** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=228500&kat_id=16
Rabu, 28 Desember 2005

Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Ala SBY-nomics 
Oleh : 
Rama Pratama
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS

Belum lama ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta tim ekonomi baru 
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) memprioritaskan dan memfokuskan kerjanya pada 
enam agenda ekonomi utama. Keenam agenda itu adalah mempertahankan dan 
memperbaiki makroekonomi menuju kodisi yang sehat; mengendalikan inflasi; 
memperbaiki arus barang kebutuhan pokok; menciptakan lapangan kerja baru dengan 
merealisasikan pembangunan infrastuktur yang bersifat padat karya; menggenjot 
pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki neraca pembayaran dengan meningkatkan 
kontribusi investasi dan ekspor. 

Keenam agenda ekonomi ini sejatinya merupakan bentuk ketanggapan SBY dalam 
menghadapi pelbagai permasalahan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Tapi apakah 
benar demikian? Ataukah ini semata-mata adalah target politis belaka? 

Perlu dikritisi
Sepintas lalu, terutama bagi masyarakat awam, tidak ada masalah dengan target 
yang dikedepankan SBY itu. Tapi kalau saja kita lebih cermat dalam 
memperhatikan target-target tersebut, ternyata ada beberapa poin yang perlu 
kita kritisi. Tengok saja poin kedua dan poin kelima. 

Presiden menyeru para menterinya untuk mengendalikan laju inflasi dalam tingkat 
yang rendah sembari mengharapkan para menterinya mampu mencapai target 
pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam 
konteks ekonomi, tentu saja kedua hal tersebut merupakan hal yang saling 
bertentangan (trade off). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi biasanya diikuti 
dengan tingkat inflasi yang tinggi pula. Dengan kata lain, laju inflasi 
bergerak seiring dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Jadi, rasanya sulit menerima sebuah gagasan mempertahankan level inflasi yang 
rendah di satu sisi, sementara di sisi yang lain menginginkan sebuah 
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sebab pada kenyataannya, setiap usaha untuk 
menekan laju inflasi, seperti menaikkan tingkat suku bunga dan menaikkan GWM, 
akan mencederai proses pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Hal ini sebenarnya juga 
diamini Sri Mulyani, yang belum lama ini dilantik sebagai Menteri Keuangan di 
KIB untuk menggantikan posisi Jusuf Anwar.

Mengenai laju inflasi, Sri Mulyani menegaskan pemerintah tidak akan 
menurunkannya secara instan. Karena cara itu akan mengorbankan upaya 
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan tenaga kerja. Meskipun tidak 
mengkritik secara langsung mengenai target yang diberikan Presiden kepadanya, 
pernyataan ini sebenarnya merupakan sebuah bentuk eufemisme penolakan Ibu 
Menteri terhadap target Presiden yang tidak berdasar itu.

Memang langkah-langkah Presiden SBY semakin lebih bernuansa politis akhir-akhir 
ini. Lebih-lebih tatkala beliau menegaskan rencananya menaikkan gaji PNS pada 
tahun 2006. Hal ini tentunya tidak menjadi masalah jika tahun 2006 mendatang 
Presiden tidak memfokuskan pada upaya memerangi inflasi. Sebagaimana kita 
pahami, rencana kenaikan gaji PNS ini sudah barang tentu akan meningkatkan 
pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari meningkatnya daya beli masyarakat.

Akan tetapi, hal ini tentunya jadi terasa janggal ketika Presiden menyeru para 
menterinya untuk juga mempertahankan laju inflasi pada level yang rendah. 
Tindakan presiden untuk menaikkan upah PNS tentunya merupakan bentuk usaha yang 
kontraproduktif di tengah perjuangan untuk memerangi inflasi, sebab permintaan 
masyarakat yang meningkat itu boleh jadi akan diikuti oleh kenaikan harga yang 
tentunya berujung pada inflasi. Jadi jelaslah sudah, melalui premis-premis yang 
telah diutarakan di atas, target Presiden ini lebih merupakan target politik 
ketimbang ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi
Upaya untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan melalui skema 
pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebenarnya juga merupakan suatu hal yang patut 
kita cermati. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara teori memang akan 
menciptakan sebuah skema pengurangan angka pengangguran. Pertumbuhan ekonomi 
yang tinggi diharapkan akan menciptakan pertumbuhan output, sehingga dibutuhkan 
banyak tenaga kerja untuk mengejar kapasitas output yang meningkat itu.

Selanjutnya, permintaan terhadap tenaga kerja yang meningkat tersebut kemudian 
akan mengakibatkan ketatnya kondisi pasar tenaga kerja, sehingga upah 
diprediksikan akan meningkat. Peningkatan upah dan turunnya angka pengangguran 
kemudian akan mengurangi persentase jumlah penduduk miskin di negara yang 
bersangkutan. 

Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, seperti telah dijelaskan di atas, 
mengakibatkan peningkatan upah yang pada akhirnya mengubah keseimbangan di 
pasar barang. Harga-harga pun cenderung akan meningkat, belum lagi dengan 
kondisi harga BBM yang meningkat. Kondisi ini (inflasi) menyebabkan daya beli 
masyarakat akan menurun, sehingga paradigma penghapusan kemiskinan melalui 
sebuah skema pertumbuhan ekonomi menjadi sesuatu yang dipertanyakan. 

Data sepanjang tahun 2002 hingga 2003 menunjukkan, walaupun terjadi pertumbuhan 
ekonomi, angka pengangguran juga meningkat. Di mana kondisi menganggur artinya 
tidak berpendapatan, dan tidak berpendapatan sama artinya dengan miskin. Jadi 
apakah pertumbuhan ekonomi akan mengurangi angka kemiskinan?

Koordinasi kebijakan
Bisa jadi, target Presiden yang tidak sinkron antara pertumbuhan ekonomi yang 
tinggi dengan inflasi yang rendah seakan ingin berbicara bahwa pemerintah ingin 
mencapai target yang tinggi dalam pertumbuhan ekonomi sementara permasalahan 
inflasi menjadi tanggung jawab Bank Indonesia. Hal ini bisa saja kita terima, 
melihat fungsi Bank Indonesia selaku otoritas moneter, pasca diberikannya 
independensi, adalah fokus kepada inflasi. Tetapi ini merupakan bukti 
ketidaksinkronan antara pemerintah selaku otoritas fiskal dengan Bank Indonesia 
selaku otoritas moneter karena permasalahan koordinasi sesungguhnya juga 
menyangkut komitmen pemerintah terhadap target inflasi. 

Memang bank sentral telah independen, tetapi jika itu tidak diikuti dengan 
kuatnya komitmen pemerintah untuk juga turut mempertimbangkan faktor inflasi 
dalam setiap kebijakan yang dilakukannya, maka jangan diharap akan terjadi 
suatu pencapaian target yang optimal.

Prinsip di balik penyusunan kerangka kerja makroekonomi pemerintah yang baik 
dan benar adalah kredibilitas. Dengan adanya kredibilitas, maka akan lebih 
mudah mengatasi gejolak ekonomi dengan instrumen kebijakan yang diberlakukan 
oleh otoritas ekonomi. Kredibilitas juga akan menjadi lebih baik ketika 
terdapat kerangka kerja yang transparan dan akuntabel, yang pada akhirnya dapat 
memperkuat legitimasi politik.

Pembuat kebijakan yang kredibel adalah pembuat kebijakan yang dalam membuat 
kebijakannya memperhatikan faktor transparansi kebijakan. Dengan tingginya 
tingkat transparansi kebijakan, maka gejolak ekonomi yang terjadi akan dengan 
mudah ditanggulangi.

Tanpa adanya transparansi, kebijakan mengenai target inflasi dan peraturan 
fiskal menjadi tidak berguna, karena publik tidak dapat membandingkan antara 
target dengan realisasi, sehingga dapat memicu terjadinya ketidakseimbangan 
dalam perekonomian. Pada praktiknya, transparansi ini diwujudkan oleh pembuat 
kebijakan dengan mempublikasikan analisa mengenai prospek ekonomi masa depan 
dan juga analisa kebijakan ekonomi yang telah dibuat pada periode sebelumnya.

Kredibilitas pemerintah selaku pembuat kebijakan kini dipertaruhkan. Secara 
khusus, pertaruhan ini merupakan pertaruhan kredibilitas SBY sebagai seorang 
presiden. Target yang kontradiktif antara inflasi yang rendah dengan 
pertumbuhan ekonomi yang tinggi sudah selayaknya menjadi pertanyaan yang besar. 

Mungkinkah Presiden SBY bersama dengan teori baru mengenai hubungan inflasi dan 
pertumbuhan ekonomi yang diusungnya bisa membangkitkan Indonesia dari jeratan 
krisis? Jika memang demikian, pantaslah kita menyebut teori ekonomi terbaru ini 
sebagai teori inflasi dan pertumbuhan ekonomi ala SBYnomics!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke