http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=203751
Senin, 26 Des 2005, Perlu Moralitas Maksimal Oleh Sudaryanto * Kerusakan bangsa ini hampir sempurna! Mendengar kalimat itu, orang akan langsung mengaitkan dengan Prof Dr Achmad Syafii Ma'arif (70). Buya Syafii -begitu dia biasa disapa- menggambarkan parahnya kerusakan moral bangsa ini dengan cukup singkat. Menurut dia, tengoklah tiga departemen kita (Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, dan Departemen Agama) sebagai contoh. Mengapa? Sebab, kata Buya, ketiga departemen itu bermasalah. Permasalahan yang dihadapi ketiganya bukan soal sepele: korupsi! Karena korupsi tersebut, bangsa ini menjadi bangsa yang tidak bermartabat dan bermoral. Karena korupsi itu, bangsa ini tidak punya nyali di forum-forum dunia. Selain korupsi, bangsa ini juga dibebani utang luar negeri dan menjadi importer terbesar di dunia. Simpul kata, lagi-lagi Buya berkata, kerusakan bangsa ini nyaris sempurna. Muncul pertanyaan pokok, apa yang membuat krisis bangsa ini berlarut-larut? Faktor utamanya ialah kegagalan kepemimpinan. Di simpul itu, kerja sama Bung Hatta dan Bung Karno yang tak lama sebagai bukti empirisnya. Dulu Bung Hatta tidak mencoba mendekati Bung Karno melalui pintu subkultur Jawa yang canggih. Akhirnya, usaha nation and character building itu gagal. Kini, di masa pemerintahan SBY-JK, kondisinya makin memprihatinkan. Dalam bidang politik, kita masih menjumpai politisi yang miskin pengalaman. Akibatnya, politik itu kini dilihat sebagai mata pencaharian. Bahkan ada yang lebih gawat, mereka tak segan-segan membajak Tuhan guna kepentingan syahwat politiknya. Karena itu, tidak keliru ketika Yasraf Amir Piliang (Moralitas Minimalis, Kompas 21/11/2005) menyebut minimalisme moral mengakibatkan rendahnya kualitas kebijakan dalam tindakan sosial-politik-budaya. Misalnya, kebijakan kenaikan harga BBM per 1 Oktober silam di tengah impitan hidup justru kian menunjukkan rendahnya kualitas moral kebijakan tersebut. Hal itu disebabkan konsep "kebijakan" itu tidak koheren dengan nilai-nilai moral bijak. Jadi, "kebijakan yang tidak bijak" itu sama dengan kebijakan tak bermoral. Parahnya lagi, masyarakat enggan memperbaiki dirinya yang telanjur memasuki situasi imoralitas tersebut. Simpul kata, keterikatan hubungan kualitas moral dan kualitas politik dalam sebuah tatanan masyarakat bangsa ibarat dua sisi mata uang logam. Hal itu ditegaskan Alasdair MacIntyre (1999) bahwa masyarakat yang kurang atau tidak memiliki kesadaran dan kesepakatan tentang kebajikan moral (virtue) dan keadilan (justice) mesti kurang atau tidak memiliki basis masyarakat politik yang kuat. Artinya, moral merupakan dasar kokoh atas masyarakat politik. Di titik tersebut, kita tengarai bahwa ada dua kecenderungan moral yang mengisyaratkan rendahnya kesadaran moral. Pertama, tindakan melanggar atau melawan moral itu sendiri dengan melakukan aneka tindakan jahat, tak pantas, atau tak arif. Kedua, tindakan "mempermainkan" prinsip atau nilai-nilai moral sendiri (immorality) dengan cara memutarbalikkan batas-batas moral, baik/jahat, benar/salah, atau pantas/tidak pantas. Fenomena anggota parlemen kita yang menuntut kenaikan tunjangan Rp 10 juta dan "studi banding" ke Mesir di tengah keprihatinan rakyat sungguh memberikan isyarat kuat bahwa imoralitas negara ini kian akut. Fatalnya lagi, negara atau pemerintahan kini, meminjam Zumrotin K. Susilo, bersikap layaknya Sinterklas. Membantu orang miskin atau orang lapar jika ia memang diperlukan dan jika tidak, ia akan lupa. Ini serius. Minimnya kesadaran moral di bidang politik dikhawatirkan menjalar ke bidang-bidang lain. Akibatnya, ruang publik di tanah air bukan menjadi "ruang pendidikan moral", melainkan "ruang amoral dan imoral". Bila kondisi itu dibiarkan berlarat-larat, kelak terbentuk watak moralitas minimalis pada tiap diri anak bangsa. Minimalisme moral menjadi suatu tradisi, kebiasaan hidup, bahkan mungkin menjadi jalan hidup, seperti korupsi. Di sinilah kiranya kita melihat bahwa negeri ini sangat membutuhkan pemimpin yang kuat dan adil. Selain itu, yang terpenting, dia juga harus punya bobot moral. Kepemimpinan yang berbasis moral serta keadilan kelak mampu memberantas korupsi, menegakkan hukum, serta menyelesaikan berbagai kasus lain. Tugas berat bangsa ini ke depan ialah mengubah watak moralitas minimalis menjadi watak moralitas maksimalis. Tanpa dukungan bobot moral, maka berbagai kasus imoralitas bangsa ini terasa "biasa-biasa saja", bahkan menjadi semacam jalan hidup. Harus diingat, keberanian moral seorang pemimpin muncul dari track record yang bersih dan baik. Selama man behind the gun-nya terealisasi ditambah keberanian moral, hal itu kelak mendorong pemimpin untuk membuang watak-watak moralitas minimalis yang menempel di tubuh bangsa ini. Bersediakah kita? * Sudaryanto, koordinator Riset MISHBAH Cultural Studies Center, mahasiswa Universitas Negeri Jogjakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Clean water saves lives. Help make water safe for our children. http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

