** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **Arabisasi atau Indonesisasi yang 
pluralistik. Hidayatullah ini sudah jelas 
alirannya, selalu ikut garis kaum keras. Lihat saja pada tulisan-tulisan 
sewaktu konflik di Maluku.

Rakyat Indonesia itu diketerbelakangkan dan oleh karena itu mudah dikibul 
dengan racun-racun  untuk menghapus keaneka warna-warninya Indonesia dan 
dipelihara kaum garis keras ini  menghasut rakyat yang diketerbelakangan ini 
supaya jangan berpikir maju progresif  kritis bagaimana menjaga kekayaan 
alam  dan bagaimana supaya bisa keluar dari rantai keterbelakangan, 
kemiskinan dan sakit-sakitan demi untuk menjadi bangsa yang berharga dan 
bukan pengemis dibawah naungan penipuan dan penindasan penguasa tukang 
catut, garong yang berlambangi agama.

Sodoran arabisasi hanya akan tetap mengikat Indonesia dan rakyatnya dalam 
neraka kebodohan dan kemelaratan.



----- Original Message ----- 
From: "kk_heru" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, March 14, 2006 6:24 AM
Subject: [ppiindia] Pornografi dan Liberalisme


Wartawan senior Indonesia menuduh RUU APP  `berbau Arab'. Nabi dan
Imam Syafi'i juga orang Arab, tapi mengapa kita mau mengikutinya?
Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke 139


http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2871&Itemid=1



"Pornografi dan Liberalisme"

Selasa, 14 Maret 2006



Oleh: Adian Husaini




Menyusul maraknya aksi penolakan terhadap RUU Anti-pornografi (APP),
beberapa hari lalu, seorang muslim yang tinggal di Bali menelepon
saya, dan memberitahukan kondisi kaum Muslim Bali yang semakin
terjepit. Kadangkala, mereka mendapat tuduhan, bahwa RUU APP adalah
salah satu bentuk Islamisasi.

Jika RUU itu nantinya disahkan, maka Bali pun akan diislamkan, dan
wanitanya dipaksa memakai jilbab. Entah dari mana isu itu ditiupkan di
Bali, sehingga sampai muncul ancaman, jika RUU APP diterapkan, maka
Bali akan memerdekakan diri dari Indonesia.

Ancaman semacam ini dulu juga nyaring terdengar di kalangan kaum
Kristen tertentu, ketika RUU Pendidikan Nasional akan disahkan. Mereka
mengancam, Papua dan Maluku akan memisahkan diri, jika RUU Pendidikan
Nasional disahkan. Tetapi, ketika RUU itu disahkan menjadi UU,
gertakan mereka juga kurang terdengar lagi.

Kaum Muslim Bali dan banyak komponen masyarakat lainnya di sana, jelas
sangat mengharapkan lahirnya satu Undang-undang yang bersikap tegas
terhadap tayangan-tayangan pornografi dan pornoaksi yang semakin
meruyak di belantara tanah air Indonesia.  Pada tahun 1945, kaum
Muslim juga ditekan untuk mengganti Piagam Jakarta, dengan alasan
ancaman separatisme wilayah tertentu.

Pornografi adalah musuh umat manusia beradab, sehingga selama ini
selalu ada upaya agar manusia yang masih bertelanjang, diberikan
pekaian penutup tubuh mereka. Anehnya, sebagian argumentasi penolakan
RUU APP justru berorientasi kepada primitivisme.

Ada yang berpendapat, jika RUU ini diterapkan maka suku-suku tertentu
yang selama ini biasa hidup telanjang akan terkena ancaman pidana.
Logika kaum liberal ini sebenarnya carut-marut dan paradoks.

Pada satu sisi mereka mengagungkan progresivitas (dari bahasa Latin :
progredior, artinya, saya maju ke depan), tetapi pada sisi lain,
mereka justru mundur ke belakang, dengan memuja nativitas dan
primitivitas.

Sayangnya, suara-suara masyarakat yang sehat, seakan tersekat. Logika
mereka tersumbat oleh gegap gempitanya gerakan penolakan RUU APP
dimotori oleh LSM-LSM dan public figure tertentu yang berpaham
liberal, yang meyakini `kebebasan' sebagai ideology dan agama mereka.
Kebebasan, menurut mereka, adalah keimanan, yang tidak boleh diganggu
gugat. Karena itu mereka menolak berbagai pembatasan, baik dalam hal
agama atau pakaian. Kata mereka, itu wilayah privat, wilayah pribadi
yang tidak boleh dicampurtangani oleh negara. Maka mereka pun
berteriak: biarkan kami berperilaku dan berpakaian semau kami, ini
urusan kami! Bukan urusan kalian! Bukan urusan negara! Negara haram
mengatur wilayah privat! Itulah logika dan keimanan kaum liberal,
pemuja kebebasan.

Karena RUU APP dianggap melanggar wilayah privat, maka mereka
berteriak lantang: tolak RUU APP! Ketika kasus Inul mencuat, seorang
tokoh liberal menulis dalam sebuah buku berjudul "Mengebor
Kemunafikan": "Agama tidak bisa "seenak udelnya" sendiri masuk ke
dalam bidang-bidang itu (kesenian dan kebebasan berekspresi) dan
memaksakan sendiri standarnya kepada masyarakat.Agama hendaknya tahu
batas-batasnya."

Logika kaum liberal yang mendikotomikan antara wilayah privat dan
wilayah publik itu sebenarnya logika primitif, yang di negara-negara
Barat sendiri sudah kedaluwarsa. Sejak lama manusia sudah paham, bahwa
kebebasan individu selalu akan berbenturan dengan kebebasan publik.

Karena itulah, di negara-negara Barat yang memuja liberalisme, ada
peraturan yang membatasi kebebasan manusia, yang memasuki dan mengatur
wilayah privat, baik dalam soal tayangan TV, pakaian, minuman keras,
dan sebagainya.

Ada kode etik dalam setiap jenis aktivitas  manusia. Tidak bisa atas
nama kebebasan, orang berbuat semaunya sendiri. Masalahnya, karena
peradaban Barat adalah peradaban tanpa wahyu, maka peraturan yang
mereka hasilkan, tidak berlandaskan pada wahyu Allah, tetapi pada
kesepakatan akal manusia. Karena itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif,
dan fleksibel. Bisa berubah setiap saat, tergantung kesepakatan dan
kemauan manusia.

Di Indonesia, karena liberalisme sedang memasuki masa puber, maka
tampak `kemaruk' (serakah) dan memalukan.

Semua hal mau diliberalkan. Ketika terjadi penolakan masyarakat
terhadap kenaikan harga BBM, seorang aktivis Islam Liberal tanpa
malu-malu menulis di jaringan internet, bahwa jika kita menjadi
liberal, maka harus `kaffah', mencakup segala hal, baik politik,
ekonomi, maupun agama.

Kaum liberal di Indonesia belum mau belajar dari pengalaman
negara-negara Barat, dimana liberalisme telah berujung kepada
ketidakpastian nilai, dan pada akhirnya membawa manusia kepada
ketidakpastian dan kegersangan batin, karena jauh dari keyakinan dan
kebenaran abadi.

Manusia-manusia yang hidup dalam alam pikiran liberal dan kenisbian
nilai  akan senantiasa mengalami kegelisahan hidup dan ketidaktenangan
jiwa. Mereka, pada  hakikatnya berada dalam kegelapan, jauh dari
cahaya kebenaran. Karena itu, mereka akan senantiasa mengejar bayangan
kebahagiaan, fatamorgana, melalui berbagai bentuk kepuasan fisik dan
jasmaniah; ibarat meminum air laut, yang tidak pernah menghilangkan
rasa haus. Lihatlah kehidupan manusia-manusia jenis ini.

Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka; cermatilah
teman-teman dekat mereka.  Tidak ada kebahagiaan yang abadi dapat
mereka reguk, karena mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan
keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki.

Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Tuhan, dan menjadikan akal dan
hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Quran sudah menggambarkan
sikap manusia pemuja nafsu ini:

"Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa
nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima
petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup
pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya.
Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS 45:23).

Dalam satu tayangan televisi, seorang pengacara terkenal pembela
Anjasmara bersikukuh bahwa apa yang dilakukan Anjasmara dengan foto
bugilnya adalah satu bentuk seni, dan bukan pornografi. Padahal, foto
Anjasmara yang dipamerkan untuk umum di Gedung Bank Indonesia itu
jelas-jelas mempertontonkan seluruh auratnya, kecuali alat vitalnya.

Apakah si pengacara itu tidak berpikir, jika foto Anjasmara itu
diganti oleh foto diri atau foto ayahnya. Apakah itu juga seni? Jika
memang masih dianggap satu bentuk seni, mengapa alat vital Anjasmara
masih ditutup dengan lingkaran putih?  mbok, sekalian agar dianggap
lebih indah dan `nyeni' alat vital itu dibuka dan diberi lukisan tertentu?

Dalam tradisi Yunani, yang menjadi akar liberalisme seni di Barat,
patung-patung para dewa pun ditampilkan telanjang bulat dengan alat
vital terbuka. Kenapa si pengacara itu masih tanggung dalam memuja
liberalisme?  Apa landasan yang menyatakan alat vital tidak boleh
dipertontonkan di muka umum ? Jika alasannya adalah `tidak etis', maka
suatu ketika dan di satu tempat tertentu, misalnya di klub-klub nudis,
alat vital manusia pun wajib dipertontonkan, karena mengikuti kehendak
dan selera umum.

Dalam Islam, nilai etika bersifat permanen dan tidak berubah. Batas
aurat wanita dan laki-laki jelas. Mana dan kapan boleh diperlihatkan
juga diatur dengan jelas oleh wahyu, baik melalui ayat-ayat Al-Quran
maupun hadits Rasulullah saw. Karena itu, kaum Muslim sebenarnya tidak
perlu berdepat panjang tentang batasan aurat manusia, karena
pedomannya sangat jelas.

Pornografi dan pornoaksi adalah aktivitas yang terkait erat dengan
promosi perzinahan yang secara keras dilarang oleh Al-Quran. Karena
itu, seorang dokter yang memeriksa bagian aurat tertentu dari pasien
atau mayat manusia, dengan tujuan medis, tidak masuk dalam kategori
pornografi atau pornoaksi. Ini tentu berbeda dengan Dewi Soekarno yang
secara sengaja mempublikasikan foto-foto bugilnya dalam `Madame de
Syuga'. Berbeda juga dengan tayangan-tayangan erotis dalam berbagai
acara televisi kita sekarang ini.

Paham kebebasan atau liberalisme dalam berbagai bidang, memang sedang
gencar-gencarnya dicekokkan kepada masyarakat Indonesia. Kaum Muslim
Indonesia kini dapat melihat, bagaimana destruktif dan jahatnya paham ini.

Ketika Lia Eden ditangkap, kaum liberal berteriak memprotes. Ketika
Ahmadiyah dinyatakan sebagai paham sesat oleh MUI, maka mereka pun
berteriak membela Ahmadiyah. Ketika goyang ngebor Inul dikecam, mereka
pun memaki-maki para ulama sebagai sok-moralis, sok penjaga moral dan
sebagainya.

Ketika film Buruan Cium Gue (BCG) dikritik dan dikecam, mereka juga
membela film itu atas nama kreativitas seni. Sekali lagi, menurut
mereka, kebebasan harus dipertahankan. Sekarang, dalam kasus RUU APP,
sikap dan posisi kaum liberal pun tampak jelas, di barisan mana mereka
berdiri; di barisan al-haq atau al-bathil.

Kita sesungguhnya perlu mengasihani pada cara berpikir kaum liberal
ini. Apalagi yang sudah tua dan 'sakit-sakitan', seperti Goenawan
Mohammad. Bangga dengan julukannya sebagai budayawan, dia menulis satu
artikel di Koran Tempo berjudul `RUU Porno: Arab atau Indonesia'.

Dia menganggap bahwa RUU APP ini akan merupakan bentuk adopsi
nilai-nilai dunia Arab, dan jika RUU ini disahkan, maka akan berdampak
pada kekeringan kreativitas pada dunia seni dan budaya.

Nama Mohammad yang ditempelkan pada Goenawan itu saja sudah mengadopsi
nilai-nilai Arab, karena kata Mohammad bukan berasal dari bahasa Jawa.
Al-Quran dan hadits pun dalam bahasa Arab. Bahkan, Nabi Muhammad SAW
juga orang Arab. Para sahabat Nabi pun orang Arab.

Imam Syafii juga orang Arab. Apakah karena mereka orang Arab, lalu
kita tidak boleh mengikutinya?   Kaum Muslim selama ini sudah mafhum,
bahwa Islam memang agama yang diturunkan di Arab, tetapi jelas agama
ini adalah untuk memberi rahmat kepada seluruh alam.

Ayat-ayat Al-Quran banyak menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw diutus
untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya untuk orang Arab. Karena
itulah, orang tua Goenawan Mohammad pun bangga memberi anaknya nama
`Mohammad', yang jelas-jelas mengadopsi nilai Arab.

Jika konsisten memperjuangkan nilai lokal, nama Goenawan Mohammad
harusnya diganti dengan `Goenawan Terpuji'. Bahkan, kata `Goenawan'
itu pun bukan asli Jawa, melainkan impor dari India.

Masalahnya, bukan Arab atau non-Arab. Tetapi, Islam atau bukan. Benar
atau salah. Itulah yang seharusnya menjadi acuan berpikir bagi
Goenawan. Setiap Muslim atau yang masih mengaku Muslim, seharusnya
memiliki pandangan hidup (worldview) Islam.  Tidaklah sepatutnya jika
nilai kebenaran Islam diletakkan derajatnya di bawah unsur
`kreativitas seni'.

Jika kreativitas seni dijadikan sebagai standar nilai, maka akan
terjadi kekacauan hidup. Siapa yang menentukan kreativitas seni itu
baik atau buruk? Apakah semua kreativitas seni adalah baik? Tentu saja
tidak.

Kreativitas seni Madonna yang mempertontonkan ciuman lesbi di atas
panggung dengan Britney Spears dan Christina Aguilera, dalam pandangan
Islam, jelas sangat tidak baik, dan sangat tidak beradab, alias biadab.

Tetapi, ketika itu, pada 28 Agustus 2003, di panggung terbuka acara
penganugerahan MTV Video Music Awards di Radio City Music Hall New
York, para penonton malah melakukan standing applause. Para penonton
menyambut adegan jorok itu dengan berdiri serentak dan bertepuk tangan
cukup panjang.

Sutradara film Guy Ritchie, suami Madonna, malah ikut bertepuk tangan
dengan wajah senang. Ia sama sekali tidak keberatan dengan tingkah
polah istrinya. Bagi penonton, tindakan Madonna dianggap sebagai
kreativitas seni. Entah bagaimana sikap pemuja liberalisme dan
kreativitas seni seperti Goenawan Mohammad andaikan dia hadir dalam
acara itu.

Kreativitas seni memang penting, tetapi kebenaran nilai-nilai  Islam
adalah lebih penting lagi. Sudah saatnya, kaum pemuja liberalisme
seperti Goenawan Mohammad bertobat dan mengoreksi pikirannya, ngaji
lagi yang baik dan benar, sehingga tidak bangga dan takabbur dalam
kesesatan pikirannya. Ingatlah, kita semua pasti mati dan akan
mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita kepada Allah SWT.
Kekuasaan dan kepopuleran tidak akan bertahan lama. Masih ada waktu
untuk bertobat. Wallahu a'lam. (Jakarta, 10 Maret
2006/hidadayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini adalah hasul kerjasama antara
Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links








***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke