** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **http://www.gatra.com/artikel.php?id=91707
Hidup Gelap, Ongkos Bengkak SANGAT pilu perasaan Nyonya Yusuf. Duduk termenung di samping rumah sambil memangku dagu. Matanya menerawang kosong. Sesekali memanggil dua anaknya yang menonton TV di rumah tetangga. "Anak-anak terpaksa nonton TV di rumah tetangga. Listrik di rumah kami telah diputus,'' kata warga Oebufu, Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu. Meteran listrik sudah dibongkar petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN), dua hari lalu. Keluarganya terpaksa menggunakan lampu tradisional, tikoe, terbuat dari kaleng minuman ringan. Listrik diputus, karena Nyonya Yusuf menunggak pembayaran rekening tiga bulan sebesar Rp 526.000. "Itu karena anak saya masuk rumah sakit, dan harus mengeluarkan uang berobat,'' katanya. Penghasilan suaminya sebagai tukang batu tidak memadai. "Jangankan untuk bayar listrik, untuk makan saja sudah susah. Belum lagi dua anak saya terancam putus sekolah," katanya, didampingi suami yang membisu selama wawancara. Sang suami sejak November hingga sekarang tidak mendapat order pekerjaan. Praktis, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nyonya Yusuf mencuci pakaian tetangga. Walau sulit, ibu tiga anak ini bertekad membayar utangnya ke PLN Cabang Kupang, agar listrik mengalir lagi ke rumah. Mendengar rencana kenaikan lagi tarif listrik, Nyonya Yusuf tersentak. ''Yang sekarang ini saja kami susah membayar, apalagi kalau dinaikkan lagi," tuturnya sambil memukuli jidatnya sendiri. Menurut data PLN Kupang, tahun lalu tercacat 512 pelanggan diputus karena menunggak, senilai Rp 1,7 milyar. Sementara tahun ini, hingga 19 Januari, sudah tercatat 46 pelanggan diputus. ''Aturannya memang begitu," kata Willer Marpaung, Kepala Cabang PLN Kupang. Jeritan si miskin yang hidup dalam kegelapan ini seperti tidak terdengar oleh pejabat di Jakarta. Para menteri tetap berniat menaikkan tarif listrik. Menteri Koordinator Perekonomian, Boediono, Rabu pekan lalu memimpin rapat antar-menteri untuk membahas rencana kenaikan tarif tersebut. Tapi tidak ada simulasi menunda kenaikan, apalagi menurunkan tarif. Mereka hanya sibuk menentukan persentase kenaikan yang pas dan akan diberlakukan minimal April. Anggota DPR, Alvin Lie, sempat sport jantung ketika mendengar ada skenario kenaikan hingga 100%. Yang membawa konsep itu adalah Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Paskah Suzetta. Dalam skenario Paskah, pemakai listrik 450 watt cukup naik di bawah 10%. Tapi, kosekuensinya, industri harus naik hingga mendekati 100%. Senin pekan ini, DPR mengundang direksi PLN untuk menjelaskan proposalnya. ''PLN mesti menghitung ulang semuanya. Kami minta dihitung per pos. Dari sana kita bisa lihat mana yang bisa ditekan,'' kata Alvin kepada Gatra. Sebenarnya PLN sudah mengajukan proposal kenaikan tarif. Ketika membuat anggaran pendapatan dan belanja negara, akhir tahun lalu, PLN melaporkan akan mengalami defisit hingga Rp 38 trilyun pada 2006. DPR sudah menyepakati angka subsidi Rp 17 trilyun. Jika sisanya dibebankan pada konsumen, tarif harus naik sekitar 30%. Waktu itu, asumsi harga minyak dunia Rp 6.000 per liter. Tapi harga minyak dunia sekarang kurang dari Rp 5.000 per liter. Mestinya defisitnya juga lebih rendah. Alvin menambahkan, PLN pun tidak bisa membebankan seluruh biaya ke konsumen. ''Sebetulnya yang menyebabkan defisit begitu besar itu dari mana? Barulah kita carikan jalan keluar,'' ujarnya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, pernah mengingatkan PLN agar tidak tergesa-gesa menaikkan tarif listrik. Sebab, menurut dia, kenaikan tarif listrik bisa ditekan atau ditunda karena masih ada upaya lain yang bisa ditempuh. ''Itu bisa dilakukan karena tahun 2006, beberapa pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar non-BBM akan beroperasi,'' katanya. Antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Uap Cilacap dan Cilegon. Serta Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Tanjung Jati B di Jawa Timur. Bila ketiga pembangkit itu beroperasi, kebutuhan BBM dapat menurun. Ekonom Chatib Basri menyarankan, sebelum memutuskan kenaikan tarif listrik, pemerintah perlu melihat inflasi tiga bulan pertama tahun ini. Sebab dampak kenaikan harga BBM Oktober lalu masih terasa. "Tingkat belanja masyarakat juga belum kembali ke kondisi normal," ujar staf pengajar Fakultas Ekonomi UI itu. Chatib menghitung, bila tarif listrik naik 30%, inflasi akan naik 1%-1,5%. Inflasi yang meningkat menimbulkan tekanan pada biaya hidup. Para buruh menolak digaji rendah. Senin lalu, 12.000 buruh berdemo menuntut kenaikan upah di Jawa Timur. Mereka berdemo langsung di depan kantor Gubernur Jawa Timur, menuntut kenaikan upah minimum kota/kabupaten rata-rata Rp 62.000 per bulan. Ali Muchsin, 39 tahun, seorang buruh perusahaan cat di kawasan Tambak Wedi, Surabaya, saat ini digaji Rp 600.000 per bulan. Ia harus menghidupi istri dan tiga anaknya. Mereka menempati rumah petak 3 x 3 meter yang dibayar Rp 90.000 tiap bulan. Hanya ada tempat tidur bersusun dua mengisi istananya. Bahkan kursi untuk tamu belum ada. "Jangankan untuk beli kursi, makan saja ngirit, Mas," tuturnya penuh kepasrahan. Makanya, Muchsin dan buruh lain di Jawa Timur menuntut kenaikan upah. Tapi pengusaha di sana siap ''melawan''. Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Timur mengancam memindahkan lokasi pabrik, kalau tuntutan buruh diterima gubernur yang akan ditentukan 25 Januari. "Kalau upah minimun sampai Rp 845.000 per bulan, saya yakin banyak perusahaan di Jawa Timur tidak kuat lagi melanjutkan usaha," kata Johnson Simanjuntak, perwakilan pengusaha di Dewan Pengupahan Jawa Timur Surabaya. Di Jawa Timur terdapat sekitar 80.000 perusahaan. Sebanyak 80% berskala menengah dan kecil. Saat ini, mereka juga sedang menanggung beban sangat berat di luar upah buruh. Misalnya kenaikan harga BBM, inflasi, persaingan produk Cina, dan rencana kenaikan tarif listrik. Tidak hanya di Jawa Timur. Semua pengusaha resah dengan rencana kenaikan tarif listrik ini. Ketua Kamar Dagang dan Industri Thomas Dharmawan menyebutkan, kenaikan tarif dasar listrik, apalagi kalau sampai 100%, akan sangat mencekik pengusaha. ''Pengusaha kecil kan tidak bisa pasang genset,'' papar Thomas. Kalaupun terpaksa naik, Thomas menyebut angka kenaikan yang bisa ditoleransi maksimal 10%-15%. Kalau terlalu tinggi, perusahaan menengah kecil bisa bangkrut. Makin banyak pula karyawan yang dikeluarkan. Padahal, pengangguran sudah sedemikian meluas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, hingga Oktober 2005, tingkat pengangguran terbuka berjumlah 11,6 juta. Bersyukurlah bagi yang masih bekerja dan merasakan gaji naik. Pegawai negeri, misalnya, merasakan kenaikan gaji. Pemerintah telah mengalokasikan Rp 16,4 trilyun untuk pembayaran gaji pegawai. Sebanyak Rp 12 trilyun di antaranya merupakan gaji pegawai daerah yang diberikan dalam bentuk dana alokasi umum dan Rp 4,4 trilyun untuk gaji pegawai pusat. Mulai Januari 2006, gaji pegawai negeri sipil golongan I-IV naik sekitar 15%. Dengan kenaikkn gaji itu, pegawai yang golongannya paling rendah akan mendapatkan sekitar Rp 1 juta. Selain kenaikan gaji, pegawai negeri juga akan mendapat kenaikan tunjangan dan gaji ke-13 tahun ini. Demikian juga para anggota DPR yang memperoleh tambahan fulus. Mereka menetapkan sendiri melalui rapat paripurna, akhir tahun lalu. Anggota DPR telah mendapat kenaikan gaji Rp 10 juta per orang. Dengan gaji pokok, tunjangan jabatan, istri, anak, beras, komunikasi intensif, kehormatan, uang listrik, telepon, total sekitar Rp 38 juta. Begitu pula anggota DPRD di berbagai daerah yang memperoleh tambahan pendapatan. Misalnya, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menaikkan pendapatan anggota DPRD lebih dari 200%. Sekadar contoh, uang lelah anggota DPRD menjadi Rp 1,5 juta dari sebelumnya Rp 450.000. Ketika membahas ihwal kenaikan gaji, rapat anggota dewan biasanya cukup lancar. Semoga semangatnya akan sama ketika memperjuangkan penderitaan si miskin. Rihad Wiranto, Astari Yanuarti, Arif Sujatmiko (Surabaya), dan Antonius Un Taolin (Kupang) [Ekonomi, Gatra Nomor 10 Beredar Senin, 23 Januari 2005] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

