
Israel, orang Jerman keturunan Rusia pindah ke Rusia,
atau orang Jerman yang tinggal di Rusia kembali ke
Jerman. Namun migrasi yang terjadi saat ini lebih
banyak berdasarkan faktor ekonomi.
Ada dua tantangan besar bagi negara negara yang
mengekspor para ahli ini untuk memikirkan mengapa
mereka sampai meninggalkan negerinya untuk bekerja.
Pertama alasannya tentu penghasilan yang tak memadai
dan birokrasi yang kaku. Tantangan kedua, adalah
bagaimana membuat para ahli itu pulang ke negaranya
dengan pertanyaan kapan pulang, bukan seandainya
pulang. Cara dengan mengesampingkan hambatan birokrasi
dan membina hubungan antara diaspora dan tanah air.
__________________________________________
Yahoo! DSL Something to write home about.
Just $16.99/mo. or less.
dsl.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/