** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
www.geocities.com/k2psi_lsm
Semua lawan Bung Karno
terseret ke meja mahkamah sejarah
Oleh Pramoedya Ananta Toer
Indonesia adalah negeri berbentuk arsipel dengan puluhan juta penduduk, puluhan
ribu pulau dan bahasa, yang di pertengahan abad ke-20 nyaris berantakan
terpecah-belah, nyaris menjadi mangsa empuk segala-macam kekuasaan, serta
rebutan lapangan uji-coba sekian senjata pabrik-pabrik asing, yang bisa
mengakibatkan perang saudara, banjir darah tanpa henti tanpa ujung-pangkal
antara sekian banyak suku, golongan agama maupun ideologi. Suatu negeri yang
amat kaya-raya dengan sumber-sumber alam bahkan sumber daya manusia yang
menjadi potensi massal pasaran ekonomi dunia, yang sampai detik ini masih saja
menjadi kue perebutan sekian banyak kekuasaan ekonomi, politik, militer dan
kultural demi kepentingan dan keuntungan mereka masing-masing.
Dalam situasi gawat penuh marabahaya itu, Bung Karno-lah yang sanggup tampil
dan berani berdiri tegak mengatasi segalanya dengan baik.
Dengan kepiawaian berpidato serta kemampuannya membaca situasi jaman, ia
sanggup mempersatukan sekian banyak suku, golongan agama dan ideologi, untuk
digembleng dan diarahkan menjadi republik yang merdeka dan terhormat, juga
berjuang keras mengajak bangsanya agar mempunyai rasa percaya-diri, dan menjadi
tuan dan puan di tanah airnya sendiri.
Dia bangkitkan harga-diri bangsa secara massal, setelah tiga abad lebih menjadi
babu-babu dan kuli-kuli, dengan mental pasif dan minder asal nerimo. Para babu
kecil dan besar yang tak mengenal budaya dan peradaban, jongos-jongos
berpakaian perlente, asal dapat makan enak, yang tahunya cuma menikah dan
berkembang-biak, tetapi mentalitasnya tetap saja seperti badut-togog serta
limbuk-limbuk yang berkokok menjual tampang.
Bung Karno tak gentar dipenjara dan dibuang demi kemerdekaan bangsanya. Dengan
gelora dan daya pukaunya berpidato ia dapat membuat jutaan rakyat bergerak
penuh semangat, bahkan berani dan rela mati demi kemerdekaannya. Dialah
satu-satunya yang dapat mempererat segala lapisan Nusantara, menggugurkan
politik devide et impera yang berencana mengeping-ngeping Indonesia menjadi
negara-negara boneka kecil, yang mengakibatkan Indonesia nyaris seperti
negara-negara Afrika - biarpun bebas berdaulat, namun saling bunuh saling
menumpahkan darah dengan pasukan-pasukan asing yang berkeliaran di mana-mana.
Ya, Bung Karno-lah yang pagi-pagi sanggup berpolemik dengan arif dan bijaksana,
tegas dan genuine, termasuk dengan negara adikuasa sekalipun, yang di kemudian
hari semua orang semakin menyadari dan membuka matanya bahwa memanglah tidak
sedikit peran dan tanggungjawab negara adikuasa itu dalam mengaduk-aduk urusan
negeri-negeri Selatan, sekaligus berperan kuat dalam menjatuhkan dirinya
seperti yang dialami oleh Lumumba, Modibo Keita, Nkrumah serta banyak lagi
pemimpin-pemimpin besar lainnya.
Suatu ketika ditegaskan dalam pidatonya bahwa abad ke-20 adalah abad pembebasan
bangsa-bangsa kulit berwarna dari belenggu kolonialisme, dari cengkeraman
kekuasaan negeri-negeri industri Barat, yang kemudian ia kategorikan sebagai
the old established structures, maka diajaklah bangsanya dan seluruh bangsa
manusia agar berbaris menciptakan tatanan dunia baru yang bermetamorfose
menjadi the new emerging forces, yang berdikari dengan identitas nasion yang
kuat. Selain itu ditekankan kepada seluruh bangsa-bangsa dunia - terutama
Asia-Afrika - agar tidak lagi menjadi kuli-kuli atau budak-budak perlente
terhadap kapital asing.
Bung Karno sekaligus seorang pemimpin revolusioner yang punya visi jauh ke
depan. Pendidikan baratnya mengilhaminya pada prinsip-prinsip demokrasi yang
baik serta ide-ide aufklarung. Karena itu di bawah kepemimpinannya Indonesia
tidak berambisi untuk memperluas wilayah teritorialnya. Ia bukanlah tipe
ekspansionis yang bejat morat, apalagi hendak meniru-niru sistem kolonialisme
Barat yang membikin masyarakat bumi menjadi sengsara selama berabad-abad.
Oleh karena itu patutlah dicatat bahwa Bung Karno adalah satu-satunya politikus
dan negarawan dalam sejarah politik modern sedunia, yang sanggup mempersatukan
nasion dan negerinya tanpa meneteskan setetes darah pun!
Menjelang proklamasi kemerdekaan RI pada tahun 1945, telah ditegaskan bahwa
Indonesia menolak memasukkan wilayah-wilayah tetangganya yang bukan bekas
wilayah Hindia Belanda. Kesatuan administratif kita dilahirkan sebagai warisan
kolonialisme Belanda, dan sebagai kesatuan politik tata-kenegaraan, praktis
Bung Karno-lah satu-satunya yang sanggup mewujudkannya dengan jalan damai.
Bandingkan fakta-fakta ini dengan negeri-negeri lain seperti India-Pakistan,
Korea maupun Jerman. Lantas bandingkan pula dengan Soeharto selaku penjajah
kesiangan terhadap apa yang disebutnya "Timor-Timur".
Dua Kubu di Bidang Kebudayaan
Kepungan negara-negara imperialis serta menampaknya semangat neo-kolonialisme,
membuat Bung Karno tak ragu menyatakan bahwa "revolusi belum selesai". Patutlah
dibenarkan pernyataan itu karena memang tujuan revolusi belum tercapai.
"Kemerdekaan Indonesia hanyalah jembatan emas," begitulah tandasnya.
Sejak tahun 1941 telah dilontarkan kritikannya terhadap sistem Demokrasi Barat
yang berpangkal pada Revolusi Perancis. Ia tak menginginkan bahwa kemerdekaan
Indonesia kelak menjadi kehilangan rohnya, semangatnya, jiwanya, untuk
meneruskan ke tingkat revolusi sosial yang mendatangkan sosialisme. Kepada kaum
borjuis Indonesia - yang sebagian bekas pegawai Hindia Belanda -
serangan-serangan Bung Karno dilontarkan, terutama kepada para tokoh politik
yang banyak mengecap pendidikan Demokrasi Barat. Ia nampak kuatir bahwa
sebagian tokoh politik Indonesia - dengan tanpa disadari - telah kehilangan
rohnya pada semangat kerakyatan, kemerdekaan dan kesatriaan. Ia pun kuatir
bahwa jaman kebangunan kelak akan merosot menjadi jaman pembodohan,
pendangkalan, yang secara mutlak terimbas oleh limbah kebudayaan imperialis
yang feodal.
Di bidang kebudayaan ini tarik-menarik antara dua kubu semakin menguat dan tak
bisa dihindarkan lagi. Ini sudah merupakan hukum alam, bahwa dalam menegakkan
perjuangan, seseorang akan mencapai tahap peruncingan atau pembentukan watak
dan karakter. Pemihakan Bung Karno pada kebudayaan yang bercorak kerakyatan
adalah suatu keputusan yang sangat masuk akal dan tak bisa dipungkiri lagi.
Dalam suatu konferensi sastra dan seni di Istana Negara, Bung Karno pernah
menegaskan: "Marilah kita bangun kebudayaan yang revolusioner, suatu kebudayaan
yang berpijak pada semangat kerakyatan. Di jaman feodal, kebudayaan yang ada
telah dipaksa agar mengabdi pada cita-cita feodalisme. Begitupun di jaman
kolonial, hingga tindak-tanduk kita harus patuh dan seragam dengan cara-cara
kerja Belanda. Sementara kebudayaan yang hidup dan merakyat semakin dikikis dan
dihambat perkembangannya."
Sejak pagi-dini Bung Karno sudah mendidik rakyatnya agar berhati-hati terhadap
maraknya invasi kebudayaan asing. Suatu kebudayaan yang secara sentral
dipaksakan hingga melekat pada sistem rasionalitas negara dan masyarakat
modern. Suatu kebudayaan yang kembali kepada jenis mitologi baru (modern),
yakni suatu kepercayaan pada korporasi yang kelihatannya cantik mentereng,
seragam dan rapi, namun pada hakekatnya mengandung logika intern yang menuju
pada semangat fasisme dan banditisme.
Oleh karena itu ditekankan agar bangsa Indonesia berdikari dalam berkebudayaan,
agar mengerti jati-dirinya, agar tidak mutlak terikat dan tereksploitasi oleh
kebudayaan asing itu. Disampaikan pula di hadapan para seniman dalam suatu
konferensi sastra, bahwa suatu masyarakat berbeda-beda dalam menafsir dan
memaknai keindahan. "Keindahan yang kita cita-citakan bukanlah keindahan kaum
feodal, juga bukan keindahan gaya kapitalis maupun kolonialis. Keindahan yang
kita cita-citakan bersumber pada semangat kerakyatan dan persaudaraan bersama."
Di sini jelaslah dapat dimengerti tentang pemihakan Bung Karno pada Lembaga
Kebudayaan Rakyat (LEKRA), karena kreasi para seniman pun merupakan bagian
integral dari kesatuan mesin perjuangan rakyat dalam mengatasi penghisapan dan
penindasan.
Selain itu, minimnya pengetahuan politik serta sempitnya wawasan keindonesiaan
bagi segolongan seniman kita, adalah bagian yang menjadi kekuatiran Bung Karno.
Karena itu dapatlah dimengerti, mengapa ia harus tegas menindak suatu kelompok
seniman tertentu, karena tidak bisa tidak: seorang seniman melahirkan suatu
karya dan kreasi yang dipublikasikan. Ia sakaligus guru bagi para pembaca dan
murid-muridnya. Dan guru yang sifat-hakekatnya kuning akan beranak kuning; guru
yang sifat-hakekatnya hijau akan beranak hijau; serta guru yang
sifat-hakekatnya merah akan beranak merah.
Hal inilah yang membuat Bung Karno sampai pada keputusan bahwa di masa-masa
perjuangan dalam melawan penindasan (terutama kepungan imperialisme yang hendak
mengikis semangat kerakyatan), seorang seniman harus menentukan pilihan kreasi
dan karyanya. Tentu saja tak bisa dibenarkan bila ada segolongan seniman yang
berkarya semaunya dewek, tak jelas visi dan misinya, terlebih-lebih bila ia
memihak dan menjadi komprador kaum imperialis, atau menjadi penyokong bagi
tampilnya ambisi kolonialisme Barat.
Dalam situasi dan kondisi semacam itu, seorang seniman tidaklah dibenarkan bila
ia berada di garis "netral" atau "obyektif mutlak". Ya, seorang seniman harus
bertanggungjawab membela rakyatnya yang serba miskin, teraniaya dan tertindas..
Kebudayaan Pasca Perang Dingin
Bung Karno pun memberi kesaksian bahwa abad ke-20 adalah abad intervensi asing,
di mana kekuatan-kekuatan adikuasa dengan seenaknya mencampuri urusan
rumah-tangga negeri-negeri lain. Dapatlah diartikan bahwa di paroh akhir abad
ke-20 adalah suatu era di mana kesewanang-wenangan - oleh aparat negara -
dianggap sah dan wajar-wajar saja. Suatu era di mana hak-hak asasi manusia
dapat diinjak-injak tanpa dikenakan hukuman (impunity). Suatu ketidakadilan
yang dianggap suci, suatu penindasan oleh tenaga-tenaga militer yang secara
resmi diakui bahkan dihormati oleh Amerika dan negeri-negeri Barat, asal mereka
tampil dengan membawa bendera "demokrasi" atau "hak-hak asasi manusia".
Dalam dunia kebudayaan pun intervensi-intervensi itu tidak kalah gencarnya.
Bantuan-bantuan ekonomi yang dikucurkan (yang seakan-akan tanpa pamrih)
sebenarnya adalah penggiringan dan pemaksaan kepada arus sentralisme kebudayaan
tadi, suatu produk kebudayaan yang memitoskan modernitas, yang berdogma dan
percaya pada rekayasa masyarakat dan negara tertentu yang sistematik dirancang,
diprogram, diorganisasi, hingga membuat massa dibikin haus dan terlena pada
tokoh pahlawan yang keliru untuk diidolakan, dan bahkan - pada titik tertentu
- seorang bandit dan penindas pun bisa saja menjadi idola yang dipuja-puja
tanpa disadari.
Kebudayaan semacam itu akhirnya melahirkan corak masyarakat yang teralienasi
bahkan terasing dari dirinya sendiri. Ia akan membius masyarakat serta menjelma
menjadi makhluk hidup tersendiri, suatu makhluk hidup yang berbudaya lipstik
dan kosmetik, suatu rekayasa sosial industri kesenian dan informasi massa yang
mendikte dan memaksakan selera pada kultur kapitalisme darwinistik - dan
bahayanya bila terbalik salah-kaprah dalam menentukan kriteria betul dan
keliru, benar dan salah atau bahkan mulia dan hina.
Perhatikanlah, bahwa Bung Karno sejak pagi-dini sudah mewanti-wanti akan
kemungkinan munculnya kebudayaan semacam itu, yang dengan sendirinya menentukan
corak peradaban manusia Indonesia di masa yang akan datang..
Demokrasi Barat dan Demokrasi Terpimpin
Dalam salah satu tulisannya di suratkabar Pikiran Rakyat (1932) Bung Karno
telah memaparkan sejarah kelahiran demokrasi, sebagai cara-cara pemerintahan
yang memberi hak dan peluang bagi semua rakyat untuk turut-serta memerintah:
"Demokrasi bermula di dunia Barat pada saat pemberontakan Perancis sekitar 150
tahun yang lalu. Sebelum itu corak pemerintahan Eropa adalah otokrasi, kemudian
kaum borjuis sepakat merebut kekuasaan dengan menyusun kekuatan untuk
memanfaatkan tenaga rakyat jelata yang sedang bermusuhan dengan dunia kerajaan.
Dan mereka pun bergerak dengan iming-iming kebebasan, persamaan hak dan
persaudaraan, hingga otokrasi itu kemudian tumbang dan berganti dengan
'demokrasi'. Maka diadakanlah parlemen, dan rakyat boleh mengirim utusannya,
hingga kemudian di semua negeri-negeri modern yang memiliki parlemen itu
disebutlah sebagai negara demokrasi."
Tapi persoalannya tidak sampai di situ. Karena di negeri-negeri modern yang
mengaku-ngaku demokrat itu sama sekali belum menjamin suatu keadilan dan
persamaan hak yang telah dijanjikan semula. Pada masa-masa itu di Inggeris,
Belanda, Amerika Utara - sebagai pelopor demokrasi - tetap saja berjalan sistem
ekonomi primitif yang malah semakin subur dan merajalela. Dan pada tingkat
tertentu, ketika demokrasi Barat itu dikeramatkan maka semakin menjadi-jadilah
kemiskinan dan kemelaratan, semakin maraklah pengangguran dan penderitaan - dan
kaum buruh tetap saja tertindas dengan upah yang berat-sebelah dan seenaknya.
Di sini dapatlah disimpulkan bahwa demokrasi ala Barat (sistem parlemen) yang
tercipta cumalah demokrasi politik tok, belum termasuk demokrasi ekonomi. Atas
dasar itulah Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki corak
demokrasi tersendiri yang sekaligus meliputi keduanya: politik dan ekonomi.
"Kita jangan bermimpi seperti negara-negara adikuasa yang armadanya ditakuti
dunia, kota-kotanya megah dan hebat, bank-bank-nya meliputi seluruh dunia, dan
benderanya berkibar di mana-mana. Kaum nasionalis macam itu telah lupa bahwa
barang kekayaan yang mereka timbun adalah hasil penghisapan kapitalisme
berabad-abad, dan rakyat jelata di negeri-negeri itu tetap saja dibiarkan
merana dan tertindas," demikian tandas Bung Karno dalam buku "Di Bawah Bendera
Revolusi".
Lebih tegas lagi analisis Bung Karno, bahwa azas demokrasi parlemen yang
berkembang cumalah kesamarataan urusan politik, namun tidak termasuk urusan
ekonomi. Azasnya hanya mengamankan harta-kekayaan milik pribadi sebagai barang
keramat yang tak boleh diganggu-gugat. Karenanya corak demokrasi mereka tak
bisa lain adalah demokrasi kaum borjuis, karena idealisme yang dikandungnya
adalah semangat idealisme kaum borjuis, suatu azas para bojuis, karena memang
niat awalnya lahir demi kepentingan kaum borjuis itu sendiri.
Kekeliruan yang Dipertahankan
Semua usaha dan jerih-payah yang diperjuangkan Bung Karno telah banyak
disalahartikan sebagai kebalikannya. Pada masa itu - bahkan sampai detik inipun
- masih saja ada orang atau segolongan masyarakat tertentu yang tetap
bersikeras (untuk tidak menyebut "keras kepala") dalam menilai kecanggihan
pemikiran dan kecerdasan bapak bangsa kita. Masih saja ada segolongan
masyarakat tertentu yang menilai Bung Karno sebagai orang yang "mabok ilmu
masyarakat", sebagai anti orang kaya atau bahkan anti militer. Malahan ada
sekelompok tertentu (termasuk budayawan dan agamawan yang telah disinggung di
atas) ikut-ikutan menuduh Bung Karno sebagai pemimpin diktator atau fasis yang
tidak kepalang tanggung. Tentu saja penilaian itu menjadi incaran atau
kambing-hitam bagi pihak imperialis dan neokolonialis untuk menyokong dan
membekingi (secara kias dan harfiah), yang secara serampangan menyebut Bung
Karno selaku Hitler Baru - dan pada titik tertentu menjadi "halal" untuk
membunuhnya.
Karena itu perlu ditekankan sekali lagi bahwa Bung Karno itu seorang kasta
brahmana yang pantang kekerasan, seorang pemimpin yang tidak tega melihat darah
dan airmata, apalagi sampai menumpahkan darah bangsanya sendiri. Bandingkan
dengan pemimpin-pemimpin dunia lain pada jamannya. Ia adalah tipe pemimpin yang
selalu berusaha untuk mencari jalan tengah dalam mengatasi suatu polemik bahkan
pergolakan sedahsyat apapun.
Amatlah salah-kaprah bila menilai Bung Karno sebagai diktator yang pendendam,
sebagai pemimpin yang suka mencari reaksi-balik dari setiap persoalan yang
dihadapinya. Tidak! Bung Karno adalah seorang pencari yang gigih dalam
mempertimbangkan kekuatan 'ya' dan kekuatan 'tidak'. Ia bukanlah tipe pemikir
yang mudah terjebak dalam suatu tesis, untuk kemudian berbalik memihak
anti-tesis. Ia seorang pekeja keras yang secara multidimensional berupaya agar
selalu menemukan sintesis dari dua kekuatan itu.
"Kita jangan memusuhi orang kaya, karena tidak setiap orang kaya berjiwa
eksploitatif. Tidak setiap orang kaya adalah jenderal, sersan atau serdadu bagi
kapitalisme. Kita pun jangan mementingkan perjuangan kelas, karena perjuangan
seorang nasionalis adalah perjuangan yang bersifat nasional dan kebangsaan,"
begitulah tandas Bung Karno.
Ramalan Masadepan Kapitalisme
Tak disangsikan lagi, sejak tahun-tahun 1940-an Bung Karno adalah satu-satunya
orang Indonesia yang paling gigih tak bosan-bosan mengingatkan rakyatnya, bahwa
kapitalisme adalah sesuatu yang sudah usang dan basi yang terus-menerus
diulur-ulur, dipertahankan dan dihidup-hidupkan kembali oleh pihak imperialis
secara tidak wajar dan tidak alamiah. Ditekankan pula tentang penyakit yang
terus-menerus menggerogoti kapitalisme dari masa ke masa, yakni suatu krisis
(malaise). Setelah perang dunia pertama, ia telah berkali-kali menyerang tubuh
kapitalisme. Dan ketika krisis itu datang (di tahun 1921) ia terus-menerus
diikuti oleh krisis baru (di tahun 1929), yang kelak terus berkelanjutan
mengintai seperti bayangan-bayangan yang menyertainya hingga hari ini.
Dalam uraiannya di suratkabar Pembangunan Bung Karno telah membantah pihak
Barat yang beranggapan bahwa Perang Dunia Pertama telah meletus akibat sebutir
peluru yang menyebabkan kematian Frans Ferdinand di Sarajevo. Padahal tidak.
Perang dunia itu tak bisa lain akibat letusan dari tabrak-menabraknya
tenaga-tenaga yang saling bersaing sengit dalam ekonomi internasional yang
sudah ketar-ketir tak keruan. Dan sangatlah keliru bila beranggapan bahwa
sebelum datangnya peperangan itu kapitalisme tidak menurun, padahal justru
timbulnya peperangan itu akibat semakin menurunnya kapitalisme itu sendiri..
Selain itu "rasionalisisi" yang digembar-gemborkan para akademisi, para doktor
dan insinyur di jaman merosotnya kapitalisme itu, bukanlah suatu jalan ke arah
rasionalisisi yang baik. Soalnya upaya rasionalisisi itu tidak dibarengi dengan
niat-niat tulus yang hendak mengabdi (tanpa pamrih) demi kepentingan bangsa dan
negara. Ya, mereka memang orang-orang terdidik yang telah berusaha dengan giat
dan gigih, namun mereka tidak dibekali wawasan agar mampu menciptakan suatu
tatanan ekonomi yang baru, demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banyak.
Mereka hanya mengabdi pada pihak penguasa dan pengusaha agar turut-serta
membendung turunnya kapitalisme itu. Mereka memutar otak bagaimana caranya agar
hasil-hasil produksi melimpah ruah, hingga diupayakan segala-macam program
dengan mesin-mesin serba baru, pembagian kerja, penentuan waktu hingga
pemasakan bahan-bahan produksi.
Mereka tak peduli, bahkan tak merasa perlu bertanggungjawab, apakah tatanan
ekonomi berjalan dengan teratur, atau bahkan ngawur sama sekali. Segala
kebutuhan diproduksi, sampai produsen memproduksi pemenuhan kebutuhan yang
terus-menerus direkayasa dan disiasati. Bagi mereka tidaklah menjadi persoalan,
mana kebutuhan yang sebenarnya dan sebetulnya, dan manakah yang dirancang
sedemikian rupa. Sampai pada titik tertentu, produksi menjadi tuan dari
kebutuhan dan dari manusia. Produksi mengabdi pada manusia, ataupun manusia
demi produksi.
"Kita perlu waspada akan datangnya kemungkinan-kemungkinan terburuk akibat
kapitalisme itu. Pengangguran permanen yang diciptakannya akan semakin menambah
ketegangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, yang kelak meletupkan
tenaga-tenaga dalam yang terpendam, seperti halnya listrik halilintar yang
memunculkan geledek revolusi sosial, serta mengisi udara dengan hawa panas hati
penuh dendam. Soalnya bukan semata-mata ia sakit dan megap-megap terus-menerus,
tetapi ia duduk di atas gunung merapi yang membahayakan, yang kelak akan
membinasakan bangunan kapitalisme itu sendiri," demikian analisis Bung Karno.
Perjuangan yang Meruncing
Seperti telah disinggung di atas bahwa kapitalisme hanya dapat bertahan bila ia
menjalankan politik "mengulur nyawa", dengan menggalakkan macam-macam monopoli
dan kecurangan, biaya-biaya proteksi yang berlebihan, mencari-cari pekerjaan
dengan membikin macam-macam persenjataan untuk angakatan darat dan armada laut.
Semuanya itu adalah upaya pelestarian bagi imperialisme, suatu syarat dan
keharusan agar terus bertahan dalam iklim kapitalisme tadi.
Sementara itu, imperialisme sendiri bukanlah sesuatu yang alamiah. Ia adalah
jadi-jadian, suatu nafsu, suatu ambisi dan keserakahan, suatu politik dan
kemauan keras untuk menguasai dan mempengaruhi ekonomi bangsa dan negeri lain.
Ia muncul akibat suatu pergaulan hidup yang makin mendunia, mengglobal, suatu
politik luar negeri (khususnya dari negeri-negeri Barat) yang dimulai sejak
abad ke-19 lalu. Dan penyebabnya tidak bisa lain: karena rakyat-rakyat
Asia-Afrika masih terbelenggu dan terkungkung akibat iklim kolonialisme selama
berabad-abad.
Pada tiap-taip negeri, imperialisme itu memiliki watak dan perangainya
sendiri-sendiri. Di Indonesia, imperialisme Belanda sejak awal pendudukannya
sudah lebih dulu melumpuhkan dan menundukkan kerajaan-kerajaan di kepulauan
Maluku, Makassar, Banten dan Mataram. Bahkan ketika Inggeris menduduki wilayah
Bombay dan sekitarnya, separoh wilayah Jawa sudah berada dalam cengkeraman
kekuasaan Belanda. Imperialisme ini bercorak anti-liberal, primitif, ortodoks,
yang bahkan setelah tumpulnya VOC serta kontaknya dengan revolusi Perancis ia
semakin menjadi-jadi hingga tega menindas rakyat jelata, juga mengikis-habis
kalangan intelektual tanpa kenal ampun. Di mana-mana diberlakukan kerja-paksa,
pemenjaraan, pembuangan hingga pembantaian massal yang tidak kepalang tanggung.
Di pertengahan abad ke-20 imperialisme Belanda ini telah berubah menjadi
"modern monopolistik" yang perangainya tetap sama dan begitu-begitu juga.
Malahan ia makin menjelma menjadi monster raksasa yang bertambah-tambah tangan
dan kepalanya. Ya, imperialisme Belanda itu telah berubah menjadi imperialisme
campuran, suatu imperialisme internasional yang gencar mengeksploitasi
segalanya di mana-mana.
Karena itu makin menampaklah bukti-bukti penghisapan dan penindasan itu.
Apabila dilihat dari angka-angka statistik perbandingan ekspor-impor yang
sangat mencolok, dapatlah disimpulkan bahwa imperialisme di Indonesia adalah
imperlialisme yang tega, kejam, yang mematikan produktivitas pribumi Indonesia.
Dan pada akhirnya dapat membunuh energi, merintangi kegiatan bahkan memadamkan
cita-cita manusia Indonesia sama sekali.
Berangkat dari situasi macam itulah seorang tokoh politik dan negarawan bernama
Soekarno sanggup membangkitkan rakyatnya dari kungkungan dan keterbelengguan
itu. Ia datang bukan layaknya politikus yang menciptakan ide dengan meraba-raba
suatu gagasan yang belum ketemu, akan tetapi ia telah menyusun kekuatan dan
meraih kekuasaan, yang telah digenangi oleh ide-ide dan prinsip hidup yang
sudah matang.
Dalam suratkabar Pikiran Rakyat, Bung Karno menegaskan kembali pernyataan
seorang pemimpin besar India, Jawaharlal Nehru, yang suatu ketika menyatakan:
"Jika kita mau bergerak, maka yang selamanya harus diingat bahwa cita-cita kita
tak akan terwujud selagi kita tidak punya kekuasaan yang penting untuk
mendesakkan tercapainya cita-cita itu. Sebab konsekuensi seorang pemimpin
adalah bahwa ia akan berhadap-hadapan dengan musuh yang tak akan sudi menuruti
kehendak kita sekecil apapun. Kita harus yakin bahwa setiap kemenangan, besar
maupun kecil, tak lain adalah hasil desakan tenaga-tenaga kita. Oleh karena itu
teori dan prinsip saja tidaklah cukup. Seseorang boleh saja mengurung diri
dalam kamar bersama teori dan prinsip-prinsipnya, namun untuk menghadapi musuh
yang kuat, tangguh dan membuta-tuli (munafik), maka harus disusun suatu
kekuasaan yang sudah terpikul oleh prinsip-prinsip dan ide-ide tadi. Karena itu
suatu prinsip radikal yang menjelmakan kekuasaan, itulah yang harus
diperjuangkan dengan tegas.!"
Mencari-cari Kelemahan Bung Karno
Dengan kecermatan dan kepiawaian berpolitik dan bernegara, serta keberhasilan
yang diperjuangkannya maka - tidak bisa tidak - Bung Karno berhadap-hadapan
dengan lawan-lawan politik, yang sepanjang kepemimpinannya selalu mengintai dan
menyerangnya tanpa kenal ampun. Serangan-serangan sedemikian gencarnya
dilancarkan oleh pihak-pihak yang memusuhinya - dalam dan luar negeri - hingga
berlangsunglah skenario untuk mencari-cari kesalahan, kekeliruan bahkan
kelemahan sekecil apapun.
Sebagai manusia tentulah Bung Karno bukan orang yang sempurna dalam
segala-galanya. Suatu ketika bahkan dinyatakan dengan terang-terangan bahwa
sebagai manusia ia mempunyai sisi baik serta sisi-sisi lemah juga.
Dalam hal ini kita sudah memasuki persoalan yang selama ini dianggap tabu dan
riskan untuk dibicarakan. Tapi supaya tidak membikin perkiraan yang
terus-menerus keliru dalam menilai Bung Karno sebagai manusia, ada baiknya
disampaikan perihal istri-istrinya, yang selama ini dijadikan patokan bagi
lawan-lawan polemik - terutama lawan-lawan politiknya - untuk
membesar-besarkannya secara tidak adil dan proporsional. Soal inilah yang
dianggap paling strategis untuk menyudutkan dan menyerangnya habis-habisan
(baik secara kias maupun hafiah). Ya, soal inilah yang kemudian berkembang dari
perasaan kesal dan benci, menjadi suatu keyakinan di mana sekelompok militer
itu merasa berhak membunuh presidennya sendiri.
Bukankah penanggungjawab pelemparan granat di Cikini pada tahun 1957 telah
mengucapkan kredonya, bahkan pernyataan sikapnya di muka meja-hijau. Dengan
penuh keyakinan dan wibawa, tanpa penyesalan secuil pun, orang itu menegaskan
mengapa ia merasa wajib membunuh presiden dan pemiminnya sendiri, yang
kredibilitasnya telah diakui oleh segenap rakyat.
Tapi apapun yang dicemburui orang itu, atau militer-militer itu, bolehlah kita
maklumi, meskipun sama sekali tak bisa dibenarkan bahwa persoalan itu kemudian
dijadikan alasan untuk seenaknya menuduh Bung Karno sebagai diktator yang kejam.
Maka sekaranglah saatnya kita perlu menggugat peradaban dunia yang dimonopoli
Barat, di mana orang-orang Eropa-Amerika itu berpendapat bahwa sistem monogami
adalah yang paling tepat dalam praktek perkawinan, hingga merasa perlu untuk
mencantumkannya dalam undang-undang.
Padahal di tahun-tahun pertama abad 21 pun segala peperangan dan pemberontakan,
bahkan penyakit menular telah merenggut ribuan bahkan jutaan umat manusia di
negeri manapun di dunia ini - apalagi di negeri-negeri Selatan yang semakin
miskin dan terbelakang.
Bukankah timbulnya kekacauan ekonomi dan sosial setelah perang dunia dan perang
dingin, diakibatkan tidak adanya kerjasama yang teratur antara pria dan wanita
dalam perkawinan? Bukankah kerjasama pria dan wanita secara baik, sedikitnya
akan membawa keseimbangan ekonomi dalam kehidupan manusia? Di sini bukanlah
kita bermaksud mengadakan perlawanan atau menciptakan reaksi-balik dari
ketetapan undang-undang Barat dalam soal poligami, namun kita harus menggugat
ketetapan sesakral apapun bila memang perlu untuk digugat. Apalagi sesuatu yang
disebabkan perkembangan jaman dan kedewasaan manusia, orang semakin membuka
mata terhadap hal-hal yang dianggap salah dan keliru.
Kemudian apakah bisa dibenarkan - dalam situasi kacau pasca perang dunia dan
perang dingin - negara seenaknya menentukan ketetapan mutlak perihal
perkawinan, tanpa mentoleransi kemungkinan alternatif lain, di mana para janda
dan anak-anak yatim (yang terlantar) juga berhak untuk hidup normal seperti
layaknya manusia yang punya martabat dan harga-diri? Apakah negara dan
pemerintah sanggup membangkitkan mereka secara psikologis dari perasaan takut
dan terpojok - paling tidak secara ekonomi - tanpa adanya peranan dan bantuan
orang-perorang?
Ya, Bung Karno memang beristri lebih dari satu, tapi dari catatan sejarah dan
pengakuan istri-istrinya, tak seorang pun di antara mereka yang merasa
dikhianati atau diperlakukan sewenang-wenang oleh sang suami. Malahan secara
psikologis merasa tenteram dan terlindungi dari ancaman kekalutan jaman pasca
perang yang tak menentu.
Demikianlah sosok Bung Karno. Dan lewat tulisan ini kita hanya memaparkan
secuil catatan sejarah dari pengalaman hidup seorang tokoh revolusioner di
Indonesia, meskipun tentu tak bermaksud membuat suatu keputusan hukum bahwa
poligami adalah sah. Semuanya kita serahkan kepada para pemikir, para penguasa
untuk mempertimbangkannya secara jujur dan adil, dengan suatu catatan: bila
kehidupan menusia sudah berjalan normal, maka yang terbaik dapat menjamin
kebahagiaan masyarakat adalah dengan membatasi pada satu istri saja.
Dan kini apa pula yang disangsikan dari Bung Karno..
Pertanggungjawaban Sejarah
Apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, baik atau jahat, juga benar atau
salah atau keliru, atau bahkan kekeliruan dan kesalahan yang dipertahankan,
semuanya merupakan pertanggungjawaban kita yang akan dihakimi oleh mahkamah
sejarah (pengadilan Tuhan). Setiap perjuangan ide dan paham di sepanjang
kehidupan manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun, sejarah pula yang akan
menghakimi dan menjawabnya. Dan berapa lamakah sejarah akan menghakimi semuanya
itu.
Kita manusia biasanya menghitung dalam ukuran bulan dan tahun, karena umur kita
terbilang dalam hitungan bulan dan tahun. Tapi ukuran yang dipakai buat
menghitung langkahnya sejarah, biasanya ia melompat selama puluhan tahun dalam
setiap langkahnya. Malahan satu abad pun kadang-kadang dianggap sebentar
seperti setetes air di tengah samudera yang maha luas.
Dan kini mereka yang berseberangan paham dengan Bung Karno, atau yang bahkan
memusuhinya, telah sampai pada titik pertanggungjawaban yang mengantarkan
mereka di depan pintu gerbang mahkamah sejarah itu. Ya, kini telah nyata di
depan mata kita, siapakah yang bercita-cita keras untuk mengangkat nasib rakyat
ke taraf hidup yang lebih baik? Siapakah yang meremehkan revolusi Indonesia,
tidak menghargainya, atau bahkan memfitnahnya? Siapakah yang menentang arus
perkembangan sosial-politik dan ekonomi di Indonesia?
Di bidang kebudayaan, siapakah budayawan yang berbaris dalam jajaran kebudayaan
kosmetik, banci dan cengeng, atau siapakah yang mengelak dari kebudayaan
revolusioner yang ditekankah oleh Bung Karno.?
Kini sejarah pula yang menghakimi, siapa pendukung siapa, siapa pengacau siapa,
dan dalam pernyataan yang lebih tegas: siapakah yang layak disebut patriot dan
siapakah yang pantas disebut pengkhianat?
Akhirnya, kesanggupan seseorang untuk membaca diri, introspeksi diri (bertobat)
atas kesalahan dan kekeliruannya, maupun besikeras mempertahankan bahkan
mengembangkannya, semuanya itu terletak pada pertanggungjawaban dirinya yang
kelak mengantarkannya di depan pintu gerbang sejarah yang menghakiminya..
***
Tulisan ini disusun oleh Hafis Azhari (K2PSI) berdasarkan wawancara dengan
Pramoedya Ananta Toer, di Bojong Gede, Bogor. Pernah dimuat dalam buku "100
Tahun Bung Karno (Sebuah Liber Amicorum)", yang diterbikan oleh Hasta Mitra,
Jakarta.
selengkapnya, silakan dibuka di: www.geocities.com/k2psi_lsm
--------------------------------------------------------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
a.. Visit your group "mengucap-borneo" on the web.
b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--------------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **