hersri setiawan
Bondan Nusantara
arsitek ketoprak kolosal
3
Ketoprak Masa Lalu
Sudah Berlalu
Suatu ketika di Kapanewon Lendah, Kulon Progo Yogyakarta.
Lendah sebuah kapanewon yang termasuk dalam Kawedanaan Pengasih, dan menjadi
bawahan Kabupaten Kulon Progo. Pada hari-hari dekat menjelang kekuasaan
pemerintah Hindia Belanda berakhir, asisten atau panewu di wilayah Asistenan
atau Kapanewon Lendah ini ialah "nDara Seten[1]" Selasumardjan[2] yang
belakangan pakar sosiologi Doktor Selasumardjan itu. Selasumarjan bukan tokoh
asing untuk desa Lendah dan sekitarnya. Karena sebelum diwisuda menjadi panewu,
beliau jugalah "mantri polisi" di wilayah Kapanewon Lendah. Di jaman Hindia
Belanda kedudukan sebagai asisten wedana atau panewu bisa dicapai melalui
jabatan "mantri polisi", kepala keamanan di wilayah asistenan atau kecamatan.
Di jaman Jepang jabatan "mantri polisi" dihidupkan dengan sebutan "panewu anom".
Lendah. Entahlah, apa arti sepatah kata nama desa, sekitar 20 km di
arah barat-daya kota Yogyakarta ini. Jika kita mengacu pada "Hukum Van der
Tuuk" tentang persilih-gantian bunyi huruf-huruf setengah suara (semi vowels)
"ra-ya-la-wa", maka yang paling mungkin ialah kata "rendah". Tapi,
kenyataannya, daerah ini bukan merupakan dataran rendah, tapi sebaliknya justru
merupakan daerah yang ada di bawah kaki pebukitan. Apakah ada hubungannya
dengan nama pepundhen desa, yaitu Kyahi Landhoh? Tapi tidak juga bisa
dipastikan. Karena daripadanya masih bisa dipertanyakan: apakah "lendah"
berasal dari "landhoh", atau justru sebaliknya "landhoh" yang berasal dari
"lendah". Nama lain pepundhen ini, seperti bunyi serangkaian aksara Jawa yang
tertera di atas jendul pintu cungkup, ialah Syekh Jangkung. Nisan tunggal yang
kita temukan di dalam cungkup, seperti dari batu jenis marmar muda, memang tak
kurang dari 2 meter panjang. Tapi "Jangkung" juga belum petunjuk tentang "nama
diri", melainkan tentang "nama paraban", lantaran Kyahi ini bersosok jangkung.
Orang Jawa memang, justru yang tergolong tokoh, tidak suka punya nama. "What is
in a name" Shakespeare itu rupanya juga menjadi salah satu prinsip dalam
tradisi Kejawen. Sebut saja misalnya beberapa contoh lain: Syekh Lemah Abang,
Mas Ngabehi Loring Pasar, Jaka Tingkir, Lara Mendut, Ki Ageng Bringin, dan
lain-lain.
Tidak lama sesudah memangku jabatan sebagai panewu di Lendah, Pak
Mardjan melangsungkan pernikahan beliau. Perhelatan berlangsung selama tiga
hari tiga malam, dan dimeriahkan dengan pergelaran ketoprak. Pergelaran
berlangsung di pendapa kapanewon. Gamelan ditaruh pada kedua sisi kanan dan
kiri, dari lantai pendapa bagian belakang, sedangkan lantai sisi kiri dan kanan
dibiarkan terbuka, untuk keluar masuk para pemain. Pendapa "panggung permainan"
seperti bentangan kelir pada pergelaran wayang-kulit, atau lebih tepat
barangkali bentang ruang "kosong" namun potensial[3] pada pergelaran wayang
golek. Para penonton duduk dan berdiri di halaman depan dan samping kiri dan
kanan pendapa. Sehingga setiap pemain hendak "keluar masuk" panggung permainan,
mereka harus menyeruak di tengah-tengah kerumunan penonton. Para penjual aneka
makanan dan minuman serta aneka mainan (dolanan) anak-anak berpencaran di
mana-mana, baik di dalam maupun di luar halaman kapanewon. Ini agaknya menjadi
salah satu alasan untuk lahirnya genre "ketoprak interaktif", yang dipelopori
oleh Bondan Nusantara di kemudian hari. Baik "ketoprak interaktif" sebagai
genre, maupun "ketoprak interaktif" dalam praktik penggelarannya. Barangkali
cara penggelaran tontonan rakyat, yang tak mengenal panggung dan sekat-sekat
ruang-waktu fisikal seperti itulah, yang pada akhir tahun 50-an di kota
Yogyakarta telah menimbulkan genre baru dalam seni pentas, yaitu "drama arena".
Di panggung yang berupa pendapa itu tidak ada benda ubarampe (Ing.:
properties) pementasan satu pun. Juga tidak ada satu helai pun layar, untuk
diangkat turun-naik atau ditarik ke kiri dan ke kanan, sebagai pertanda
pergantian babak atau pergantian "bedrep" -- kata orang-ketoprak[4]. Kata
"bedrep" jelas berasal dari kata Belanda, bedrijf, yang memang berarti "babak".
Jadi, barangkali, ketika ketoprak masih bermain di pelataran atau pendapa,
yaitu sebagai seni tontonan rakyat yang sebenar-benarnya, lakon disajikan
mengalir seperti arus perjalanan (Jaw.: laku) di tengah ruang dan waktu tanpa
sekat-sekat. Lakon ketoprak disajikan dengan "sekat-sekat" ruang-waktu, justru
ketika ia sudah bersentuhan dengan "budaya baru" yang "budaya kota", dalam
bentuk "tonil" atau "sandiwara" yang merupakan ekspresi seni tontonan panggung
Barat.
Pergantian "bedrep" diberi isyarat melalui bunyi "kentongan" yang
dipukul oleh dalang (bandingkan dengan pukulan "cempala" pada kotak wayang oleh
dalang pada wayang kulit), yang segera diikuti suara tembang oleh pemeran utama
yang berbalasan dengan lawannya. Dua matra tembang yang lazim dilagukan yaitu
tembang macapat matra "Pucung" dan "Mijil", dalam cengkok "ketoprakan" atau
gaya khas untuk panggung ketoprak, sehingga biasa disebut juga "mijil
ketoprakan" atau "pucung ketoprakan". Gaya tembang yang oleh kaidah nilai
seni-tembang yang baku, yang menjadi acuan kalangan sekolah dan kaum priyayi
atau elite Jawa, dipandang sebagai "rendah" atau "kasar". Pada masa itu tembang
macapat gaya ketoprakan tidak boleh diajarkan dan dinyanyikan di sekolah, sama
seperti lagu irama keroncong pantang dinyanyikan di dalam kelas.
Busana atau kostum dinamai gaya "mesiran". Walaupun menurut hemat saya "ciri
mesiran" itu sebenarnya hanya terlihat pada sorban dan bulu-bulu di atas dahi,
selop yang ujungnya runcing mencuat, dan baju rompi. Tapi selebihnya justru,
misalnya pada lengan panjang yang berujung lebar, lebih dekat dengan kostum
para pemain "Opera Peking". Kata "mesiran" tentu saja berasal dari kata
"mesir". Dan "Mesir" tentu saja bukan satu tempat di Jawa atau di "Tanah
Sabrang". Tapi sebuah negeri entah-berentah nun di sana, yang penduduknya
berpakaian jubah dan kepalanya bersorban dengan ujungnya panjang berjumbai di
depan dada, serta berselop dengan ujung meruncing ke langit, seperti selop
dewa-dewa Suralaya. Mesir bukan negerinya Jamal Abdul Nasir atau Anwar Sadat,
tapi kawasan di seantero "Negeri Bagedad" seperti negerinya Puteri Perisade
atau Abu Nawas dalam lakon-lakon berbingkai-bingkai Seribusatu Malam.
Ketoprak-(gaya)-Mesiran itu, sebelum ia masuk tobong komersialisasi, masih seni
tontonan rakyat tani dan nelayan yang utuh (Jaw.: wungkul), yang tak kenal
sekat-sekat ruang-waktu.
Agaknya di kalangan rakyat, seni selalu dan tetap bertendens. Tidak
ada seni yang dicipta untuk "tidak apa-apa", atau untuk (meminjam ungkapan
Chairil Anwar, pelopor utama sastra Angkatan '45, dalam sajaknya "Cintaku Jauh
Di Pulau") sekedar untuk "iseng sendiri", atau "seni demi seni murni".
Menegaskan bahwasanya bagi orang Jawa seni selalu bertendens, Rama YB
Mangunwijaya mengatakan kata Jawa padanan untuk kata "seni" itu "kagunan"[5].
Saya setuju! Seni bukan "kelangenan", yang sekedar untuk lelangen atau
relaksasi. Walaupun seni yang berisi kelangenan demikian, bagaimanapun, sudah
setapak lebih maju ketimbang seni murni yang hampa dari "tendens" sama sekali
itu! Seni untuk seni dan seni untuk kelangenan adalah ulah "seniman" dan
penikmat dari kalangan kaum leha-leha alias kaum ongkang-ongkang alias mereka
yang tergolong dalam "the leisure class" masyarakat. Mereka itu, saya setuju
kata-kata sejarawan Jacques Leclerc[6] - dalam korespondensi pribadi,
mengomentari tulisan saya "Seni dan Hiburan dalam Penjara Orba" - lebih tepat
disebut "kaum suka hibur". Bukan seniman! Karena hasil karya budidaya mereka
itu pun bukan seni murni atau kagunan adiluhung, melainkan kagunan dalam
selubung kelangenan atau, boleh juga dibalik, kelangenan yang berselubung
kagunan. Sesungguhnya batas antara kagunan dan kelangenan memang ibarat tabir
tipis dan lembut belaka. Apalagi "produk" budidaya dari kaum suka-hibur dan
kaum-seniman bukanlah produk yang bersifat a-sosial, sehingga oleh karenanya
juga tidak bisa dipisahkan dari kesadaran dan apresiasi masyarakat tentang dan
terhadap produk para pekerja hiburan dan seni itu.
Adapun tendens dalam seni tontonan rakyat yaitu untuk mengajarkan
kearifan hidup. Sesuatu yang abstrak. Sejalan dengan itu maka dekor dan segala
ubarampe pergelaran menjadi tidak penting. Suasana adegan dan babak, setting
kejadian, selain akan dituturkan dalang juga akan terungkap dalam dialog dan
monolog, serta tembang dan gending gamelan yang mengiringinya. Demikian juga
fungsi busana atau kostum dalam ketoprak bukanlah sebagai alat-bantu atau agen
ekspresi identitas para pelaku, terutama bagi pelaku non-figuran, tetapi
sebagai alat-bantu identifikasi bagi penonton dalam menyaksikan tokoh-tokoh
yang di atas pentas (pendapa) pergelaran. Kostum pada ketoprak "tempo doeloe"
dikenakan oleh pemain, bukan untuk menyatakan jatidiri peranan atau karakter
yang didukungnya. Kostum pada ketoprak "tempo doeloe" dikenakan oleh pemain,
untuk membawa penonton mampu mengidentifikasi apa-siapa sosok atau tokoh yang
tampil di panggung pergelaran.
Pergelaran ketoprak tiga hari untuk mahargya helat pernikahan "nDara Seten"
Selasumardjan mengambil lakon babad "Bandung Bandawasa". Pendapa kapanewon,
pentas pergelaran itu, tidak dilengkapi dengan ubarampe pergelaran apa pun.
Semua mengandalkan pada kemampuan masing-masing pendukung lakon. Busana semua
serba berjubah dan bersorban. Kecuali para kawula. Mereka berkostum seperti
para panakawan dalam pentas wayang orang. Juga menjadi penting nuansa warna
pada tata rias atau make-up, seperti pada wayang orang, dan nuansa warna serta
detailering pada busana itu sendiri, seperti pada wayang golek dan wayang
kulit. Barangkali tidak salah jika kita dugakan, bahwa para seniman tontonan
rakyat ketoprak dahulu, dalam hal kostum dan make-up memang mengambil rujukan
dan contoh pada jenis-jenis seni tontonan rakyat lainnya, yang sudah terlebih
dahulu pada diadopsi oleh kaum elite masyarakat Jawa, misalnya pada wayang
golek, wayang kulit, dan wayang orang. Kemudian, ketika ketoprak sudah menjadi
barang dagangan dan masuk di tobong-tobong para taoke tontonan rakyat, pada
akhir abad XVIII atau awal abad XIX, ketoprak mengambil acuan pada "sandiwara
modern" Komidi Stambul atau Komidi Bangsawan. Tapi bukannya mustahil, jika
ketoprak kita perbandingkan dengan drama tari "Arja" di Bali, barangkali
(seperti di atas sudah dikemukakan) rujukan paling dekat yang diambil justru
Opera Peking - baik dalam hal kostum maupun cara penyelenggaraan pementasan.
Karena itu saya cenderung berpendapat bahwa ketoprak, sebelum diboyong dari
desa masuk ke pendapa tumenggungan KRT Wreksadiningrat di Surakarta tahun
1914[7], ia sudah lebih dahulu dijemput dari desa-desa oleh orang(-orang)
Tionghoa daoke seni-pertunjukan, untuk dibawa sebagai "barang dagangan" di
kota-kota dagang yang mulai berkembang di Jawa (Tengah dan Timur).
Pasti sudah pada saat itulah repertoar lakon ketoprak menjadi "bergeser", dari
yang semula dongeng-dongeng tutur rakyat legenda dan mite, menjadi bercampur
dengan dongeng-dongeng kepahlawanan para kesatria dan kaum bangsawan[8], dan
bahkan beberapa cerita Tiongkok disadur dan masuk dalam khazanah "lakon baku"
ketoprak, seperti misalnya cerita-cerita "Sampek Engtay" dan "Sie Djin Kwie"
(Jaka Sudira). Selain itu juga timbul lakon-lakon baru, yang selanjutnya
dibakukan atau di-babon-kan, yaitu cerita-cerita babad -- yaitu cerita-cerita
sekitar konflik kekuasaan dan para penguasa, yang dituturkan turun-temurun
tanpa adanya penyaringan.
Seni tontonan atau hiburan tontonan rakyat ketoprak dengan repertoar lakon yang
bersumber atau berlatar belakang babad, dan kisah-kisah kepahlawanan para
pendukung utama lakon, menjadi semakin meluas dan mendalam di tengah kehidupan
rakyat ketika ketoprak, juga ludruk[9] dan lenong (entah bagaimana halnya
dengan "sintren", mas Yoyok?) dipakai sebagai alat perjuangan oleh para pejuang
di masa perintis. Ketoprak bukan hanya sebagai "tempat bersembunyi" para
pejuang, dalam menghindari kejaran PID dan Kenpeitai[10], tapi juga sebagai
medium efektif untuk melakukan "dakwah" revolusioner. Panggung ketoprak lalu,
pada satu pihak, merupakan gelanggang rakyat menyatakan keberadaannya, tapi
pada lain pihak, juga merupakan gelanggang rakyat menyatakan tekad dan
perjuangannya.
Adapun lakon-lakon baku yang tua, legenda dan mite, sebagai wahana ekspresi
eksistensi dan dengan demikian jatidiri sekaligus, menjadi sarana pembelajaran
dan peneguhan tentang perilaku bajik dan tentang nilai kebijaksanaan. Legenda
ialah, seperti kita tahu, dongeng atau kisah para tokoh rakyat dari jaman
baheula yang tanpa dilimbang dan disaring dituturkan turun-temurun. Tapi di
samping itu juga termasuk legenda ialah dongeng atau kisah dari "jaman modern"
yang menjadi populer atau dipopulerkan dan di-romantik-kan. Contoh legenda
baheula dan modern dari khazanah lakon ketoprak, misalnya, "Naga Bandung",
"Baru Klinthing", "Untung Surapati", "Mangir Wanabaya", dan "Pranacitra-Rara
Mendut".
Sementara itu mite, atau mythos (Lat.), juga merupakan reservoar melimpah
lakon-lakon tua panggung ketoprak yang dipandang sebagai lakon baku atau babon.
Mite ialah kisah tutur berasal dari jaman masyarakat nirleka, mengenai
kehidupan dunia atau makhluk adikodrati, para leluhur atau nenek-moyang, para
pahlawan atau jagoan yang, menurut pandangan hidup masyarakat bersahaja atau
"primitif", merupakan sosok-sosok teladan primordial. Panggung seni tontonan
rakyat Betawi, lenong dan sandiwara "Miss Tjitjih" sangat kaya dengan
lakon-lakon dari dunia mite. Cerita-cerita bertema takhayul dan kekuatan
supra-natural, yang dibalut dengan azimat-azimat berhuruf dan berbahasa Arab,
bagi banyak kalangan sinetron pada banyak stasiun teve sekarang justru sedang
"naik daun". Cerita-cerita yang seolah-olah membawa pesan penyadaran keimanan,
tapi sejatinya justru pesan penanaman ketakhayulan. Pemirsa disuguhi dengan
lakon-lakon yang tidak membantu memperkokoh kebudayaan rakyat dalam membentengi
diri dari serbuan tsunami kebudayaan global, tapi justru ikut aktif melumpuhkan
kebudayaan rakyat dan kebudayaan nasional dengan menghidup-hidupkan kembali
keterbelakangan feodal! Barangkali di sini juga salah satu alasannya, mengapa
akhir-akhir ini banyak perempuan remaja pelajar sekolah menengah dan
perempuan-perempuan miskin buruh pabrik, di berbagai kota di Jawa dan
Kalimantan seperti dilanda wabah "kesurupan"! Penyebaran dan pengajaran secara
tidak langsung tentang ketakhayulan oleh media massa (termasuk stasiun teve
yang berpredikat "Televisi Pendidikan Indonesia", TPI!)
Adapun lakon "Bandung Bandawasa", yang dipergelarkan di pendapa Kapanewon
Lendah ketika itu, tergolong lakon baku atau lakon babon yang membawa ciri dari
dua babak sejarah ketoprak. Babak ketika ketoprak masih menjadi sarana ekspresi
nilai-nilai kagunan rakyat, dan babak ketika ketoprak sudah menjadi sarana
ekspresi nilai-nilai kelangenan elite. Andaikata ketoprak tidak pernah menjadi
"barang dagangan", dan tidak pernah menjadi alat perjuangan para pejuang
kemerdekaan di bawah tanah selama 1930-1942, niscayalah perkembangan ketoprak
tidak akan semeluas seperti sekarang. Ketoprak tidak akan bisa berkembang pesat
dan luas jika ia tetap sebagai seni tontonan rakyat desa, yang hanya akan
bermain pada saat usai-panen dalam rangka upacara "bersih desa[11]". Begitu
juga ia tidak akan berkembang, apalagi berkembang dengan tetap bernafas
kerakyatan, jika ia tetap mantap menerima nasib sebagai anak adopsi menjadi
kelangenan para tumenggung.
Seni pertunjukan ketoprak lalu memperlihatkan ciri-cirinya yang berbeda-beda,
sesuai dengan riwayat perkembangannya dan lahan di mana ketoprak itu
berkembang. Ada yang diberi tempat di pendapa atau di pelatarannya penguasa dan
elite Jawa, ada yang dijemput untuk dikemas sebagai barang dagangan di atas
panggung, ada yang tetap tampil dalam kesahajaan pendukungnya para petani di
pedalaman dan kaum nelayan di pesisir[12], dan ada yang menyatukan diri dan
menjadi alat perjuangan rakyat untuk melawan penindasan dan ketidak-adilan.
Secara garis besar Bondan Nusantara lalu melihat beberapa ciri-ciri yang
berbeda antara ketoprak "gaya pesisiran", yang beraneka bentuk, dengan "gaya
pedalaman", yang cenderung didominasi bentuk "mataraman". Lalu ada Ketoprak
Pesisiran, yang dipandang "rendah" ketimbang Ketoprak Mataram. Ketoprak
Pesisiran, menurut Bondan, tersusun dalam pengadegan yang lebih banyak (sekitar
12 sampai 17) , ketimbang Ketoprak Mataran (sekitar 8 sampai 9 adegan) saja.
Tentang ini barangkali bisa dibandingkan dengan ekspresi naifitas (dalam
artinya yang positif) kesenian rakyat jika diperbandingkan dengan ekspresi
kesenian "kelas menengah" pada umumnya. Oleh karenanya ekspresi ketoprak
pesisiran, menurut pengamatan Bondan, mirip seperti ekspresi wayang orang yang
lebih mementingkan detail, baik dalam penyusunan alur (plot) maupun penyusunan
balungan (struktur) lakon. Adapun Ketoprak Mataram lebih menekankan pada
ekspresi dramatik dan kebebasan individual para pendukung lakon dalam
"menerjemahkan" karakter yang didukungnya. Ketoprak Mataram lebih mengutamakan
tema dan misi, Ketoprak Pesisiran lebih mengutamakan visualisasi karena
"misinya" sejauh untuk menghidangkan hiburan saja. Ketoprak Mataram
mempersembahkan kagunan, Ketoprak Pesisiran mengajak orang ber-lelangen. Karena
titik tolak yang demikian itu, maka kostum pada Ketoprak Pesisiran mencari efek
glamur, sedang pada Ketoprak Mataram mencari hubungan dan keserasian antara
warna dan bentuk dengan karakter.
Ketoprak "Siswa Budaya" dan "Sapta Mandala" ialah contoh-contoh tipikal,
masing-masing untuk Ketoprak Pesisiran dan Ketoprak Mataram di era pasca-Krida
Mardi. (bersambung)
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Tuan Asisten; yang dimaksud Tuan Asisten Wedana, atau Pembantu Wedana,
belakangan disebut "Panewu" (di daerah Kasultanan Yogyakarta), dan sebutan
kemudian (sampai sekarang) "Camat"; jabatan "wedana", jabatan antara "bupati"
dan "camat" ditiadakan sejak jaman Jepang.
[2] Nama diri tokoh ini ialah Sumardjan. Sebagai "abdi dalem" atau "punggawa"
pemerintahan kasultanan, urusan "pangreh praja" (kelak diubah menjadi "pamong
praja") di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Sumardjan mendapat nama "gadhuhan"
("pinjaman" atau "paringan" karena jabatan atau nama "abhiseka") "Sela";
bandingkan juga dengan "laras" untuk abdi-dalem karawitan, misalnya: Raden
Lurah Laras Sumbaga; atau "waditra" untuk abdi-dalem pemusik, misalnya: Raden
Lurah Prajawaditra, dan lain-lain
[3] Dalam istilah Ranggawarsita, "pujangga penutup" kraton Surakarta, "awang
uwung kang mengku isi".
[4] Selanjutnya orang-ketoprak menamakan layar perlengkapan pergelaran itu
sendiri juga "bedrep", karena fungsinya yang menjadi pembatas antar-babak.
[5] Komunikasi pribadi. Apalagi jika mengingat kata "kelangenan", sebagai kata
bahasa Jawa krama (inggil) juga berarti "selir" atau "gundik".
[6] Sejarawan Perancis yang membuat studi sejarah gerakan bawah tanah kaum kiri
Indonesia, terutama kurun waktu 1935-1945.
[7] Demikianlah banyak (kalau bukannya semua) para penulis tentang ketoprak
menyebut KRT Wreksadiningrat sebagai pencipta (sic!) ketoprak pada 1914; lihat
misalnya Waseso dan S.Anantaguna, dalam Budi Susanto S.J. , fn. 8 di bawah ini.
[8] Dalam hubungan ini perhatikan juga Barbara Hatley, Ketoprak Theatre and the
Wayang Tradition (Clayton, tanpa tahun); Budi Susanto S.J.,Ketoprak, Politik
Masa Lalu (ed. Ing. 1997); "Ketoprak di Era Reformasi", dalam: Imajinasi
Penguasa dan Identitas Postkolonial.
[9] Tokoh legendaris panggung tontonan rakyat ludruk, Cak Durasim, mati disiksa
polisi rahasia Jepang, oleh kata-katanya "gupon kandhang dara, melok Nippon
tambah sara".
[10] Kedua-duanya dinas intelijen politik; yang tersebut pertama dari
pemerintah Hindia Belanda, yang kedua dari pemerintah balatentara Dai Nippon.
[11] Di sementara desa yang lain disebut juga "merti desa" (barangkali berasal
dari "memetri", artinya "merawat baik-baik" atau "melestarikan"); dan di
desa-desa lain lagi, yang sudah di bawah pengaruh kebudayaan Islam, disebut
"sedekah bumi" (sudah tentu berasal "sodakoh"); yaitu upacara selamatan atau
kenduri bersama usai panen, untuk menyertai upacara nyadran ke makam "bahu
reksa" desa, dan terkadang dimeriahkan pula dengan pergelaran kesenian rakyat
setempat.
[12] Di pantai timur Semarang tahun 50-an, yaitu di kampung nelayan Tambak
Lorok, ada genre seni pertunjukan panggung yang bernama "sandiwara rakyat"; dan
di beberapa desa di pedalaman Jawa Tengah, terutama pada saat menjelang dan
sekitar pemilihan umum pertama tahun 1955/56, berkembang seni pertunjukan
bernama "sandiwara lekra".
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/