Masih saja ada yang menghubungkan Hari Ibu, tgl 22 Desember, ini 
dengan Mother's day model yang beginian.
Kayaknya, disini juga udah dipostingin apa Hari Ibu 22 Desember tsb 
deh, yang intinya Hari Ibu tersebut lebih cocok disebut Hari 
Pergerakan Wanita Indonesia (feminisme Indonesia) karena ini 
dimotori oleh pergerakan wanita Aisyah (adiknya pergerakan 
Muhammdiyah).

hmmm ya..ya..ya..memang kurang "info kumunikasi" warga milis ini.

wassalam,

--- In [email protected], "antonhartomo" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> REHAT AKHIR TAHUN
> 
> --- 
> Dear all,
> Kemarin 22 Desember 2005 (Mother's Day) saat menunggu KRL Ekspres 
di 
> Stasiun Gambir, nampak ada seorang Ibu dengan seorang putri 
> balitanya hendak menaiki KA Cirebon Ekspres. Bukan sesuatu hal 
yang 
> istimewa alias semuanya nampak wajar saja. Ibu dengan koper besar 
> (dan berat) menggandeng putrinya yang tertatih-tatih dengan boneka 
> di tangan. Saat hendak memasuki gerbong KA, sang putri nampak agak 
> ketakutan mungkin karena kesulitan naik. Dengan sabar Ibu tsb 
> menuntun putrinya, tanpa mengeluh sedikitpun. Walaupun koper 
> bawaannya sendiri sudah merepotkan. Sempat terlintas di benak 
saya : 
> bagaimanakah kondisinya 30 yad? Apakah putri tsb masih ingat 
> peristiwa ini ? Saat Ibunya sudah renta dan jalan tertatih-tatih, 
> apakah dia bisa bersikap seperti ibunya terhadap dirinya saat 
> kecil ???
> Kisah tsb mengingatkan kembali tentang e-mail saya tanggal 18-10-
> 2005 tentang "Parents Care" (saya lampirkan di bawah). Saya 
> menyadari bahwa pada kenyataannya memang tidak semudah teorinya. 
> Maaf, bukan maksud membicarakan orang. Namun kisah yang saya temui 
> saat silaturahim pada kerabat di akhir Ramadhan mungkin bisa kita 
> telaah untuk introspeksi diri. Saat itu seorang Nenek yang sakit 
> parah mengeluh bahwa paginya dia berselisih dengan putrinya. Awal 
> kejadiannya saat si putri menyediakan sarapan pagi untuk Ibunya 
yang 
> sudah tua dan sakit itu. Umumnya orangtua, tentunya agak bawel dan 
> kembali seperti anak-anak. Ditambah lagi dalam kondisi sakit, 
> tentunya akan rewel dan tidak selera makan. Menghadapi hal ini si 
> putri yang sudah lelah dan repot mengurus anak2-nya juga, tercetus 
> perasaan jengkel apa yang menjadi pemikirannya selama ini. Ia 
protes 
> kepada Ibunya karena selalu mengkritik tindakannya atau 
layanannya. 
> Ia bertanya apakah karena dia yang paling tidak berpunya dibanding 
> saudara-saudaranya yang kaya raya. Iapun menganggap bahwa dia 
> bukanlah putri kesayangan Ibu. Mendengar hal ini, hati Ibu yang 
> sensitif terasa bagai tertusuk pisau. Ia tidak menduga bahwa 
selama 
> ini anaknya menganggap dia membeda-bedakan kasih sayangnya, bahkan 
> menuduh bahwa ia membenci putrinya. Karena selama ini ia berusaha 
> bersikap adil terhadap putri-putrinya.
> Setelah saya pulang dari silaturahim tsb, malamnya semua putri 
dari 
> Ibu tsb telah datang berkumpul. Kabarnya, esok harinya setelah 
usai 
> sholat Ied semua anak-menantu dan cucu-cucunya kemudian pergi ke 
> Solo meninggalkan sang Nenek yang sakit parah di hari lebaran. 
> Mungkin mereka sudah jenuh merawat orang sakit, dan ingin ganti 
> suasana. Namun belum sampai di kota tujuan, mereka mengalami 
> kecelakaan. Untung tidak ada korban jiwa. Saya pun jadi berpikir, 
> jangan-jangan kepergian mereka tidak di-ridho-i (tidak direstui) 
> oleh sang Nenek. Karena seperti sabda Rasulullah : "ridho Allah 
> tergantung ridho orang tua..." (HR Buchari-Muslim).
> Kembali kepada keluhan Nenek, bahwa putrinya menuduh ia membeda-
> bedakan kasih sayang dan tidak adil. Benarkah ada orang-tua yang 
> bersikap demikian ? Setahu saya, orang tua kami tidak demikian. 
Saat 
> kami kecil, mereka selalu membelikan yang sama atau paling tidak 
> setara. Pernah ketika saya sudah sekolah, eh masih juga 
mendapatkan 
> permen coklat saat mereka membelikan untuk adik-adik yang masih 
> kecil. Sebenarnya dlm keluarga kami tidak ada tradisi ulang-tahun, 
> namun kalau ada rezeki biasanya ada syukuran (nasi kuning dll). 
Saat 
> perayaan sweet seventeen adikku ceweq, Ibuku memanggil aku dan 
> adikku cowoq. Beliau minta maaf, karena selama ini aku dan adikku 
> tidak pernah dirayakan ulang tahunnya. Kebetulan saja setiap 
adikku 
> ceweq ulang-tahun, seringkali mereka mendapat rezeki. Kemudian 
saat 
> syukuran khitanan adikku cowoq. Ibuku juga memohon maaf karena 
saat 
> saya khitanan tidak bisa menyelenggarakan pesta semacam. Karena 
> memang saat itu kehidupan ekonomi keluarga kami juga baru 
> saja "bernafas lega" melewati batas garis kemiskinan. Saya jadi 
> terharu dan tidak menduga Ibu akan berkata demikian, karena saya 
> tidak pernah merasa iri dan juga dibeda-bedakan. Bukankah orang 
> tuaku selama ini selalu bersikap adil. Bukankah acara syukuran 
> khitananku juga sudah diselenggarakan dengan segenap kemampuan 
yang 
> ada pada mereka. Dan bukankah syukuran itu tidak diwajibkan dalam 
> agama. Ibuku juga merasa bersalah, saat anak gadis satu-satunya 
> menikah dan tidak bisa merayakannya secara besar-besaran di 
Gedung. 
> Hal ini disebabkan, waktu itu belum genap setahun ayah meninggal 
dan 
> ada kondisi yang tidak memungkinkan kami menyelenggarakan pesta di 
> Gedung. Syukuran atau walimahan terpaksa diadakan di rumah, 
menurut 
> saya sudah cukup meriah (dan tentunya biayanya juga tidak 
sedikit). 
> Walaupun demikian hingga kini Ibu selalu saja merasa bersalah, 
> karena tidak bisa menyelenggarakan pesta seperti teman/kerabat 
> lainnya.
> Yah, itulah orang-tua selalu berusaha untuk bersikap adil dan 
> memberikan kasih sayang yang merata pada semua anak-anaknya. 
Sayapun 
> penasaran, apakah semua orang tua demikian. Saya mencoba bertanya 
> pada orang tua yang saya temui atau kenal (kerabat, Ibu Kos, dll). 
> Bagaimana sikap mereka terhadap putra-putrinya. Ternyata jawabnya 
> sama : "tidak ada yang paling dikasihi, semua sama rata". Menurut 
> mereka, kalau toh ada perbedaan itu disebabkan oleh kondisi atau 
> keadaan putra-putrinya yang berbeda. Bukankah adil itu tidak 
> selamanya sama.
> Sayangnya hal tsb seringkali tidak pernah disadari oleh kita 
sebagai 
> anak-anaknya. Akibatnya tidak jarang, saat kita dewasa dan harus 
> merawat orangtua, para anak-anak ini melakukan "perhitungan" 
> (rekalkulasi) atau bahkan "menggugat" kepada orangtua. Wow, apakah 
> kita lupa saat masih bayi hingga balita. Orang tua telah 
mencurahkan 
> segenap jiwa dan raganya untuk merawat, melindungi, dan mengasihi 
> kita tanpa mengeluh sedikitpun. Sedikit tips : agar kita tidak 
lupa 
> atau agar kita bisa menyelami jiwa orang tua kita, saat kita 
> merawat/mengasuh anak-anak kita cobalah untuk membayangkan 
> sebaliknya. Maksudnya saat orangtua di posisi kita, dulu saat kita 
> kecil. Atau bisa juga kita membayangkan kalau kita sudah tua, dan 
> kemudian menghadapi kenyataan bahwa ternyata anak-anak kita tidak 
> berbakti. Dari situ kita bakal memahami perasaan orang tua.
> Demikian sekilas pendapat saya yang mungkin dapat bermanfaat bagi 
> kita dalam memperingati Hari Ibu, dan tentunya dalam rangka 
parents 
> care (tentunya tidak hanya ibu). Sebelum mengakhiri e-mail ini 
> berikut saya sampaikan puisi ciptaan Howard Johnson (1915) :
> 
> M - O - T - H - E - R
>  "M" is for the million things she gave me,
>  "O" means only that she's growing old,
>  "T" is for the tears she shed to save me,
>  "H" is for her heart of purest gold;
>  "E" is for her eyes, with love-light shining,
>  "R" means right, and right she'll always be,
> 
> Put them all together, they spell 
> "MOTHER"
> A word that means the world to me.
> Salam,
> Dhito
> note : that will be nice if every single day is Mother's Day, not 
> only Dec 22th.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke