** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

>From: Mula Harahap <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Aha! "Catatan Pinggir" Goenawan Mohamad ini
>menggetarkan sekali.
>
>Ia membuka mata kita tentang acuan budaya yang penuh
>kemeriahan warna dan rupa, yang merayakan bentuk yang
>tampak dan teraba, dan yang tidak memandang tubuh
>manusia dengan penuh syak-wasangka.
>
>
>Horas,
>
>Mula Harahap
>
>
>
>
>
>CATATAN PINGGIR
>
>
>"Seks"
>
>Oleh: Goenawan Mohamad
>
>
>Saya pernah menonton tujuh biji film porno di sebuah
>bioskop kecil di sebuah kota Eropa. Hari itu terik,
>musim panas. Berdua dengan A, dulu teman sekuliah,
>saya memutuskan pergi ke situ karena kami ingin tahu
>sembari berteduh, menghabiskan waktu, menunggu sebuah
>pertemuan yang telat.
>
>Di ambang pintu bilik kami siapkan uang receh, lalu
>kami masuk.
>
>Film pertama mulai. Saya membelalak. Film kedua
>menyusul. Saya mulai tak membelalak. Film ketiga
>seperti ulangan film sebelumnya--dan sampai film
>terakhir saya tertidur. A juga.
>
>Noel Coward benar. "Saya tak menganggap pornografi
>merusak, tapi sangat, sangat membosankan."
>
>Coward pantas mengatakan itu sebab ia tahu bagaimana
>membuat sesuatu yang tak membosankan. Ia menulis
>'Blithe Spirit' pada tahun 1941 (terjemahan Indonesia:
>'Arwah-arwah Binal'), dan di West End, wilayah teater
>London itu, tiap malam komedi itu dipanggungkan lagi,
>lagi, dan lagi--sampai pada tahun 1970. Sementara itu,
>di sebelah lain London, di Soho, toko-toko seks tak
>mampu selamanya mengundang pelanggan. Daya tariknya
>tergusur, kini kafe dan restoran bermunculan di jalan
>itu.
>
>Pornografi memang mudah dibuat tapi mudah pula hambar.
>Sebab ia praktis hanya sebuah repetisi. Fokusnya
>tetap: bukan manusia dengan karakter yang berbeda dan
>gejolak jiwa yang berubah, melainkan organ tubuh yang
>sudah bisa diramalkan geraknya, terbatas variasi dan
>kemungkinannya.
>
>Tapi memang manusia butuh sesuatu untuk memenuhi
>hasrat erotiknya, dan karya-karya cabul--seperti
>halnya fantasi sendiri--digunakan, biarpun buat
>beberapa menit. Riwayatnya panjang, meskipun sejarah
>itu bukan hanya kisah syahwat dan kekotoran.
>
>Di puing Pompeii, kota yang tertimbun lahar Gunung
>Vesuvius pada tahun 79, ditemukan sejumlah besar
>fresko, mosaik, dan patung yang menggambarkan laku
>seksual secara terang-terangan, terutama di Lupanare,
>bangunan yang dulu jadi tempat pelacuran. Ada sebuah
>mosaik gambar satir menyetubuhi peri, ada pula sebuah
>mural yang menampilkan Dewa Merkuri dengan zakar yang
>mengekar setengah meter.
>
>Seksualitas dilebih-lebihkan dahsyatnya di bordil itu,
>dan kita bisa menduga kenapa: di sini syahwat, dan
>bukan cuma berahi, yang ditanggapi. Tapi pada masa
>lain, dalam konteks yang berbeda, adegan senggama tak
>hanya berkait dengan prostitusi.
>
>Di jantung tanah India, di Negara Bagian Madya
>Pradesh, berdiri candi Khajuraho. Dibangun antara
>tahun 950 dan 1050, ketika imperium Chandela berkuasa,
>kompleks itu terdiri dari 85 bangunan. Kini hanya 22
>yang tinggal.
>
>Kata sahibul hikayat, sang pendiri Khajuraho berbapak
>di langit. Pada suatu malam, Hemavati, gadis jelita
>putri seorang brahmana, mandi di Sungai Rati.
>Datanglah dewa rembulan merayunya. Hubungan badan
>terjadi dan kemudian lahirlah seorang anak,
>Chandravarman. Diperlakukan buruk oleh masyarakat, ibu
>yang tak bersuami itu menyisih ke rimba, dan ia
>besarkan anaknya di sana.
>
>Anak itu kemudian mendirikan sebuah kerajaan, dan
>suatu hari baginda Chandravarman bermimpi: ibunya
>meminta agar ia mendirikan candi yang dapat menyatakan
>gairah hasrat manusia.
>
>Kita tak tahu sejauh mana cerita itu bukan hanya
>sebuah dalih untuk memiliki sesuatu yang asyik
>dilihat. Di India tak sedikit kuil yang memaparkan
>sugesti seksual tanpa cerita seperti itu. Candi
>Meenakshi di Madurai dan Veeranarayan di Gadag bahkan
>sejak di gapuranya terpahat erotika.
>
>Apa pun sebabnya, relief tubuh telanjang dan
>persetubuhan seperti yang tampak di Khajuraho tak bisa
>disamakan dengan yang ditemukan di Pompeii: di candi
>India ini stilisasi sangat dominan, dan betapapun
>eksplisitnya adegan erotik itu, yang lebih hadir
>adalah gairah dalam ritme dan komposisi. Syahwat hanya
>samar, tersirat dalam lekuk dan lengkung. Berahi larut
>dalam hasrat akan keindahan.
>
>Bukankah itu juga yang terasa dalam karya I Made
>Budiarta yang melukiskan Syiwa yang menyamar sebagai
>petani dan melihat kain Dewi Sri tersingkap, dan
>tampaklah phalus sang dewa meregang? Kehalusan hadir
>di lukisan Bali itu di tiap garis. Kehalusan menguasai
>ruang. Zakar yang tegak dalam semak itu seakan-akan
>hanya aksen yang lain dari suasana. Di kanvas itu,
>yang jasmani adalah bagian arus liris alam.
>
>Agaknya di situlah beda antara pornografi dan erotika,
>antara bluefilm produksi Vivid dan 'The Dreamers'
>karya Bertolucci, antara gambar persetubuhan di
>Pompeii dan relief di Khajuraho, antara foto-foto
>majalah 'Hustler' dan lukisan Bali, antara paparan
>novel picisan dan novel 'Jalan Tak Ada Ujung' atau
>'Supernova'.
>
>Tapi tampaknya tak tiap orang gampang merasakan beda
>itu. Seorang sastrawan Indonesia pernah berkata, "Saya
>tak menyukai wayang dan Mahabrata karena terlalu
>banyak seks di sana". Ia mungkin akan terguncang jika
>ia baca 'Serat Centhini', karya sastra Jawa abad ke-19
>yang panjang itu. Di sana ungkapan syahwat dan berahi
>praktis hanya terkendali oleh bentuk tembang.
>
>Ada orang yang memang tak akrab dengan khazanah budaya
>yang menerima berahi sebagai bagian degup hidup yang
>punya misterinya sendiri, antara gelap dan lepas,
>antara gairah dan gumun. Ada orang yang acuan
>budayanya tak kenal kemeriahan warna dan rupa, tak
>merayakan bentuk yang tampak dan teraba, dan memandang
>tubuh manusia dengan penuh syak.
>
>Puritanisme, yang terkadang muncul di kalangan Kristen
>dan muslim, mencerminkan itu. Di bawah undang-undang
>Calvin di Jenewa pada abad ke-16, orang diharamkan
>menari, menyanyi, melukis, mematung, mementaskan dan
>menonton teater. Berpakaian "tak senonoh" dihukum. Hal
>yang hampir sama berlaku di Arab Saudi kini, di bawah
>kekuasaan kaum Wahabi.
>
>Namun akhirnya Jenewa tetap tak jadi kota suci dan di
>Arab Saudi orang tetap bisa berpura-pura suci.
>Puritanisme tak bisa selama-lamanya. Sebab baginya
>gairah tubuh hanya punya satu kemungkinan:
>berdosa--sebagaimana dalam pornografi ia hanya punya
>satu kemungkinan: orgasme.
>
>Hanya satu kemungkinan....Bagaimana mungkin?
>



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke