http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2005/1205/28/02.htm


Terpuruknya Olah Raga 
  - Anehnya lagi, pada saat UU OR sudah disahkan, toh masih saja berlangsung 
"peminggiran". Olah raga masih belum dinilai penting.



TAHUN 2005 olah raga Indonesia masih tak mampu bangkit dari keterpurukan. 
Penyelenggaraan SEA Games XXIII/2005 yang berlangsung di Manila Filipina seolah 
menjadi penegasan bahwa olah raga Indonesia berada dalam kondisi lampu merah.

Bayangkan saja, sejak keikutsertaan di ajang SEA Games mulai tahun 1977, 
Indonesia adalah kekuatan yang tak bisa dianggap remeh di kawasan Asia 
Tenggara. Namun, sejalan dengan berlangsungnya keterpurukan kondisi ekonomi 
bangsa ini mulai tahun 1998, olah raga pun terimbas.

Pada akhirnya, kontingen Thailand yang selama ini selalu mampu dikalahkan 
kontingen Indonesia, tampil seperti sebuah kekuatan yang sulit dikejar. Bahkan, 
orientasi olah raga negeri "Gajah Putih" itu bukan lagi hanya sebatas Asia 
Tenggara, tetapi minimal Asia.

Sementara itu, Vietnam yang pada awalnya tidak ada dalam peta kekuatan olah 
raga di Asia Tenggara, tetapi dalam penyelenggaraan tiga kali SEA Games 
terakhir, tampil menjadi sebuah pesaing kuat bagi Thailand. Terakhir, pada SEA 
Games di Manila yang baru lalu, olah raga negeri ini sepertinya juga telah 
lebih dulu bangkit ke level atas, untuk melampui Indonesia. Pada akhirnya, kita 
bisa menilai, olah raga kita hanya jalan di tempat, stagnan.

Masih untung ada beberapa cabang olah raga yang mampu mengangkat citra 
Indonesia di mata internasional, seperti bulu tangkis, angkat berat, dan tinju 
pro. Tetapi, itu hanyalah sebagian kecil dari olah raga yang memiliki hampir 
lebih dari 30 cabang.

Merunut nun jauh ke belakang, ketika era perjuangan bangsa ini, olah raga 
selalu didengung-dengungkan sebagai alat pemersatu, alat perjuangan. Maka tak 
heran, penyelenggaraan PON pertama 1948 di Surakarta (Solo), tak lain sebagai 
bagian dari penegasan akan eksistensi negeri Indonesia, yang diproklamasikan 
pada tahun 1945.

Hingga saat ini, nilai strategi dan perjuangan masih sering disebut-sebut oleh 
beberapa pejabat di negeri ini. "Olah raga sebagai pemersatu," "Olah raga 
membangun manusia seutuhnya", dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya, 
keterpurukan olah raga terjadi di depan mata kita, di depan mata para pejabat. 
Hingga saat ini, tetap saja keterpurukan masih berlangsung.

Ketika Undang-Undang No 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional 
disahkan disahkan pada 9 September, dunia olah raga kita seperti mendapatkan 
payung hukum untuk mendapatkan perhatian. Tetapi sampai hari ini, 
implementasinya masih menunggu peraturan pemerintah (PP).

Anehnya lagi, pada saat UU OR sudah disahkan, toh masih saja berlangsung 
"peminggiran". Olah raga masih belum dinilai penting. Misalnya, dari anggaran 
olah raga tahun 2005 yang diajukan KONI Pusat sebesar Rp 201 miliar termasuk 
untuk persiapan SEA Games 2005, yang disetujui hanya Rp 132 miliar.

Padahal kalau dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara 
lainnya, anggaran sebesar ini masih kecil. Singapura setiap tahun menganggarkan 
Rp 600 miliar, termasuk Rp 48 miliar untuk membeli atlet asing yang kemudian 
diberi status kewarganegaraan Singapura. Malaysia sebesar Rp 400 miliar. 
Sedangkan Thailand, yang dalam lima tahun terakhir tampil sebagai kekuatan baru 
olah raga baru di tingkat Asia, menganggarkan sebesar Rp 2 triliun per tahun. 

Kurangnya perhatian terhadap olah raga juga terjadi sampai ke tingkat daerah. 
Jabar misalnya, yang mengajukan anggaran sebesar Rp 26 miliar untuk pembinaan 
olah raga tahun 2006, hanya disetujui Rp 6 miliar saja, atau hanya 0,12 persen 
dari ABPD. Bandingkan dengan Jatim dan Jateng, yang mencanangkan dana olah raga 
mencapai 0,75 persen dari APBD mereka.

Menyuruh dunia olah raga mencari sumber dana, juga tak semudah membalikkan 
tangan. Dalam kondisi di negeri di mana olah raga belum begitu dinilai sebagai 
sebuah industri, mencari dukungan dana ke pihak swasta akan terasa sulit, 
kecuali jika pemerintah turun tangan. Kalau tidak, jangan harap olah raga kita 
akan bisa bangkit ke level lebih tinggi lagi. Pada akhirnya, olah raga kita 
hanya berkutat di tingkat Asia Tenggara.***


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke