** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **REFLEKSI: Benarkah Pertamina tekan ExxonMobil dan bukan sebaliknya?
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=6375 Senin, 20 Feb 2006, Pertamina Tetap Tekan ExxonMobil Minta Selisih Biaya Tak Lebih USD 1 Juta JAKARTA - Manajemen PT Pertamina menyambut baik permintaan Wapres Jusuf Kalla agar negosiasi blok Cepu bisa tuntas dalam seminggu. Awal pekan ini Pertamina siap berunding dengan mitranya, PT ExxonMobil Oil Indonesia (Exxon), meski tetap ada banyak syarat yang diminta BUMN perminyakan itu. Juru bicara Pertamina Muhammad Harun mengatakan, beberapa poin penting sudah disiapkan Pertamina dalam forum negosiasi. Poin tersebut pada dasarnya merupakan poin prinsip Pertamina. "Misalnya, kita minta Exxon menekan biaya eksplorasi yang terlalu tinggi," papar Harun kepada koran ini tadi malam. Menurut Harun, biaya eksplorasi milik Exxon mencapai USD 12 juta. Padahal, dalam hitung-hitungan Pertamina, seharusnya biaya eksplorasi cukup USD 3 juta - USD 4 juta. "Kalau selisihnya hanya USD 1 juta, kita bisa terima. Namun, jika selisihnya sampai 3 atau 4 kali lipat, tentu akan memberatkan pemerintah," jelasnya. Tingginya biaya eksplorasi oleh Exxon akan membebani pemerintah. Sebab, biaya eksplorasi ini dihitung sebagai cost recovery (biaya yang akan dibayar pemerintah). Artinya, semakin tinggi biaya eksplorasi, semakin tinggi pula biaya yang harus dikeluarkan pemerintah, dalam hal ini BP Migas. "Kan kita tidak ingin pemerintah mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Ini terkait rasa nasionalisme kita," tegas Harun. Saat menemani Wapres Jusuf Kalla dalam kunjungan ke Tuban, Sabtu lalu, President and General Manager Exxon Peter J. Coleman mengakui bahwa biaya eksplorasi Exxon di blok Cepu memang mahal. Menurut Coleman, mahalnya biaya eksplorasi tersebut disebabkan Exxon menggunakan teknologi biaya tinggi, seperti survei seismik, akumulasi hidrokarbon drilling, dan standar keselamatan lingkungan. Namun, pernyataan Coleman tidak disepakati Harun. Menurut dia, jika mengacu pada kerja sama Pertamina dengan Petrochina sebagai operator lapangan Sukowati, Tuban, Jawa Timur, biayanya tidak sampai USD 12 juta. Biaya eksplorasi Sukowati, menurut Harun, sekitar USD 3 juta. Biaya sebesar itu juga telah memperhitungkan faktor keamanan, keselamatan, dan teknologi eksplorasi yang tinggi. "Jadi, pernyataan Wapres yang meminta Exxon bisa lebih efisien dan mengacu pada benchmark, sudah sesuai plan of development (POD) Pertamina. Benchmark-nya, ya, biaya eksplorasi harus sesuai dengan pengeboran di lapangan Sukowati yang USD 3 juta itu," tegasnya. Hingga saat ini finalisasi eksplorasi blok Cepu masih alot. Dari 34 item yang diajukan dalam perundingan joint operating agreement (JOA) blok Cepu, sebagian besar item memang sudah disepakati Pertamina dan Exxon. Namun, ada beberapa yang mengganjal, seperti biaya kompensasi, cost recovery, sunk cost (biaya yang hilang dan telah dikeluarkan), dan penalti untuk pelanggaran terhadap kesepakatan kerja sama yang telah ditandatangani. Pointer tersebut akhirnya bermuara pada siapa yang berhak menjadi operatorship. Persoalan penunjukan operator inilah yang dicoba dituntaskan dalam negosiasi yang diminta Wapres. Pertamina dan Exxon sama-sama bersikukuh menjadi operatorship. Pertamina tetap menginginkan pengelolaan blok Cepu dilakukan secara bergantian untuk lima tahun sekali selama masa berlakunya kontrak 30 tahun. Untuk pengelolaannya, Pertamina menginginkan lima tahun pertama mereka yang pegang. Sedangkan Exxon bersikukuh menjadi pengelola selama 30 tahun. Menurut Pertamina, keinginan Exxon menjadi pengelola selama 30 tahun dinilai kelewatan. Selain itu, Harun mengkritisi permintaan sunk cost (biaya yang telah dikeluarkan) Exxon. Operator migas asal AS itu, kata dia, memasukkan dana saat mengambil alih PT Humpus Patra Gas sebagai biaya sunk cost. "Itu kan tidak mungkin. Masak biaya pembelian Humpus oleh Exxon yang kira-kira USD 116 juta juga harus ditanggung pemerintah," ujarnya. Blok Cepu yang dulu lebih resmi disebut Block North West Central Java semula memang dioperasikan PT Humpus Patra Gas dalam rangka technical assistance contract (TAC) dengan Pertamina. Namun, itu kemudian diambil alih Exxon dan masih dalam rangka TAC. Artinya, jelas Harun, pengambilalihan Humpus oleh Exxon bukan urusan pemerintah, namun urusan perusahaan itu (Exxon). Sehingga, pemerintah tidak perlu mengganti. Soal sunk cost, Pertamina pernah menyatakan bahwa Exxon meminta USD 1,5 miliar dan menilai terlalu besar. Tapi, hal tersebut kemudian dibantah Exxon. Pejabat Exxon mengaku bahwa itu bukan sunk cost, tapi hanya biaya investasi untuk membeli, mengeksplorasi, serta merencanakan pengembangan sumber daya alam di daerah kontrak Cepu senilai hanya USD 450 juta. Namun, bagaimanapun, kata Harun, Blok Cepu harus segera digarap. Kalau bisa, secepatnya dilakukan pada 2008. "Karena itu, Pertamina menyetujui pernyataan Wapres persoalan Blok Cepu segera diselesaikan. Kami juga siap berunding lagi pekan depan. Intinya, perundingan tetap intensif kami lakukan," ujarnya. Pengembangan Blok Cepu di Jawa Tengah memang paling ditunggu. Blok Cepu itu bisa meningkatkan produksi minyak Indonesia sekitar 20 persen dengan produksi minyak antara 150 ribu sampai 170 ribu barel per hari pada 2008. Blok Cepu juga diharapkan memberikan penghasilan USD 4 juta per hari kepada pemerintah atau USD 1,5 miliar per tahun. Dengan asumsi, harga minyak USD 35 per barel. Dari sekitar 128 sumur yang harus dibor untuk menghasilkan minyak, saat ini baru dibor 8 sumur. Sebelum Wapres ke Tuban, Pertamina mengaku siap memulai pengeboran 30 sumur di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, dalam waktu dekat. Pertamina bahkan telah menyiapkan dana USD 120 juta untuk pengeboran tersebut. Dengan rincian, jika satu sumur perlu USD 4 juta, 30 sumur membutuhkan USD 120 juta. Sementara itu, pengamat perminyakan Kurtubi mengaku jengah atas perdebatan antara Pertamina dan Exxon. Menurut Kurtubi, seharusnya Pertamina dan Exxon tak perlu bertengkar lagi soal siapa yang layak menjadi operatorship. Sebab, semuanya telah diputuskan. Kurtubi mengatakan, dengan pembagian yang 85 persen pemerintah dan 15 persen operator, lalu dari 15 persen tersebut dibagi lagi 45 persen Exxon, 45 persen Pertamina, dan 10 persen Pemda Jatim dan Jateng, seharusnya Pertamina dan Exxon tidak perlu lagi meributkan soal siapa yang layak jadi operatorship-nya. "Masalah substansial di antara Exxon dan Pertamina soal porsi pembagian hasil kan sudah disepakati. Nanti, soal cost recovery atau pengelolaan lima tahunan bisa dilakukan sambil berjalan. Misalnya, membentuk komite bersama atau joint operation," paparnya. Karena itu, Kurtubi setuju pemerintah mengambil sikap tegas dan mengintervensi masalah tersebut jika tidak bisa diselesaikan Pertamina dan Exxon. Namun, Kurtubi juga punya catatan buat Exxon. Dia meminta agar Exxon tidak memasukkan biaya yang aneh-aneh dalam sunk cost. "Artinya, semua biaya yang telah dikeluarkan harus dibeberkan secara transparan dan diaudit. Ini demi kepentingan juga," kata Kurtubi yang berharap negosiasi benar-benar bisa dilakukan pekan depan. Dia menambahkan, sejak lama dirinya berpikir agar Blok Cepu segera berproduksi. Sebab, posisi minyak serta gas kita terpuruk dan sekarang berada pada titik nadir. "Kalau bisa, produksinya dipercepat. Jangan menunggu hingga 2008," ujarnya. (yun) [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

