26/12/2005 12:36 WIB
           
           
           

      Senin, 19/12/2005 15:16 WIB


      Waspadai defisit neraca migas 
      oleh : Yosef Ardi 

            Perombakan kabinet sudah dilakukan. Untuk memenuhi harapan besar 
masyarakat kepada tim ekonomi yang baru, tentu bukanlah pekerjaan yang mudah. 
Salah satu warisan masalah ekonomi itu adalah kemerosotan daya saing sektor 
riil dan ancaman pembengkakan defisit neraca minyak dan gas. 

            Bila kita membaca laporan Biro Pusat Statistik (BPS) setiap bulan 
mengenai neraca perdagangan barang, tampak tidak perlu ada kerisauan. Betapa 
tidak, nilai ekspor Indonesia menunjukkan tren peningkatan setiap bulan. 

            Dalam periode Januari-Oktober 2005, misalnya, ekspor telah mencapai 
US$70,31 miliar, naik 19,51% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 
(US$58,83 miliar). Peningkatan itu dapat membuat kita tergiring pada konklusi 
bahwa daya saing ekspor kita meningkat. 

            Tetapi bila kita urai mengapa meningkat 19,51%, sebagian besar 
jawabannya ada pada faktor keberuntungan yaitu melonjaknya harga energi. 
Perhatikan pertumbuhan ekspor migas yang meningkat 22,22%. 

            Bukankah ekspor nonmigas yang selama ini sering dibanggakan juga 
meningkat 18,75%, sehingga kenaikan itu bukanlah faktor keberuntungan semata? 

            Energi nonmigas 

            Di sinilah pentingnya membedah pertumbuhan ekspor nonmigas itu 
sendiri. Dari 10 golongan barang ekspor, ternyata energi nonmigas memberikan 
sumbangan pertumbuhan paling besar. Ekspor bahan mineral (umumnya batubara), 
misalnya, meningkat pesat sebesar 62,2%. Belum lagi bila ditambah bijih, kerak, 
dan abu logam yang melonjak 94%. 

            Keberuntungannya memang di kedua kategori produk ini, karena harga 
komoditas tersebut di pasar internasional sedang tinggi. 

            Tanpa kedua produk ini, ekspor delapan golongan barang nonmigas 
Indonesia hanya tumbuh di bawah 10%. Perhatikan bagaimana produk industri 
manufaktur yang terseok-seok. 

            Ekspor pakaian jadi, misalnya, hanya tumbuh 10,7%. Padahal sektor 
ini merupakan industri padat karya. Ekspor mesin dan pesawat mekanik hingga 
September memang meningkat 15,1%. 

            Tetapi impor produk ini juga sangat besar, dan bahkan dengan laju 
lebih tinggi (36%) dibandingkan ekspornya, sehingga pada periode 
Januari-September 2005 mengalami defisit US$2,9 miliar. Hal itu menunjukkan 
masih lemahnya daya saing industri ini. 

                  Tabel 1. Perkembangan ekspor 10 komoditas utama 
                  Golongan barang Jan-Okt 2004 (US$ juta) Jan-Okt 2005 (US$ 
juta) Perubahan (%) 
                  Mesin/Peralatan listrik 5.598 6.125 +9,4 
                  Lemak & minyak hewan/nabati 3.529 3.928 +11,3 
                  Bahan bakar mineral 2.216 3.596 +62,2 
                  Karet & barang dari karet 2.488 2.837 +14,0 
                  Kayu/Barang dari kayu 2.714 2.620 -3,4 
                  Pakaian jadi bukan rajutan 2.391 2.647 +10,7 
                  Bahan kimia organik 1.211 1.312 +8,3 
                  Ikan & udang 1.210 1.276 +5,4 
                  Kertas/Karton 1.876 1.879 +0,2 
            Sumber: BPS, diolah kembali 

                  Tabel 2. Perkembangan neraca ekspor-impor migas 
                 Jan-Okt 2004 (US$ juta) Jan-Okt 2005 (US$ juta) Perubahan (%) 
                  Migas 
                  Ekspor 12.913 15.782 22,22 
                  Impor 9.342 14.815 58,59 
                  Selisih 3.571 967 -72,90 
                  Minyak Mentah 
                  Ekspor 5.228 6.644 27.09 
                  Impor 4.381 5.436 24,09 
                  Selisih 847 1.208 +42,62 
                  Hasil Minyak 
                  Ekspor 1.460 1.617 10,78 
                  Impor 3.856 7.835 103,17 
                  Selisih -2.396 -6.218 +159,51 
                  Gas 
                  Ekspor 6.224 7.520 18,75 
                  Impor - -  
                  Selisih    
            Sumber: BPS, diolah kembali 

            Defisit yang amat besar juga terjadi di industri kimia organik 
(terutama petrokimia) yaitu hampir US$1,3 miliar. Hebatnya, impor kendaraan 
bermotor dan komponennya justru meningkat pesat 33%, padahal industri ini sama 
sekali tidak berorientasi ekspor. 

            Maka tanpa pembenahan serius di sektor industri manufaktur dalam 
negeri, niscaya masa depan ekspor nonmigas makin terancam. 

            Industri pengolahan hasil pertanian juga tak menunjukkan 
pertumbuhan menggembirakan. Ekspor ikan dan udang, misalnya, hanya tumbuh 5,4%. 
Sedangkan industri perkayuan benar-benar mengalami kemerosotan. 

            Tetapi kekhawatiran terbesar justru ada di sektor migas. Dalam 
beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin cenderung mengalami kemerosotan 
surplus neraca perdagangan migas dan tanpa upaya yang serius membenahi 
kebijakan migas nasional, Indonesia akan menderita defisit. 

            Perhatikan data pada Tabel 2. Nilai surplus perdagangan migas telah 
anjlok 72,90% hanya dalam satu ta-hun terakhir. Surplus itu masih tertolong 
nilai ekspor gas alam, karena Indonesia bisa dikatakan tidak mengimpor gas 
alam. Pertanyaannya, sampai kapan? 

            Tiga sisi 

            Tekanan terhadap defisit neraca migas akan datang dari tiga sisi 
sekaligus. Pertama, neraca minyak mentah akan cenderung ke arah defisit. Hal 
itu disebabkan tidak adanya tanda-tanda tambahan produksi minyak dalam waktu 
dekat. 

            Saat ini produksi minyak nasional jatuh di bawah 1 juta barel per 
hari (sekitar 900.000 barel per hari pada beberapa bulan terakhir), merosot 
tajam dibandingkan 1,4 juta barel pada 1997, saat kita mulai memasuki krisis 
ekonomi. 

            Para ahli teknik perminyakan memperkirakan produksi minyak 
Indonesia baru meningkat dari 1 juta barel per hari (bph) menjadi 1,3 juta bph 
pada 2009, empat tahun dari saat ini. Itupun dengan catatan bahwa ladang minyak 
Cepu yang mampu menghasilkan 170.000 bph beroperasi sesuai jadwal. 

            Walau beroperasi sesuai jadwal pun, defisit akan tetap besar karena 
konsumsi juga meningkat, sementara aktivitas eksplorasi migas dalam beberapa 
tahun ini tidak berhasil menemukan ladang migas yang cukup signifikan untuk 
mendongkrak produksi dalam jangka panjang. 

            Kedua, defisit hasil minyak (BBM) yang merupakan produk kilang 
minyak akan semakin besar. Dalam satu tahun terakhir, defisit BBM membengkak 
160% menjadi US$6,2 miliar. 

            Hal itu disebabkan tidak memadainya kapasitas kilang minyak di 
dalam negeri. Satu-satunya tambahan produksi yang bisa diharapkan adalah 
rencana pembangunan kilang minyak Sinopec dan Pertamina di Tuban. 

            Namun itupun harus menunggu tiga tahun lagi. Sementara konsumsi BBM 
diperkirakan terus meningkat. 

            Memang selama Oktober terjadi penurunan impor BBM secara signifikan 
(28,97%), namun hal ini lebih disebabkan lonjakan impor pada September 
menjelang pengumuman kenaikan harga pada 1 Oktober. 

            Tidak ada tanda-tanda konsumsi BBM bakal merosot, mengingat 
penjualan kendaraan bermotor yang sangat tinggi dan besarnya porsi BBM dalam 
sumber energi pembangkit listrik PLN. 

            Ketiga, ekspor gas alam akan cenderung turun. Dua kilang LNG, Arun 
dan Bontang, mulai mengalami kemerosotan dalam beberapa tahun terakhir. 

            Dari enam kilang LNG Arun, misalnya, diperkirakan hanya tiga kilang 
yang masih beroperasi akibat semakin tipisnya cadangan gas alam di wilayah 
Lhokseumawe dan sekitarnya. Sebaliknya saat ini satu dari 9 kilang LNG Bontang 
menganggur karena terbatasnya gas alam. 

            Memang ada harapan dari proyek LNG Tangguh di Papua. Tetapi 
dibutuhkan waktu dua atau tiga tahun ke depan untuk merealisasikannya. 

            Karena itu, dalam jangka pendek-menengah, Indonesia sangat rentan 
terhadap defisit neraca perdagangan migasnya. Defisit akan membuat tekanan 
terhadap rupiah akan semakin tinggi, yang selanjutnya merembet ke seluruh 
sektor ekonomi. 

            Jadi, barangkali sudah saatnya kita mengkampanyekan produk migas 
persis ketika era 1980-an dan 1990-an pemerintah menggencarkan sektor nonmigas. 
Kampanye itu tidak sekadar wacana, tetapi diwujudkan dalam bentuk kebijakan 
yang jelas, terarah, dan terukur. 
            [Close] 


           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke