Barometer Korupsi Global 

menempatkan "Rapot Indonesia" Masih Merah "D -",

Sebuah Catatan Akhir Tahun TI Indonesia terhadap Agenda Pemberantasan korupsi 
di Indonesia

 

Setahun lewat periode reformasi digantikan oleh periode demokrasi dengan 
ditandainya terpilihnya Presiden secara langsung oleh rakyat Indonesia, 
sayangnya korupsi yang menjadi salah satu agenda utama reformasi masih 
menghantui Indonesia. Paling tidak hal ini masih terlihat dari hasil survey 
Global Corruption Barometer (Barometer Korupsi Global) yang dilakukan Gallup 
International untuk TI di Berlin.

 

Partai Politik masih menduduki peringkat teratas dari survey Barometer Korupsi 
Global yang dilansir TI melalui survey yang dilakukan Gallup di Indonesia di 
tahun 2005, hal ini menunjukkan kecenderungan yang terjadi masih belum beranjak 
sejak tahun 2004 lalu yakni dengan nilai atau point 4.2 (dari kisaran 1 sampai 
5, makin tinggi makin korup), lembaga tersebut dianggap responden sebagai 
lembaga terkorup di Indonesia atau menyandang nilai D minus..

 

Posisi Partai Politik sebagai lembaga terkorup juga terjadi di 44 negara lainya 
dari 69 negara (65,2%) yang disurvey, baik di negara maju, negara setengah 
maju, negara berkembang hingga negera kurang berkembang. Apakah hal ini 
menunjukkan perilaku lembaga yang kini menjadi satu-satunya sumber (pintu 
masuk) pembuat dan pengawal kebijakan ini memang memiliki karakterisitik korup? 
Ternyata bukan hanya dimonopoli negara berkembang dan kurang berkembang saja, 
tapi juga melanda Jepang, Israel, Korea Selatan. Sementara diluar negara maju 
tercatat Philippina, Thailand, Indonesia dan India. Kalau demikian halnya, 
runtuh lah salah satu sendi "Good Governance", yang sudah seharusnya dikawal 
oleh institusi yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan integritas tinggi. 
Tidak heran bila Parpol lebih cenderung memperebutkan "posisi-posisi strategis" 
ketimbang mendukung "profesionalisme" di momentum  reshufle kabinet awal 
Desember ini. Aroma tersebut juga tercium adanya tekanan kepada beberapa 
pejabat negara untuk menyisihkan posisi strategis atas kemauan Parpol tertentu. 
Sebut misalnya kosongnya Jabatan Kajati Kaltim, 2 jabatan Dirjen di Deptan, 
perebutan posisi Dirut PERTAMINA, dll. 

 

Hasil survey GCB bisa dikatakan relative konsisten dengan ditemukannya Parlemen 
menjadi lembaga terkorup kedua di Indonesia dengan poin 4.0 atau disetarakan 
dengan D konsisten karena lembaga ini didominasi rekruitmen dari Partai 
Politik. Dengan gambaran seburuk itu, tentu amat dikhawatirkan produk lembaga 
yang seharusnya menjadi pembuat dan sekaligus pengawas jalanya kebijakan. 
Dengan puluhan bahkan ratusan kasus korupsi yang membelit lembaga parlemen 
(terutama di daerah) bisa menjadi indikasi kuat "pembenar" hasil survey GSB 
ini. Kasus suap di Panitia Anggaran DPR, isu "suap" di pembahasan RUU, seperti 
RUU Mineral dan batubara adalah contohnya. Belum lagi kendornya "pengawasan" 
implementasi kebijakan pihak eksekutif yang sering lenyap ketika pengambilan 
keputusan Paripurna dilakukan. Kasus kenaikan BBM adalah salah catu contoh. 
Belum lagi tradisi "studi banding" yang tidak memiliki dasar yang jelas dan 
masuk di akal warga negara pembayar pajak yang telah membiayai 80% APBN.

 

Sementara Polisi dan Bea dan Cukai masuk yang sama sebagai sebagai lembaga 
terkorup ke dua dengan poin 4.0 sama dengan Parlemen setara dengan D. Sebagai 
salah satu ujung tombak penegakan hukum korupsi di tubuh Polisi amat 
memprihatinkan, bahkan PPATK mendapati 15 rekening anggota POLRI tercatat jauh 
melebihi "kewajaran". 2 jenderal berbintang 3 di Mabes Polri yang "jatuh" 
gara-gara "penyelundupan BBM" ratusan Ton Solar dan KKN  kasus  penanganan   
pembobolan BNI Kebayoran senilai 1.7 trilyun, sogokan 3 milyar dari "pabrik 
ekstasi" terbesar ke-3 di dunia ke 2 perwira Mabes Polri bisa menjadi contoh.

 

Sementara Maraknya barang illegal di pasaran menunjukkan lembaga Bea Cukai 
"lumpuh" oleh berbagai kepentingan, sebut saja beras dari luar negeri (diluar 
impor resmi), barang elektronik, bahkan pernah ditemukan 5 kontainer 
"handphone" tanpa dokumen sah di Pelabuhan tanjung Priok yang hingga kini masih 
belum diketahui kelanjutankisahnya. Meskipun tidak semua pintu masuk barang 
tidak "terawasi" seperti kasus "ilegal logging" yang berseliweran "di depan 
mata", akan tetapi ini lebih merupakan keengganan yang disengaja. Dengan volume 
masuk barang dari luar lebih 50% lewat Tanjung Priok, maka hal ini patut 
ditindak lanjuti.

 

Korupnya Polisi diperburuk dengan lembaga penegak hukum lain yakni Lembaga 
Peradilan dianggap juga sangat korup dengan poin 3.8 atau setara D plus maka 
lengkap sudah ambruknya system peradilan kita. Banyak contoh dari "suap" di MA, 
dakwaan "lemah" Jaksa yang "meloloskan" tersangka "berkocek tebal". 

 

Penegak hukum lain yang mengurusi sektor Pajak juga ditemukanmenjadi salah satu 
lembaga yang sangat korup dengan poin 3.8 atau D plus. Hal ini tidak 
mengherankan akibat rancunya lingkup tugas mereka, dari sejak penetapan 
kebijakan (aturan), koleksi pajak hingga penegakan hokum. Hal ini membuka 
peluang KKN yang lebar sekali. Tidak heran bila "kong kalikong" pajak ramai 
sekali dan sulit terungkap karena sifatnya "transaktif" sama-sama 
"diuntungkan". Tahun ini dikatakan target pajak kurang Rp. 25 trilyun harus 
bias diklarifikasi penyebabnya. Apakah karena pembayar pajak bangkrut, pembayar 
pajak menurun sementara NPWP telah meningkat pesat dari 3,5 juta menjadi 10 
juta. Atau ada "kemalasan" dan alas an lain yang cenderung "korup". Ini harus 
dikaitkan dengan pemenuhan target 100 hari yang pernah dicanangkan Presiden SBY 
awal tahun 2005 lalu, jangan-jangan ketika itu (untuk sekedar memenuhi target) 
pembayar pajak yang bias didikte disuruh bayar pajak dulu, sehingga pada 
akhirnya "bolong".

 

Selanjutnya lembaga Registrasi dan Perijinan juga ditemukansebagai lembaga 
sangat korup dengan poin 3.5 atau D plus sama dengan Dunia bisnis. Apakah suap 
menyuap subur karena adanya "suplay" and "demand" dalam beberapa kali roadshow 
"Bisnis Melawan Suap" hingga awal tahun ini ditemukan dan di "iakan" oleh 
"kalangan Bisnis". Bahkan oknum Imgrasi tega "memeras" ijin tinggal milyaran 
rupiah di negeri jiran

 

Opini Warga

Meskipun semua lembaga yang disebut diatas menunjukkan betapa isu korupsi masih 
mendominasi kehidupan orde "pasca reformasi", dan ketika ditanya "Dalam 12 
bulan terakhir, apakah anda atau anggota keluarga Anda telah melakukan supa 
dalam bentuk apapun?". Ternyata ada 11%-30% warga yang mengakui terpaksa 
menyuap kepada aparat untuk setiap urusan yang dilakukan. 

