> Pidato > Dr. Susilo Bambang Yudhoyono > Presiden Republik Indonesia Pada Peringatan Satu Tahun Tsunami > Banda Aceh, Indonesia, 26 Desember 2005 > > > > Bismillahirrahmaanirrohiim > > Saudara Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, > Saudara-saudara Menteri, > Yang Mulia tamu-tamu dari Negara sahabat, para Duta Besar > Saudara Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi > Aceh-Nias > Saudara Plt. Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, > Saudara-saudaraku di seluruh Indonesia, > > Pertama-tama, marilah kita mengucapkan terima kasih kepada anak-anak > Aceh yang telah menyanyikan lagu yang indah tadi. Mereka telah > menghangatkan suasana hati kita. > > Saudara-saudara, > > Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono, dan saya berbicara di sini atas > nama rakyat dan bangsa Indonesia menyampaikan selamat datang kepada > saudara-saudara semua di Banda Aceh, Indonesia. Saya hadir di sini, > bersama-sama Saudara-saudara untuk mengenang dan memberikan penghormatan > kepada para korban, kepada keluarga yang ditinggalkan dan juga untuk > menyampaikan penghargaan. > > Acara hari ini merupakan acara yang sangat khusus, di mana kita semua, > seluruh warga dunia, dengan beragam suku, agama, dan kebudayaan > dipersatukan oleh tragedi dan rasa kemanusiaaan. Di bawah langit biru > terbuka dan dikelilingi oleh keindahan Pantai Ulee Lheue yang tenang, > kita mengikat kebersamaan sebagai umat Tuhan. > > Persis setahun yang lalu, di bawah langit biru terbuka seperti ini > pula, si empunya bumi menunjukkan kedigdayaannya dan menimbulkan > kerusakan yang luar biasa. > > Dimulai dengan gempa bumi berskala massif yang terjadi > sekitar 250 km di laut lepas di sekitar Sumatera. Tetapi, ternyata gempa > bumi dahsyat itu hanyalah sebuah pembukaan dari sebuah bencana yang > mengerikan. Karena 15 menit kemudian, muncul tiga gelombang tsunami > raksasa yang mematikan, dengan ketinggian 9 meter dan bergerak dengan > kecepatan tinggi 250 km per jam, menghempas pantai-pantai di Lautan > Hindia dan meluluhlantakkan apa saja hingga berkeping-keping. > > Indonesia menderita akibat terburuk, di sini di Aceh dan Nias dengan > korban jiwa lebih dari 160.000 wafat dan hilang. > > Di Sri Lanka, 31.000 orang wafat, dan 4.000 lainnya hilang. Pantai > selatan India kehilangan 8.000 jiwa, dan kepulauan Andaman dan Nicobar > menelan korban lebih dari 2.000 jiwa. Kematian di Thailand mencapai 5.300 > orang, banyak di antara mereka turis yang sedang berlibur. 2.800 jiwa > lainnya hilang. Di samping itu masih banyak lagi bangsa-bangsa yang harus > kehilangan kerabat yang dicintainya: Malaysia, Maladewa, Somalia, > Tanzania, Bangladesh, Myanmar dan Seychelles. > > Dalam hitungan menit, lebih dari 280.000 manusia kehilangan nyawa. Dan > lebih dari satu juga orang di sekitar Lautan Hindia serta merta menjadi > tunawisma. > > Hari ini, setahun kemudian, kita bersama-sama hadir di tempat ini untuk > mengingat mereka yang menderita, menghormati mereka, sekali lagi, untuk > mereka orang-orang baik, perempuan, laki-laki, anak-anak kita, orang > dewasa, yang hilang ditelan gelombang tsunami. > > Kita tundukkan kepala, memanjatkan doa khusuk, agar arwah mereka yang > kita cintai, baik yang ditemukan maupun yang tidak kita temukan, yang > dimakamkan di bumi, maupun terkubur di laut, kesemuanya memperoleh tempat > terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. > > Tetapi hari ini, besok, lusa dan hari-hari mendatang, bukanlah lagi > akan menjadi hari-hari yang penuh penderitaan, karena kita juga berhimpun > di sini untuk menghormati mereka yang hidup, lolos dari bencana maut. > Anak-anak kita ini, saudara-saudara kita, para orangtua kita, adik-kakak, > - mereka semuanya ingin membangun kembali kehidupannya. > > Saudara-saudara semua akan menyaksikan para korban Tsunami yang lolos > dari maut, di mana-mana di seluruh Aceh, Nias, Pukhet, Phang Na, Jaffna, > di Negara Kerala, Tamil, Nadu, Andhra Pradesh; di Kepulauan Andaman dan > Nicobar, dan dimanapun di wilayah-wilayah yang terhempas Tsunami. > > Mereka menyambut Saudara-saudara dengan senyum, semangat, dan > harapan. Tetapi senyum mereka yang indah menandakan kekuatan besar yang > langsung diungkapkan. Dan kita berhutang kepada mereka semua. > > Di Aceh, kita punya seorang sahabat bernama Martunis, seorang anak > berusia tujuh tahun yang terapung di laut lepas selama 21 hari, hanya > berpegang pada sebuah ranting pohon. Sebotol air yang kebetulan hanyut > di depan matanya-lah yang membuat dia bertahan hidup; dan tentu saja > karena tekadnya yang kuat untuk terus bertahan hidup. > > Ada pula Malawati, yang kehilangan suami dan hanyut ke laut selama lima > hari. Malawati tak bisa berenang, karena itu dia hanya mampu berpegang > pada batang pohon yang hanyut ke sana ke mari. Keajaiban alam > menyelamatkannya , karena cintanya pada bayi yang dikandungnya. Dengan > rahmat Allah SWT, si bayi bertahan hidup dan terlahir selamat. > > Dan tentu saja, kita memiliki kekuatan yang luar biasa dari anak-anak > yang baru saja tampil menyanyikan lagu cinta bagi kita semua. Semua dari > mereka telah menjadi yatim piatu akibat tsunami, dan mereka dengan > semangat terus berusaha mencoba menjadi anak-anak seperti lazimnya. > > Kita hormati kekuatan dan keberanian mereka, para korban yang bertahan > hidup. Mereka semua mengingatkan kita betapa indahnya kehidupan, dan > betapa bermaknanya perjuangan untuk mempertahankan hidup. Sekali lagi, > kita harus hormati perjuangan itu; sisa umur Anda semua haruslah menjadi > hari-hari yang penuh harapan. > > Kita semua akan memerlukan begitu banyak harapan, sebagaimana yang > diberikan oleh Tsunami kepada masyarakat kita. Di sini, di Aceh dan > Nias; jalan-jalan, jembatan, bangunan musnah dan hilang; pemerintah > daerah tidak mampu berfungsi dengan baik. Ketika peristiwa itu terjadi, > tak ada listrik, sambungan telepon terputus, tidak ada mobil, dan bahan > bakar. Persoalan logistik ketika itu sepertinya bertumpuk-tumpuk menjadi > satu tanpa ada pemecahan yang pasti suatu ketika, hanya tinggal satu > helikopter yang tersedia di Aceh. Kita semua menderita kelumpuhan > total. Sekedar untuk membersihkan puing-puing saja, kita memerlukan > waktu berbulan-bulan. > > Toh, kita harus terus bergerak maju hari demi hari. Dalam ukuran yang > sangat luar biasa, kita menyaksikan kerusakan di mana-mana. Tetapi, > melalui hari-hari yang sudah lewat, Saudara-saudara telah menyaksikan > berbagai kemajuan. > > Melewati jalan-jalan yang sedang mulai dibangun kembali, termasuk jalan > raya Banda Aceh-Meulaboh, Saudara-saudara akan menyaksikan desa-desa > yang mulai berbenah. Saudara akan melihat pasar-pasar mulai > bangkit. Anak-anak mulai kembali ceria dan bersekolah, banyak guru-guru > baru sudah dilatih dan mengajar kembali, berkilo-kilometer jalan sedang > giat dibangun, dan berkilo-kilo meter saluran dan pipa air sedang dikerjakan. > > Pelabuhan dan perahu nelayan sedang dibangun di mana-mana, seperti > juga klinik-klinik dan rumah sakit. Para petani sudah mulai kembali > bercocok tanam, puluhan ribu pekerja sedang dilatih untuk memperoleh > keterampilan baru agar mereka segera kembali bekerja. Dan, dengan segala > ketakutan tentang wabah penyakit yang diakibatkan oleh tsunami, kita > bersyukur dapat melaluinya dengan selamat. Tentu saja, bukan karena > keberuntungan semata, melainkan karena tekad yang kuat dan kerja keras. > > Saudara-saudara sekalian, > > Saya ingin menekankan bahwa pembentukan Badan Rehabilitasi dan > Rekonstruksi akan membuat proses membangun kembali Aceh dan Nias dapat > dilaksanakan dengan penuh harga diri, transparan, dan mampu membangun > komitmen dan keterlibatan masyarakat yang kuat. Karena itu saya ingin > mengajak Sauda-saudara semua untuk memberi selamat dan semangat kepada > Dr. Kuntoro Mangkusubroto dan seluruh jajarannya di BRR untuk semua > dedikasi dan kerja kerasnya dalam membangun kembali Aceh dan Nias. > > Usaha kita untuk membangun kembali Aceh dan Nias masih jauh dari > selesai. Kita bersama-sama harus membangun rumah bagi ratusan ribu > pengungsi. Kita terus bergerak secepat mungkin. Dalam bulan-bulan > mendatang, kita akan membangun sekurang-kurangnya 5.000 rumah setiap bulan. > > Tentu saja, masih sangat banyak yang harus kita kerjakan. Kita harus > mendorong agar ekonomi bergerak cepat, agar kita dapat menciptakan > sebanyak mungkin lapangan kerja. Kita harus berupaya keras agar para > pengusaha kita kembali bergerak. Kita perlu dan harus memenuhi kebutuhan > mereka; tidak saja yang tinggal di kota-kota, tetapi juga saudara-saudara > kita yang tinggal di pelosok-pelosok desa. > > Menghadapi semua tantangan tadi, catat kata-kata saya: kita memiliki > enerji, komitmen, dan kemauan keras untuk menjawab tantangan dan tanggung > jawab itu. Kita songsong tahun 2006 dengan penuh keyakinan untuk > menyelesaikan banyak persoalan. Kita akan bangun kembali Aceh dan Nias, > bahkan kita harus bangun Aceh dan Nias, lebih baik dari sebelumnya. > > Saudara-saudaraku, > > Saya percaya bahwa salah satu dari dampak yang paling signifikan dari > musibah tsunami adalah munculnya kebersamaan dari warga dunia. Tidak > pernah terjadi sebelumnya suatu bencana alam menghadirkan semangat > berkorban, solidaritas, dan rasa cinta yang demikian besar dari sesama > warga dunia. > > Di Indonesia, segenap bangsa menangis, dan setiap orang, kaya dan > miskin, bahu membahu mengirimkan makanan dan bantuan bagi saudara-saudara > mereka di Aceh dan Nias. Ribuan relawan berbondong-bondong datang ke > lokasi bencana untuk membantu korban. > > Hal yang sangat luar biasa, bantuan dari seluruh dunia datang dengan > berbagai cara dan dalam berbagai bentuk. > > Empat puluh empat negara mengirimkan prajurit Angkatan Bersenjatanya > untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Patut dicatat bahwa, inilah sebuah > operasi militer non perang terbesar yang pernah terjadi sesudah Perang > Dunia II. > > NGO dan donor mencatat rekor bantuan dana, yang seluruhnya mencapai > lebih dari 7 milyar dollar telah dijanjikan untuk membangun kembali Aceh > dan Nias. Warga Negara dari Dilli hingga Ankara, London hingga Mexico, > Los Angeles hingga Melbourne, Beijing hingga Teheran, dan banyak lagi; > kesemuanya tergerak untuk bertindak karena kepedulian, merespon sebuah > peristiwa besar yang memerlukan perhatian segera. > > Kepedulian dan kasih mereka melintasi batas-batas agama, suku, ras, dan > kebudayaan; kesemuanya bersatu atas nama solidaritas global. Pagi hari > ini di tengah-tengah kita hadir wakil-wakil dari seluruh penjuru dunia, > dalam beragam agama, suku bangsa, dan budaya; sebagai symbol dari > solidaritas global itu. > > > Melalui Saudara-saudara semua, ijinkan kami, menyampaikan penghargaan > dan terima kasih kami atas dukungan Saudara-saudara semua dari seluruh > dunia. Kami memahami dan tahu persis, dukungan Saudara-saudara sungguh > tulus dan datang dari sanubari, dan karenanya kami sungguh-sungguh > berterima kasih. > > > Permintaan saya kepada Anda semua adalah tetap menjaga semangat > mewujudkan kemauan baik ini. Jangan sampai semangat ini redup. Jalinan > persahabatan, membangun rasa percaya diri dan semangat bekerjasama, > saling memahami semua yang anda tunjukkan selama masa tanggap darurat > adalah aset yang tak ternilai besarnya yang harus kita pupuk. Semangat > solidaritas yang telah Anda semua tunjukkan adalah bukti sejarah > kemanusiaan yang dapat dilakukan oleh kita semua dalam semangat membantu > sesama manusia. > > Tsunami telah menghasilkan bibit-bibit persaudaraan global yang tidak > pernah diduga sebelumnya: saat ini, persaudaraan ini telah membantu > korban tsunami, namun saya persaya kita dapat melanjutkan mengembangkan > semangat persaudaraan global dan kemauan baik yang jarang terjadi ini > untuk menjawab permasalahan global dan membawa kesejahteraan bagi umat > manusia. Saya yakin Anda akan setuju betapa mulianya hal itu. > > Sebagai penutup, di sini di Aceh, kita sudah mendapatkan contoh > bagaimana harapan baru perdamaian dapat timbul dari reruntuhan. > > Pada tanggal 15 Agustus tahun ini, pemerintah Indonesia menandatangani > perjanjian perdamaian yang bersejarah dengan para pemimpin Gerakan Aceh > Merdeka. > > Perjanjian damai tersebut mengakhiri 3 dekade konflik berdarah di Aceh. > Perjanjian ini memberikan kesempatan emas bagi warga Aceh untuk memulai > kehidupan baru yang bermartabat dan rekonsiliasi di bawah otonomi khusus, > dalam negara kesatuan Republik Indonesia. > > Mulai saat ini dan selanjutnya masa depan Aceh bukan lagi masa depan > penuh darah dan air mata melainkan masa depan yang penuh kerja keras dan > harapan. > > Saudara-saudara sekalian, > Sebagaimana Saudara sekalian ketahui, tidak jauh dari sini, kita > merencanakan membangun monumen peringatan tsunami yang dibangun di > sekitar kapal yang terdampar di Punge, sekitar 4 km dari sini. > > Namun jika Saudara melihat lebih dalam lagi, ada banyak monumen tsunami > di sekitar Saudara. Saya menyebutnya monumen yang hidup dan > monumen-monumen hidup ini lebih kuat dari baja atau dinding beton. > > Kehadiran Saudara pada hari ini adalah salah satu tonggak dari monumen > ini yaitu monumen solidaritas. > > Anak-anak yang mulai dapat bermain lagi di pantai sambil tertawa dan > tersenyum, juga menjadi monumen yang hidup akan harapan dan ketabahan. > > Para nelayan yang kembali melaut, adalah monumen kegigihan. > > Masih ada banyak lagi monumen hidup yang memberanikan para keluarga > yang berkumpul kambali dan diantara mereka yang tunawisma namun dapat > kembali menempati rumah baru. > > Ada pula monumen hidup yang menghidupkan semangat spiritualitas di > masjid-masjid di Aceh dan gereja-gereja di Nias. > > Dan ada monumen hidup perdamaian dalam keheningan dari dentuman senjata > di seluruh Aceh. > > Maka sebagaimana dikatakan dalam peribahasa Indonesia, habis gelap, > terbitlah terang. Tsunami membawa pukulan yang fatal di sepanjang pantai > kita. Namun tidak ada pertandingan yang lebih besar daripada yang kita > sebut sebagai semangat kemanusiaan, yaitu semangat untuk hidup, untuk > selamat dan untuk mencintai yang terus ada. > > Semangat itu akan tetap hidup dalam diri kita hari ini, esok dan > selanjutnya. > > Insya Allah, Insya Allah!! > > Terima kasih. > > > > > > > Speech by > Dr. Susilo Bambang Yudhoyono > President of the Republic of Indonesia > > At the One-year Commemoration of the Tsunami > Banda Aceh, Indonesia, 26 December 2005 > > > > Bismillah Hirrahmanirrahim > President Xanana Gusmao, > Ministers, > Special Envoys, > Excellencies, > Ladies and gentlemen, > Saudara-saudaraku di seluruh Indonesia, > > > First of all, let us all thank these beautiful Acehnese children for > singing that lovely song. They warmed our hearts. > > Ladies and gentlemen, > > My name is Susilo Bambang Yudhoyono, and I speak on behalf of Indonesia > in welcoming all of you to Banda Aceh, Indonesia. I am here to join you > to honor the dead, the living, and to offer gratitude. > > This is a very special gathering of people of all nationalities, race, > religion, and cultures, united by tragedy and our common humanity. In > this wide open space on the calm shores of Ulee Leuh, under the blue sky, > we stand together as God's children. > It was under the same blue sky, exactly a year, ago that > mother earth unleashed her most destructive power upon us. > That assault began with a massive earthquake about 250 km > off Sumatra. But that earthquake was only a prelude of a horrific > catasthrophe to come. 15 minutes later, three giant killer tsunami > waves, 9 meters in height and moving at around 250 km per hour, crashed > on the shores of many communities around the Indian Ocean, destroying > everything and drowning nearly everyone in their path. > Indonesia suffered the worst loss, here in Aceh and Nias, > with over 200,000 dead and missing. > In Sri Lanka, 31,000 people died, and 4,000 are > missing. India's Southeast coast counted over 8,000 dead, and the > Andaman and Nicobar islands lost over 2,000 people. > Thailands death toll topped 5,300 people, many of them > tourists. Another 2,800 people are missing. > Other nations lost their loved ones: Malaysia, the > Maldives, Somalia, Tanzania, Bangladesh, Myanmar, the Seychelles. > In a matter of minutes, over 280,000 people perished. And > more than a million people all around the Indian Ocean became homeless. > > We stand here together today in remembrance of that suffering, paying > respect, once again, to the good men and women, and all the children, > lost to the sea. We bow our heads in deep prayers, so that the souls of > our loved ones, found or unfound, buried on land or at sea, have a proper > resting place at God's side. > > But today, tomorrow, and the day after, will not be about suffering, > because we are here to also honor those who survived. These sons and > daughters, brothers and sisters, parentsthey all want to rebuild their lives. > You will see these tsunami survivors everywhere, here in > Aceh, in Nias, in Phuket, in Phang Na, in Jaffna, in the states of > Kerala, Tamil Nadu and Andhra Pradesh, in Andaman and Nicobar Islands, > and in many other stricken areas. They greet you with smiles, with > enthusiasm, with hope. But their cheerful smiles masks a steely > resolve. We owe them the same. > There is Martunis, the seven-year old Acehnese boy who was > lost at sea for twenty-one days, hanging onto a tree branch. He lived on > bottled water that floated by, and on his determination to survive. > There is Malawati, who lost her husband to the tsunami and > was lost at sea for five days. She could not swim, so she hung onto a > tree trunk all that time, floating in shark-infested waters. She too > miraculously survived by sheer will, and by love for her unborn baby, who > also survived by the grace of Allah Almighty. > And, of course, there is inner strength in the children who just > performed for us, all made orphans by the tsunami, all trying to be > children again. > We honor ALL the tsunami survivors for their strength and > courage. You remind us that life is beautiful and worth struggling > for. We must honor that struggle. The rest of your future should be > days of hope. > > We will need plenty of that hope given what the tsunami did to our > communities. Here in Aceh and Nias, roads, bridges, and buildings > disappeared, and local government ceased to function. There was no > electricity, no phone lines, no cars, no gasoline. Our logistical > problems seemed insurmountable at timesat one point, there was only one > helicopter left in all of Aceh. We suffered total paralysis. Just > cleaning up the debris took months. > Yet we moved forward with each day. > In a catastrophe of this size, it is easy to see only > ruins. But look past the rubble and you will see progress. > By the roads that are being built, including one that will > reach Meulaboh, you will see villages slowly taking shape. You will see > markets brightening up landscapes. You will see children back at school > and new teachers being trained. You will see miles of new roads, miles > of new sewage pipes. > Ports and boats are being rebuilt, as are hospitals and > clinics. Farmers are going back to their fields and gardens. Tens of > thousands are being given training to go back to work. > And despite everyones fears, we escaped epidemics. That > was not by a stroke of luck. That was due to sheer hard work. > And with the establishment of a Rehabilitation and > Reconstruction Agency, the rebuilding of Aceh and Nias is being carried > out with dignity, transparency and strong community involvement. Please > join me in commending Dr. Kuntoro Mangkusubroto and all the staff of the > BRR for all their dedication and perspiration in the rebuilding of Aceh > and Nias. > Our reconstruction efforts are far from over. We have to > provide new homes for the hundreds of thousands of homeless. We are > moving as fast as we can, building more than five-thousand houses every > month. > There is still much more to be done: we need to stimulate the economy > and provide jobs. We need to get entrepreneurs back on their feet. We > need to meet the needs of not just the cities, but the outlying villages too. > Yet, mark my words: we have the energy, the commitment, and the will to > make all this happen. We greet 2006 with confidence and resolve. We > will rebuild Aceh and Nias, and we will rebuild it back better. > > Ladies and gentlemen, > > I believe that one of the most significant impacts of the tsunami was > how it brought global citizens together. Never before did a natural > disaster bring out so much compassion, goodwill and generosity. > In Indonesia, the whole nation wept, and everyone, rich or > poor, sent food and funds to their brothers and sisters in Aceh and Nias, > and thousands volunteered for relief work. > But it made a huge difference that the world came to our aid. > Forty-four countries sent military personnel and > assistance, forming the largest military operation for humanitarian > relief since World War II. NGOs and donors made record financial > contributionsin all, we have $ 9 billion dollars pledged to the > reconstruction effort. Citizens from Dili to Ankara, London to Mexico > City, Los Angeles to Melbourne, Beijing to Tehran, and many more places, > all got into the act of caring and contributing, prompting a phenomenal > trend in world affairs. > Their compassion cut across religious, racial, and cultural lines, > uniting them in global solidarity. > This morning, we have in our midst representatives of many nations who > are part of this global solidarity. Through you, we express our > gratitude to all our friends around the world for your support. We know > your support was genuine and came from the heart, and for that we are > eternally grateful. > My appeal to you is to keep this flame of goodwill alive. Do not let > it fizzle. The friendships, the confidence building, the networks, the > know-howall these things that you shared together during the emergency > relief is a valuable asset that we must nurture. The compassion many of > you have shown is testament to what humanity can achieve. > The tsunami has produced the seeds of unprecedented global solidarity : > this time, it helped tsunami victims, but I believe we can continue to > nurture this rare global compassion and goodwill to address other global > concerns, and bring greater peace and prosperity for humanity. What a > great legacy that would be, dont you agree ? > > After all, here in Aceh, we already have an example of how a new hope > for peace can emerge out of the ruins of destruction. > On August 15th of this year, the Indonesian government > signed a historic peace deal with the leaders of the Free Aceh > Movement. That peace deal ended 3 decades of bloody conflict in > Aceh. It gave the Acehnese a golden chance to start a new life of > dignity and reconciliation under a special autonomy, within a united > Indonesia. > Let it be known from hereon that the future of Aceh is not a future of > blood and tears, but a future of sweat and > > Ladies and gentlemen, > You know, not far from here, we plan to erect a monument to the > tsunami, which will be built around a grounded ship at Punge, about 4 km > from here. > But if you look closely, there are tsunami monuments all > around you. I call them living monuments, and these living monuments > are stronger than steel or concrete walls. > Your presence today is one of these monumentsa monument to solidarity. > The children playing at the beach again, laughing and > smilingthey are another living monumenta monument to hope and resilience. > The fishermen going back to sea againthey are monuments to > perseverance. > There are living monuments to courage amongst the families > who are being reunited, and amongst the homeless moving into new homes. > There are living monuments to vibrant spirituality in the > mosques throughout Aceh and the churches in Nias. > And there is a living monument to peace in the silence of > guns throughout Aceh. > > So, as they say in Indonesia, "out of darkness, comes brightness". The > tsunami cast a fatal blow on our shores. But it is no match for a > greater force that we call the human spirit. That spirit to live, to > survive, and to love, continues. > > That spirit will live amongst us today, tomorrow, and the days after. > Insya Allah, Insya Allah !! > I thank you. > > >---------------------------------
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

