Surat Jembatan Sembilan:
   
SASTRAWAN DAN TANAHAIR   
   
  Karena tulisannya yang mengutuk pembantaian imperium Ottoman  atas bangsa 
Armenia, Orhan Pamuk diseret oleh pemerintah Turki ke hadapan pengadilan.  
Bersamaan dengan itu, kelompok ektrim kanan atas nasionalisme melakukan unjuk 
rasa menuding Orhan   sebagai ‘pengkhianat bangsa’.  Tuduhan a-nasionalis 
begini pernah juga ditimpakan kepada para suaka politik Indonesia yang 
menelanjangi pembantaian jutaan orang oleh Orba menyusul Tragedi Nasional 
September 1965.   Para suaka politik Indonesia ini dituding sebagai 
‘pengkhianat bangsa, negara dan tanahair’ karena  membeberkan 
kejahatan-kejahatan kemanusiaan Orba.  
   
  Tudingan begini secara tersirat menunjukkan bahwa tindak anti kemanusiaan, 
anti keadilan, tidak boleh ditelanjangi  , terutama ke depan publik dunia. 
Membeberkannya akan sama dengan tindak a-nasionalis, berkhianat pada tanahair, 
bangsa dan negara. Tanahair, bangsa dan negara ditempatkan sebagai patokan 
tertinggi,  sakral  dan dogma yang tak  boleh disentuh apalagi ditelanjangi 
kebusukannya di depan publik.  Urutan lanjut dari alur pikiran ini akan 
berjumpa dengan pendapat bahwa pemegang kekuasaan politik di suatu tanahair, 
negeri, dan negara akan merupakan ujud kebenaran, kemanusiaan dan keadilan. 
Alasannya? Karena: “…tanah air adalah segala apa yang mengalir pada diri kita, 
tak dapat dipungkiri, dan semestinyalah memberikan imbalan terbesar dengan 
mencintainya”. Karena “Cinta Tanah air berarti mencintai lingkungan naturalnya 
plus segenap bangsa yang mendiaminya; berbeda dengan negara yang dalam beberapa 
hal melalui aparatusnya membatasi, menekan bahkan menjajah warganegaranya
 sendiri”. Oleh sebab itu maka ‘Credo inilah yang diyakini betul sebagai cinta 
buta oleh Orhan Pamuk: right or wrong is my country daripada my nation’.
   
  Berpijak pada pandangan begini maka ‘hal yang paling mengagumkan adalah 
hingga pada saat itu dia masih berprinsip untuk tetap tinggal di Turki dengan 
segala resiko intimidasi dan ketidakadilan, sebuah pilihan yang barangkali 
mengindikasikan bahwa tuduhan a-nasionalis itu bisa diragukan. Bahwa dengan 
segala perhitungan resiko yang besar dia tetap memilih untuk mencintai tanah 
airnya dan tidak berusaha menghindarinya, meski pemerintah dan rivalnya terus 
meneror. Bahwa semakin jelas bagi saya ada jarak dimana jika kita mencintai 
tanah air dan bangsa tidak berarti harus mencintai 'sejarah' dan 
administraturnya. Mungkin Mencintai tak harus berarti right or wrong is my 
Nation! Sebuah negara bisa saja menorehkan sejarah kelam atas pribadi, 
warganegara, ataupun bangsa dan negara lain’.
   
  Kalau bacaan dan pemahaman saya benar, nampak agumen di atas menginginkan 
bahwa mencintai tanahair itu sebagai suatu kemutlakan., paling tidak sebagai 
‘semestinyalah memberikan imbalan terbesar dengan mencintainya’. Karena 
tanahair ‘adalah segala apa yang mengalir pada diri kita’.  Tapi apakah 
gerangan yang disebut ‘segala apa yang mengalir pada diri kita” itu?  Apakah di 
dalam pengertian ‘segala’ itu termasuk keburukan, kejahatan, ketidakadilan dan 
ketidakmanusiawian serta khianat?  Nampak pada saya argumen di atas sangat 
tidak rinci dan kabur,  serta mengkultuskan tanahair sampai-sampai memandang 
sastrawan yang meninggalkan tanahairnya karena diancam oleh maut seperti 
misalnya Taslima Nasreen, Thomas Mann yang menghindar dari kejaran Nazi Hitler, 
dan sederetan nama lain seperti Emile Zola, Victor Hugo sebagai masih kurang 
berprinsip dan a-nasionalis. Dengan dasar argumen di atas terkesan bagi saya 
bahwa seseorang lebih baik mati konyol , lebih baik jadi martir daripada 
mengelak
 ajal.  Menjadi martir tanpa menghindar ajal walau pun ada syarat menghindar 
dipandang sebagai lebih berprinsip, padahal ketika seseorang sudah menjadi 
martir, cinta sebesar apa pun pada tanahair, pada keadilan dan kemanusiaan, 
pada pilihan nilai, sudah tidak mungkin dilakukan lagi. Martir, orang mati 
tidak mungkin melaksanakan sendiri cinta dan mimpinya. Taslimah Nasreen yang 
maasih hidup dan menghindar ajal yang memburunya di Bangladesh masih 
mengeluarkan karya-karyanya sampai hari ini, hal yang tidak mungkin ia kerjakan 
jika ia sudah jadi martir. Secara tersirat pandangan atau argumen begini 
menunjukkan bahwa sastrawan eksil seperti Taslimah Nasreen tergolong orang yang 
tidak berprinsip atau kurang setia pada tanahair yang dikultuskan. Jika 
dilanjutkan, argumen begini akan sejalan dengan tudingan Orba yang mengatakan 
bahwa para suaka politik Indonesia yang menelanjangi Orba di forum 
internasional sebagai ‘pengkhianat’ tanahair juga adanya, hanya diucapkan 
secara halus dan
 hati-hati. Dalam hal ini, saya teringat akan baris-baris penyair-romansir 
Perancis, Louis Aragon yang mengatakan bahwa ‘mati lebih gampang daripada 
hidup’ atau kata-kata Christine Leclerc – ahli sastra Yunani Kuno, istri alm. 
Indonesianis Perancis Jacques Leclerc bahwa ‘tanahair lebih memerlukan orang 
hidup daripada para martir’. 
   
  Ketika Ho Chi Minh keluar negeri  dari Saigon  meninggalkan Viet Nam ketika 
tanahairnya masih dijajah Perancis dan diduduki Jepang,  saya tidak mengatakan 
Ho Chi Minh sebagai kurang berprinsip atau kurang setia, kurang cinta pada Viet 
Nam.  Karena dari luarnegeri ia masih meneruskan usahanya melawan penjajahan.  
Apalagi kemudian dengan 1001 jalan ia kembali ke Viet Bac memimpin perang 
pembebasan negerinya. 
   
  Kalau Taslimah Nasreen terpaksa meninggalkan Bangladesh, sedangkan Orhan 
Pamuk bisa tetap bertahan di Turki barangkali dua sastrawan ini berada dalam 
kondisi berbeda sehingga menempuh jalan berbeda. Kalau sekarang Taslimah 
Nasreen sering ke India kiranya bukanlah kebetulan.  
   
  Saya sendiri memandang bahwa tanahair, etnik dan  bangsa hanyalah perbatasan 
semua bagi kemanusiaan, perbatasan yang dilahirkan oleh sejarah kurun waktu 
tertentu dan patut sangat diperhitungkan tapi bukan nilai ultima di atas 
kebenaran, keadilan dan ‘kemanusiaan yang tunggal’ jika menggunakan istilah 
Paul Ricoeur.  Tanahair dan bangsa dalam kontek ini hanyalah  nama lain dari  
keragaman budaya. Keragaman adalah bentuk bagi  saripati yang punya nilai 
universal atau umum yang mengatasi petak-petak perbatasan etnik, tanahair atau 
pun bangsa. 
   
  Konsep tanahair  begini agaknya paralel dengan konsep ‘Utus’ atau ‘rengan 
tingang nyanak jata’ [anak enggang, putera-puteri naga] pada masyarakat Dayak 
dahulu. Dalam konsep Dayak ini,  bumi dipandang sebagai tempat yang niscayanya 
merupakan tempat anak manusia hidup secara manusiawi. Konsep ini tidak 
menancapkan tonggak-tonggak perbatasan bagi kemanusiaan. Tanah Dayak hanyalah 
satu nama bagi satu titik di peta bumi. Kalau saya bandingkan konsep 
‘kemanusiaan tunggal’ Paul  Ricoeur dan konsep ‘Utus’ atau ‘rengan tingang 
nyanak jata’ manusia Dayak, saya mengira tanahair berintikan juga pemanusiawian 
manusia , kehidupan dan masyarakat. Inilah nilai ultima mengatasi ujud ragawi 
yang disebut tanahair. Tanahair pada galibnya adalah kandungan nilai juga 
adanya.  Nilai-nilai inilah yang merupakan ‘segala’ dari segala,  ‘adalah 
segala apa yang mengalir pada diri kita’.   Rangkaian nilai kandungan manusiawi 
 ‘tanahair’ inilah  yang merupakan tanahair anak manusia dari bangsa dan 
tanahair mana
 pun.  Di sini pulalah yang membedakan adanya rupa-rupa free thinkers dan 
keberpihakannya. Karena itu ada keberpihakan orang seperti Taufiq Ismail ada 
pula keberpihakan  Mas Marco atau Cak Durasim atau Pramoedya A. Toer. Ada model 
Heidegger  di samping model Brecht atau Thomas Mann, ada model Celine dan ada 
pula model Louis Aragon.
   
  Jadi pertanyaannya, saya kira, bukanlah masalah ‘Right or wrong is my 
country; right or wrong is my nation; atau sama sekali bukan keduanya?’ tapi 
‘Is my country and my nation on the path of humanity values?’ . Tanahair, 
apakah ia bersifat ragawi ataukah juga satu rangkaian nilai? Pengkhayatan nilai 
biasanya menambah daya resistensi dan hal ini oleh ilmu militer sangat 
diperhitungkan.***
   
  Paris, Desember 2005.
  JJ.Kusni
   
  
                
---------------------------------
Meet your soulmate!
 Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke