** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Mawar Merah Café Bandar:

KESADARAN DISERGAP PEROBAHAN


Dingin sampai ke bawah meja kerjaku, sedang jendela menghamparkan langit Paris 
yang kelabu bekas salju yang semalam turun dari petang hingga larut malam. 
Petang ini aku membaca sanjak  Rasahgelo, "Lagu Diam", disiarkan melalui milis  
[EMAIL PROTECTED] Wednesday, March 01, 2006 3:42 PM. Lengkapnya sebagai berikut:


Lagu Diam

lihat, dik, pepohon tidur dalam kabut
dan memucat tiang dan rumah-rumah
seperti dingin yang pelan menyelusup
yang mencatat juga namamu dengan gelisah

angin pun berhenti di sini, di beranda
lelampu kota temaram di jauhan
kita diam. tanpa bisik, tanpa kata
hanya pandang mata jatuh di aspal jalan

bersama air mata rindu mengembun
kaca jendela mengabur. sisa gerimis pagi
aku ingin mengekalkan wajahmu, dik, dengan santun
untuk esok yang mungkin bukan punya kita lagi 


Membaca puisi Resahgelo ini di tengah dingin langit kelabu kota, membuatku 
makin tenggelam dalam  suasana yang dilukiskannya. Apakah Resahgelo sedang 
menceritakan suasana hati dan pikirannya ataukah sedang menyindirku sambil 
menahan senyum atau secara secara sungguh-sungguh melukiskan keadaanku atau 
keadaan kami berdua. Karena memang dengan lukisan alam demikianlah Resahgelo 
mengungkapkan kerinduannya pada sebuah nama yang menggelisahkan hatinya dengan 
"pandang mata jatuh di aspal jalan""bersama air mata rindu mengembun" 
berbarengan dengan "kaca jendela mengabur". Kemudian pada "sisa gerimis pagi" 
penyair berkata pada dirinya bahwa pada saat itulah kembali mengental 
hasrat:"aku ingin mengekalkan wajahmu, dik, dengan santun" karena sadar benar 
"..esok yang mungkin bukan punya kita lagi".

Dua baris terakhir ini, merupakan klimak penuturan yang tidak diturunkan 
menjadi anti-klimak, tapi dibiarkan terjaga oleh penyair, setelah menuturkan 
dengan sabar serta  cermat latar lukisannya. Kecuali itu, dua kalimat terakhir 
tersebut  pun, merupakan kesimpulan yang padat-dalam yang diangkat oleh penyair 
dari lukisan suasana latar, baik latar alam maupun suasana hati dan pikirannya 
yang sendu dan pilu, warna-warna utama dari lukisan kerinduan. Oleh kesimpulan 
ini  aku tercenung diajak berpikir oleh penyair yang seperti Heraclitus  
berpendapat bahwa segalanya mengalir dan yang oleh Rendra, dengan menggabungkan 
ide Descartes dan Heraclitus kemudian diucapkan jadi  kata-kata "hadir dan 
mengalir"."Dialektis" jika menggunakan perumusan Hegel.   

"Esok yang yang mungkin bukan punya kita lagi" ujar Resahgelo [nama yang bagiku 
amat berarti, seakan menunjukkan penyair adalah seorang yang "resah" dan 
"gelo"] yang barangkali turut melatari mengapa puisi ini bernafas "resah" dan 
"gelo". Walau pun "resah" dan "gelo" ini tidak menjelma menjadi fatalisme atau 
penyerahan pada nasib atau takdir. Tapi dipahaminya sebagai ujud dari hukum 
dialektis yang menguasai hal-ikhwal. Ketika sampai pada kesadaran bahwa 
segalanya mengalir [pantharei], "hadir dan mengalir", penyair mengambil sikap 
sadar bahwa perjalanannya, termasuk hubungan cintanya pun "hadir dan mengalir" 
sesuai dengan hukum dialektika. Dengan kesadaran ini maka penyair mengambil 
sikap gagah dihadapan sergapan perobahan demi perobahan sehingga ia tidak 
kehilangan optimisme. Kalau kehilangan kekasih atau yang dicintainya, dipandang 
sebagai kejatuhan, maka penyair seperti Sysiphus yang melorot pendakian, tapi 
ia dengan gagah kembali bangkit dan mulai mendaki lagi memburu keti
 nggian demi ketinggian. 

Kesadaran akan hukum dialektika inilah yang kulihat sari puisi Resahgelo, hasil 
renungannya dari permasalahan yang ia olah. Dengan kesimpulan ini, Resahgelo 
menampilkan sebuah tokoh idamannya yang gagah dan tenang menghadapi segala 
sergapan perobahan dan hidup yang garang.Perobahan dan kegarangan hidup tidak 
menakutkannya, tidak membuat lukanya mengucurkan darah secara berkepanjangan. 
Tokoh yang ditampilkan oleh Resahgelo adalah tokoh anak manusia yang tak 
gampang-gampang dihancurkan.Terbayang padaku bahwa tokoh yang dilukiskan oleh 
Resahgelo adalah seseorang yang setelah mengalami kejatuhan dan menderita 
luka-luka, lalu bangkit mengebaskan pakaiannya serta kembali melangkah serta 
mendaki sekali pun mungkin darah masih mengalir dari mata luka-lukanya. Tokoh 
beginilah yang kunamakan bagai "mawar merah batu cadas", "mawar merah café 
bandar".

Mengamati cara pengungkapan ide ini, aku saksikan bahwa Geloresah bukanlah 
pendatang baru di dunia puisi. Dari cara pengungkapannya, terkesan padaku bahwa 
ia menguasai tekhnik perpuisian bagaikan seorang pemain bola menguasai 
tekhnik-tehknik perbolaan, sehingga, paling tidak secara subyektif, saya 
melihat ide yang dikandungnya telah dituangkan secara padu dengan bentuk. Ia 
sadar akan arti persajakan bagi puisi, tapi persajakan ini dilakukannya secara 
matang, tanpa dipaksa-paksa, dan hal ini terjaga dari awal hingga akhir. Ia 
kita saksikan misalnya pada bait terakhir:


"bersama air mata rindu mengembun
kaca jendela mengabur. sisa gerimis pagi
aku ingin mengekalkan wajahmu, dik, dengan santun 
untuk esok yang mungkin bukan punya kita lagi "


Di bait ini, aku saksikan bagaimana Resahgelo mempertahankan persamaan bunyi 
a-b-a-b, sedangkan iramanya terjaga oleh kesimbangan jumlah kata dalam kalimat 
yang juga nampak ia perhitungkan. Perbandingan-perbandingan yang ia guna pun 
gampang diserap oleh pancaindra serta urut tanpa ada loncatan yang dadakan 
sehingga gambarannya jelas dan sederhana tapi puitis. Tidak gampang menjadi 
sederhana tapi puitis serta menukik secara analisa isi. Tingkat ini di samping 
menagih penguasaan tekhnik yang tak tanggung, tapi juga kematangan penyair 
sebagai anak manusia serta keluasan pengetahuan.

Walau pun "Lagu Diam" lebih membuat kita merenung menangkap makna yang ia 
simpan tapi ketika kita sebagai pembaca menyelami makna yang dikandungnya, kita 
akan sampai pada pesan tersirat yang ingin diucapkannya tapi tidak secara 
bombas atau slogan. 

Dari meja Café Bandar di mana tulisan ini kugores, aku ingin mengucapkan 
terimakasih kepada Resahgelo yang memberiku masukan dan acuan berharga 
bagaimana bersanjak. Selain menyuarakan pikir dan rasa diri sendiri penyair, 
sanjak oleh pembacanya sebagai penyuara jiwa mereka juga, serta diberikan 
pertimbangan guna menghadapi sergapan perobahan dan kegarangan hidup tanpa 
kegalauan yang menggoncangkan. Resahgelo melalui "Lagu Diam"nya barangkali 
sudah menunaikan tuntutan puisi ini.***

Paris, Maret 2006.
----------------
JJ. Kusni





























 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke