** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.suarapembaruan.com/News/2006/03/14/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Demokrasi dan Kesejahteraan Rakyat

 

Hendardi 

SALAH satu kritik mengungkapkan bahwa reformasi yang berlangsung di tingkat 
negara (state) seperti meningkatnya peran parlemen dan desentralisasi (otonomi) 
pemerintahan daerah maupun peran partai-partai, pemilihan umum (pemilu) dan 
pemilihan kepala daerah (pilkada) belum memberikan dampaknya bagi kesejahteraan 
rakyat, bahkan ditandai dengan terbengkalainya pelayan- an bagi rakyat. 

Kritik yang dikemukakan Abdurrahman Wahid tertuju pada lemahnya penegakan hukum 
bertalian dengan kasus-kasus korupsi serta keberadaan DPR yang semakin 
menimbulkan kebingungan dan hilangnya kepercayaan rakyat. Bahkan, dikritiknya 
pula mengenai perilaku kader- kader partainya yang dituduhnya menyimpang. 

Tentu timbul pertanyaan, apakah reformasi atau demokratisasi yang berjalan akan 
seiring dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat? Tapi, apa faktor yang 
memungkinkannya sehingga demokratisasi beriringan dengan kesejahteraan rakyat? 


Terbatas 

Tak ada yang menyangkal bahwa situasi politik saat ini berbeda dengan era rezim 
militer Soeharto. Kini kebebasan politik memang lebih dirasakan kendati belum 
sepenuhnya dibuka dan dilindunginya hak-hak atas kebebasan. Karena masih 
terdapat serangkaian ancaman atas kebebasan berpikir (termasuk ideologi), 
beragama dan berekspresi. Bahkan dalam beberapa kasus ancaman atas kebebasan 
berpendapat dan pers. 

Demokratisasi yang berlangsung masih sebatas pemilu, pilkada, peran partai dan 
parlemen, serta otonomi pemerintahan daerah, dikuranginya peran militer dan 
meningkatnya peran polisi. Tapi proses politik ini belum menyentuh aparat 
birokrasi, sehingga masih banyak masalah yang dihadapi warganya dalam 
mendapatkan layanan aparat negara (state appa- ratus). 

Lembaga negara lainnya yang penting, lembaga yudikatif, belum menunjukkan 
posisinya yang independen atas kekuatan-kekuatan politik, apalagi mengharapkan 
perlakuan non-diskriminasi sebagai penegakan prinsip persamaan di muka hukum 
(equality before the law). Sehingga harapan pemberantasan korupsi cenderung 
menimbulkan kekecewaan. Bahkan tudingan semakin maraknya "mafia peradilan" tak 
terelakkan. 

Situasi lembaga yudikatif seperti itu juga berdampak pada peran Polri sebagai 
aparat penegak hukum (law enforcement officials) dan keamanan dalam negeri. 
Sehingga tak jarang polisi dihadapkan pada persoalan perlindungan hak-hak 
setiap orang yang dirampas kemerdekaan. Sementara Satpol Pamong Praja (Pemda) 
kerap melakukan operasi yustisi tanpa mengindahkan hak-hak sipil setiap orang. 

Yang lebih rumit adalah reformasi dalam tubuh militer. Pengikisan peran 
politiknya telah diakhiri, tapi masalah yang lebih pelik bertalian dengan 
operasi bisnisnya. Para pejabat TNI mengeluhkan perihal minimnya anggaran 
militer (pertahanan). Sementara munculnya berbagai konflik komunal dan 
aksi-aksi terorisme telah menimbulkan tuntutan peningkatan perannya termasuk 
aparat intelijennya. 

Desentralisasi yang ditandai dengan meningkatnya peran pemerintahan daerah dan 
kekuatan-kekuatan politiknya lebih menekankan sebagai peluang para elite lokal 
dalam memperebutkan sumberdaya negara di daerah mereka ketimbang 
pendistribusian yang lebih merata. 

Demokratisasi memang tak berjalan seperti garis lurus, melainkan berkem-bang 
sesuai dinamikanya menyangkut relasi kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi di 
mana kepentingan-kepentingan mereka tertanam. 

Lebih dari itu, reformasi yang sebelumnya disuarakan "masyarakat", kini 
diambil-alih serta direncanakan dan dioperasikan dari atas yang sejalan dengan 
kepentingan mereka. Para elite politik dan ekonomi menemukan caranya sendiri 
dalam meng- isi arena dan format politik yang baru. 


Pentingnya Arus Bawah 

Pada dasarnya reformasi yang ditempuh mengancam kepentingan elite Orde Baru. 
Tapi dengan ditemukan caranya sendiri dalam menyiasati format dan arena politik 
baru, maka mereka harus berkorban dalam kekuasaan negara menjadi lebih 
tersebar. Jika sebelumnya bersifat sentralistis, kini elite-elite negara 
berbagi dalam arena yang terdesentralisasi. Bahkan ditandai dengan maraknya 
organisasi pendukungnya yang mirip paramiliter. 

Mereka berbagi dalam arena pemerintahan pusat dan daerah, parlemen, 
partai-partai, serta posisi lainnya dalam aparat negara. Sebagian besar mereka 
juga berasal dari bagian kekuatan politik dan ekonomi Orde Baru. Elite politik 
baru pun ikut tenggelam dalam cara-cara yang sama. Mereka inilah yang 
mengambil-alih posisi kepemimpinan saat ini. 

Persoalan pokok bagi masyarakat adalah terambilalihnya gerakan reformasi, 
sehingga apa yang dijalankan negara tak dapat dikontrol. Kelompok-kelompok 
dalam masyarakat pun cenderung terpecah-belah, dan boleh dikatakan, sama sekali 
absen dari suatu kepemimpinan politik. Kebuntuan dalam mengartikulasi aspirasi 
mereka pun tak jarang menimbulkan frustrasi. 

Mungkin beberapa hal berikut dapat dipertimbangkan. Pertama, memulihkan 
perhatian masyarakat kembali bahwa demokratisasi, terlebih lagi kesejahteraan 
rakyat, bukanlah semata-mata "hadiah" dari atas berdasarkan pengalaman selama 
tujuh tahun terakhir, tapi juga berkat perjuangan "arus bawah". Para elite 
politik dan ekonomi mempunyai kepentingan sendiri yang harus mereka 
pertahankan. 

Kedua, haruslah disadari betapa pentingnya pertalian satu sama lain tanpa 
diskriminasi untuk berpartisipasi dalam suatu ikatan bersama dan solidaritas 
guna mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan mereka, terutama menyangkut 
isu-isu sosial-ekonomi seperti hak atas pekerjaan, upah yang layak, perumahan, 
kesehatan dan pendidikan. 

Ketiga, belajar dari pengalaman negara kesejahteraan (welfare state) di Eropa 
Barat, tak dapat diingkari betapa sentralnya perjuangan gerakan buruh yang 
menuntut hak-hak ekonomi dan sosial seperti jaminan sosial, perumahan, 
kesehatan dan pendidikan. Ini menunjukkan betapa pentingnya gerakan buruh dalam 
menuntut kesejahteraan rakyat. 

Keempat, dengan format dan arena politik yang lebih terbuka seharusnya tersedia 
kesempatan politik bagi kelompok-kelompok di masyarakat untuk menata kembali 
masa depannya, terutama yang bersifat jangka panjang ketimbang menekankan 
kepentingan sesaat. Di sinilah perlunya kepemimpinan politik baru. * 


Penulis Adalah Ketua Majelis Anggota PBHI dan Pendiri 

Setara Institute 


Last modified: 14/3/06 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Beasiswa dalam negeri dan luar negeri S1 S2 S3 dan post-doctoral 
scholarship, kunjungi 
http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke