>  Pidato
>   Dr. Susilo Bambang Yudhoyono
>   Presiden Republik Indonesia  Pada Peringatan Satu Tahun Tsunami
>   Banda Aceh, Indonesia, 26 Desember 2005
>
>
>
>   Bismillahirrahmaanirrohiim
>
>   Saudara Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat,
>   Saudara-saudara Menteri,
>   Yang Mulia tamu-tamu dari Negara sahabat, para Duta Besar
>   Saudara Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi 
> Aceh-Nias
>   Saudara Plt. Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam,
>   Saudara-saudaraku di seluruh Indonesia,
>
>   Pertama-tama, marilah kita mengucapkan terima kasih kepada anak-anak 
> Aceh yang telah menyanyikan lagu yang indah tadi. Mereka telah 
> menghangatkan suasana hati kita.
>
>   Saudara-saudara,
>
>   Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono, dan saya berbicara di sini  atas 
> nama rakyat dan bangsa Indonesia menyampaikan selamat datang kepada 
> saudara-saudara semua di Banda Aceh, Indonesia. Saya hadir di sini, 
> bersama-sama Saudara-saudara untuk mengenang dan memberikan penghormatan 
> kepada para korban, kepada keluarga yang ditinggalkan dan juga untuk 
> menyampaikan penghargaan.
>
>   Acara hari ini merupakan acara yang sangat khusus, di mana kita semua, 
> seluruh warga dunia, dengan beragam suku, agama, dan kebudayaan 
> dipersatukan oleh tragedi dan rasa kemanusiaaan. Di bawah langit biru 
> terbuka dan dikelilingi oleh keindahan Pantai Ulee Lheue yang tenang, 
> kita mengikat kebersamaan sebagai umat Tuhan.
>
>   Persis setahun yang lalu, di bawah langit biru terbuka seperti ini 
> pula, si empunya bumi menunjukkan kedigdayaannya dan menimbulkan 
> kerusakan yang luar biasa.
>
>               Dimulai dengan gempa bumi berskala massif yang terjadi 
> sekitar 250 km di laut lepas di sekitar Sumatera. Tetapi, ternyata gempa 
> bumi dahsyat itu hanyalah sebuah pembukaan dari sebuah bencana yang 
> mengerikan. Karena 15 menit kemudian, muncul tiga gelombang tsunami 
> raksasa yang mematikan, dengan ketinggian 9 meter dan bergerak dengan 
> kecepatan tinggi 250 km per jam, menghempas pantai-pantai di Lautan 
> Hindia dan meluluhlantakkan apa saja hingga berkeping-keping.
>
>   Indonesia menderita akibat terburuk, di sini di Aceh dan Nias dengan 
> korban jiwa lebih dari 160.000 wafat dan hilang.
>
>   Di Sri Lanka, 31.000 orang wafat, dan 4.000 lainnya hilang. Pantai 
> selatan India kehilangan 8.000 jiwa, dan kepulauan Andaman dan Nicobar 
> menelan korban lebih dari 2.000 jiwa. Kematian di Thailand mencapai 5.300 
> orang, banyak di antara mereka turis yang sedang berlibur. 2.800 jiwa 
> lainnya hilang. Di samping itu masih banyak lagi bangsa-bangsa yang harus 
> kehilangan kerabat yang dicintainya: Malaysia, Maladewa, Somalia, 
> Tanzania, Bangladesh, Myanmar dan Seychelles.
>
>   Dalam hitungan menit, lebih dari 280.000 manusia kehilangan nyawa. Dan 
> lebih dari satu juga orang di sekitar Lautan Hindia serta merta menjadi 
> tunawisma.
>
>   Hari ini, setahun kemudian, kita bersama-sama hadir di tempat ini untuk 
> mengingat mereka yang menderita, menghormati mereka, sekali lagi, untuk 
> mereka orang-orang baik, perempuan, laki-laki, anak-anak kita, orang 
> dewasa, yang hilang ditelan gelombang tsunami.
>
>   Kita tundukkan kepala, memanjatkan doa khusuk, agar arwah mereka yang 
> kita cintai, baik yang ditemukan maupun yang tidak kita temukan, yang 
> dimakamkan di bumi, maupun terkubur di laut, kesemuanya memperoleh tempat 
> terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
>
>   Tetapi hari ini, besok, lusa dan hari-hari mendatang, bukanlah lagi 
> akan menjadi hari-hari yang penuh penderitaan, karena kita juga berhimpun 
> di sini untuk menghormati mereka yang hidup, lolos dari bencana maut. 
> Anak-anak kita ini, saudara-saudara kita, para orangtua kita, adik-kakak, 
> - mereka semuanya ingin membangun kembali kehidupannya.
>
>   Saudara-saudara semua akan menyaksikan para korban Tsunami yang lolos 
> dari maut, di mana-mana di seluruh Aceh, Nias, Pukhet, Phang Na, Jaffna, 
> di Negara Kerala, Tamil, Nadu, Andhra Pradesh; di Kepulauan Andaman dan 
> Nicobar, dan dimanapun di wilayah-wilayah yang terhempas Tsunami.
>
>   Mereka menyambut Saudara-saudara dengan senyum, semangat, dan 
> harapan.  Tetapi senyum mereka yang indah menandakan kekuatan besar yang 
> langsung diungkapkan.    Dan kita berhutang kepada mereka semua.
>
>   Di Aceh, kita punya seorang sahabat bernama Martunis, seorang anak 
> berusia tujuh tahun yang terapung di laut lepas selama 21 hari, hanya 
> berpegang pada sebuah ranting pohon.  Sebotol air yang kebetulan hanyut 
> di depan matanya-lah yang membuat dia bertahan hidup; dan tentu saja 
> karena tekadnya yang kuat untuk terus bertahan hidup.
>
>   Ada pula Malawati, yang kehilangan suami dan hanyut ke laut selama lima 
> hari.  Malawati tak bisa berenang, karena itu dia hanya mampu berpegang 
> pada batang pohon yang hanyut ke sana ke mari.  Keajaiban alam 
> menyelamatkannya , karena cintanya pada bayi yang dikandungnya.  Dengan 
> rahmat Allah SWT, si bayi bertahan hidup dan terlahir selamat.
>
>   Dan tentu saja, kita memiliki kekuatan yang luar biasa dari anak-anak 
> yang baru saja tampil menyanyikan lagu cinta bagi kita semua.  Semua dari 
> mereka telah menjadi yatim piatu akibat tsunami, dan mereka dengan 
> semangat terus berusaha mencoba menjadi anak-anak seperti lazimnya.
>
>   Kita hormati kekuatan dan keberanian mereka, para korban yang bertahan 
> hidup.  Mereka semua mengingatkan kita betapa indahnya kehidupan, dan 
> betapa bermaknanya perjuangan untuk mempertahankan hidup.  Sekali lagi, 
> kita harus hormati perjuangan itu; sisa umur  Anda semua haruslah menjadi 
> hari-hari yang penuh harapan.
>
>   Kita semua akan memerlukan begitu banyak harapan, sebagaimana yang 
> diberikan oleh Tsunami kepada masyarakat kita.  Di sini, di Aceh dan 
> Nias; jalan-jalan, jembatan, bangunan musnah dan hilang; pemerintah 
> daerah tidak mampu berfungsi dengan baik.  Ketika peristiwa itu terjadi, 
> tak ada listrik, sambungan telepon terputus, tidak ada mobil, dan bahan 
> bakar.  Persoalan logistik ketika itu sepertinya bertumpuk-tumpuk menjadi 
> satu tanpa ada pemecahan yang pasti — suatu ketika, hanya tinggal satu 
> helikopter yang tersedia di Aceh.  Kita semua menderita kelumpuhan 
> total.  Sekedar untuk membersihkan puing-puing saja, kita memerlukan 
> waktu berbulan-bulan.
>
>   Toh, kita harus terus bergerak maju hari demi hari.   Dalam ukuran yang 
> sangat luar biasa, kita menyaksikan kerusakan di mana-mana.  Tetapi, 
> melalui hari-hari yang sudah lewat, Saudara-saudara telah menyaksikan 
> berbagai kemajuan.
>
>   Melewati jalan-jalan yang sedang mulai dibangun kembali, termasuk jalan 
> raya Banda Aceh-Meulaboh,  Saudara-saudara akan menyaksikan desa-desa 
> yang mulai berbenah.  Saudara akan melihat pasar-pasar mulai 
> bangkit.   Anak-anak mulai kembali ceria dan bersekolah, banyak guru-guru 
> baru sudah dilatih dan mengajar kembali, berkilo-kilometer jalan sedang 
> giat dibangun, dan berkilo-kilo meter saluran dan pipa air sedang dikerjakan.
>
>    Pelabuhan dan perahu nelayan sedang dibangun di mana-mana, seperti 
> juga klinik-klinik dan rumah sakit.  Para petani sudah mulai kembali 
> bercocok tanam, puluhan ribu pekerja sedang dilatih untuk memperoleh 
> keterampilan baru agar mereka segera kembali bekerja.  Dan, dengan segala 
> ketakutan tentang wabah penyakit yang diakibatkan oleh tsunami, kita 
> bersyukur dapat melaluinya dengan selamat.  Tentu saja, bukan karena 
> keberuntungan semata, melainkan karena tekad yang kuat dan kerja keras.
>
>   Saudara-saudara sekalian,
>
>   Saya ingin menekankan bahwa pembentukan Badan Rehabilitasi dan 
> Rekonstruksi akan membuat proses membangun kembali Aceh dan Nias dapat 
> dilaksanakan dengan penuh harga diri, transparan, dan mampu membangun 
> komitmen dan keterlibatan masyarakat yang kuat.  Karena itu saya ingin 
> mengajak Sauda-saudara semua untuk memberi selamat dan semangat kepada 
> Dr. Kuntoro Mangkusubroto dan seluruh jajarannya di BRR untuk semua 
> dedikasi dan kerja kerasnya dalam membangun kembali Aceh dan Nias.
>
>   Usaha kita untuk membangun kembali Aceh dan Nias masih jauh dari 
> selesai.  Kita bersama-sama harus membangun rumah bagi ratusan ribu 
> pengungsi.  Kita terus bergerak secepat mungkin.  Dalam bulan-bulan 
> mendatang, kita akan membangun sekurang-kurangnya 5.000 rumah setiap bulan.
>
>   Tentu saja, masih sangat banyak yang harus kita kerjakan.  Kita harus 
> mendorong agar ekonomi bergerak cepat, agar kita dapat menciptakan 
> sebanyak mungkin lapangan kerja.  Kita harus berupaya keras agar para 
> pengusaha kita kembali bergerak.  Kita perlu dan harus memenuhi kebutuhan 
> mereka; tidak saja yang tinggal di kota-kota, tetapi juga saudara-saudara 
> kita yang tinggal di pelosok-pelosok desa.
>
>   Menghadapi semua tantangan tadi, catat kata-kata saya: kita memiliki 
> enerji, komitmen, dan kemauan keras untuk menjawab tantangan dan tanggung 
> jawab itu.  Kita songsong tahun 2006 dengan penuh keyakinan untuk 
> menyelesaikan banyak persoalan.  Kita akan bangun kembali Aceh dan Nias, 
> bahkan kita harus bangun Aceh dan Nias, lebih baik dari sebelumnya.
>
>   Saudara-saudaraku,
>
>   Saya percaya bahwa salah satu dari dampak yang paling signifikan dari 
> musibah tsunami adalah munculnya kebersamaan dari warga dunia.  Tidak 
> pernah terjadi sebelumnya suatu bencana alam menghadirkan semangat 
> berkorban, solidaritas, dan rasa cinta yang demikian besar dari sesama 
> warga dunia.
>
>   Di Indonesia, segenap bangsa menangis, dan  setiap orang, kaya dan 
> miskin, bahu membahu mengirimkan makanan dan bantuan bagi saudara-saudara 
> mereka di Aceh dan Nias.  Ribuan relawan berbondong-bondong datang ke 
> lokasi bencana untuk membantu korban.
>
>   Hal yang sangat luar biasa, bantuan dari seluruh dunia datang dengan 
> berbagai cara dan dalam berbagai bentuk.
>
>   Empat puluh empat negara mengirimkan prajurit Angkatan Bersenjatanya 
> untuk memberikan bantuan kemanusiaan.  Patut dicatat bahwa, inilah sebuah 
> operasi militer non perang terbesar yang pernah terjadi sesudah Perang 
> Dunia II.
>
>   NGO dan donor mencatat rekor bantuan dana, yang seluruhnya mencapai 
> lebih dari 7 milyar dollar telah dijanjikan untuk membangun kembali Aceh 
> dan Nias.   Warga Negara dari Dilli hingga Ankara, London hingga Mexico, 
> Los Angeles hingga Melbourne, Beijing hingga Teheran, dan banyak lagi; 
> kesemuanya tergerak untuk bertindak karena kepedulian, merespon sebuah 
> peristiwa besar yang memerlukan perhatian segera.
>
>   Kepedulian dan kasih mereka melintasi batas-batas agama, suku, ras, dan 
> kebudayaan; kesemuanya bersatu atas nama solidaritas global.  Pagi hari 
> ini di tengah-tengah kita hadir wakil-wakil dari seluruh penjuru dunia, 
> dalam beragam agama, suku bangsa, dan budaya; sebagai symbol dari 
> solidaritas global itu.
>
>
>   Melalui Saudara-saudara semua, ijinkan kami, menyampaikan penghargaan 
> dan terima kasih kami atas dukungan Saudara-saudara semua dari seluruh 
> dunia.   Kami memahami dan tahu persis, dukungan Saudara-saudara sungguh 
> tulus dan datang dari sanubari, dan karenanya kami sungguh-sungguh 
> berterima kasih.
>
>
>   Permintaan saya kepada Anda semua adalah tetap menjaga semangat 
> mewujudkan kemauan baik ini. Jangan sampai semangat ini redup. Jalinan 
> persahabatan, membangun rasa percaya diri dan semangat bekerjasama, 
> saling memahami ­ semua yang anda tunjukkan selama masa tanggap darurat 
> adalah aset yang tak ternilai besarnya yang harus kita pupuk. Semangat 
> solidaritas yang telah Anda semua tunjukkan adalah bukti sejarah 
> kemanusiaan yang dapat dilakukan oleh kita semua dalam semangat membantu 
> sesama manusia.
>
>   Tsunami telah menghasilkan bibit-bibit persaudaraan global yang tidak 
> pernah diduga sebelumnya: saat ini, persaudaraan ini telah membantu 
> korban tsunami, namun saya persaya kita dapat melanjutkan mengembangkan 
> semangat persaudaraan global dan kemauan baik yang jarang terjadi ini 
> untuk menjawab permasalahan global dan membawa kesejahteraan bagi umat 
> manusia. Saya yakin Anda akan setuju betapa mulianya hal itu.
>
>   Sebagai penutup, di sini di Aceh, kita sudah mendapatkan contoh 
> bagaimana harapan baru perdamaian dapat timbul dari reruntuhan.
>
>   Pada tanggal 15 Agustus tahun ini, pemerintah Indonesia menandatangani 
> perjanjian perdamaian yang bersejarah dengan para pemimpin Gerakan Aceh 
> Merdeka.
>
>   Perjanjian damai tersebut mengakhiri 3 dekade konflik berdarah di Aceh. 
> Perjanjian ini memberikan kesempatan emas bagi warga Aceh untuk memulai 
> kehidupan baru yang bermartabat dan rekonsiliasi di bawah otonomi khusus, 
> dalam negara kesatuan Republik Indonesia.
>
>   Mulai saat ini dan selanjutnya masa depan Aceh bukan lagi masa depan 
> penuh darah dan air mata melainkan masa depan yang penuh kerja keras dan 
> harapan.
>
>   Saudara-saudara sekalian,
>   Sebagaimana Saudara sekalian ketahui, tidak jauh dari sini, kita 
> merencanakan membangun monumen peringatan tsunami yang dibangun di 
> sekitar kapal yang terdampar di Punge, sekitar 4 km dari sini.
>
>   Namun jika Saudara melihat lebih dalam lagi, ada banyak monumen tsunami 
> di sekitar Saudara. Saya menyebutnya “monumen yang hidup” dan 
> monumen-monumen hidup ini lebih kuat dari baja atau dinding beton.
>
>   Kehadiran Saudara pada hari ini adalah salah satu tonggak dari monumen 
> ini yaitu monumen solidaritas.
>
>   Anak-anak yang mulai dapat bermain lagi di pantai sambil tertawa dan 
> tersenyum, juga menjadi monumen yang hidup akan harapan dan ketabahan.
>
>   Para nelayan yang kembali melaut, adalah monumen kegigihan.
>
>   Masih ada banyak lagi monumen hidup yang memberanikan para keluarga 
> yang berkumpul kambali dan diantara mereka yang tunawisma namun dapat 
> kembali menempati rumah baru.
>
>   Ada pula monumen hidup yang menghidupkan semangat spiritualitas di 
> masjid-masjid di Aceh dan gereja-gereja di Nias.
>
>   Dan ada monumen hidup perdamaian dalam keheningan dari dentuman senjata 
> di seluruh Aceh.
>
>   Maka sebagaimana dikatakan dalam peribahasa Indonesia, “habis gelap, 
> terbitlah terang”. Tsunami membawa pukulan yang fatal di sepanjang pantai 
> kita. Namun tidak ada pertandingan yang lebih besar daripada yang kita 
> sebut sebagai semangat kemanusiaan, yaitu semangat untuk hidup, untuk 
> selamat dan untuk mencintai yang terus ada.
>
>   Semangat itu akan tetap hidup dalam diri kita hari ini, esok dan 
> selanjutnya.
>
>   Insya Allah, Insya Allah!!
>
>   Terima kasih.
>
>
>
>
>
>
>   Speech by
>   Dr. Susilo Bambang Yudhoyono
>   President of the Republic of Indonesia
>
>   At the One-year Commemoration of the Tsunami
>   Banda Aceh, Indonesia, 26 December 2005
>
>
>
>   Bismillah Hirrahmanirrahim
>   President Xanana Gusmao,
>   Ministers,
>   Special Envoys,
>   Excellencies,
>   Ladies and gentlemen,
>   Saudara-saudaraku di seluruh Indonesia,
>
>
>   First of all, let us all thank these beautiful Acehnese children for 
> singing that lovely song.  They warmed our hearts.
>
>   Ladies and gentlemen,
>
>   My name is Susilo Bambang Yudhoyono, and I speak on behalf of Indonesia 
> in welcoming all of you to Banda Aceh, Indonesia.  I am here to join you 
> to honor the dead, the living, and to offer gratitude.
>
>   This is a very special gathering of people of all nationalities, race, 
> religion, and cultures, united by tragedy and our common humanity.  In 
> this wide open space on the calm shores of Ulee Leuh, under the blue sky, 
> we stand together as God's children.
>               It was under the same blue sky, exactly a year, ago that 
> mother earth unleashed her most destructive power upon us.
>               That assault began with a massive earthquake about 250 km 
> off Sumatra.  But that earthquake was only a prelude of a horrific 
> catasthrophe to come.  15 minutes later, three giant killer tsunami 
> waves, 9 meters in height and moving at around 250 km per hour, crashed 
> on the shores of many communities around the Indian Ocean, destroying 
> everything and drowning nearly everyone in their path.
>               Indonesia suffered the worst loss, here in Aceh and Nias, 
> with over 200,000 dead and missing.
>               In Sri Lanka, 31,000 people died, and 4,000 are 
> missing.  India's Southeast coast counted over 8,000 dead, and the 
> Andaman and Nicobar islands lost over 2,000 people.
>               Thailand’s death toll topped 5,300 people, many of them 
> tourists.  Another 2,800 people are missing.
>               Other nations lost their loved ones: Malaysia, the 
> Maldives, Somalia, Tanzania, Bangladesh, Myanmar, the Seychelles.
>               In a matter of minutes, over 280,000 people perished.  And 
> more than a million people all around the Indian Ocean became homeless.
>
>   We stand here together today in remembrance of that suffering, paying 
> respect, once again, to the good men and women, and all the children, 
> lost to the sea.  We bow our heads in deep prayers, so that the souls of 
> our loved ones, found or unfound, buried on land or at sea, have a proper 
> resting place at God's side.
>
>   But today, tomorrow, and the day after, will not be about suffering, 
> because we are here to also honor those who survived.  These sons and 
> daughters, brothers and sisters, parents—they all want to rebuild their lives.
>               You will see these tsunami survivors everywhere, here in 
> Aceh, in Nias, in Phuket, in Phang Na, in Jaffna, in the states of 
> Kerala, Tamil Nadu and Andhra Pradesh, in Andaman and Nicobar Islands, 
> and in many other stricken areas.  They greet you with smiles, with 
> enthusiasm, with hope.  But their cheerful smiles masks a steely 
> resolve.  We owe them the same.
>               There is Martunis, the seven-year old Acehnese boy who was 
> lost at sea for twenty-one days, hanging onto a tree branch.  He lived on 
> bottled water that floated by, and on his determination to survive.
>               There is Malawati, who lost her husband to the tsunami and 
> was lost at sea for five days.  She could not swim, so she hung onto a 
> tree trunk all that time, floating in shark-infested waters.  She too 
> miraculously survived by sheer will, and by love for her unborn baby, who 
> also survived by the grace of Allah Almighty.
>   And, of course, there is inner strength in the children who just 
> performed for us, all made orphans by the tsunami, all trying to be 
> children again.
>               We honor ALL the tsunami survivors for their strength and 
> courage.  You remind us that life is beautiful and worth struggling 
> for.  We must honor that struggle.  The rest of your future should be 
> days of hope.
>
>   We will need plenty of that hope given what the tsunami did to our 
> communities.  Here in Aceh and Nias, roads, bridges, and buildings 
> disappeared, and local government ceased to function.  There was no 
> electricity, no phone lines, no cars, no gasoline.  Our logistical 
> problems seemed insurmountable at times—at one point, there was only one 
> helicopter left in all of Aceh.  We suffered total paralysis.  Just 
> cleaning up the debris took months.
>               Yet we moved forward with each day.
>               In a catastrophe of this size, it is easy to see only 
> ruins.  But look past the rubble and you will see progress.
>               By the roads that are being built, including one that will 
> reach Meulaboh, you will see villages slowly taking shape. You will see 
> markets brightening up landscapes. You will see children back at school 
> and new teachers being trained.  You will see miles of new roads, miles 
> of new sewage pipes.
>               Ports and boats are being rebuilt, as are hospitals and 
> clinics.  Farmers are going back to their fields and gardens.  Tens of 
> thousands are being given training to go back to work.
>               And despite everyone’s fears, we escaped epidemics. That 
> was not by a stroke of luck.  That was due to sheer hard work.
>               And with the establishment of a Rehabilitation and 
> Reconstruction Agency, the rebuilding of Aceh and Nias is being carried 
> out with dignity, transparency and strong community involvement.  Please 
> join me in commending Dr. Kuntoro Mangkusubroto and all the staff of the 
> BRR for all their dedication and perspiration in the rebuilding of Aceh 
> and Nias.
>               Our reconstruction efforts are far from over.  We have to 
> provide new homes for the hundreds of thousands of homeless.  We are 
> moving as fast as we can, building more than five-thousand houses every 
> month.
>   There is still much more to be done: we need to stimulate the economy 
> and provide jobs.  We need to get entrepreneurs back on their feet.  We 
> need to meet the needs of not just the cities, but the outlying villages too.
>   Yet, mark my words: we have the energy, the commitment, and the will to 
> make all this happen.  We greet 2006 with confidence and resolve.  We 
> will rebuild Aceh and Nias, and we will rebuild it back better.
>
>   Ladies and gentlemen,
>
>   I believe that one of the most significant impacts of the tsunami was 
> how it brought global citizens together.   Never before did a natural 
> disaster bring out so much compassion, goodwill and generosity.
>               In Indonesia, the whole nation wept, and everyone, rich or 
> poor, sent food and funds to their brothers and sisters in Aceh and Nias, 
> and thousands volunteered for relief work.
>               But it made a huge difference that the world came to our aid.
>               Forty-four countries sent military personnel and 
> assistance, forming the largest military operation for humanitarian 
> relief since World War II.  NGOs and donors made record financial 
> contributions—in all, we have $ 9 billion dollars pledged to the 
> reconstruction effort.  Citizens from Dili to Ankara, London to Mexico 
> City, Los Angeles to Melbourne, Beijing to Tehran, and many more places, 
> all got into the act of caring and contributing, prompting a phenomenal 
> trend in world affairs.
>   Their compassion cut across religious, racial, and cultural lines, 
> uniting them in global solidarity.
>   This morning, we have in our midst representatives of many nations who 
> are part of this global solidarity.   Through you, we express our 
> gratitude to all our friends around the world for your support.  We know 
> your support was genuine and came from the heart, and for that we are 
> eternally grateful.
>   My appeal to you is to keep this flame of goodwill alive.  Do not let 
> it fizzle.  The friendships, the confidence building, the networks, the 
> know-how—all these things that you shared together during the emergency 
> relief is a valuable asset that we must nurture.  The compassion many of 
> you have shown is testament to what humanity can achieve.
>   The tsunami has produced the seeds of unprecedented global solidarity : 
> this time, it helped tsunami victims, but I believe we can continue to 
> nurture this rare global compassion and goodwill to address other global 
> concerns, and bring greater peace and prosperity for humanity.  What a 
> great legacy that would be, don’t you agree ?
>
>   After all, here in Aceh, we already have an example of how a new hope 
> for peace can emerge out of the ruins of destruction.
>               On August 15th of this year, the Indonesian government 
> signed a historic peace deal with the leaders of the Free Aceh 
> Movement.  That peace deal ended 3 decades of bloody conflict in 
> Aceh.  It gave the Acehnese a golden chance to start a new life of 
> dignity and reconciliation under a special autonomy, within a united 
> Indonesia.
>   Let it be known from hereon that the future of Aceh is not a future of 
> blood and tears, but a future of sweat and
>
>   Ladies and gentlemen,
>   You know, not far from here, we plan to erect a monument to the 
> tsunami, which will be built around a grounded ship at Punge, about 4 km 
> from here.
>               But if you look closely, there are tsunami monuments all 
> around you.  I call them “living monuments”, and these living monuments 
> are stronger than steel or concrete walls.
>   Your presence today is one of these monuments—a monument to solidarity.
>               The children playing at the beach again, laughing and 
> smiling—they are another living monument—a monument to hope and resilience.
>               The fishermen going back to sea again—they are monuments to 
> perseverance.
>               There are living monuments to courage amongst the families 
> who are being reunited, and amongst the homeless moving into new homes.
>               There are living monuments to vibrant spirituality in the 
> mosques throughout Aceh and the churches in Nias.
>               And there is a living monument to peace in the silence of 
> guns throughout Aceh.
>
>   So, as they say in Indonesia, "out of darkness, comes brightness".  The 
> tsunami cast a fatal blow on our shores.  But it is no match for a 
> greater force that we call the human spirit.  That spirit to live, to 
> survive, and to love, continues.
>
>   That spirit will live amongst us today, tomorrow, and the days after.
>               Insya Allah, Insya Allah !!
>   I thank you.
>
>
>---------------------------------



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke