** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Jaman sekarang kok masih ada saja sih 
orang yang ingin
mengadu domba ummat Islam?

Get a job!

--- reporter jalanan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Nah, ini ada artikel di Harian Pikiran Rakyat
> terbitan Bandung. Penulisnya adalah seorang
> purnawirawan TNI yang kini di HTI. Di MMI banyak
> juga para orang militer. Tak heran mereka berani
> mati. 
>   Selamat menyimak.....
>    
>   Kalau ingin mendirikan kekhalifahan Islam itu
> bukan demokratis lagi namanya (walau lewat parpol),
> tetapi sudah bisa dikategorikan ingin mengubah
> haluan negara, ingin menggusur Pancasila. 
>    
>   Ayo jangan biarkan negeri ini bubar, bubar! Mereka
> - PKS, HTI, FPI, MMI, Jundullah Islamiyah dll -
> lebih baik dikirim semua ke NAD yang sudah dijadikan
> laboratorium bagi penerapan syariat Islam. Kita
> lihat dari jauh, sukses tidak? Atau malah
> cakar-cakaran?
>    
>   Hizbut Tahrir "menyemprot" PKS: "Fa-aina
> Tadzhabun" PKS?
>    
>   "Fa-aina Tadzhabun" PKS?
> Oleh Y. HERMAN IBRAHIM
>    
>   Demokrasi dianggap sebagai sistem yang terbaik
> dibandingkan dengan
> berbagai sistem pemerintahan lain. Bahkan ada fatwa
> ulama besar yang merestui kelompok Islam masuk ke
> dalam sistem tersebut. Meski dengan embel-embel
> "darurat" masuknya Islam dalam sistem demokrasi
> seakan- akan membenarkan sistem itu di atas sistem
> Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
>    
>   Konsep musyawarah lantas dijadikan rujukan bahwa
> ajaran demokrasi
> tidak bertentangan dengan Islam. Padahal ada tokoh
> ulama yang menolak demokrasi, seperti Syaikh Abu
> Muhammad 'Ashim Al Maqdisiy, Muhammad Abu Nashr yang
> mensinyalir paling tidak ada 13 hal kesyirikan
> demokrasi.
>    
>   Salah satu ciri kemusyrikan demokrasi adalah
> seakan-akan rakyat atau
> suara mayoritas mereka yang diwakili di parlemen
> memiliki hak untuk
> menentukan hukum dan perundang-undangan di luar
> aturan hidup dan
> hukum Allah yang ditetapkan dalam Al Quran dan As
> Sunnah.
>    
>   Sangat penting untuk dikatakan bahwa keterlibatan
> Islam dalam partai
> politik harus tetap memperjuangkan tegaknya syariat.
> Itulah sebabnya
> banyak orang menaruh harapan besar tatkala kelompok
> tarbiyah
> (Ikhwanul Muslimin Indonesia) membentuk partai
> politik yang bernama
> Partai Keadilan. Harapan itu tidak mengada-ada
> karena obrolan pertama penulis dengan Nur Mahmudi,
> Presiden PK yang pertama, tampak sekali keinginan
> untuk menegakkan syariat Islam. Tema-tema kampanye
> PK-pun mengangkat isu tathbiqussyariah dan keadilan
> dalam segala aspek kehidupan. Disertai dengan
> komitmen yang kuat dari para pendukungnya kita
> saksikan PK tampil di Pemilu 1999 dengan raihan
> suara yang cukup banyak walaupun tidak mencapai
> electoral threshold.
>    
>   Pada Pemilu 2004, PK yang berganti nama menjadi
> Partai Keadilan
> Sejahtera (PKS) meraih 45 kursi di parlemen. Ini
> merupakan lonjakan
> yang sangat dahsyat karena pada Pemilu 1999 PK hanya
> mendapat tujuh
> kursi. Kemenangan PKS membangkitkan harapan bahwa
> gema tentang
> tegaknya syariat Islam melalui produk
> perundang-undangan akan semakin
> menggaung. Tatkala terjadi perebutan posisi ketua
> MPR, DPR, komisi-
> komisi dan lain-lain, PKS memperoleh posisi
> terhormat dengan
> terpilihnya Hidayat Nur Wahid sebagai ketua MPR.
> Beberapa menit
> setelah pelantikan, tiba-tiba harapan dan cita-cita
> yang sudah lama
> terobsesi tentang tegaknya syariat Islam menjadi
> buyar tatkala
> Hidayat Nur Wahid secara eksplisit mengatakan tidak
> ada niat untuk
> menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.
>    
>   Tentu saja, penulis melakukan klarifikasi.
> Beberapa teman yang
> memiliki posisi penting di PKS pusat maupun daerah
> mengatakan bahwa
> apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid tidak
> bertentangan dengan misi
> partai. PKS tetap bercita-cita menegakkan syariat
> Islam dengan
> catatan partai ini harus meraih suara.
>    
>   Bagi PKS kemenangan pada pemilu dengan raihan
> suara terbanyak adalah
> persyaratan utama karena dalam sistem demokrasi
> sebuah kemenangan
> akan ditentukan oleh jumlah suara. Oleh karena itu
> pernyataan Hidayat
> wajar dan taktis karena bukankah PKS belum
> memperoleh kursi mayoritas
> di parlemen. Suatu hal yang prematur jika Hidayat
> mengeluarkan
> pernyataan tentang penegakan syariat Islam di saat
> partai ini tidak
> menjadi mayoritas. Namun beberapa kelompok Islam
> ideologis menilai
> PKS telah keluar dari janji dan tema-tema
> kampanyenya.
>    
>   Logika yang dibangun PKS tampaknya sangat
> rasional. Demokrasi tanpa
> raihan suara terbanyak hanyalah sebuah kerja bakti.
> Dia tidak
> menentukan dan hanya menjadi kelompok pengekor dari
> sistem kekuasaan
> yang dibangun oleh partai mayoritas. Maka PKS harus
> menang pemilu
> terlebih dahulu, baru menjalankan cita-cita yang
> terkandung dalam
> AD/ART-nya. Inilah hal yang berbeda untuk tidak
> dikatakan
> bertentangan dengan kelompok Islam yang memilih
> berjuang di luar
> sistem. Tetapi logika demokrasi tampaknya akan tetap
> menjadi pilihan
> sebuah partai politik tidak terkecuali PKS.
>    
>   Pertanyaannya adalah apakah benar PKS akan
> memenangkan pemilu 2009?
> Apakah dengan demikian PKS akan menjadi kekuatan
> Islam dominan
> penentu tegaknya syariat Islam? Apakah PKS akan
> berhasil meraih suara
> dari kalangan nasionalis yang saat ini berada dalam
> tubuh Golkar dan
> PDIP? Bukankah jika ingin menjadi pemenang pemilu
> haruslah menarik
> para pemilih yang selama ini berada di kelompok
> mayoritas? Dan apakah
> PKS akan menjadi partai mayoritas tunggal? Bukankah
> hanya partai
> mayoritas tunggal yang bisa menentukan arah negeri
> ini mau dibawa
> seperti halnya Golkar di era Orba?
>    
>   Dalam pandangan penulis cita-cita PKS seperti itu
> hanyalah ilusi.
> Beberapa gejala menunjukkan bahwa PKS tidak pada
> posisi yang akan
> memenangkan Pemilu 2009 bahkan pemilu-pemilu
> selanjutnya, karena
> dalam beberapa segi PKS tidak menunjukkan karakter
> yang istimewa
> dibanding dengan partai-partai lainnya. Meskipun
> kader PKS relatif
> lebih bersih, itu tidak cukup untuk menjadikan PKS
> sebagai leading
> party. PKS sadar benar bahwa kekuasaan uang menjadi
> faktor yang
> menentukan kemenangan dalam demokrasi sekuler. PKS
> juga tahu bahwa
> uang itu menumpuk di birokrasi pemerintahan, maka
> sebagaimana partai-
> partai lainnya PKS-pun terlibat secara intens dalam
> perebutan
> kekuasaan di pusat maupun di daerah. PKS melakukan
> tawar-menawar
> politik dengan penguasa dan seperti partai lainnya
> berupaya merebut
> jabatan gubernur, bupati dan walikota dalam setiap
> pilkada di seluruh
> Indonesia.
>   Pragmatisme PKS sangat tampak pada proses Pilpres.
> Konon beberapa
> kader PKS pada tingkat sekjen dan Dewan Syuro tanpa
> rasa sungkan dan
> risih menemui salah seorang calon presiden, dalam
> hal ini perlu
> tabayyun apakah mereka sengaja mendatangi atau
> diundang. Meski perlu
> pembuktian tetapi beberapa sumber menyebutkan telah
> terjadi
> kesepakatan dukung mendukung dengan calon presiden
> tersebut, dan
> kesepakatan itu berarti sebuah transaksi yang
> bermuara di angka.
> Tentu kelihatannya hal itu seperti sesuatu yang
> wajar, tetapi untuk
> sebuah partai yang berbasiskan Islam transaksi
> semacam itu -dalam
> pandangan penulis- tidaklah pantas untuk dilakukan.
> Fakta selanjutnya
> menunjukkan bahwa walaupun konon pula PKS telah
> menerima dana namun
> dukungannya ternyata dialihkan kepada calon presiden
> yang lain.
> Dengan cara ini PKS telah melakukan tindakan
> wanprestasi politik
> kepada seseorang karena di satu sisi dia memperoleh
> sejumlah dana,
> tapi di sisi lain tidak ingin kehilangan citranya
> untuk tetap
> mendukung calon presiden dari kalangan Islam.
>   Pada pilpres putaran kedua PKS tidak melakukan
> langkah netral,
> kendati calon yang didukungnya kalah dalam pemilu.
> Tidak seperti
> halnya PPP dan PAN yang membebaskan pilihan kepada
> konstituennya, PKS
> melakukan kontrak politik dengan pasangan SBY-JK.
> Atas dukungannya
> itulah maka PKS memperoleh posisi di kabinet dengan
> tiga menteri,
> antara lain menteri pertanian, menteri Pemuda dan
> Olah raga dan
> menteri Perumahan Rakyat. Gejala ini menunjukkan
> bahwa PKS sebenarnya
> tidak berbeda dengan partai-partai lainnya.
>   Di dalam proses pilkada, PKS melakukan gerakan all
> out untuk
> memperoleh kekuasaan di daerah. Tekanannya kepada
> SBY untuk
> memenangkan Nurmahmudi di tingkat MA sangat tampak.
> Meski tuntutan
> tersebut memperoleh dukungan masyarakat, tetapi
> erangan elite PKS
> sangat berlebihan di media masa. Ambisi seorang
> bekas menteri untuk
> tetap berkuasa kendatipun di tingkat kota, tampak
> sekali dalam
> perjuangan PKS yang sekarang ini tengah
> memperjuangkan calon-calonnya untuk memenangkan
> pilkada di berbagai daerah. Yang mengherankan adalah
> sebagaimana halnya partai-partai lain, pragmatisme
> politik dipertontonkan oleh PKS secara telanjang.
> PKS bersedia berkoalisi dengan partai manapun
> meskipun secara ideologis sangat tidak kimiawi.
>   
> Hal ini ditunjukkan tatkala PKS mendukung calon
> bupati Cianjur dan
> bersedia berkoalisi dengan partai Demokrat. Yang
> mengherankan,
> sebagai partai Islam PKS tidak mendukung konsep
> Gerbang Marhamah yang dipandang sebagai upaya
> penegakan syariat Islam di kabupaten tersebut.
>    
>   Fakta sejarah juga menampakkan bahwa apa yang
> diangan-angankan oleh PKS untuk memperjuangkan Islam
> lewat demokrasi dan parlemen adalah sebuah
> absurditas belaka. Demokrasi yang dibelakangnya
> bersembunyi ideologi neoliberal sebenarnya tidak
> akan pernah mengizinkan Islam untuk memenangkan
> pemilu di negeri mana pun. Pada Pemilu 1955 di
> Indonesia sebuah penyusupan ke dalam tubuh Masyumi
> telah membuat NU keluar dan Islam kalah oleh PNI. Di
> Aljazair, partai Islam FIS memenangkan pemilu dengan
> raihan suara 83%, tetapi dianulir oleh dan
> dikalahkan pada pemilu berikutnya atas pesanan
> Amerika. Partai Islam Rafah pimpinan Necmetin
> Erbakan di Turki yang memenangi pemilu, bahkan
> diintervensi langsung oleh CIA untuk dibatalkan dan
> kemudian dibubarkan. Tidak ada sejarahnya Islam
> menang de1ngan mengikuti proses demokrasi.
>    
>   Koalisi, aliansi, kolaborasi atau apa pun namanya
> bentuk dari
> penggabungan Islam dengan non-Islam hasil akhirnya
> adalah kemenangan bagi pihak non-Islam. Tengok saja
> sejarah gentleman agreement di tubuh PPKI yang telah
> mensyahkan tujuh kata dalam Mukadimah UUD 45 bisa
> hapus begitu saja tatkala kelompok minoritas dari
> Indonesia Bagian Timur melakukan penolakan. Semua
> produk perundang-undangan yang dihasilkan oleh
> sebuah parlemen yang mayoritas beragama Islam pun
> bisa dipastikan tidak akan berwarna Islam karena
> alasan toleransi dan heterogenitas. Maka gejala PKS
> yang bersedia berkolaborasi dengan partai mana pun
> tanpa didasari ideologi Islam menunjukkan bahwa PKS
> telah menyimpang dari cita-cita awalnya. Maka
> pertanyaan sesuai dengan judul tulisan ini perlu
> diulang .... Mau ke mana PKS? Wallahu a'lam.
>    
>   Penulis, pengamat politik, purnawirawan TNI AD
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Apakah Anda Yahoo!?
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


Tiap menit 1,3 wanita AS diperkosa. Tiap tahun 2,3 juta wanita hamil di luar 
nikah di Indonesia (Dr. Boyke). Berantas pornografi dukung RUU Anti Pornografi 
dan Pornoaksi - www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke