http://www.suaramerdeka.com/harian/0512/29/opi07.htm

Ibarat Sayur Tanpa Garam
Oleh: Thoriq Sk - Mahasiswa Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo
SERINGKALI kita temui kasus mahasiswa mengalami keterlambatan dalam 
menyelesaikan studi S1 hanya gara-gara skripsi yang tak kunjung usai. 
Keterlambatan yang terkadang disebabkan oleh sulitnya birokrasi kampus, 
tampaknya tengah dijadikan alasan bahwasanya skripsi kurang begitu besar 
kontribusinya bagi pengembangan keilmuan di tingkat perguruan tinggi. Realitas 
ini yang dijadikan dasar bagi sebagian kampus, untuk memberi tugas lain sebagai 
altematif pengganti skripsi.

Sikap semacam ini wajar, karena persentase keterlambatan mahasiswa dalam 
menyelesaikan tugas berpengaruh pada kredibilitas institusi. Satu hal yang 
menjadi kepatutan jika kemudian pihak institusi mengambil langkah dengan cara 
mencari alternatif untuk memudahkan mahasiswa agar cepat lulus. Seperti 
dimunculkannya kebijakan penghapusan skripsi sebagai persyaratan kelulusan.

Namun apakah ini solusi terbaik dalam mengatasi persoalan yang sudah menjamur 
(lulus terlambat gara-gara skripsi)? Tampaknya perlu penelaahan lebih lanjut.

Ada beberapa sebab yang membuat mahasiswa lambat menyelesaikan skripsi. 
Pertama, faktor dari dalam. Yaitu kurangnya kompetensi mahasiswa dalam hal 
tulis menulis dan penelitian. Dua elemen ini sangat dibutuhkan dalam proses 
penyelesaian tugas skripsi. 

Kedua, faktor luar. Artinya, kelambatan tidak disebabkan karena lemahnya 
kompetensi melainkan disebabkan faktor luar, yaitu birokrasi atau mungkin 
kebijakan dosen yang mempersulit. 

Namun begitu, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa hal itu sepenuhnya adalah 
kesalahan dosen. Bagaimanapun, seorang dosen akan berupaya untuk memberikan 
yang terbaik bagi mahasiswa yang dibimbingnya. Hal ini yang justru menjadi awal 
terjadinya konflik antara dosen dan mahasiswa. Keinginan dosen agar mahasiswa 
yang dibimbingnya mampu menghasilkan skripsi yang benar-benar baik sering 
disalahartikan sebagai upaya mempersulit.

Lain persoalan ketika subyektivitas dosen bermain di dalamnya. Artinya, upaya 
dosen yang "mempersulit" ini didasari perasaan dendam atas tingkah laku dan 
karakter mahasiswa. Realitas ini sering dialami mereka para aktivis yang kerap 
kontra atas kebijakan kampus. Kondisi semacam inilah yang harus dihindari sejak 
dini.

Penghapusan persyaratan skripsi dalam menyelesaikan studi bukanlah solusi yang 
tepat untuk saat ini. 

Skripsi sudah menjadi ikon tersendiri bagi mahasiswa S1, sedangkan tesis 
merupakan hasil bagi mereka yang mengambil program master (S2), dan pada 
tingkatan doktor (S3) ditandai dengan karya yang disebut disertasi. Maka dari 
itu, bila skripsi dihapuskan, ibarat "sayur tanpa garam " .

Tidak hanya itu, skripsi juga sering menjadi bahan pertanyaan ketika masa 
perekrutan karyawan. Setidaknya hasil karya (skripsi) tersebut bisa dijadikan 
parameter atas kemampuan calon karyawan menganalisa persoalan.

Sarjana tanpa skripsi bukanlah satu alternatif yang tepat. Hendaknya kita lebih 
memahami motivasi skripsi yang tidak hanya sekadar tulis menulis melainkan 
pembelajaran untuk meneliti dan menganalisa suatu permasalahan. (24) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke