** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/23/opini/2386939.htm

 
Merenungkan Sistem Politik Kita 


Dradjad Wibowo

Saya sangat bisa memahami kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengimbau 
partai politik merenungkan apakah sistem politik kita normal dan sehat. Alasan 
beliau, jika tidak ada salah kutip, sudah ada koalisi dengan duduknya wakil 
parpol di kabinet, tetapi mengapa parpol tersebut ber-oposisi, khususnya dalam 
hak angket DPR tentang impor beras.

Saya mencoba merenung sesuai imbauan beliau. Hasilnya, saya menemukan hal-hal 
yang mengejutkan. Pertama, kita tahu partai politik (parpol) yang terwakili di 
kabinet adalah Golkar, PPP, PD, PAN, PKB, PKS, dan PBB. Di DPR, gabungan 
ketujuh parpol itu menguasai suara mayoritas sehingga semua kebijakan 
pemerintah semestinya mulus- mulus saja disetujui DPR. Ini karena ketujuh 
parpol tersebut adalah partai pendukung pemerintah. Jadi, mereka tidak boleh 
menolak kebijakan pemerintah, cukup mengkritisi ala kadarnya.

Namun, jika hal di atas terjadi, DPR hanya akan menjadi stempel bagi 
pemerintah. Kita akan mendengar mayoritas anggota Dewan koor setuju lagi di 
Senayan. Kita akan melihat kembalinya pemeo datang, duduk, dengar, diam, dan 
duit (D5), seperti pada masa Orde Baru. Fungsi pengawasan DPR akan terkebiri 
dan DPR kembali menjadi subordinat pemerintah. Hasil akhirnya adalah 
pemerintahan yang cenderung otoriter, tanpa adanya mekanisme check and balances 
yang efektif. Apakah ini yang kita harapkan?

Klub Dharmawangsa

Saat ini terdapat persepsi di masyarakat yang men-delegitimasi peranan DPR dan 
parpol. Selain faktor kekurangtahuan masyarakat terhadap tugas anggota DPR, 
persepsi di atas tidak lepas dari kesalahan elite DPR sendiri. Salah satunya 
adalah sangat dominannya Klub Dharmawangsa (KD), khususnya menyangkut 
topik-topik yang dibahas di rapat paripurna.

KD adalah sebuah forum lobi informal yang melibatkan elite pemerintah, parpol, 
dan fraksi, yang biasanya dilakukan di sebuah hotel terkenal di Jakarta 
Selatan. Saya pribadi pernah menjadi bagian dari KD, terutama pada saat DPR 
terbelah menjadi Koalisi Kerakyatan dan Koalisi Kebangsaan.

Dalam perkembangannya, KD ternyata cenderung menjadi komunikasi searah dari 
pemerintah kepada elite parpol/fraksi, untuk selanjutnya diteruskan kepada 
anggota fraksi. KD bahkan sedemikian dominan sehingga menyubordinasi tugas dan 
hak konstitusional anggota DPR. Padahal, di sisi lain anggota DPR harus 
memperjuangkan aspirasi masyarakat di daerah pemilihannya, yang tidak jarang 
bertabrakan dengan KD. Akibatnya, rapat paripurna menjadi monoton dan 
membosankan karena aspirasi anggota tersumbat.

Sebenarnya sah-sah saja partai pendukung pemerintah bergabung dalam KD. Namun, 
jika ingin sistem politik kita sehat, KD harus dijadikan forum untuk 
memperbaiki kualitas dan akseptabilitas dari sebuah kebijakan. Bukan direduksi 
menjadi forum untuk menjinakkan DPR.

Rancu

Makna partai pendukung pemerintah sendiri mengandung kerancuan yang signifikan. 
Adalah keliru kalau ada anggapan partai pendukung pemerintah harus mendukung 
100 persen kebijakan pemerintah, baik melalui kabinet maupun DPR. Pemahaman 
seperti ini justru dapat merusak sistem politik dan mematikan demokratisasi 
yang sedang kita bangun.

Di negara yang sudah lebih mapan demokrasinya, ketaatan buta seperti di atas 
dianggap sebagai keabsurdan. Ini karena anggota parlemen/kongres harus 
bertanggung jawab kepada konstituennya. Karena itu, beberapa anggota Partai 
Republik dapat dengan bebas menolak calon jaksa agung yang diajukan oleh 
Presiden George Walker Bush karena bertentangan dengan aspirasi konstituennya. 
Apakah kita bisa membayangkan Partai Demokrat, misalnya, menolak calon Panglima 
TNI yang diajukan Presiden jika bertentangan dengan aspirasi konstituen mereka?

Jadi, kalau kita ingin sebuah sistem politik yang sehat, partai pendukung 
pemerintah tidaklah harus 100 persen mendukung semua kebijakan pemerintah. 
Apalagi jika mereka, setidaknya fraksi mereka di DPR, sama sekali tidak pernah 
dimintai pendapatnya terhadap sebuah kebijakan.

Di sinilah para menteri parpol harus mengambil peranan. Mereka harus mampu 
menjadi jembatan antara Presiden/Wakil Presiden dan partai/fraksi di DPR, bukan 
diam saja menikmati kekuasaan. Mereka harus mampu mencari keseimbangan ketika 
ada kesenjangan antara keduanya. Dengan demikian, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono dapat memperbaiki kebijakan sesuai dengan aspirasi parpol, dan parpol 
dapat mendukung kebijakan itu. Bukan karena sudah mendapat jatah kekuasaan, 
tetapi karena parpol menjadi bagian integral dari kebijakan tersebut.

Sayangnya, kebanyakan kebijakan yang ditentang DPR justru muncul dari menteri 
profesional, khususnya tim ekonomi pemerintah. Mereka selalu memegang kekuasaan 
ekonomi, siapa pun presidennya. Di masa lalu mereka menjauhkan Presiden 
Megawati dari wong cilik dengan kebijakan ekonomi yang pro kreditor dan 
investor asing. Sekarang mereka membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jauh 
dari partai pendukungnya. Ini adalah asimetris di kabinet, yang harus bersama 
kita renungkan.

Dradjad Wibowo Wakil Ketua F-PAN DPR


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke