** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **TEMPO, Edisi. 02/XXXV/06 - 12 Maret
2006
Laporan Utama
Bukan Sekadar Menggoyang Kursi
Sinyal perombakan direksi Pertamina kali ini datang dari Presiden. Jalan Ari
Soemarno ke pucuk pimpinan tak lempang.
BARA isu pergantian direksi PT Pertamina kembali meny-ala. Ka-li ini, percikan
itu datang dari Yangoon, Myanmar, beber-apa saat sebelum Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono bertolak ke Jakarta meninggalkan negeri Aung San Suu Kyi itu,
Kamis pekan lalu.
Menjawab pertanyaan seorang peserta dialog di Kedutaan Besar RI, SBY menyatakan
Pertamina harus dirombak total. Alasannya, meski Pertamina sudah lama ingin
melakukan restrukturisasi dan reformasi, "Akhir-akhir ini pro-sesnya jalan di
tempat." Itu sebabnya, kata Presiden, tak ada pilihan lain: Pertamina harus
"turun mesin". "Tiba saatnya Pertamina di-overhaul," ujarnya.
Kekecewaan Presiden salah satu-nya bersandar pada kenyataan bahwa Pertamina tak
lagi "sedigdaya" dulu. Di masa lampau, Petronaslah yang me-nimba ilmu dari
Pertamina. Tapi kini perusahaan minyak asal Malaysia itu sudah jauh
meninggalkan Pertamina, yang hingga kini masih terseok-seok.
Nah, untuk membenahinya, SBY tak memungkiri perlunya segera dilakukan
perombakan jajaran direksi. Meski dikatakannya, "Kalaupun itu dilakukan,
semata-mata sebagai upaya penyegar-an."
Apa pun istilahnya, yang jelas pernyataan itu seolah memberikan sin-yal kuat
bahwa isu pergantian direksi Pertamina yang terus bertiup setahun belakangan
ini bakal segera jadi kenyataan. Bahkan santer beredar kabar pergantian akan
dilangsungkan pekan ini. "Ada kemungkinan berbarengan de-ngan rapat pemegang
saham," kata seorang sumber Tempo.
Tak pelak, bursa kandidat Direktur Utama Pertamina pun kembali memanas.
Sejumlah nama calon direksi baru bahkan sudah beredar luas sepanjang pekan
lalu. Untuk posisi direktur utama, pil ihan tampaknya kian mengerucut pada Ari
Hernanto Soemarno.
Bahkan, kata sejumlah sumber di pe-merintahan, lampu hijau untuk kakak kandung
Rini M.S. Soewandi, Menteri Perindustrian dan Perdagangan di zaman Megawati
Soekarnoputri ini, sudah dinyalakan tim penilai akhir. "Surat penunjukan Ari
sudah ditandatangani semua anggota tim penilai akhir, termasuk Presiden," kata
sumber tadi.
Di luar nama Ari, disebut-sebut pula bahwa Iin Arifin Takhyan, yang sempat
dijagokan menjadi Direktur Ut-ama Pertamina, akan masuk daftar petinggi
perusahaan minyak ini. Iin, yang kini menjabat Dirjen Migas Departemen E-nergi
dan Sumber Daya Mineral, bakal ditempatkan sebagai wakil direktur utama untuk
mendampingi Ari.
Sedangkan jabatan direktur keuang-an akan dipercayakan kepada Frederick S.T.
Siahaan, untuk menggantikan pe-jabat lama, Alfred Rohimone. Frederick terakhir
menjabat Managing Director Indopremier Securities, setelah bekerja di PT
Dinamika Usaha Jaya dan Sigma Batara.
Benar-tidaknya kabar ini, hingga akhir pekan lalu memang masih tak terjawab.
Se-usai sidang kabinet terbatas yang dipimpin Presiden pada Jumat siang pekan
lalu, soal ini masih berselimut teka-teki.
Menteri BUMN Sugiharto, seusai rapat, hanya me-ngatakan di sidang itu Presiden
cuma memin-tanya menjelaskan sejumlah hal pokok. Salah satu yang disorot adalah
kian merosotnya pro-duksi minyak Pertamina. Persoal-an lainnya menyangkut
kurang harmo-nisnya hubungan Pertamina dengan pe-merintah selaku pemegang saham.
Buruknya hubungan keduanya memang sudah menjadi rahasia publik. Beberapa
benturan itu antara lain, seputar ketidaksetujuan Pertamina atas pemberian
perpanjangan hak pengelolaan ladang migas raksasa, Blok Cepu, di Ja-wa Tengah
dan Jawa Timur, ke ExxonMobil.
Dalam urusan ini, Direktur Utama Pertamina Widya Purnama memang ke-rap
"mbalelo". Bahkan hingga kini ia masih lantang menyuarakan keinginannya agar
Pertamina bisa menjadi operator di ladang emas hitam itu.
Benturan juga terjadi saat Direktur Utama Pertamina mengganti sejumlah
eksekutif di tubuh perusahaan minyak itu. Perseteruan kian runcing setelah
Pertamina mengganti logonya pada akhir tahun lalu, yang dinilai Kemen-terian
BUMN sebagai bentuk penghamburan dana.
Dengan sederet persoalan itu, berkali-kali beredar kabar bahwa Widya akan
segera dilengserkan. Namun kenyataannya posisi bekas mantan Direktur Utama
Indosat ini hingga kini tak tergoyahkan.
Sempat pula terbetik kabar bahwa kukuhnya posisi Widya tak lepas dari "lobinya"
ke Istana. Dalam sebuah pertemuan dengan Presiden, akhir tahun lalu, ia
menjanjikan akan menggasak habis mafia minyak di tubuh Pertamina, jika masih
dipercaya menjadi nakhoda di sana. Widya mengakui adanya pertemuan itu. Namun,
ia menyangkal telah melakukan lobi untuk mempertahankan posisinya (baca: Tempo,
25 Desember 2005).
Sumber Tempo di kalangan Istana pun tak percaya dengan cerita itu. Menurut dia,
lengsernya Widya cuma soal waktu. Ganjalan satu-satunya adalah belum tuntasnya
perundingan akhir soal Blok Cepu. "Kalau Widya diturunkan sekarang, ia akan
dianggap hero karena menentang Exxon," ujarnya.
Itu sebabnya, pencopot-an Widya tampaknya bakal dilakukan setelah perundingan
Blok Cepu beres. "Ini yang sedang dikebut pemerintah," kata salah seorang
eksekutif di Pertamina.
Sugiharto mengakui, penggantian direksi Pertamina memang sudah dibahas tim
penilai akhir. "Tapi belum final." Ia pun membantah urusan ini terus tertunda
karena menunggu rampungnya perundingan Blok Cepu. Yang jelas, kata kader Partai
Persatuan Pembangun-an ini, ada kekhawatiran Presiden atas m-elemahnya
restrukturisasi di tubuh Pertamina.
Kekhawatiran juga datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indraw-ati. Menurut
Sugiharto, persoalan yang t-e-rus membelit Pertamina mendatangkan risiko
fiskal. Sebab, dalam Ang-gar-an Pendapatan dan Belanja Negara 2006, Pertamina
diharapkan bisa menyu-m-bang dividen Rp 15,5 triliun ke kas ne-gara.
"Kalau meleset, dampaknya ke APBN." Apalagi, masih kata Sugiharto, le-bih dari
separuh omzet BUMN ada di Pertamina. "Kalau Pertamina meleset, kinerja
pe-merintah pun terganggu. Ini yang jadi taruhannya," katanya.
Namun jalan pemerintah untuk segera melengserkan Widya tampaknya belum akan
mulus benar. Apalagi jika benar penggantian masih akan menunggu du-lu
rampungnya urusan Blok Cepu.
Sejumlah anggota DPR sudah bersiap-siap menghadang langkah peme-rin-tah jika
hak operator Blok Cepu jadi diberikan ke Exxon. Usul untuk membawa persoalan
ini ke ranah politik pun menguat. Mulai muncul suara di parle-men akan
mengajukan hak interpelasi alias meminta penjelasan kepada Presi-den, begitu
keputusan itu dijatuhkan.
Menurut Dradjad Wibowo, anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Na-sional,
rencana itu kini tengah digalang oleh sejumlah fungsionaris dari partai-nya,
plus PDI Perjuangan dan Partai Ke-adilan Sejahtera. "Jika SBY tidak hati-hati,
Blok Cepu bisa seperti k-asus privatisasi Indosat," katanya meng-ingat-kan.
Adapun mengenai rencana pengganti-an direksi Pertamina, Dradjad
memper-silakannya, karena ini hak penuh pe-me-rintah selaku pemegang saham.
Ha-nya, jika tujuannya melakukan penyegaran, ia mempertanyakan langkah
pemerintah seandainya benar Ari Soe-marno yang diangkat menggantikan Widya.
"Itu bukan overhaul namanya," katanya.
Seharusnya, kata bekas ekonom Indef itu, pergantian dilakukan menyelu-ruh.
"Ganti semua direksi, bahkan hingga ke lapis kedua di bawah direksi, de-ngan
muka-muka baru." Hanya dengan cara ini, tujuan merombak Pertamina bisa dicapai,
katanya. Dan dengan begi-tu, "Pemerintah pun tidak terkesan h-anya menggoyang
Widya untuk sekadar me-muluskan negosiasi Blok Cepu."
Metta Dharmasaputra, Yura Syahrul, Sunariah
Calon Pejabat Baru Pertamina
Direktur Utama: Ari H. Soemarno
(Direktur Pemasaran Pertamina)
Wakil Dirut: Iin Arifin Takhyan
(Dirjen Migas Departemen Energi)
Direktur Keuangan: Frederick S.T. Siahaan
(Managing Director Indopremier Securities)
Direktur Pemasaran: Achmad Faisal
(Deputi Direktur Pemasaran Pertamina)
Direktur Pengolahan: Suroso Atmomartoyo
(Direktur Pengolahan Pertamina)
Direktur Hulu: Sukusen Soemarinda
(GM Proyek Geotermal Pertamina)
Direktur SDM: Sonny Sumarsono
(Pejabat di Departemen Dalam Negeri)
TEMPO, Edisi. 02/XXXV/06 - 12 Maret 2006
Opini
Menyehatkan Pertamina
Siapa pemilik minyak di Cepu? Pertanya-an mendasar ini kini seolah terbisukan
oleh hiruk-pikuk suara kalangan yang memperebutkan hak mengelola emas hitam
itu. Di meja perundingan, Pertamina bersitegang dengan Exxon. Di Jawa Timur,
soal badan usaha milik daerah mana yang akan terlibat menjadi bahan gunjingan
politik yang seru. Bahkan sejumlah perusahaan swasta yang ingin menjadi mitra
mereka pun sudah sibuk saling bersaing dan turut menambah kebisingan.
Gema silang sengkarut itu bergaung hingga Jakarta. Di Senayan, para politisi
telah berancang-ancang menjadikan soal ini sebagai ajang untuk meraih
keuntungan politik. Para pakar ramai mendiskusikannya di radio dan televisi,
dan para pengamat s-ibuk menulis di koran-koran. Semua ini tentunya sah saja
se-bagai bagian dari dinamika negara yang demokratis, tapi tetap saja harus
dengan keyakinan yang sama: bahwa mi-nyak itu milik rakyat bangsa Indonesia.
Itu sebabnya hasil yang diperoleh dari harta minyak di Cepu harus semaksimal
mungkin bermanfaat bagi rakyat.
Pertanyaannya kemudian adalah, rakyat yang mana? Apa-kah hanya yang hidup saat
ini atau termasuk anak-cucu kita yang belum lahir? Karena minyak adalah sumber
daya alam yang tak terbarukan, rasanya lebih tepat untuk tidak membatasi
manfaat anugerah Tuhan ini hanya untuk generasi masa sekarang. Itu sebabnya
pemanfaatannya pun sebaiknya me-niru apa yang dilakukan bangsa Norwegia, yang
menabung dan menginvestasikan seluruh hasil penjualan minyak-nya sebagai dana
abadi dan hanya menggunakan keuntungan hasil investasi itu untuk kebutuhan
sehari-hari. Ide pengelola-an "Oil Fund" yang kini jumlahnya di atas US$ 200
miliar itu bahkan telah pula diikuti oleh bangsa Timor Leste dalam memanfaatkan
perolehan minyak di Celah Timor. Lantas, mengapa kita tak melakukannya?
Bila pola pikir ini yang dipakai, pemerintah sebenarnya tak perlu terburu-buru
mengambil keputusan soal pengelolaan Blok Cepu. Selain karena ketergesaan
membuat posisi tawar dalam perundingan melemah, minyak di dalam tanah juga tak
akan membusuk, bahkan nilainya akan te-rus bertambah dengan waktu. Maklum,
kebutuhan manusia terhadap sumber energi ini terus membubung, sementara jumlah
minyak di dalam bumi justru terus menyusut karena tak henti disedot berbagai
perusahaan minyak di dunia. Sebaliknya, posisi tawar Exxon terhadap pemerintah
justru akan terus menurun, bahkan sirna pada 2010. Jelaslah bahwa dalam soal
ini waktu sebenarnya berpihak pada pemerintah.
Namun, dalam banyak soal lain, waktu justru bersebe-rangan dengan kita.
Perbaikan kinerja Pertamina adalah salah satu contohnya. Semakin cepat hal ini
dilakukan, semakin besar keuntungan yang akan diraih. Se-bagai perusahaan milik
pemerintah yang ber-gerak di bidang perminyakan dan telah mem-punyai aset di
seluruh penjuru negeri, Pertamina adalah salah satu institusi strategis bangsa.
Perusahaan ini punya peran penting dalam mengelola salah satu kekayaan alam
republik ini agar bermanfaat semaksimal mungkin bagi kemajuan bangsa.
Harus diakui, pengelolaan sumber daya alam memang merupakan persoalan strategis
se-tiap negara. Bila dilakukan dengan benar, sumber daya alam yang melimpah
akan membuat sebuah bangsa maju pesat. Amerika Serikat, Australia, Belanda, dan
Norwegia adalah contoh negara yang berhasil melakukannya dengan benar.
Sebaliknya, bila dilakukan dengan keliru, sumber daya alam yang melimpah justru
menjadi kutukan suatu bangsa. Di Liberia, misalnya, kekayaan tambang intannya
justru menjadi bahan baku konflik bersenjata yang tak pernah berhenti. Hal yang
sama juga terjadi di Mozambik.
Indonesia jelas perlu belajar dari pengalaman berbagai ne-gara itu. Hal-hal
yang baik patut ditiru dan yang b-uruk dijauhi, tentu dengan mempertimbangkan
adaptasi-nya yang tepat di negeri ini. Bahwa Presiden Susilo Bambang Yu-dhoyono
menaruh perhatian besar pada upaya peningkat-an kinerja Pertamina adalah hal
yang menggembirakan. Persoalannya kini adalah sejauh mana perhatian itu akan
bermuara pada pengambilan keputusan yang tepat dan eksekusi yang prima.
Bak seorang dokter, Presiden Yudhoyono telah mende-ngar dan melihat cukup
banyak gejala negatif yang diderita Per-tamina. Ia kini sedang melakukan
diagnosis untuk memastikan apa sebenarnya masalah utama perusahaan mi-nyak
negara ini, lalu merancang terapi penyembuhannya. Setelah ia memastikan terapi
yang dipilih, pelaksanaannya sesuai dengan rencana harus terus dipantau dan
kalau perlu diadaptasi atau dikoreksi sesuai dengan perkembangan keadaan.
Pemantauan ini tak dapat hanya sebatas Pertamina, tapi juga keadaan
lingkungannya. Perubahan lingkungan u-mum-nya melahirkan tantangan yang juga
berganti hingga diperlukan tanggapan yang mungkin juga harus berbeda dengan
sebelumnya. Sebagai contoh: agar sukses, Perta-mina harus selalu dipimpin oleh
direksi yang paling sesuai dengan tuntutan zamannya.
Apa tantangan Pertamina sekarang dan di masa depan serta siapa yang paling
cocok untuk memimpin perusahaan ini dalam mengatasi tantangan tersebut adalah
permasalah-an yang kini menjadi pekerjaan rumah Presiden Yudhoyo-no. Ia telah
dipercaya rakyat untuk memimpin negeri ini hingga 2009 nanti, kini saatnya sang
presiden membuktikan bahwa pemberian amanah itu bukanlah hal yang keliru.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi:
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral
scholarship, kunjungi
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **