** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/02/opini/2478592.htm

 
China dan Kita 


Ivan A Hadar

Selama dua hari, koran ini (Kompas, 27-28/2/2006) menurunkan berita "ancaman 
China". Kecemasan serupa pernah disuarakan koran ini beberapa tahun lalu.

Sejak 25 tahun terakhir, China tumbuh pesat, membuat negeri itu sebagai salah 
satu aktor penting perekonomian global abad ke-21. Kini China menduduki 
peringkat empat perdagangan dunia dengan porsi meningkat dari satu persen 
(1980) menjadi hampir tujuh persen (2005). Hal ini mengingatkan kita pada 
Jepang dan beberapa "Naga Asia". Ditilik besarannya, pengaruh China terhadap 
perekonomian global di masa datang akan lebih signifikan.

Pisau bermata dua

Kini, berbagai proteksi atas serbuan garmen murah China mulai dicanangkan, 
terutama setelah kesepakatan tekstil global berakhir (Multi-Fibre Agreement). 
AS mulai membatasi impor beberapa produk China dan sedang menggodok regulasi 
guna mengontrol tren pasar. Begitu pula UE. Akibatnya, jutaan garmen China 
tertimbun di beberapa pelabuhan Eropa.

Pertumbuhan ekonomi China yang spektakuler bisa menjadi pisau bermata dua 
(peluang dan bahaya) bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Sebagai pengekspor sumber daya alam, kita bisa menarik banyak keuntungan. 
Namun, pada saat yang sama, industrialisasi akan kian sulit akibat persaingan.

Dengan volume impor 500 miliar dollar AS per tahun, hal itu menjadikan China 
pasar ekspor terbesar ketiga di dunia. Guna memacu pertumbuhan industrinya, 
China yang miskin sumber daya alam membutuhkan (bahan) energi dan hasil 
tambang. "Serbuan perusahaan migas China" ke Indonesia bisa dilihat dari 
kondisi itu.

Bagi eksportir negara berkembang, persaingan dengan China sering berdampak 
"sudah jatuh, tertimpa tangga", berupa penyusutan jumlah kuota dan berkurangnya 
keuntungan karena harus menurunkan harga jual. Para eksportir dari Indonesia 
dan Banglades, yang pada tahun 1970-an pernah meraih keuntungan besar, kini 
terpuruk. Sebuah organisasi internasional (Christian Aid, 2005) dalam 
laporannya menyebutkan pengusaha garmen di Banglades sebagai rags to riches to 
rags (melarat, menjadi kaya, kembali melarat). Kondisi sejenis juga terjadi di 
Indonesia.

Produk murah

Banjir produk murah China memiliki dua konsekuensi, menguntungkan konsumen, 
tetapi bagi produsen-dalam negeri-yang tidak mampu bersaing, harus membatasi 
produksi atau gulung tikar. Di negara-negara yang perkembangan industrinya 
masih pada tahap awal, produk China akan bersaing dengan barang impor dari 
negara lain sehingga keuntungan konsumen tidak disertai kerugian produsen 
lokal. Dalam jangka panjang, dominasi barang murah China yang diproduksi padat 
karya akan menghambat industrialisasi negara bersangkutan.

Investasi asing di China patut dicermati. Pertama, ada kecemasan, peningkatan 
investasi asing di China (akan) menyedot investasi asing di negara lain. Tahun 
lalu, investasi asing di China mencapai 10 persen. Kedua, China juga mulai 
investasi di luar negeri meski masih relatif kecil sekitar tiga miliar dollar 
AS per tahun.

Di China, pertumbuhan ekonomi dua digit selama beberapa tahun terakhir 
menghasilkan kelompok wiraswasta dan pengusaha yang terus membesar. Pendapatan 
per kapita meningkat. Devisa negara melambung. Para pengamat melihat China 
bakal menjadi pesaing terberat AS.

Orang miskin

Pada saat yang sama, jumlah orang miskin meningkat. Sejak dua dekade, di 
pedesaan, 10 juta usaha kecil-menengah dilaporkan bangkrut. Di perkotaan, 
jutaan perusahaan swasta yang bergerak di bidang transportasi, industri, dan 
jasa gulung tikar. Mayoritas petani China belum menikmati "berkah" reformasi. 
Begitu pula jutaan buruh industri dan pengemis mulai meramaikan kota-kota besar 
China. Buruh dan pegawai rendahan terpaksa hidup pas-pasan akibat gajinya 
digerogoti inflasi. Kelompok yang paling diuntungkan reformasi ekonomi China 
adalah petani kaya, terutama yang tinggal dekat perkotaan, pengusaha muda 
(yuppies), dan pialang modal asing.

Peneliti kondang Norwegia, Johan Galtung, dalam China: Black not Red, bertanya, 
"Apakah China itu Sosialistis?" Bila sosialisme, kata Galtung, diartikan 
sebagai "persyaratan bagi pemenuhan kebutuhan pokok manusia, atau hilangnya 
perbedaan kelas dan perbedaan desa-kota, maka semua itu bukan ciri dominan 
China saat ini". Juga kesan kita atas ekspansi perdagangannya, perusahaan China 
menghancurkan jaringan perdagangan lokal yang telah dibangun puluhan tahun. 
Apakah China itu kapitalistis?

Kompleksitas persoalan yang mengiringi perjalanan reformasi China, berikut 
ekspansi ekonominya, mengajarkan kita, tatanan sosial-ekonomi adalah cita-cita 
yang ingin digapai dan masih di tingkat konsepsi. Untuk mewujudkannya, China 
mencoba "Jalan Ketiga" antara sosialisme dan kapitalisme dengan segala 
kelebihan dan kekurangannya. Yang kasatmata, cita-cita itu dibuat operasional 
dan didukung seperangkat institusi dan mekanisme penunjang. Tanpa itu, konsepsi 
itu hanya akan berhenti pada imbauan moral atau etis. Sepertinya, ini yang 
sedang terjadi di Tanah Air. Akibatnya, sejak beberapa tahun terakhir, 
dibanding negara-negara tetangga sekawasan, dalam hampir segala bidang, kita 
kian ketinggalan. Apalagi dibanding China. Bagi kita, kasus Freeport, Blok 
Cepu, dan ancaman China di sektor tekstil bisa menjadi momentum untuk bangkit.

Ivan A Hadar Direktur Eksekutif Indonesian IDE (Institute for Democracy 
Education)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke