Catatan Di Meja Nusa Dua &  Café Bandar:
 
   KEPASRAHAN SEBAGAI PEMBEBASAN   
   
  Catatan Membaca kumpulan cerpen TKW:
  Hongkong, Namaku Peri Cinta
  Tebal: v-xvii + 1-172 hlm + xix-xxiii
  Penerbit: Lingkar Pena Publishing House, Hongkong & PT Lingkar Pena Kreativa, 
Depok, Indonesia, September 2005. 
  Kata Pengantar: Asma Nadia
   
   
   
  Setelah sejenak turut menyanyi bersama Henny diiringi oleh grup band Jamal, 
kau datang ke mejaku membawa dua cangkir kopi panas. Di sinilah, di Nusa Dua 
atau kalau tidak di Café Bandar hampir  saban petang akhir pekan, kita bertemu 
dan berbincang-bincang santai dengan para seniman berbagai bidang, di bawah 
silir angin teluk di antara debur ombak ditingkahi kuik camar meliuk-liuk di 
angkasa mengintai mangsa di permukaan gelombang.  Rupa-rupa ide dari sini lahir 
dan temu santai ini pun sesunbgguhnya merupakan cara efektif meningkatkan taraf 
diri masing-masing.
   
  Sebagai orang yang ‘gila’  buku, pandangmu segera  jatuh ke ke sebuah buku 
yang terletak di meja. 
   
  ‘Buku baru, ya?’ Pertanyaan itu segera kau jawab sendiri dengan senyum seakan 
menyadari kelirunya pertanyaan:
   
  ‘O,ya, tahu . Kan selalu  aku yang baca pertama semua buku yang dikirimkan ke 
alamatmu’. 
   
  ‘Ya, hanya saja kau sangat jarang menulis catatan kesanmu setelah membaca, 
padahal ia merupakan salah satu cara belajar mengasah wawasan dan juga cara 
melatih diri guna meningkatkan taraf tekhnik menulis. Dalam soal ini kau kurang 
disiplin dan harus selalu ditagih-tagih’.
   
  Di bawah meja kau menendang kakiku, menjulurkan lidah, lalu kembali bergabung 
dengan Henny dan Jamal melantunkan lagu ‘My Way’, ‘River of No Return’ dan 
‘Teluk Bayur’ silih berganti.  Sedangkan aku melanjutkan draft  catatan 
belajarku  tentang kucerpen para TKW Hong Kong yang dikirimkan oleh Fia Rosa – 
salah seorang penulis di antara tujuh penulis  kucerpen tersebut. 
   
   
  ****
   
   
  Kumpulan cerita pendek [kucerpen] , ‘Hongkong, Namaku Peri Cinta’ yang diedit 
oleh Tim Editor Lingkar Pena, secara sistematik terdiri dari tiga bagian yaitu: 
[1].Kata Pengantar dari Asma Nadia,  [2]. Tentang para penulis dan mengapa 
mereka menulis, [3]. Batang tubuh kucerpen.
   
   
  Dalam Kata Pengantarnya, Asma Nadia,  selain menyatakan ‘rasa gembira , juga 
kebanggaan atas jerih payah FLP’ yang berhasil menerbitkan kucerpen ini,  
ditambah ‘rasa tersenyuh’ oleh ‘semangat yang luar biasa’ dan ‘ketulusan yang 
melimpah’ di kalangan para TKW yang bergabung dengan FLP Hongkong. 
   
  Mengapa  para TKW yang sering dikenal dengan sebutan ‘pembantu’ ini menulis 
cerpen [barangkali termasuk juga puisi], Asma Nadia dalam Kata Pengantarnya 
mengklasifikasikannya dalam empat motif: [1]. Menjawab pengalaman pahit ;[2]. 
Sebagai sarana pembuktian diri; [3]. Cinta; [4]. Terapi diri [hlm.-hlm. 
viii-ix].
   
   
  Membaca semua alasan mengapa para buruh migran Indonesia ini menulis, nampak 
bahwa mereka semuanya menautkan sastra dan kehidupan.  Dari alasan-alasan 
mereka, terbaca pada jelas pada saya bahwa mereka memandang sastra-seni itu 
mempunyai kegunaan langsung pada kehidupan, tanpa mempertanyakan apakah 
pandangan mereka tergolong pandangan ‘seni untuk seni’ ataukah ‘seni yang 
berpihak’ [engage]. Pertanyaan teoritis tidak sempat atau belum mereka 
permasalahkan karena kerasnya kehidupan lebih mengakrabkan pergaulan  mereka 
dengan sastra sebagai sahabat. Dari segi teori sastra barangkali pandangan dan 
sikap ketujuh penulis TKW ini tergolong kedalam yang disebut teori kegunaan.
   
   
  Taufiq Ismail, sang penyair anti ‘Tirani’ penegak Orba yang diundang ke Hong 
Kong dalam rangka kegiatan FLP, berkata tentang buku ini:
   
   
  ‘Buku Hongkong, Namaku Peri Cinta ini mendobrak sejarah penulisan cerpen 
Indonesia. Tujuh pengarang muda, seluruhnya pekerja imigran di luar negeri 
[dalam hal ini Hongkong] merekam dua derita mereka, direndahkan diremehkan 
didiskriminasi. Ketabahan mereka luar biasa. Cita-cita mereka sederhana 
meningkatkan derajat kemanusiaan, menghilangkan energi negatif, mengobati 
stress psikologi dan mendekatkan diri pada  Allah. Ketujuh pengarang baru ini 
mewakili  beribu-ribu nasib rekannya senasib di seluruh dunia. Salut saya 
sangat tinggi untuk Forum Lingkar Pena’ [lihat, halaman belakang kucerpen].
   
   
  Inti dari kata-kata Taufiq Ismail di atas, saya kira terletak pada  
penghargaan tinggi  dan dorongan kepada para ‘pengarang muda’ dari kalangan BMI 
atau TKW.  Terhadap penghargaan dan patutnya usaha kreatif begini didorong dan 
dikembangkan, saya kira tidak ada yang tidak menyetujuinya. Tapi tentang taraf 
penghargaan, tentang tingkat capaian, barangkali di sini perlu lebih cermat 
dqan realis.  Apakah ‘‘Buku Hongkong, Namaku Peri Cinta ini mendobrak sejarah 
penulisan cerpen Indonesia’ dengan alasan Tujuh pengarang muda, seluruhnya 
pekerja imigran di luar negeri [dalam hal ini Hongkong] merekam dua derita 
mereka, direndahkan diremehkan didiskriminasi. Ketabahan mereka luar biasa. 
Cita-cita mereka sederhana meningkatkan derajat kemanusiaan, menghilangkan 
energi negatif, mengobati stress psikologi dan mendekatkan diri pada  Allah. 
Ketujuh pengarang baru ini mewakili  beribu-ribu nasib rekannya senasib di 
seluruh dunia’,kukira pernyataan yang patut dipertanyakan ketepatannya..Apa
 gerangan yang dimaksudkan dengan ‘mendobrak’? ‘Mendobrak’ apa?
   
   
  Kalau membuka-buka Kamus Besar Bahasa Indonesia [terbitan Departemen 
Pendidikan dan Kebudayaan & Balai Pustaka, Jakarta, 1988, hlm. 210], dobrak, 
mendobrak dijelaskan sebagai:`’merusakkan, menembus pertahanan, menghapus 
secara berani dan tegas’. Taufiq Ismail dalam komentarnya bicara tentang 
‘mendobrak sejarah penulisan cerpen Indonesia’.
   
   
  Pernyataan Taufiq Ismail menyinggung dua soal besar,  paling tidak yaitu 
‘sejarah penulisan cerpen’ dan ‘Indonesia’.  
   
   
  Dua masalah besar tersebut selanjutnya mengandung serangkaian 
pertanyaan-pertanyaan rincian seperti: Apakah dalam sejarah penulisan cerpen di 
Indonesia, tidak pernah terdapat kaum buruh menulis cerpen,   standar sejarah 
penulisan cerpen Indonesia yang bagaimana yang digunakan oleh Taufiq, apa yang 
ia maksudkan dengan Indonesia, apa yang ia mau dobrak, bagaimana Taufiq melihat 
sejarah penulisan cerpen di Indonesia selama ini,  dan lain-lain pertanyaan 
yang menuntut penjelasan dari Taufiq. Dalam menilai kucerpen ini, saya kira,  
Asma Nadia jauh lebih sederhana dan tidak berkelebihan  ketika mengatakan: 
‘Tentu terlalu muluk jika mengharapkan sebuah  karya yang sempurna dari mereka’ 
[baca; para  TKW  yang baru belajar menulis – JJK]. 
   
   
  Paris, Desember 2005.
  ----------------------------
  JJ.Kusni
   
  [Bersambung..]
   
  
                
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke