Catatan di Meja Nusa Dua & Cafe Bandar:KEPASRAHAN SEBAGAI PEMBEBASAN [2]
Catatan Membaca kumpulan cerpen TKW:
Hongkong, Namaku Peri Cinta
Tebal: v-xvii + 1-172 hlm + xix-xxiii
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House, Hongkong & PT Lingkar Pena Kreativa,
Depok, Indonesia, September 2005.
Kata Pengantar: Asma Nadia
Jika TKW dimasukkan ke dalam kategori buruh, pertanyaannya: Apakah terbitnya
kucerpen Hongkong, Namaku Peri Cinta merupakan kucerpen pertama berbahasa
Indonesia yang ditulis oleh para buruh dalam sejarah sastra Indonesia sehingga
bisa dikatakan merupakan suatu dobrakan? Saya kira mungkin tidak. Sebab di
masa remaja Yogya dahulu, saya pernah mendapatkan adanya kucerpen yang ditulis
oleh buruh-buruh anggota SOBSI, khususnya Sarbupri. Suparna dan S.W. Kuntjahjo
adalah pimpinan Sarikat Buruh yang aktif menulis sampai akhir khayat mereka.
Penyair A.S. Dharta adalah mantan pimpinan Sarikat Buruh Kendaraan Bermotor
yang kemudian sempat menjadi sekjen Lekra sebelum kedudukan ini dipegang oleh
Joebaar Ajoeb. Belum lagi jika dalam yang disebut sejarah sastra Indonesia itu
kita masukkan juga karya-karya berbahasa lokal di berbagai daerah serta pulau.
Di kampung-kampung, bukanlah hal asing bahwa orang kampung, para petani muncul
ke panggung dengan lakon-lakon karya mereka sendiri,
dengan tembang, sansana, pantun, gurindam mereka. Dari kenyataan ini, paling
tidak kita menyaksikan bahwa dalam sastra di negeri ini terdapat adanya dua
arus: arus elitis di lapisan atas [sering terasing dari mayoritas penduduk] dan
arus bawah yang merupakan alat ekpsresi diri mayoritas penduduk. Dari segi
ini di mana letak dobrakan kucerpen Hongkong, Namaku Peri Cinta?
Tapi benar bahwa adanya TKW/TKI merupakan gejala menonjol yang muncul pada
masa Orba. Sejauh pengetahuan saya, dalam sejarah Indonesia sebelum Orba,
gejala ini boleh dikatakan tidak ada. Dan kucerpen Hongkong, Namaku Peri
Cinta, adalah kucerpen pertama yang ditulis oleh para TKW dan kita harapkan
pada masa mendatang akan disusul oleh kucerpen-kucerpen, novel, roman dan atau
antologi puisi karya para TKW/TKI. Dari segi ini benar, kucerpen Hongkong,
Namaku Peri Cinta adalah sesuatu hal yang baru .Baru dalam artian bahwa ia
ditulis oleh para TKW tentang kehidupan para TKW sendiri, bukan ditulis oleh
mereka yang bukan TKW tentang TKW. Barangkali, hal baru begini yang
dimaksudkan oleh Taufiq sebagai mendobrak sejarah penulisan cerpen Indonesia.
Hanya pertanyaannya: Apakah sesuatu yang baru serta-merta mempunyai makna
pendobrakan. Dari segi sejarah penulisan cerpen di Indonesia, di mana sifat
pendobrakan kucerpen ini? Dari segi tekhnis penulis? Asma Nadia sudah pula
menjawabnya
bahwa`terlalu muluk jika mengharapkan sebuah karya yang sempurna dari
mereka. Dari segi ide dan wawasan? Di mana pula letak dobrakan karya-karya
ini? Apakah mendekatkan diri pada Allah merupakan sesuatu hal baru dalam
masyarakat kita?
Saya sungguh-sungguh memerlukan bantuan berupa penjelasan lebih lanjut jika
kucerpen ini disebut sebagai karya yang mendobrak sejarah penulisan cerpen
Indonesia. Bantuan demikian saya harapkan tentu saja bukan untuk mengurangi
kegembiraan menyambut kehadiran kucerpen yang berjudul puitis ini tapi lebih
bertolak dari keinginan mendudukkan masalah di tempatnya. Ia pun saya
ketengahkan tidak untuk menegasi penghargaan terhadap pelatihan tekhnis yang
telah diberikan oleh FLP kepada para penulis TKW Hongkong. Pelatihan yang
selain berguna untuk mendapatkan tekhnis penulisan dasar juga bisa menanamkan
percaya diri kepada para penulis TKW. Mudah-mudahan terbitnya kucerpen tujuh
penulis TKW Hongkong ini sekaligus merupakan himbauan kepada para penulis TKW
di negeri-negeri lain seperti Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan
lain-lain
. serta janji pada diri sendiri dari para penulis TKW Hongkong bahwa
mereka akan menghadirkan kehadapan kita, karya-karya baru dengan bobot
baru di masa mendatang yang tidak jauh. Harapan begini kiranya tidak
berkelebihan apabila kita perhatikan biografi singkat ketujuh penulis TKW
dalam kucerpen ini. Nampak bahwa mereka yaitu Andina Respati, Fia Rosa,
Ikriima Ghaniy, Rof alias Siti Rofiah, S.Aisyah Z, Syifa Aulia dan Winna
Karnie sebenarnya bukan orang-orang baru lagi di dunia tulis-menulis. Andina
Respati seperti halnya dengan Ikriima Ghaniy sudah mulai menulis sejak kecil,
sedangkan Rof gadis kelahiran Kebumen 1 Maret 1973 ini sudah menyenangi dunia
menulis sejak SMP. Pada usia 14 tahun, cerpennya pernqah dimuat di Jawa Pos
[hlm.170]. Sementara Winna Karnie, nama pena dari Winarsih Mohamaad Karnie,
yang dalam kucerpen ini hadir dengan tiga buah karya, lahjr di Magetan , 30
`Aprol 1976, alumnus SMA Negeri 3 Magetan ini aktif menulis justru sejak kerja
menjadi BMI di Hongkong sampai sekarang. Winna [atau Wina?!] pernah menjadi
juara II dalam Lomba Menulis Cerpen yang diselenggarakan oleh Berita
IndonesiaKJRI Hongkong, Agustus 2003. Cerpen-cerpennya banyak dimuat di
Tabloid Intermezo, Tabloid Helper, dan Berita Indonesia.
Latar belakang biografi para penulis yang disertakan dalam kucerpen telah
membantu kita memahami mengapa justru di Hongkong kucerpen pertama para penulis
TKW diterbitkan dan bukan di negeri-negeri lain yang juga banyak para TKWnya.
Sedangkan dari halaman-halaman yang menjelaskan mengapa mereka menulis,
memperlihatkan bahwa ketujuh penulis ini menerjuni dunia-menulis dengan satu
kesadaran. Lestari Dewi yang juga aktif di sebuah wesite sebuah universitas di
Hongkong misalnya berkata bahwa ia menulis karena ingin menjadi seorang
penulis yqang berkualitas, mengekspresikan pengalaman dan imajinasi serta
melakukan komunikasi dengan dunia luar [hlm. xxii]. Sementara Susan dengan
menulis ingin hidup
lebih bermakna dan dengan menulis Susan merasa hidupnya
lebih hidup. Menulis membuat hidup lebih hidup ujar Susan [hlm. xxiii].
Sedangkan Wina Karnie menganggap menulis sebagai sarana pengembangan potensi
diri, membangun eksistensi diri, dan tulisan adalah sahabaqt pqling
setia, karena di saat saya merasa sendiri, tulisan adalah alternatif terbaik
[hlm.xx]. Dan apa yang dikatakan oleh Elly, saya anggap sangat menari dan khas.
Saya ingin tampil beda, selain sebagai pembantu, saya mampu menciptakan
sesuatu yang baru melalui menulis [hlm. xii]. Hal yang dikatakan oleh Elly ini
dalam Kata Pengantarnya berjudul Mereka Ingin Menjadi Penulis telah
digarisbawahi oleh Asma Nadia :
Apa yang ada di benak kebanyakan orang ketika mendengar sebutan Pembantu
atau TKW? Sebagian orang mungkin akan mengatakan tidak intelek, bodoh,
kampungan, malu-maluin, atau norak dalam penampilan. Itu menurut sebagian
orang.
Ketika suatu hari saya mendapat kesempatan bertemu dengan saudari-saudari
saya dari Forum Lingkar Pena Hongkong yang bisa dibilang semuanya adalah buruh
migran saya sama sekali tidak menemukan kesan demikian [hlm. v]. Kucerpen ini
merupakan salah satu bukti dari apa yang diucapkan Elly dan Asma Nadia.
Barangkali pandangan merendahkan pembantu tidak lain dari ujud merendahkan
arti kerja badan oleh adanya pemilahan antara kerja otak dan kerja badan dalam
proses perkembangan masyarakat dan orang melupakan peranan kerja dalam merobah
manusia, baik secara fisik mau pun secara pikiran. Dari segi ini, barangkali
kucerpen para penulis TKW ini bisa dipandang sebagai sapaan lembut sopan pada
lupa yang membuat sementara lapisan masyarakat tak ingat sejarah
perkembangan masyarakat sehingga menjadikannya orang asing dari kehidupan
yang sesungguhnya garang. Keasingan diri yqng dibarengi dengan merendahkan
kemanusiawian orang lain ini , kemudian diberi nama pembungkus macam-macam
seperti: intelek, elite, berbudaya, dan lain-lain, dan sebagainya
Makin
kolektivitas itu hancur, makin kemanusiawian dilecehkan, kita makin jauh dan
asing satu dari yang lain. Barangkali di sinilah hubungan produksi [relation of
production] dan cara produksi [mode of production], basis dan bangunan
atas, materi dan ide muncul menjelaskan mengapa pembantu dipandang tidak
intelek, bodoh, kampungan, malu-maluin atau norak dalam penampilan jika
menggunakan istilah Asma Nadia. Padahal yang disebut malu-maluin , norak,
kampungan, kiranya tidak terpisahkan dari sistem nilai dominan dalam
masyarakat pada suatu periode sejarah.
Masalah nilai merupakan salah satu urusan langsung dari sastrawan dan
seniman. Sitem nilai apakah gerangan yang menjelujuri 12 cerpen dalam
bungarampai Hongkong, Namaku Peri Cinta?
Paris, Desember 2005.
JJ.Kusni
[Bersambung..]
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Clean water saves lives. Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/