Namun ada juga warga melihat menurunya tingkat korupsi selama 3 tahun 
belakangan ini. Iniperlu menjadi catatan tersendiri dan harus dicarikan 
fakta-faktanya lebih lanjut. Bila semua lembaga dianggap korup, mungkin 
kehadiran KPK yang lahir sejak 2003 bisa dianggap mewakili pendapat ini. 
Sementara di belahan dunia lain seperti Georgia, bangsa ini amat beruntung 
sempat memiliki seorang PM yang berhasil menata kehidupan negerinya menjadi 
bersih kurang dari setahun, dengan menghilangkan Pungli untuk meperlancar 
Distribusi barang dari dan ke Pelabuhan maupun Airport. Mereformasi Polisi dan 
Tentara, dengan mengganti semua aparat korup, terutama di Birokrasi Perijinan 
termasuk imigrasi. Brangkali Presiden SBY mulai terinspirasi dari Alamhum PM 
Georgia ini yang meninggal akibat kebocoran gas di rumahnya.

 

Harapan

Untungnya masih ada harapan, paling tidak di tiga tahun ke depan masyarakat 
Indonesia menilai sangat optimis bahwa korupsi bisa dirutunkan secara 
signifikan. Brangkali hal ini selain diwakili KPK juga vokalnya BPK, serta 
munculnya Kapolri Bersih dan Tegas

Barometer Korupsi Global ini paling tidak memberikan diagnosa awal terhadap 
upaya pemberantasan korupsi du dunia, termasuk di Indonesia. Akan tetapi jelas 
amat tergantung dai komitmen negara dan bangsa. Baik itu penyempurnaan Aturan 
Hukum, Kebijakan Nasional, Reformasi birokrasi, serta Penerapan Praktek Prinsip 
Bisnis tanpa suap. Ratifikasi Konvensi PBB untuk Melawan Korupsi menjadi mutlak 
manakala kerjasama internasional sudah tidak bisa dielakkan lagi ketika mau tak 
mau Indonesia sudah menjadi warga dunia  di era global sekarang ini.

 

Tantangan ke depan

Untuk itu TI Indonesia mendesak ditahun 2006 agar "Regime SBY", memperkuat 
komitmen nya dalam pemberantasan korupsinya dengan:

 

  1.. Pengarus Utamaan Agenda Pemberantasan korupsi harus menjadi Agenda 
Nasional
  2.. Membuat Aturan Anti Konflik Kepentingan Pejabat Negara dan 
mensosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat
  3.. Reformasi Susduk dan Tatib serta Kode Etik DPR, sehingga bisa menghapus 
percaloaan di DPR, mengikis Konflik Kepentingan
  4.. Reformasi Birokrasi menuju Birokrasi yang efisien, efektif, murah dan 
berintegritas sudah tidak bisa ditunda lagi. Termasuk Birokrasi Perijinan, 
Imigrasi, Bea dan Cukai.
  5.. Penerapan Prinsip-Prinsip Bisnis yang baik di kalangan Bisnis dan 
berintegritas harus segera dijalankan, sehingga bisnis bisa hindari "high cost 
economy" yang akhirnya hanya bebani konsumen (baca: warga negara)
  6.. Gerakan Pemberantasan Korupsi harus ditopang Gerakan Pemberantasan 
Premasnisme dengan segala bentuknya, termasuk Pemberantasan Mafia Peradilan
  7.. Refomasi Perpajakan harus menyentuh aspek Lembaga Perpajakan, Aparat 
Perpajakan, sehingga menempatkan pembayar pajak sebagai "pemegang saham" karena 
80% dari Pendapatan di APBN berasal dari pajak.
  8.. Segera Ratifikasi Konvensi PBB Pemberantasan Korupsi
 

Jakarta, 23 Desmeber 2005

Transparency International Indonesia

 

 

 

 

Rezki Wibowo                                                             Todung 
Mulya Lubis                 

Deputi Direktur Eksekutif                                              Ketua 
Dewan Pengurus

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke