** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/28/opini/2475313.htm
Budaya (Politik) Unggul
Dony Kleden
Meruangkan budaya unggul dalam alam politik Indonesia sepertinya menjadi
pekerjaan rumah yang besar, rumit, dan menuntut banyak pengorbanan. Budaya
unggul sebenarnya adalah mitos etika politik.
Sayang, sejarah etika politik kita kerdil dan selalu terjebak dalam
episteme ekonomi dan kekuasaan. Justru kedua episteme ini menjadi penghalang
bagi lahirnya sebuah budaya unggul. Kalau politik diartikan sebatas ini, maka
yang muncul bukannya budaya unggul, tetapi budaya konsumtif dan arogansi.
Akibat lebih lanjut kedua budaya ini adalah lahirnya tindakan dengan
prinsip teleologis. Artinya, tujuan menghalalkan cara, yang oleh Yves Michaud
disebut sebagai politik porno.
Budaya unggul
Ketika memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku Stephen R Covey,
The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menyinggung soal pentingnya menumbuhkan budaya unggul sebagai
identitas dan budaya nasional (Kompas, 15/12/ 2005). Budaya unggul
didefinisikan sebagai semangat dan kultur untuk mencapai kemajuan dengan cara
kita harus bisa, kita harus berbuat yang terbaik.
Definisi ini jelas masih terasa abstrak dan mentah karena belum punya
daya operatif. Supaya lebih nyata dan tidak spekulatif dalam mengartikan budaya
unggul ini, maka budaya unggul perlu dikaitkan dengan budaya politik. Budaya
politik oleh Gabriel Almond dan Verba diartikan sebagai dimensi psikologis dari
sistem politik. Dengan demikian, budaya politik mencakup perilaku, kepercayaan,
tata nilai, dan keterampilan yang berkembang di seluruh bidang kehidupan
masyarakat. Jelas di sini yang menjadi target budaya politik itu adalah subyek
yang berbudaya dan yang punya kompetensi. Almond dan Verba yakin semua orang
dengan kemampuannya dapat berperan serta asalkan diberi kesempatan. Namun,
seandainya kesempatan menjadi monopoli orang-orang yang haus kekuasaan dan
harta, jangan harap budaya dan politik yang unggul akan lahir di bumi pertiwi
ini. Budaya dan politik unggul tidak bisa tidak menuntut ketulusan dari kita
semua dalam berperan serta.
Budaya unggul juga hanya bisa dicapai kalau etika politik juga memainkan
peranan di dalamnya. Segala tindakan yang tercela dan kasar terjadi karena visi
etika politik kabur. Karena visinya kabur, misinya pun kabur. Kalau
kedua-duanya kabur, mudah saja etika politik diterjemahkan secara subyektif
sehingga muncul etika subyektif, kelompok atau institusi, dan bukan etika
sosial. Tak heran kalau derajat artikulasi politik Indonesia sering terempas
dan koyak.
Demokrasi
Almond dan Verba lebih lanjut mengaitkan budaya dan politik unggul itu
dengan kemapanan sebuah demokrasi. Baginya, budaya dan politik unggul hanya
bisa dicapai ketika demokrasi mendapat tempat yang utama dalam hierarki
politik. Budaya politik yang demokratik ini menyangkut suatu kumpulan sistem
keyakinan, sikap, norma, dan persepsi yang menopang terwujudnya partisipasi.
Demokrasi dalam arti ini adalah meruangkan hadirnya orang lain untuk berandil,
berperan serta menyumbangkan kompetensinya.
Budaya dan politik yang unggul akan memiliki tingkat legitimasi yang
tinggi karena legitimasi itu diperoleh dari partisipasi politik yang demokratik
di mana semua masyarakat dilibatkan dalam kegiatan politik. Partisipasi politik
ini penting sehingga demokrasi dirasa tidak menjadi barang mewah bagi kelompok
tertentu, khususnya rakyat kecil. Tidak boleh menihilkan partisipasi politik
rakyat. Rakyat adalah kata kunci demokrasi itu sendiri.
Singkatnya, budaya dan politik unggul hanya bisa berjalan dalam
keterjalinan. Keterjalinan ini oleh filsuf Michel Foucault disebut sebagai
"strategi kekuasaan". Filsuf Perancis yang kontroversial, pencuriga, dan
menjadi pionir bagi lahirnya filsafat postmodernisme ini begitu menekankan
perlunya kerja sama dan saling menyokong dalam membangun sebuah politik
kekuasaan. Bagi Foucault, budaya dan politik unggul hanya bisa dicapai ketika
tiap-tiap kekuasaan berjalan dalam rel yang sama dan perlu adanya kohesi sosial
yang kenyal.
Pemikiran Foucault ini dilatarbelakangi pandangannya tentang kekuasaan,
yakni kekuasaan itu tersebar dan tidak dapat dilokalisasi pada satu kekuatan
saja. Menafikan posisi-posisi lain dalam berpolitik menjadikan politik itu
sendiri pincang dan menebar konflik. Politik hendaknya menjadi perekat sosial
dari berbagai elemen bangsa. Maka, membangun demokrasi demi sebuah budaya dan
politik yang unggul mengandaikan adanya partisipasi dan sumbangsih keterampilan
dari berbagai kalangan.
Bagaimana dengan perkembangan demokrasi kita di Indonesia? Apa esensi
demokrasi kita? Fakta membuktikan bahwa demokrasi kita pada masa Orde Baru
dibangun dengan setengah hati, ber-episteme ekonomi dan kekuasaan. Dan kini di
era reformasi, demokrasi pun dipahami baru sebatas kebebasan berpendapat. Kita
memaknai demokrasi baru sebatas representasi hak- hak politik.
Padahal, demokrasi dalam arti ini barulah satu sisi. Sisi yang lain
adalah komunikasi dan dialog agar selalu tercapai kompromi. Kita harus mengakui
bahwa komunikasi politik kita masih sangat lemah. Yang kita lihat adalah saling
mengumpat, menyalahkan, menang sendiri, dan tidak mau dengar yang lain. Yang
sering terjadi adalah perdebatan wacana, bukan sebuah komunikasi untuk mencari
solusi.
Polarisasi politik dalam alam demokrasi seperti ini akan mempersulit
komunikasi karena orang selalu menaruh curiga dan mau menang sendiri. Orang
berlomba- lomba untuk menjadi yang pertama dan berkuasa. Kalau ini yang
terjadi, aspek kebebasan dalam demokrasi akan diterjemahkan secara dangkal
karena berorientasi pada kebebasan pribadi dan melupakan aspek sosialnya.
Dengan demikian, demokrasi kita menjadi rapuh dan rentan terhadap berbagai
penyimpangan.
Kalau demokrasi kita didominasi dengan sikap-sikap seperti ini, mustahil
untuk membangun sebuah budaya dan politik unggul. Membangun demokrasi yang
sehat demi mencapai budaya dan politik yang unggul seperti yang diharapkan oleh
Presiden Yudhoyono adalah tanggung jawab kita semua sebagai warga negara
Indonesia. Politik yang demokratis, yang menempatkan kepentingan umum menjadi
yang utama dalam hierarki nilai, akan menjamin sebuah pemerintahan yang bersih,
bebas korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan lainnya.
Kesanggupan Yudhoyono untuk merangkum dan memfungsikan berbagai elemen
masyarakat kiranya menjadi prasyarat bagi lahirnya budaya dan politik unggul.
Yudhoyono juga sangat diharapkan bersikap tegas menyikapi berbagai problem
politik sebagai bias dari konflik kepentingan yang kesemuanya itu sangat
menyengsarakan rakyat. Karena politik, menurut Presiden Bolivia yang baru, Evo
Morales, adalah "ilmu melayani rakyat dan bukan hidup dari rakyat". Sementara
di Indonesia, politik diartikan secara pragmatis, yakni ilmu merebut kekuasaan.
Sanggupkah kita menghapus penderitaan rakyat yang sepertinya tidak pernah
menepi dengan mengubah paradigma politik kita? Politik itu rakyat!
Dony Kleden Mahasiswa Program Teologi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **