indonesia mempunyai hutang seribu tahun, alias sulit sekali terbayar... cara bayarnya? ya negeri ini tiap tahun kan memperpanjang kontrak2 SDA dgn orang asing? itu cara bayarnya loh, sekalian memperpanjang deadline nya...
indonesia mungkin akan menjadi argentina, dimana mata uang nasional akan runtuh dan harus memakai dolar AS... hasilnya: negeri ini makin terjerat oleh kapitalis dan weternisasi... alhasil kita mesti nurut semanut2nya sama mereka... ada yang mau???? --- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear All, > > Zaim Zaidi, adalah salah satu tokoh yang getol > menyerukan pergantian uang kertas menjadi dinar dan > dirham (mata uang emas dan perak), tulisan ini > menanggapi tulisan AE Nugroho beberapa waktu lalu di > Republika. > > Zaim Zaidi juga aktif di PIRAC (Public Interest > Research and Advocacy Center). > > Menurut Beliau, Khilafah Usmaniyah runtuh karena jerat > hutang (memang benar begitulah salah satu faktor > terbesarnya dalam sejarah), pertanyaannya adalah > apakah Indonesia dll juga akan 'runtuh' karena jerat > Hutang juga...? > > Bila rekan-rekan berpikir maka, pasti tahu jawabannya. > Tidakkah kita belajar dari pengalaman. Wallahu'alam > bishawab. > > salam, > aris > --------------------------------- > http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=240110&kat_id= 16 > > Sabtu, 18 Maret 2006 > > Jerat Utang Runtuhkan Khilafah > (Tanggapan untuk EA Nugroho) > Oleh : > > > > Zaim Saidi > Pengamat Politik > > Dalam tulisannya ''Utopiskah Khilafah?'' (Republika, 2 > Maret 2006, EA Nugroho menyimpulkan bahwa kekhilafahan > adalah keniscayaan dan merupakan ketentuan syariah. > Namun, seperti banyak orang lain yang mendambakan > kembalinya khilafah, ia tidak mengemukakan cara > memulainya. Untuk itu, harus dipahami dulu > sebab-musabab keruntuhan Daulah Utsmani pada 1924 itu. > Kalau tidak, maka yang ada adalah psikologi > ketidakberdayaan seperti yang terjadi selama ini. > > Muslihat > Pertama-tama harus dimengerti, sebagaimana dijelaskan > oleh Syekh Abdalqadir-As Sufi dalam The Return of the > Khalifate (1996), keruntuhan Daulah Utsmani bukan > karena kekalahan militer, melainkan karena muslihat > kapitalisme. Daulah Utsmani dihancurkan melalui jerat > utang tak tertanggungkan. Dia dipaksa melakukan > reformasi total setelah sekitar 50 tahun 'digarap', > dan berakhir dengan tunduk sepenuhnya pada sistem > ''negara fiskal'' (integrasi demokrasi-kapitalisme). > > Strategi kaum kapitalis dilakukan melalui dua mata > pisau: pelaksanaan proyek-proyek nasional dan > penyediaan kredit oleh perbankan, terutama sejak > Sultan Mahmud (1808-1839) yang silau akan Eropa. Kita > mengenalnya sekarang sebagai ''utang negara''. Proyek > utamanya antara lain pembangunan jaringan kereta api > Orient Railway yang menghubungkan Eropa-Asia; dan > pembangunan Istana Dolmabahce yang megah, menggantikan > Topkapi (1815). > > Akibat jerat utang tiap kali otoritas di Istanbul > terpaksa mengambil kredit untuk proyek baru atau > menyelesaikan kredit-kredit lama. Tentu, tidak dengan > cuma-cuma, tapi dengan syarat-syarat tertentu: bunga > yang makin mencekik (60 persen) dan setelah dinyatakan > bangkrut, harus meliberalisasi politik dan ekonominya. > > > Pada 1875, Sultan Abdul Aziz dipaksa memoratorium > utangnya kepada perbankan sebesar 200 juta pound. > Setahun kemudian, titik menentukan itu pun tiba: > Istanbul dinyatakan bangkrut, dan dipaksa membentuk > 'Komisi Internasional', yang mewakili para pemodal > asing untuk memastikan pembayaran utang-utang. > > Belakangan, 1908, menjelang jatuhnya Sultan Abdul > Hamid II karena manuver kekuatan nasionalis liberal > Turki Muda, sebuah lembaga sejenis Administration of > Ottoman Public Debt kembali dibentuk. Dalam 16 tahun > selanjutnya sampai kudeta oleh Kemal Attaturk, 1924 > Daulah Utsmani dipimpin sultan-sultan boneka. Pada > tahun 1922, kekhilafahan dipreteli. Jaringan bankir > dari Prancis, Inggris, Austria, Jerman, dan Swiss dari > keluarga-keluarga Rothschilds, Cassel, Barings ada di > balik semua ini. > > Rongrongan oleh perbankan bukan cuma di Istanbul, tapi > juga di salah satu provinsi utamanya, Mesir. Ada tiga > proyek besar yaitu pembangunan Terusan Suez, Dam > Aswan, dan industri gula, yang disodorkan kepada > Khadive Ismail, gubernur Utsmani di Kairo. Dimulailah > investasi perbankan yang akhirnya menjerat Muslim > Mesir dalam utang nasional sampai hari ini. > > Khadive Ismail mengambil kredit kepada Cassel untuk > pabrik gula itu sebesar 7 juta pound, dengan bunga > tujuh persen per tahun. Pada 1873, sindikasi > Bischoffseim memberikan kredit kepadanya sebesar 32 > juta pound, dengan bunga sama: tujuh persen. Karena > jerat utang yang makin menyulitkan, Khadive Ismail > dipaksa melakukan 'swastanisasi', menjual saham > Terusan Suez kepada Pemerintah Inggris sebesar 4 juta > pound, sambil menambah kredit lagi sebesar 8 juta > pound dari Anglo-Egyptian Bank. > > Pemerintah Mesir, pada 1876, memiliki pendapatan > nasional hanya sebesar 19 juta pound, tapi utangnya > mencapai 91 juta pound. Dan kelak, sekitar dua dekade > kemudian, di bawah bendera pembaruan Islam, Muhamad > Abduh menghalalkan riba (1899), dan segera > mengikutinya pada 1900, dengan berdirinya Post-Office > Saving Bank dan, pada 1902, Agricultural Bank. > > Kini bukan saja pemerintah, tapi para petani dan > rakyat kebanyakan dijerat utang. Mesir ketika itu ada > di bawah Gubernur Lord Cromer, aslinya Kapten Evelyn > Barings kaki tangan bankir dari Keluarga Barings yang > mengangkat Abduh menjadi Mufti Al Azhar, 1899. > Beberapa saat kemudian dia menghalalkan riba, yang > memungkinkan berdirinya dua bank tersebut. > > Bermainnya para bankir ini mempercepat 'pembusukan' > dari dalam, yang berlangsung melalui serangkaian > 'reformasi' (tanzimat) di masa Sultan Abdul Majid I > dan Abdul Azis (1839-76), sampai titik kebangkrutan di > atas, dengan dalih modernisasi. Beberapa elemen > terpenting dari tanzimat adalah diadopsinya doktrin > persamaan hak bagi warga non-Muslim, yang berimpilkasi > penghapusan segala bentuk pajak atas dasar syariah: > jizyah (1839). > > Selain itu, penghapusan sepenuhnya hukum dzimmi > (1857), izin pemilikan tanah bagi orang asing (1867), > pengenalan dan penerapan sistem peradilan sekuler, > nizamiyah (1869) menggantikan peradilan syariah, dan > pencetakan dan peredaran uang kertas kaime saat > Istanbul dinyatakan bangkrut (1876), setelah pecobaan > pertama (1839) ditolak umat. Sebelum itu semua, pada > 1826, Sultan Mahmud lebih dulu dipaksa membubarkan > tentara jihad, Janissari; dan memisahkan pendidikan > Islam dan sekuler. > > Dari tanzimat pula perlahan-lahan terbentuk suatu > kelas birokrat, Memurs, menggantikan otoritas lokal > otonom para amir. Kelas Memurs adalah orang-orang > berpendidikan modern dan pro-sekularisasi dan > westernisasi. Dengan kata lain, sejak awal reformasi > dirancang dengan satu tujuan akhir: dipaksanya > Istanbul untuk meninggalkan nomokrasi Islam, dan > menggantikannya dengan demokrasi, membentuk 'negara > fiskal'. Kini Republik Turki adalah satu negeri > 'pariah' di Eropa: negara berkembang, utang luar > negeri besar, dan inflasi tertinggi di dunia. > > Tinggalkan kapitalisme > Dari sini kita dapat melihat kapitalisme-lah yang > menghancurkan Daulah Utsmani; satu kekuatan yang > sampai hari ini juga melumpuhkan seluruh umat Islam di > dunia. Karenanya, untuk kembali menegakkan Islam, > proses yang sebaliknya harus dilakukan: tinggalkan > kapitalisme dan kembali kepada muamalah. > > Simbol dan kekuatan utama kapitalisme adalah alat > pembayaran uang kertas dengan mesin perbankannya. > Dengan keduanya kredit dapat diciptakan secara tak > terbatas dari kehampaan, dan secara ampuh menjadi alat > penindasan. Uang kertas adalah secarik kertas tanpa > harga kecuali nilai legal angka nominal di atasnya > yang dipaksakan oleh ketetapan hukum. > > Dalam Islam, kebebasan yang sejati direpresentasikan > dalam kebebasan setiap orang untuk memilih sendiri > alat pembayaran. Dan, ketika kebebasan itu tersedia, > semua orang memilih emas dan perak, dinar dan dirham. > Kembalinya dinar dan dirham akan mengawali berakhirnya > kapitalisme dan cengkeramannya terhadap dunia Islam. > Dinar dan dirham memprasyaratkan kembalinya otoritas > di satu sisi dan mengembalikan muamalah di sisi lain. > > Tafsir atas Surat Ali Imran ayat 62 (''Taatilah Allah, > Rasul, dan Ulil Amri di antaramu'') dari Imam Al > Qurtubi memberikan petunjuk akan keharusan menegakkan > otoritas Islam: umat Islam harus mengorganisasi > dirinya di bawah kepemimpinan seorang amir, dengan > beberapa tugas pokok. Rasulullah SAW juga berpesan > begitu: ''Jika ada tiga orang Muslim atau lebih, maka > satu di antaranya harus diangkat menjadi amir di > antara mereka.'' > > Tugas seorang Amir, menurut Imam Qurtubi, adalah (1) > mencetak serta menjamin kemurnian dan kebenaran > timbangan dinar dan dirham; (2) menjamin dan menjaga > kebenaran takaran, ukuran, dan timbangan di pasar; (3) > menetapkan dan mengotorisasi dua Shalat Id (Idul Fitri > dan Idul Adha) dan Shalat Jumat; (4) menunjuk petugas > zakat, menarik, dan mendistribusikannya menurut > ketentuan yang ada, serta; (5) menyiapkan diri untuk > memimpin jihad saat diperlukan, dan mengumpulkan dan > membagikan ghanimah. > > Dari sini dapat dipahami dengan jelas kaitan antara > otoritas Islam serta muamalah dan ibadah. Dua elemen > dasarnya adalah pengembalian dinar-dirham dan > penegakan rukun zakat, yang hanya dapat dijalankan di > bawah suatu amirat. Zakat adalah sedekah yang harus > diambil (dengan otoritas) dan bukan diserahkan secara > sukarela seperti yang dipraktikkan saat ini. Zakat > juga hanya bisa dibayarkan dalam emas dan perak ('ayn) > dan bukan dengan uang kertas (surat utang, dayn). > Sekali otoritas berdiri, mumalah dan rukun zakat akan > kembali, kapitalisme dapat mulai diakhiri; dan bukan > justru diasimilasi dalam 'bank Islam' dan 'negara Islam'. > > pustaka tani > nuraulia > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

