Indonesia memiliki golden age yaitu jaman Hindu dan Budha, 
tapi jaman kegelapan tiba setelah agama2 Semit masuk ke 
tanah air.
agama2 yg dari dulu sudah berperang, masuk ke indonesia: 
kristen - islam.

jaman hindu budha, secara moralitas indonesia sangat 
bagus...dan pembangunan infra struktur sudah diatas angin, 
misalnya candi, istana, kolam, dan gua.
nah pas islam dan kristen masuk, sedikit2 indonesia belajar yg 
namanya ADU DOMBA..

berebut umat dan lapangan pekerjaan, bersaing atas nama 
agama smp saat ini...
kalau seandainya indonesia ini mayoritas kristen, saya tidak 
menjamin tidak akan ada kekerasan sectarian...
akan sama saja, mau kristen atau islam, indonesia akan selalu 
rusuh bila dipimpin oleh agama timur tengah...
tidak akan damai..

orang2 asia tenggara ini terkenal relijius, tpi dibalik itu semua 
org2 di region ini sangat emosional dan sensitif bila agamanya 
jadi bahan gossip...
apalagi smp membuat agama baru/ budaya baru...itu bisa dicap 
penghujatan.

indonesia tetaplah indonesia, dia harus tetap beraneka ragam, 
tidak boleh ada jawanisasi, sundanisasi, dayakisasi, 
kristenisasi, dan islamisasi!





--- In [email protected], "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Meskipun seseorang lahir dari orang tua beragama Islam dan 
dari suku 
> Minang, kalau dia kemudian kesengsem kepada budaya Bali, 
misalnya 
> kepada seni teater topengnya, dia boleh saja menjadikan seni 
topeng 
> produk budaya Bali itu sebagai bagian dari hidupnya sebagai 
seniman, 
> atas nama Indonesia. Inilah enaknya Bhineka Tunggal Ikra, 
dan kita 
> semua adalah pewaris budaya nenekmoyang kita yang 
bhineka itu! 
> 
> Dan itu bukan berarti Hindu-Balinisasi atas orang Minang! Itu 
juga 
> bukan berarsi Minangisasi Bali! Yang mungkin adalah dia 
melakukan 
> Indonesiasi teater topeng Bali, sebab tema yang 
ditampilkannya 
> bukanlah lagi tema legenda Bali melainkan problim 
kehidupan poltik & 
> ekonomi manusia Indonesia tanpa dibatasi oleh kesukuan 
dan agama, 
> karena dia Pancasilais. 
> 
> Nah, ketika dia kemudian melanglang buana lalu melahirkan 
karya lain 
> lagi, yaitu menampilkan tema manusia dalam terpaan badai 
globalisasi 
> ekonomi yang internasional ranahnya itu, maka dia telah 
melakukan 
> internasionalisasi seni teater topeng Bali, padahal dia sendiri 
> tetap saja sebagai orang Minang, bukan?
> 
> Itulah yang terjadi dalam hidup ini, bagaimana semua tembok 
pemisah 
> antar sesama manusia telah ditumbangkannya, sehingga 
karya yang 
> terbaru itu mampu menerobos pasar belantika seni teater di 
ranah 
> internasional, dan sekali gus karyanya itu bisa dinikmati oleh 
> bangsa mana pun, tetapi tetap berakar pada budaya Bali 
secara 
> estetis, bukan? 
> 
> Karya-karya seni yang serius, misalnya saja karya sastra para 
> pemenang Nobel itu, punya kekuatan menerobos semacam 
itu. Di kawasan 
> negara Arab pun ada karya semacam itu, yaitu karya Naguib 
Mahfouz, 
> misalnya. Celakanya salah satu karyanya malah dilarang terbit 
dan 
> beredar di negerinya sendiri, yaitu Mesir, dan negara-negara 
Arab 
> lainnya, kecuali di Libanon. Dan bebas dinikmati di 
negara-negara 
> lain terutama di negara Barat! Nah, siapa yang diuntungkan? 
Siapa 
> yang dirugikan? Yang dirugikan jelas adalah rakyat di 
negara-negara 
> Arab kecuali Libanon, bukan? Yang diuntungkan jelas semua 
negara 
> yang tidak melarang salah satu karyanya itu, bukan? Saya 
termasuk 
> yang beruntung, meskipun yang sampai ke tangan saya 
dalam bentuk 
> terjemahan Inggerisnya. Karya itu memang hebat, dan 
memang bisa 
> ditafsirkan mengeritik pedas kekuasaan yang otoriter 
bertangan besi 
> sebagaimana umumnya berlaku di negara-negara Arab itu. 
Jadi, 
> meskipun karyanya itu diterima sebagai warganegara dunia, 
tetapi 
> karya itu tetap saja mencerminkan ke_Mesir-annya.
> 
> 
> Ikra.-
> ====== 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "RM Danardono 
HADINOTO" 
> <rm_danardono@> wrote:
> >
> > --- In [email protected], "Ikranagara" <ikra@> 
wrote:
> > >
> > > Dear all;
> > > 
> > > Menarik bicara tentang pandangan heidegger yang dipakai 
sebagai 
> > > titik tolak oleh Bung Samsul Bachri ini. Meskipun menurut 
saya 
> > > fikiran-fikiran Martin Heidegger ini sudah kedaluwarsa. 
Yang 
> masih 
> > > berjaya dari generasi filsufnya itu hanyalah Nietzche saja. 
> > > Karenanya saya akan menggunakan genealogi saja 
dalam membahas 
> hal 
> > > ini.
> > > 
> > > Sistem nilai "Indonesia" yang ditawarkan oleh Samsul 
Bachri ini 
> > > dengan jelas mengungkapkan ke-Indonesia-an yang 
berawal dari 
> > Hamzah 
> > > Fansuri seorang penyair sufi kita. Tapi, bukankah kesufian 
> Hamzah 
> > > Fansuri itu impor dari Timur Tengah, kalau tidak mau 
disebut 
> dari 
> > > budaya Islam Arabiah? Dan dari nama Anda, Bung Samsul 
Bachri, 
> saya 
> > > kira tidak akan salah jika saya menduga Anda penganut 
agama 
> islam, 
> > > bukan? Tidak heranlah jika Anda menyangka 
ke-Indonesia-an yang 
> ada 
> > > itu hanyalah yang seperti Anda bayangkan itu.
> > > 
> > > Cobalah mundur ke belakang lebih jauh kalau mau 
melacak 
> genealogi 
> > ke-
> > > Indonesia-an kita, Bung Samsul Bachri!  misalnya saja ke 
zaman 
> > Hindu 
> > > kita yang melahirkan Mpu-mpu yang karya sastranya tinggi 
itu. 
> Hal 
> > > ini bisa dilihat pada candi-candi, atau datanglah ke Bali. 
Anda 
> > akan 
> > > menemukan ke-Indones-an yang lain dari yang Anda 
bayangkan itu. 
> > > Tentu, Anda akan berkata: Lha itu kan impor dari India! 
Yang di 
> > > Menado bagaimana, kan di sana ada jelas impor dari 
Barat, sama 
> > > seperti yang ada di Ambon, bukan?
> > > 
> > > Jadi, ke-Indonesia-an kita ini memang gado-gado, apalagi 
kalau 
> > Anda 
> > > banyak Kalimantan dengan Dayaknya yang beraneka rupa. 
Atau ke 
> > > Toraja. Ke Papua. Ke Nias. Ke Batak. Ke Sumba. Ke 
Flores. Ke 
> > Ambon. 
> > > dst. Dst.
> > > 
> > > Bahkan kalau Anda mau datang ke Bali saja, ke tempat 
kelahiran 
> > saya 
> > > itu, akan Anda temu ke-Hindu-an orang Bali itu tidaklah 
sama 
> > dengan 
> > > yang di India lagi. Karena itulah mereka menyebutnya 
> > sebagai "Hindu 
> > > Bali." Di luar ini, masih di Bali lho!, ada komunitas Bali Aga 
> > > (=Bali Mula), yang sudah ada sebelum Hindu masuk ke 
Bali. Bahkan 
> > > komunitas itu kemudian terbentuk karena menghindari 
Hinduisasi. 
> > > Ditambah lagi ada gerakan agama yang lain yang 
mengaku aseli 
> > ajaran 
> > > nenek moyang Bali: salah satu ritualnya adalah dilakukan 
di 
> suatu 
> > > lewat tengah malam tertentu dengan mengenakan topeng 
saja 
> sebagai 
> > > penutup bagian tubuh yang bernama wajah, sedangkan 
bagian-bagian 
> > > lainnya dalam keadaan polos tanpa busana selembar 
benang pun.
> > > kenakan.
> > > 
> > > Oleh karena itulah para pendiri bangsa kita ktika 
menyusun UUD 
> 45 
> > > itu pada akhirnya sepakat bahwa Piagam Jakarta yang 
isinya tugas 
> > > negara adalah menjalankan syariat Islam bagi para 
pemeluknya 
> > > akhirnya ditiadakan, demi kesatuan dan persatuan 
bangsa. Jadi, 
> > > negara kita bukanlah negara Islam, dan bahkan bukan 
negara 
> agama, 
> > > melainkan "Indonesia adalah Negara Kesatuan berbentuk 
Republik 
> > > berdasarkan Pancasila." Jadi, kata NKRI itu ada di dalam 
undang-
> > > undang dasar kita. Dan Pancasila kita itu dalam makna 
budayanya 
> > > adalah "Bhineka Tunggal Ika," bukan?
> > > 
> > > Karena itu, ke-Indonesia-an yang ditawarkan oleh Bung 
Samsul 
> > Bachri 
> > > itu hanyalah salah satu aspek realitas budaya kita, tetapi 
> > bukanlah 
> > > satu-satunya, sebab aspek-aspek lainnya masih banyak 
dan harus 
> > > mendapat tempat dalam mozaik ke-Indonesia-an kita. Dan 
kita 
> > sebagai 
> > > pewaris bangsa ini, sebagai generasi penerus, berhak 
memilih 
> salah 
> > > satu dari tatanan nilai budaya yang ada untuk kita pakai, 
tanpa 
> > > harus menafikan orang lain memilih yang lain. Malah, kita 
bisa 
> > > membuat gado-gado yang sedap rasanya! Dan gado-gado 
inilah dasar 
> > > dari proses penciptaan saya, tapi tentulah dengan target 
> > > menghasilkan yang sebisa mungkin adalah 
ke-saya-annya lebih 
> kental 
> > > ketimbang gado-gadonya itu.
> > > Karena itu, ke-Indonesia-an yang ditawarkan oleh Bung 
Samsul 
> Bachri
> > itu hanyalah salah satu aspek realitas budaya kita, tetapi 
bukanlah
> > satu-satunya, sebab aspek-aspek lainnya masih banyak dan 
harus
> > mendapat tempat dalam mozaik ke-Indonesia-an kita. Dan 
kita sebagai
> > pewaris bangsa ini, sebagai generasi penerus, berhak 
memilih salah
> > satu dari tatanan nilai budaya yang ada untuk kita pakai, 
tanpa
> > harus menafikan orang lain memilih yang lain. Malah, kita 
bisa
> > membuat gado-gado yang sedap rasanya! Dan gado-gado 
inilah dasar
> > dari proses penciptaan saya, tapi tentulah dengan target
> > menghasilkan yang sebisa mungkin adalah ke-saya-annya 
lebih kental
> > ketimbang gado-gadonya itu.
> > 
> > > Ikra.-
> > > ======
> > > 
> > 
> > DH: Tepat sekali!
> > 
> > Negara ini adalah warisan dari wilayah Hindia Belanda, yang 
> > kebetulan mencakup etnis ber-macam macam dengan 
beragam agama dan 
> > budaya. Negara ini tak pernah di-design sebagai negara 
dengan SATU 
> > budaya dan SATU agama.
> > 
> > Kesediaan beberapa wilayah menggabung dalam RI adalah 
agar mereka 
> > dapat hidup lestari dalam budaya masing masing.
> > 
> > Kalau ada yang ingin hidup dengan budaya Islam yang 
arabi, ya 
> > silakan, namun, janganlah menganggap diri mereka adalah 
panutan, 
> dan 
> > satu satunya way of life yang harus menjiwai Indonesia.
> > 
> > Nusantara ratusan tahun jaya dan digdaya dalam budaya 
Hindu 
> Buddha, 
> > bukan dalam pelukan budaya Kristen atau Islam. Ini adalah 
fakta 
> > sejarah yang menunjukkan kita akan jatidiri budaya kita.
> > 
> > Salam
> > 
> > Danardono
> >
>







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke