Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
buat mantan muslimah coenelia....yang kecewa trhadap islam

Teringat kisah Nabi Ibrahim ketika mencari siapa Tuhannya. Ketika malam tiba
dan bintang-bintang bertaburan di angkasa raya dengan sangat cantik dan
terangnya terlihatlah Rembulan yang bundar dan terang benderang.
Bintang-bintang yang bertebaran seakan patuh pada sang Rembulan. Mereka
bagaikan para punggawa bagi sang Rembulan. Berpikirlah Ibrahim as bahwa
itulah Tuhan yang dicarinya. Maka, diapun berikrar untuk mempertuhankan
Bulan. Dalam ketertakjubannya itu, pagi pun datang menjelang.
Bintang-bintang yang bertebaran di angkasa raya hilang dan bersamaan dengan
pagi itu, Rembulan yang bersinar di malam hari pun kalah sinarnya dengan
Matahari fajar. Bahkan di siang hari rembulan sama sekali hilang dari
pandangan. Aih. Bagaimana mungkin Rembulan yang bundar, terang dan bersinar
itu bisa hilang dari pandangan. Lalu siapa yang menyinari bumi agar hangat,
terang ketika beraktifitas? Apakah mungkin Tuhan pergi begitu saja dan
mengalah pada kedatangan Matahari yang kian siang kian perkasa? Ibrahim
terus melakukan dialog dengan dirinya sendiri. Kekecewaan yang bertumpuk
pada rembulan yang tidak setia itu menyebabkan dia akhirnya mencabut
ikrarnya untuk bertuhankan Rembulan dan kini beralih memilih matahari
sebagai Tuhannya.

Sungguh banyak jasa matahari. Sinarnya yang hangat menyehatkan tubuh.
Cahayanya yang benderang menjadi penerang bagi seluruh alam raya. Memudahkan
semua makhluk untuk melakukan apa saja dengan aman. Ibrahim sangat kagum
pada Tuhan Mataharinya. Hingga suatu saat datanglah kabut tebal pertanda
badai hujan akan datang. Angin keras berhembus dan cuaca sangatlah buruk.
Semua orang berlari mencari perlindungan, semua makhluk berlari tunggang
langgang, dan sang Matahari yang perkasapun ikut bersembunyi di balik awan
kelabu.
Oh.
Bagaimana mungkin Tuhan takut pada sang badai?
Jika Tuhan adalah sesuatu yang mesti disembah, mengapa dia tidak ikut ambil
dalam melindungi makhluk ciptaannya? Mengapa Tuhan yang perkasa ternyata
justru yang pertama kali mencari perlindungan ketika terjadi sebuah
kesulitan yang melanda makhlukNya? Dimana Tuhan sebenarnya?
Dalam perenungan itulah malam datang menjemput dan Rembulan datang kembali.
Ibrahim kian berpikir. Ternyata, Matahari pun tidak dapat mempertahankan
keperkasaannya dalam menguasai malam. Apakah mungkin Tuhan berbagi tempat
dengan Tuhan yang lain? Seharusnya Tuhan itu satu, dimana kekuasaannya
meliputi apapun dan keperkasaannya mengalahkan apapun. Dan itulah awal
pertemuan Ibrahim dengan keyakinannya untuk bertauhid. Allah telah
membimbingnya sedemikian rupa, dengan mengajaknya untuk berpikir pada segala
sesuatu yang ada di sekitarnya. Keyakinan inilah yang membawa Ibrahim berani
menghancurkan berhala-berhala di Mesopotamia sana, dahulu kala.

Jika Tuhan yang disembah ternyata bisa dihancurkan kemudian dibuat lagi,
bukankah itu kebohongan besar?

Jika Tuhan yang disembah punya banyak wajah yang bisa direkayasa bentuknya
oleh manusia semau mereka, lalu dimana letak kewibawaan Tuhan?

Jika sesuatu yang besar ternyata bisa dikalahkan oleh sesuatu yang lebih
besar lagi, tentu ada sesuatu yang Maha besar yang tidak terkalahkan oleh
apapun yang lebih besar lagi?

Jika sesuatu yang besar ternyata bisa dikalahkan oleh sesuatu yang sangat
kecil dan sepele, tentu ada sebuah campur tangan yang Maha Perkasa yang
memiliki kekuasaan yang tidak terbatas dalam mengatur segala sesuatunya dan
tentunya memiliki kekuasaan tunggal dalam mengatur segala sesuatunya. Sifat
Maha inilah yang dimiliki oleh Tuhan. Karena sifat inilah sudah sepantasnya
jika seluruh manusia merasa membutuhkan Tuhan guna menuntun mereka dalam
keteraturan dan keharmonisan, sebagaimana Tuhan telah membuktikan dalam
Kuasa-Nya mengendalikan keteraturan dan keharmonisan seluruh Jagat Raya

Agama-agama di muka bumi ini, memang pada dasarnya dianut oleh manusia
karena diyakini menyimpan kebenaran dan akan mengajarkan pada kebaikan. Tapi
ada sebuah perbedaan besar dan sangat mendasar yang harus dipahami oleh
orang-orang yaitu kita harus membedakan antara penganut agama dan ajaran
agama itu sendiri. Keduanya, meski dalam sebuah wadah yang sama (yaitu
agama) tapi punya satu perbedaan besar. Agama berisi nilai-nilai spiritual
dan norma-norma yang mengatur kehidupan manusia, baik hubungan manusia
dengan Tuhannya, maupun manusia dengan manusia lain dan lingkungan
sekitarnya. Sedangkan penganut agama adalah orang yang memilih untuk memeluk
sebuah agama dan mencoba untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama
yang telah dipilih untuk dianutnya itu, meninggalkan apa yang dilarang oleh
agama yang telah dipilihnya tersebut dan percaya pada segala sesuatu yang
bersifat 'gaib" maupun "non gaib" dalam agama yang dianutnya tersebut
(sering disebut dengan istilah beriman yang artinya percaya).

Mengapa kedua hal tersebut harus dipandang berbeda? Karena yang satu (*ajaran
agama*) biasanya berisi peraturan (atau perjanjian antara manusia dengan
Tuhannya) guna mengatur manusia (yang diturunkan oleh Allah melalui para
RasulNya); sedangkan yang lain (*penganut agama*) adalah manusia yang masih
punya kebebasan individu untuk taat atau tidak taat pada peraturan dari
ajaran agama pilihannya. Kebebasan individu yang dimiliki oleh manusia ini
semata karena Allah ingin kita menggunakan kemampuan diri kita sendiri untuk
memilih mana yang baik dan mana yang buruk disamping memberi petunjuk dalam
ajaran agama (termaktub dalam kitab suci agama). Dengan satu catatan khusus
bagi umat Islam yaitu bahwa mereka yang pada akhirnya memilih untuk taat
pada perintah Allah dan berpegang teguh pada segala sesuatu yang
disyariatkan dalam Islam itulah mereka yang dikatakan beruntung. Mengapa
beruntung? Karena dengan keyakinannya dan pilihannya itu mereka sudah
membuktikan bahwa mereka percaya sepenuhnya pada kekuasaan Allah dan
keberadaan Allah sebagai Sang Khalik yang melebihi keberadaan makhluknya.

Saya sendiri dan sebagai penganut agama Islam maka selayaknya kita semua,
harus yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar di antara agama yang
lain. Allah sudah memberi jaminan pada hal tersebut (artinya, jaminan bahwa
agama ini adalah agama yang sudha sempurna datang dari Sang Khalik
langsung). Terlebih jika kita melihat pada isi agama yang lain.

Sebelum Islam, ada agama2 tauhid lain yang dibawa oleh Nabi2 Allah pilihan.
SepertiNabi Daud dengan kitab Zaburnya dan Nabi Musa dengan kitab Tauratnya
serta Kitab Injil yang dibawa oleh Nabi Isa. Tapi, semua agama ini
sebenarnya hanya diperuntukkan untuk umat pada masa itu saja. Mengapa?
Karena isi ajaran agamanya yang belum sempurna. Jadi istilahnya, masih
menyelesaikan kasus per kasus saja. Itu sebabnya di semua kitab-kitab Allah
sebelumnya itu, disebutkan bahwa suatu saat kelak, akan turun Rasul
penghabisan yang akan membawa ajaran agama (risalah) yang terakhir dan
sempurna (dan khusus untuk agama Islam, Allah sudah memberi jaminan bahwa
inilah agama yang sempurna yang pernah dijanjikan akan diturunkan Allah di
kitab-kitab sebelumnya).

Tapi meski semua ajaran agama Tauhid ini benar adanya, belum tentu petunjuk
kebenaran (risalah agama tauhid) yang diberikan Allah lewat para rasul
pilihan-Nya ini akan terus diterima dan dilaksanakan oleh manusia. Ada
banyak sekali contoh di Al Quran tentang ketidak-sanggupan manusia (yang
lebih banyak disebabkan karena kepentingan pribadi manusia itu sendiri di
masa lalu, yang menyebabkan mereka akhirnya tidak dapat memenuhi perjanjian
dengan Allah berkenaan dengan keimanan mereka.
Mengapa hal ini terjadi?

Karena manusia itu sesungguhnya makhluk yang tidak sabaran menghadapi segala
sesuatunya. Jikapun manusia memperoleh sesuatu, manusia punya kecenderungan
untuk membusungkan dada mengakui bahwa karena dirinyalah maka kesuksesan itu
dia peroleh. Akibat terparah dari kedua hal ini adalah, diada-adakanlah
pemahaman dan penafsiran yang cenderung lebih banyak memuaskan kesenangan
dan mengkekalkan kegembiraan dan kekuasaan yang dimilikinya pada hal-hal
yang bersifat keduniaan. Muncul interpretasi terhadap ajaran agama Tauhid
sehingga terjadi penyimpangan dari ajaran agama-agama Tauhid tersebut.
Penyimpangan mana dilakukan manusia agar mereka memperoleh keuntungan
pribadi. Caranya yaitu dengan cara menyembunyikan ajaran ini sebagian dan
mengemukakan sebagian lain dicampur dengan interpretasi masing-masing pihak.


Seperti karena tidak mampu meng-analogikan kejadian munculnya Isa al-Masih
dari ibundanya yang perawan, maka umat Nasrani menafsirkan bahwa Allah-lah
bapak dari Nabi Isa as. Maka Tuhan merekapun terpecah sebagaimana sebuah
keluarga inti yang dimiliki oleh manusia pada umumnya, ada bapak ada anak
dan ada ibu. Karena ketidak-mampuan memenuhi ketentuan Allah untuk berburu
di hari sabtu, maka kaum Yahudi meng-akali ketentuan Allah dengan trik lain
agar mereka tetap dapat memperoleh daging buruan untuk dimakan di hari
sabtu. Aturan Allah dilanggar dan diakali sehingga ajaran Allah tidak lagi
murni adanya. Sebagian lain, karena mempertimbangkan keringanan-keringanan
tertentu akhirnya menciptakan agama sendiri-sendiri. Seperti agama Hindu dan
Budha yang lahir karena keinginan untuk memperoleh keringanan beribadat tapi
tetap dapat tertib dalam aturan baku tata susila. Begitu juga dengan
kepercayaan-kepercayaan lain termasuk dalam hal ini aliran Kejawen. Yang
terakhir ini marak di kalangan suku Jawa di Indonesia. Ajarannya sendiri
sebenarnya adalah kepercayaan animisme/dinamisme yang pada perkembangannya
terpengaruh oleh Islam. Artinya, aliran ini mengambil sebagian ajaran Islam
yang ringannya saja, dicampur dengan ajaran Hindu yang ringannya saja dan
dicampur dengan kepercayaan nenek moyang. Entahlah. Saya ada membaca sebuah
buku di masa yang lalu, bahwa aliran Kejawen ini sebenarnya dahulu adalah
aliran kepercayaan animisme.dinamisme yang berkembang di Jawa yang pada
waktu Islam berkembang; karena khawatir di'gerocoki" oleh Islam maka mereka
memperlihatkan sikap seperti menerima Islam. Padahal sebenarnya mereka hanya
menempel Islam sebagai kulit luarnya saja tapi di dalamnya tetap
mempertahankan ajaran nenek moyangnya. Wallahua'lam.

Itulah yang menegaskan, mengapa kita harus membedakan antara penganut agama
dan ajaran agama dan harus tetap ingat akan janji jaminan langsung dari
Allah bahwa Islam adalah agama yang sempurna.

Dengan jaminan tersebut, kita harus percaya dan yakin bahwa Islam adalah
agama yang terbaik. Hanya saja, bagi pemeluk agama Islam, ada sebuah kendala
yang sering kali justru menyebabkan seseorang mengalami sandungan dalam
meng-interpretasikan ajaran agamanya. Kendala ini bersumber dari kemampuan
manusia yang memang serba terbatas dalam memahami ilmu-ilmu agama yang luas.
Ada perbedaan tingkat kemampuan manusia (baik dalam inteligensinya,
pengendalian diri, "derajat keberimanannya/ketakwaannya" dll) dalam memahami
sebuah ayat/fenomena tertentu. Artinya, sebuah fenomena tertentu sering kali
dipahami dengan memandang Al Quran sebagai pegangannya secara kontektual
saja tapi ada juga yang memandang Al Quran sebagai tekstual saja. Itu
sebabnya ada penganut Islam yang tampil beragam-ragam. Ada yang keras, ada
yang lembut, ada yang sangat permisif (longgar) ada yang sangat hati-hati
(ketat), ada yang ramah, ada juga yang galak, ada yang pemaaf ada juga yang
pemarah, ada yang optimis ada juga yang selalu pesimis, dll. Tentu saja,
yang terbaik adalah mereka yang tidak terlalu condong ke kanan
(berketat-ketat) tidak juga terlalu condong ke kiri (berlonggar-longgar)
dalam beragama. Yaitu mereka yang selalu berusaha untuk berada di
pertengahan.

Tapi penting untuk disadari bagi kita semua adalah, *bahwa kerusakan di muka
bumi ini, baik itu kerusakan yang berhubungan dengan kondisi alam ataupun
pergaulan dengan sesama makhluk hidup, tidak cuma (atau melulu) dilakukan
oleh orang Islam, tapi juga dilakukan oleh orang-orang non muslim.* Kamu
tentu ingat kasus pembunuhan bom di Terowongan Kereta Api bawah tanah di
Jepang yang menewaskan puluhan orang, dilakukan oleh penganut agama Shinto.
Penembakkan misterius yang terjadi di Inggris sana ternyata dilakukan oleh
orang-orang nasrani dari kelompok pemberontak Irlandia Utara. Begitu juga
pemboman di kedutaan Amerika di beberapa manca negara, ternyata terbukti
dilakukan oleh orang non muslim. Untuk kasus terakhir, yaitu kasus pemboman
gedung WTC yang terkenal dengan istilah tragedi 11 september itu, sampai
sekarang belum terbukti siapa pelakunya, meski Pihak Amerika sendiri
mengklaim bahwa pelakunya adalah kelompok Al Qaidah (dan menyebabkan
musnahnya pemerintahan Taliban di Afghanistan). Mereka yang disangka
pembajak (dan sudah pasti mati karena ikut terbakar besama pesawat yang
dibajaknya), ternyata kedapatan masih sehat wal afiat berkumpul bersama
keluarga dan beberapa sisanya bahkan sudah meninggal jauh sebelum tragedi
itu terjadi. Artinya, tuduhan itu sama sekali tidak dapat dibuktikan, dan
tampaknya sekarang akan dipeti-eskan alias penyelidikan tidak diteruskan
lagi. Kecurigaan tinggal kecurigaan, tidak ada proses pembuktian. Belum lagi
tindakan Israel yang semena-mena terhadap Palestina. Bahkan sebuah
penelusuran sejarah mengungkapkan bahwa ternyata Vlad Draculla (yang karena
sangat jahat dan sangat senang memancang –menusuk dengan sebongkah kayu
tepat di tengah dada dan kayu itu lalu dipancang di atas tanah hingga tubuh
yang tertusuk itu kelak perlahan akan melorot ke tanah dan menyebabkan
kematian yang sangat tragis dan menyakitkan— rakyat yang membangkang
peraturannya, dijuluki Vlad Tepes, artinya Vlad si Pemancang. Kelak oleh
Bram Stokker kisah manusia kejam ini diadopsi menjadi novel terkenal, yaitu
Vlad Draculla, si Vampire dari Transilvania), ternyata adalah seorang
Nasrani yang sangat taat.

Jika mau jujur, coba pikirkan, apakah pemabuk yang digiring ke bui karena
memperkosa itu dipenjara karena kedapatan beragama Islam ataukah karena
perilaku kejahatannya? Dalam tindakan kejahatan, seharusnya tidak ada
pembedaan atas status agama yang dianut, yang ada adalah sudut pandang pada
tingkat kejahatan yang dia lakukan. Apapun agamanya. Begitu juga dengan
perilaku terorisme.

Hanya saja, usaha untuk memburukkan citra islam terus dilakukan oleh para
musuh islam yang tidak menginginkan kejayaan islam kembali berkibar di muka
bumi. Dan sedikit demi sedikit tampaknya hal ini telah membuahkan hasil,
karena pendangkalan akidah terjadi di mana saja di muka bumi ini. Itu
sebabnya, ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa kaum Yahudi di Palestina
itu, sangat yakin bahwa kiamat tidak akan segera datang. Alasan mereka,
"karena kiamat datang ketika umat Islam bisa bersatu dan menjadi ummat
terbaik di muka bumi ini". Sebuah sindiran yang khas yah?

Semoga Allah menunjukkan siapa sesungguhnya yang teroris di muka bumi ini,
semoga Allah memperlihatkan pada kita semua bahwa yang hak itu adalah hak
dan yang batil akan tumbang.
Aamiin.

Saya sendiri sungguh sangat tidak setuju dengan segala perilaku kejahatan
dan kekerasan yang ditampilkan oleh orang Islam. Baik itu dengan alasan
untuk membela agamanya (entah agama entah hak pribadinya sangat tipis
dinding pembatasnya; wallahu'alam) atau untuk alasan lain. Padahal Islam
sendiri berarti kedamaian, sementara iman adalah rasa aman. "Seorang Muslim
adalah yang memelihara orang lain dari gangguan tangan dan lidahnya."
Demikian sabda Nabi saw . Inilah agama Islam yang sesungguhnya.
Dan untuk peristiwa terorisme yang terjadi di muka bumi ini, siapapun
pelakunya, saya sangat mengecamnya karena dia lahir dari seseorang yang
membungkus nafsu membunuhnya atas nama hal lain (termasuk agama).




On 3/17/06, Cornelia Winahyu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> menarik mengikuti diskusi di milis PPIINDIA ini. Sara seakan sudah tidak
> ada
> batasnya. Oleh karena itu saya jadi tertarik untuk nimbrung. Menyimak
> posting Ny muslim yang berjudul muslim gelisah, kok sepertinya mewakili
> hati
> saya. Saya adalah muslimah berjilbab yang "terkoyakkan". Dulu [waktu masih
> muslimah] saya sebenarnya juga gelisah. Gelisah karena rezim yang berkuasa
> tidak sedang "berpihak" pada komunitas kami. Karena orde baru dulu
> bener-bener menindas komunitas muslim juga [lihat tulisan yang saya kirim
> melalui attachment]. Jadi siapa yang mengendalikan kekuasaan saat itu
> bener-bener mendikte pemerintahan dan ini bener-bener menggelisahkan saya.
> Oleh karena dalam perjalanan waktu saya berpikir saya harus meninggalkan
> keyakinan saya. Gayung pun bersambut, saya akhirnya menikah dengan seorang
> kristen.
>
> Kini kok saya jadi gelisah dengan perkembangan "bandul" politik yang
> berbalik, dan menggelisahkan saya. Saya jadi berfikir  kok sepertinya
> agama
> apa pun sebenarnya menggelisahkan. Ambisi-ambisi agama-agama ini memang
> menggelisahkan pemeluknya. Saya khawatir [semoga ini tidak benar] bahwa
> islam atau kristen berpotensi menggelisahkan. Dulu pemikiran kristen banya
> terakomodir oleh orde baru awal. Kini islam  yang terakomodir. Jadi bisa
> jadi kalau saat ini kristen yang terakomodir saya kira juga bisa mendikte
> penguasa. Jadi jangan-jangan perdebatan di milis ini hanya karena di
> dasarkan kalah pengaruh saja? saya kok gelisah juga....atau lebih baik
> tidak
> beragama saja?...tolong baca attachment file saya, biar lebih
> jelas....makasih
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke