http://www.indomedia.com/bpost/032006/20/opini/opini3.htm

Papua Sayang, Papua Malang



Konflik yang terjadi di Papua, masih sangat menarik untuk dibicarakan. 
Lebih-lebih, karena konflik yang terjadi empat hari lalu itu meminta korban 
jiwa dan belasan lainnya luka-luka. Kita sangat menyayangkan dan prihatin atas 
peristiwa yang terjadi di depan Kampus Universitas Cenderawasih itu. Sangat 
memilukan dan sebenarnya ini tidak perlu terjadi.

Sudah terlalu sering negeri kita dilanda oleh insiden berdarah-darah bahkan 
nyawa melayang sia-sia, hanya karena suatu hal yang bernama konflik. Memang 
konflik, terjadi di mana-mana di negeri kita yang pluralistik ini. Semuanya 
sangat kita sesalkan, kenapa bisa terjadi demikian.

Kembali ke konflik Papua. Sebenarnya, Menlu RI Menlu Hassan Wirajuda sebelum 
demo anti Freeport minta korban mengingatkan Menlu AS Condoleezza Rice tentang 
perusahaan multinasional milik AS yang ada di Indonesia. Bahkan, Hassan meminta 
Condy --panggilan Rice-- mendesak perusahaan tersebut memperhatikan masyarakat 
lokal dalam hal ini community building. Permintaan ini, disampaikan Hassan 
kepada Condy dua hari sebelum Rusuh Uncen terjadi.

Kini, insiden itu benar-benar terjadi. Lalu, siapa yang disalahkan dan 
bertanggung jawab? Atau mungkin akan bermunculan kambing hitam, seperti yang 
terjadi selama ini. Dan, ini memang ada seperti yang dilontarkan Menteri 
Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi. Tokoh Papua yang juga mantan Gubernur 
Papua ini menuding, Kasus Uncen karena ada elit di Jakarta yang sengaja 
mengipas-ngipasi mahasiswa dan masyarakat untuk menuntut penutupan tambang PT 
Freeport Indonesia di Timika. Menurut Freddy, provokasi itu sengaja 
disebar-sebarkan agar warga Papua terprovokasi.

Ketua DPR RI Agung Laksono pun secara tersirat menyebutkan ada tokoh lain di 
balik Rusuh Uncen (Abepura). Untuk itu, ia meminta aparat keamanan mengusut 
tuntas pelaku di balik rusuh tersebut. Siapa pun dia, baik dari Jakarta maupun 
luar negeri. Pemerintah tidak boleh ragu untuk menuntaskan kasus ini, sebab 
kebenaran harus ditunjukkan sehingga masyarakat Papua tidak terprovokasi.

Memang, kebenaran dan keadilan harus ditegakan di negeri yang menjunjung tinggi 
hukum ini termasuk di wilayah paling timur Bumi Pertiwi. Pemerintah harus arif 
dan bijaksana dalam memecahkan dan menyelesaikan masalah ini. Masalah yang 
menimpa saudara kita di nun jauh di sana itu, memang menyangkut berbagai aspek. 
Oleh karena itu, kalau pemerintah tak pandai-pandai meniti buih, tidak mustahil 
konflik terus berlanjut tiada henti.

Kalau saja sejak awal pemerintah kita mendengarkan keluhan dan permintaan serta 
segera menanggapi tuntutan rakyat Papua yang meminta Freeport ditutup, masalah 
yang ada tidak semakin bertambah rumit. Malah --katanya-- sampai ditunggangi 
oleh pihak tidak bertanggung jawab (provokator), bahkan berkembang menjadi isu 
politik. Sebenarnya, kasus ini bermula dari sisa tailing yang diambil 
masyarakat untuk mencari kemungkinan ada sisa emas. Dan, kalau ada pun pasti 
tidak banyak. Cukup untuk memenuhi kebutuhan perut pun sudah untung.

Untuk menyelesaikan masalah ini, bukan berarti harus menutup perusahaan 
berbendera AS itu, karena dampaknya sangat banyak. Di antaranya, investor akan 
merasa dirugikan. Paling bagus dilakukan adalah, melalui pendekatan yang 
dilakukan secara arif dan bijaksana, sehingga kedua belah pihak tidak ada yang 
merasa dirugikan. Kalau masalah ini tidak segera diselesaikan dan terus 
dibiarkan berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan meminta banyak korban dan 
saudara kita di Papua semakin dirugikan.

Kita semua menghendaki, negeri ini tidak lagi mengeluarkan airmata hanya karena 
di antara kita merasakan adanya ketidakadilan sehingga menimbulkan konflik yang 
meminta nyawa. Sebagaimana diamanatkan UUD 1945 yang diamandemen, bahwa: segala 
kekayaan alam yang dikandung Bumi Nusantara ini adalah sebesar-besarnya untuk 
kesejahteraan rakyat. Tak terkecuali Rakyat Papua.

Bumi kita, Nusantara dengan ribuan pulau --beberapa di antaranya seperti 
Sipadan, Ligitan, Bidadari telah lepas dari ikatan kesatuan-- memiliki kekayaan 
yang melimpah ruah. Seharusnya, tidak ada darah dan nyawa yang 'dibuang' 
percuma akibat konflik dan lemahnya penegakan hukum. Kenapa ini bisa terjadi, 
karena kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri yang kaya raya.

Saudara kita di Papua, bersabarlah. Biarkan pemerintah menyelesaikan masalah 
ini dengan arif dan bijaksana. Yakinlah, badai pasti berlalu di Bumi Papua 
Sayang, Papua Malang.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke