** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Pemimpinnya gak mungkin ada kayak 
Megawati lagih ...
Yang ada macem SBY ajah, Suharto ajah ...
Perempuan dilarang berkarir macem2 Cuma jadi Babu semua ...
Puas kan ... Contohnya aja di ARAB sono mana ada Sopir Cewek kayak Sopir
Busway di Jakarta ...
Kalau ada juga udah habis didedeli ...

 
J Okberto
-----Original Message-----
On Behalf Of Iwan Wibawa


kalau republik Indonesia, bentuk negaranya berubah menjadi khilafah,
kira-kira siapa yang menjadi pemimpinnya ? dan negeri ini kemudian
penduduknya memakai cadar dan jilbab menutup seluruh badanya (yang
perempuan), yang laki-laki menggunakan sorban dan berjubah putih
semuanya, lengkap dengan jenggot lebat.
  tentunya republik Indonesia berubah menjadi republik Islam Indonesia
dengan ibukota Banda Aceh (barangkali), 
  pemberlakuan syariat Islam secara menyeluruh berlaku, termasuk hukuman
qisas, cambuk dan potong tangan, dan penggal kepala.
  maka lengkap sudah Indonesia menjadi negeri yang menduplikasi bentuk
dan kehidupan di tanah arab jaman nabi Muhammad saw.
  sebagian penduduk non muslim membentuk negara sendiri, mungkin bali,
nusatenggara, maluku dan papua membentuk federasi sendiri. 
  republik Islam indonesia  wilayahnya mungkin hanya terdiri jawa,
sumatera, sebagian kalimantan dan sebagian sulawesi.
  dan sebelumnya banjir darah dimana-mana (perang saudara ???) dan
repbulik Indonesia dengan konsep NKRI dan Pancasila terhapus dari peta
dunia.
  sungguh tak terbayangkan bagaimana itu terjadi, untunglah hanya mimpi
buruk saja, karena saya yakin masih banyak pemimpin dan rakyat Indonesia
yang berpikir rasional dan pragmatis.
   
  salam
  iwan
  

aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Dear All,
  Republika pernah mengalami masa kelam yakni sekitar Juni 2003 (pasca
bom Bali I), saat itu terjadi pemutusan kerja wartawan secara sepihak
dari para pemodalnya. Dahulu, kualitas jurnalistiknya masih cukup bagus.
Kini, banyak wartawan baru. Republika mulai menata dirinya. Sejak duduk
dibangku kuliah, di setiap kos yang aris tempati kami selalu
berlangganan koran. Tiga koran yang berganti-ganti jadi langganan tempat
kos aris. 
   
  Kompas, Koran Tempo dan Republika. Masing-masing punya kelebihan,
corak dan muatan khas. Koran terakhir adalah koran yang paling lama
menjadi langganan kami.  Aris berharap, Republika menemukan jati dirinya
kembali yang sempat hilang selama 3 tahun ini. Semoga Republika tetap
eksis dan memberi makna besar bagi umat.  Oh... andai saja Koran Tempo
dan Kompas juga demikian. 
   salam,
  aris
  ----------------------------------------------------
   
  http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=239025&kat_id=16
  Benarkah Khilafah Dinantikan? 

Oleh : 


  Fahmi Amhar
Alumnus Vienna University of Technology Austria, Anggota DPP Hizbut
Tahrir Indonesia
   
  Kapankah khilafah terakhir runtuh? Ketika Rasulullah wafat, ketika Ali
bin Abi Thalib terbunuh, ketika Baghdad dihancurkan Tartar, atau ketika
Dinasti Utsmaniyah runtuh 82 tahun lalu? Bagi pengikut Wali al-Fatah
--tokoh Hizbullah yang telah membentuk 'Jamaatul Muslimin' di
Indonesia-- juga pengikut Ahmadiyah, sekarang ini khilafah sudah ada.
Khalifahnya adalah pemimpin spiritual mereka.
  Sebagian kaum Arab nasionalis tak setuju khilafah runtuh 1924. Menurut
mereka, khilafah telah tiada sejak Baghdad dihancurkan Tartar tahun
1258. Alasannya, pasca-Dinasti Abbasiyah, khalifah tidak lagi dari
Quraisy. Sedangkan ada sebuah hadits yang berbunyi: ''Sesungguhnya
urusan khilafah itu ada pada Quraisy''.
  Sebagian umat Islam lain yang mendambakan negara sempurna juga tidak
setuju. Menurut mereka, khilafah hanya bertahan sampai dengan
terbunuhnya Khulafaur Rasyidin keempat, Ali bin Abi Thalib. Setelah itu
adalah monarki dengan penguasa absolut turun-temurun yang diwarnai
korupsi dan kezaliman. Sebagian kaum Syiah malah berpendapat,
pasca-Rasulullah, kaum Muslimin telah meninggalkan ajarannya. Alasannya,
para sahabat tak melaksanakan wasiat Nabi untuk menjadikan Ali sebagai
khalifah penggantinya. Jadi negara Islam praktis hanya ada di masa
Rasulullah.
  Sedang kaum sekuler mengatakan Nabi tak pernah menjadi kepala negara,
juga tak pernah mendirikan negara, apalagi negara Islam. Kalaupun
khilafah pernah ada, tak lain hanyalah persekutuan spiritual yang tidak
pernah dibatasi geografis.
  Sedang kaum orientalis mengakui Nabi memang kepala negara, namun bukan
negara Islam, melainkan negara sekuler. Hanya, kebetulan waktu itu yang
berkuasa Muslim, sehingga bisa mewarnai sistem negara dengan Islam.
Alasannya, dalam Piagam Madinah tercantum bahwa kaum Yahudi boleh
menggunakan aturan-aturan mereka sendiri.
  Demikianlah sejumlah pendapat yang intinya skeptis pada pendapat bahwa
khilafah berakhir 82 tahun lalu. Karena itu mereka juga skeptis untuk
berkontribusi dalam proses penegakannya kembali.
  Negara Rasulullah
Jadi, apa sebenarnya entitas yang dipimpin Rasul saat itu? Apakah RW,
kota, atau negara? Atau Rasul hanya sekadar pemimpin informal/spiritual
dalam sebuah negara?
  Faktanya, pada masanya, Rasulullah telah melakukan berbagai aktivitas,
baik spiritual seperti memimpin shalat; maupun politis seperti mengirim
dan menerima duta negara asing; mengirim pasukan; melakukan perjanjian;
mengangkat hakim, gubernur, dan panglima; menetapkan kebijakan publik,
dan sebagainya. Apa ini bukan aktivitas seorang kepala negara, sekalipun
negara itu adalah negara kota?
  Faktanya, dulu maupun kini ada negara-negara berdimensi kecil. Kita
mengenal negara kota seperti Monaco, Luxemburg, atau Republik San
Marino. Beberapa negara besar di masa kini, awalnya juga hanya kota. RI
bermula di Jakarta. Tanpa pengakuan penguasa daerah-daerah lain atas
proklamasi Soekarno-Hatta, RI tak akan sebesar ini. Kalaupun batas RI
adalah eks Hindia Belanda, maka Hindia Belanda juga dimulai dari
Batavia, yang diperluas dengan politik imperialisme selama 350 tahun.
  Faktanya, Madinah saat itu mirip negara kota yang merdeka, tak pernah
ada di bawah dominasi kekuasaan asing. Makkah juga negara kota lainnya.
Saat itu, ada sejumlah negara yang lebih besar, bahkan adikuasa, seperti
Romawi yang berkuasa hingga Suriah, Jordania dan Afrika Utara; dan
Persia di wilayah Irak dan Iran sekarang ini.
  Masyarakat Madinah juga sebuah masyarakat yang khas. Saat Rasulullah
hijrah, Islam sudah menjadi pemikiran (mafahim) dan perasaan (maqayis)
dominan di Madinah --sekalipun belum semua penduduknya masuk Islam.
Untuk menjadi masyarakat yang lengkap mereka tinggal membutuhkan aturan
(nizham) yang dominan. Aturan ini tentu harus diterapkan seorang
pemimpin yang memerintah mereka, dan mereka siap melindungi dan membantu
pemimpin itu. 
  Kontrak sosial masyarakat Madinah dengan pemimpin itu, yaitu
Rasulullah, terjadi saat Baiat Aqabah II. Baiat itulah momentum
berdirinya negara-khilafah Islam. Ini mirip proklamasi 17 Agustus 1945.
Jadi negaranya --sebagai wilayah dan masyarakat-- memang sudah ada
sebagai proses rasional, tapi khilafah sebagai sistem pemerintahan
Islam, dituntun oleh wahyu. Dan sistem khilafah ini memang berbeda dari
sistem kerajaan atau republik. Dia sistem yang khas. Piagam Madinah juga
lebih mirip sebuah Undang-undang Pakta Kerja Sama, baik intra-Madinah
maupun antara Madinah dengan suku-suku Yahudi di sekitarnya. UU ini
tetap mengacu kepada Islam, karena di banyak pasalnya ada kalimat
''dikembalikan kepada Allah dan Rasulnya''. Ini adalah kalimat yang
jelas-jelas tidak sekuler, tidak demokratis, tidak diktatur, melainkan
Islami. Pada saat Perjanjian Hudaibiyah, Rasul sebenarnya justru
mendapatkan pengakuan kedaulatan (de jure) dari negara Makkah. Ini mirip
23 Agustus 1949 tatkala RI diakui oleh Kerajaan Belanda. Jadi, Piagam
Madinah ataupun Perjanjian Hudaibiyah bukanlah dalil untuk set-up sebuah
negara, apalagi bila yang diinginkan adalah gambaran bahwa negara Rasul
tersebut kompromistik.
  Negara Rasul adalah sesuatu yang dihuni manusia. Tentu mereka juga ada
yang tersalah dan berdosa. Hanya Rasul yang maksum. Meski demikian, itu
tetap negara Islam, di mana sistem Islam berlaku. Ketika Rasul wafat,
para sahabat tak segera mengurus jenazahnya, melainkan sibuk mencari
penggantinya. Hanya Ali dan keluarga --sebagai keluarga dekat-- yang
memandikan dan mengafaninya. Tapi Ali juga menunda menyalatkan dan
menguburkannya, hingga terpilih Abu Bakar sebagai khalifah. Penundaan
ini, apalagi untuk jenazah Rasul, menunjukkan bahwa masalah khilafah
lebih urgen daripada pengurusan jenazah.
  Demikianlah para Khulafaur Rasyidin menerapkan Islam di dalam negeri,
dan menyebarkannya ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad. Ketika Ali
terbunuh dan Daulah Umayyah berdiri, lalu tampak ada pola seperti
monarki. Tapi sesungguhnya itu pelanggaran yang tidak signifikan, tidak
membuat bubarnya negara. 
  Dinasti Umayyah hanya menyalahgunakan salah satu metode penentuan
khalifah, yaitu nominasi dari khalifah sebelumnya. Namun secara umum,
sistem khilafah tetap berfungsi. Mungkin mirip dengan trik Soeharto
untuk jadi presiden selama 32 tahun: rekayasa Golkar, pemilu, dan MPR.
Kita tahu itu pelanggaran, namun RI tidak bubar karenanya. Apalagi
sistem khilafah Islam tidak hanya soal suksesi, namun mencakup politik
secara keseluruhan, juga ekonomi, hukum, pendidikan, dan sebagainya.
  Imam Abu Yusuf menegaskan bahwa ciri-ciri negara Islam itu dua
perkara. Pertama, hukum yang berlaku di negara itu adalah dari Islam
semata. Kedua, kekuatan yang melindungi penerapan hukum tersebut
semata-mata pada kaum Muslimin, sekalipun mereka tidak mayoritas.
Faktanya, dua syarat itu terpenuhi hingga tahun 1924. Dan faktanya,
banyak prestasi peradaban Islam yang dinisbahkan ke era ini.
  Bagi bangsa-bangsa di dunia, negara khilafah tetaplah satu-satunya
representasi kaum Muslimin yang dihormati, disegani, ditakuti, namun
juga dimusuhi. Tidak seperti sekarang ini, di mana kaum Muslimin hanya
dimusuhi, tapi tak lagi disegani, dihormati, apalagi ditakuti.
  Memang, ada kalanya datang khalifah yang zalim atau aparat yang korup.
Tapi masyarakat tahu, itu adalah pelanggaran hukum. Hukumnya sendiri
digali dari Islam. Sementara sekarang, ketika khilafah tidak ada lagi,
hukum digali tak hanya dari Islam, bahkan mayoritas hanya imitasi
hukum-hukum warisan penjajah kafir.
  Kehancuran Baghdad oleh Tartar juga tidak membubarkan khilafah. Di
bagian-bagian lain negeri, sistem Islam tetap jalan. Dan tentang
khalifah yang tidak lagi Quraisy, diterangkan oleh Ibnu Khaldun, bahwa
Quraisy itu hanya syarat afdhaliyah dan kontekstual, karena dahulu suku
paling berpengaruh di jazirah Arab adalah Quraisy, sehingga secara
sosiologis, khalifah dari Quraisy akan mengurangi resistensi.
  Dengan demikian jelaslah, bahwa negara khilafah Islam memang pernah
ada, didirikan Rasulullah sendiri, dan telah berlangsung hingga tahun
1924. Adapun klaim pengikut Wali al-Fatah atau Ahmadiyah bahwa mereka
telah memiliki khalifah, bertentangan dengan konsep khilafah yang rajih
(kuat), yang menyatakan bahwa khalifah itu pemimpin baik spiritual
maupun politis. Demikian juga para penguasa negeri-negeri Islam.
Sekalipun mereka menyatakan Islam agama negara, UUD-nya adalah Alquran,
atau berbentuk Republik Islam, selama mereka membatasi diri untuk bangsa
tertentu, mereka juga belum bisa disamakan dengan khalifah.
  Secara empiris, negara-negara di luar dunia Islam pasca 1924 tak
pernah lagi merasa berhadapan dengan sebuah negara yang
merepresentasikan umat Islam sedunia. Mereka hanya berhadapan satu-satu:
dengan Iran, Saudi, Pakistan dan sebagainya. Mereka tidak lagi
mendapatkan kaum Muslimin bersatu dalam suatu formasi ideologis. Jadi,
memang sudah 82 tahun ini dunia menanti.
   
   


pustaka tani 
  nuraulia


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke