** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=238508&kat_id=19
Rabu, 08 Maret 2006 Bangsa yang Diolok-olok Oleh : Asro Kamal Rokan Seorang teman dari Malaysia bertanya: Apakah pers Indonesia terbiasa menceritakan sisi negatif bangsanya sendiri?Pertanyaan seperti itu, sesungguhnya, tidak hanya datang dari teman Malaysia itu. Belakangan ini, pengusaha, pejabat, budayawan, bahkan di kalangan pers sendiri muncul pertanyaan tersebut. Bagi mereka, halaman-halaman media cetak, layar televisi, dan internet, wajah Indonesia berubah muram, kehilangan cahaya, dan menjadi bahan tertawaan. Di halaman-halaman media massa, betapa sulit menemukan berita tentang hakim, jaksa, polisi, tentara, politisi, dan pejabat negara yang baik, jujur, dan amanah. Mereka seperti dikelompokkan dalam dunia yang gelap -- tanpa ada kebaikan sama sekali. Padahal, tidak sedikit di antara mereka hidup sangat bersahaja, namun pers tidak melihatnya sebagai berita. Artis yang berhasil membangun rumah tangga dan mendidik anak-anaknya, bukanlah berita bagi pers. Ia menjadi berita ketika terjadi perceraian atau perselingkuhan. Pers Indonesia seakan menulis dalam mata terpejam. Sesuatu dilihat dari sisi gelapnya, sisi negatifnya. Berita dibangun dari kecurigaan. Kebebasan semestinya tidak berarti cerita tentang keburukan, tapi juga kebaikan, nilai-nilai, dan keadilan. Pers yang terus-menerus mengampanyekan keburukan-keburukan, telah memberi andil membentuk masyarakat yang kehilangan kepercayaan pada kebaikan. Pers membentuk masyarakat yang saling curiga dan berpikir negatif. Pegawai negeri, polisi, hakim, jaksa, pejabat yang bergaji rendah tidak boleh menjadi kaya. Ketika mereka kaya -- memiliki rumah dan kendaraan-- maka serta-merta kekayaan itu dianggap sebagai hasil korupsi, atau pergi ke dukun, atau memelihara tuyul. Padahal, kekayaan yang mereka peroleh boleh jadi dari cara yang halal, bahkan mungkin karena kejujuran dan pola hidupnya yang teratur, terencana, dan benar. Ketika seorang ulama sukses secara finansial, maka akan ada anggapan ulama tersebut menjual ayat-ayat. Pers Malaysia mungkin dapat menjadi contoh. Ketika memberitakan kekalahan tim nasional sepak bolanya, pers menulis judul --yang bagi kita mungkin terkesan aneh. Judulnya: Tim Nasional Kita Kalah. Kelihatan sangat sederhana. Tapi, bandingkan apa yang dilakukan pers Indonesia ketika tim nasionalnya kalah. Pers Indonesia akan lebih senang memberikan judul, di antaranya: Tim Indonesia Terjungkal atau Indonesia Takluk. Pers Malaysia mungkin sangat sadar bahwa tim sepak bola adalah bagian dari dirinya, bagian dari bangsanya. Mereka dapat mengkritik dengan tajam, namun tidak tergelincir untuk mengampanyekan pesimisme, ketidakpercayaan, dan bahkan kebencian. Pers Malaysia sadar, kepentingan bangsa, menumbuhkan semangat untuk bangkit, dan membangun kebersamaan jauh lebih penting daripada caci maki. Pers tahu bahwa berita tidak sekadar fakta-fakta, kasus, peristiwa memilukan, tapi juga membangun semangat kebangsaan, membangun optimisme, dan keyakinan pada usaha keras meraih masa depan. Berita tidak sekadar cerita tentang hakim, polisi, dan jaksa yang korup, tapi juga cerita tentang hakim, jaksa, dan polisi yang jujur, jadi teladan, dan amanah. Halaman-halaman media, layar televisi, semestinya tidak dipenuhi kemuraman, tapi juga menjadi jendela, membagi ruang untuk udara yang segar. Bangsa ini sakit, pers semestinya memberinya optimisme, bukan menakut-nakuti tentang kematian. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral scholarship, kunjungi http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

